
Jam pelajaran Biologi. Pak Bayu sedang menerangkan sistem pencernaan.
“Ndre, bisa geser?” Rani berbisik dari belakang.
“Apasih?”
“Geser!” tekan Rani, matanya melotot.
Andrea melihat Dewi yang duduk di sebelah Rani sedang mengatur kamera ponsel di balik tasnya.
“Korban tuk tak,” ketus Andrea.
“Biarin!”
Rani mengacungkan tangan. “Pak!”
“Ya?” tanya Pak Bayu. “Ada pertanyaan, Rani?” Pak Bayu berjalan ke arah Rani duduk.
“Maaf, Pak, bisa mundur sedikit?”
“Kenapa?” Bukannya mundur, Pak Bayu malah semakin mendekat.
Rani garuk-garuk kepala, sambil cengengesan dia berkata, “gantengnya kelewatan.”
Teman sekelasnya sama-sama berteriak, “basiiii!!”
“Kalau bikin konten yang kreatif dong,” kata Joni, melemparkan tutup pulpen kepada Rani.
“Sirik aja, lu, nggak ada yang suruh mundur ya? Kasihan amat.” Rani malah meledek Joni.
“Gue ganteng begini,” jawab Joni sambil berdiri.
“Paling yang bilang emaknya.” Dewi tertawa. Teman-temannya berbalik menertawakan Joni.
Pak Bayu menarik nafas panjang, lalu perlahan membuangnya. Guru kalem itu sudah biasa menghadapinya.
“Sudah! Kembali belajar! Rani, Dewi, batalkan kontennya, Bapak sudah bosan masuk tuk tak terus. Dapat duit kagak,” kata Pak Bayu. “Ini ke mana? Kok kosong?” Pak Bayu menunjuk bangku Zellina.
Andrea memutar mata, heran sama guru ganteng itu, bukannya dari awal Zellina memang tidak ada, kenapa baru bertanya sekarang.
“Sedang ada urusan dengan ekskul, Pak,” kata Ren.
“Oh, ya sudah, setelah ini kalian baca bab penyakit pencernaan, besok kita ulangan dari bab awal.”
“Ahh, ujug-ujug ulangan saja,” gerutu Andrea.
Ren menolehnya. “Besok.”
“Iya, tahu.” Andrea mencebik. Dia semakin tidak bersemangat belajar. Biasanya, kalau sedang begini Dale yang akan membantunya. Belajar nggak belajar ulangan bukan hal yang sulit.
Andrea jadi ingin menangis sesenggukan, akhir-akhir ini banyak sekali yang harus dipikirkan. Mencari tahu masalah ibunya, menyembuhkan Bu Anis, dan melabrak Fany sekalian teman gaibnya yang dari tadi menatapnya tajam dari bangku pojok.
Dia tidak mempunyai teman untuk diajak bicara. Ren tidak membantu, memilih kabur kalau Andrea sudah membicarakan Dale.
Mengajak bicara Zellina, sama saja akan menciptakan kerumitan baru. Apalagi sekarang dia sedang maceuh deket sama Yadi, tidak akan ada celah orang lain untuk bicara, semua pasti tentang dirinya sendiri.
Tidak mungkin juga dia bercerita kepada Gigit, mereka baru kenal.
Andrea jadi teringat kepada Dodo, harusnya bisa membantu, karena dia adalah satu-satunya laki-laki di keluarganya, tetapi tidak yakin kakak sepupunya itu sekarang mau membantu. Tengilnya sampai ubun-ubun.
Andrea jadi rindu kakek dan ayahnya. Rindu sosok laki-laki tempatnya bermanja dengan penuh rasa aman.
Sebenanrnya dia merasa takut, menjalani kehidupannya berdua saja dengan ibunya.
Perangainya yang cuek dan tomboi, tidak menghilangkan sisi feminimnya yang lembut dan kurang percaya diri.
Hanya Dale yang bisa dia andalkan. Menjaga, dan membuatnya merasa aman.
**
__ADS_1
Andrea membolak-balik gembok antiknya, di dalam hatinya dia mengakui kalau Dale itu baik, menurut, dan bisa diajak kompromi. Mungkin karena itu juga kakeknya memelihara dia. Kesalahannya hanya satu, sok genit.
Soal perkataan Fany, Andrea yakin dia juga dipengaruhi jin yang mengikutinya, jadi ini hanya tentang tuduhan satu jin untuk jin yang lain, keduanya makhluk gaib yang tidak bisa dipercaya.
Kalau Fany percaya pada perkataan teman jinnya, kenapa aku tidak percaya pada temanku, pikir Andrea. Dia semakin mengibarkan bendera perang kepada Fany. Tidak terima Dale dituduh pembohong.
Wusss ....
Tidak perlu membaca mantra, Dale langsung berada di depannya ketika Andrea memutar kunci gembok.
Mereka saling pandang, beberapa menit tidak ada yang bersuara.
“Neng, maafkan saya kalau saya berbuat salah.” Dale membuka percakapan, dari wajahnya terpancar penyesalan. Tangannya memilin-milin ujung bajunya.
"Tolong, jangan suruh saya tinggal dalam gembok lagi,” lanjut Dale.
Andrea jadi tersentuh melihat wajah memelas begitu. “Kenapa?”
“Di dalam pengap, saya menderita harus menghisap terus kentut sendiri,” jawab Dale.
Andrea yang lagi terharu tidak kuat menahan tawa, akhirnya dia terpingkal.
“Bukannya sebelumnya juga kamu pernah disekap?” tanyanya dengan muka memerah karena tertawa.
“Maka dari itu, saya kapok, Neng.” Dale bicara masih dengan muka memelas.
“Baiklah, aku senang kamu ada rasa kapok. Berarti kamu tahu kesalahanmu apa?”
“Iya, Neng. Saya janji tidak akan menjawil dagu Bu Anis lagi.”
“Bukan hanya menjawil, mengikuti, dan mengganggunya di kantor juga, kan?"
“Nggak, Neng, saya hanya menjawil dagunya saja di kelas.”
“Bu Anis ngakunya begitu.”
“Gitu ya?”
Dale mengangguk sambil mengacungkan jari cagak.
Andrea mengangguk-angguk. Sekarang dia yakin, Fany juga diikuti jin, bukan roh gentayangan seperti yang dia ceritakan.
Selanjutnya Andrea membebaskan Dale mencari makanan dulu, dengan perjanjian tidak akan mengganggu orang.
Dale setuju dan dia memang diciptakan untuk selalu setuju.
Malam itu Andrea banyak tertawa di kamarnya. Entah datang dari mana sebuah ide muncul, Andrea mendandani Dale agar lebih kekinian dan enak dipandang.
Tentu saja itu bukan hal yang sulit bagi Dale. Tinggal putar-putar badan, bisa memakai apa saja yang diinginkan.
“Jangan itu ah, kamu kayak vampir,” kata Andrea, melihat Dale berjubah hitam.
Dale segera menyulap jubahnya dengan setelan olah raga. Andrea kembali tertawa.
"Itu mah kostum wasit.”
“Kasih saran atuh, Neng!”
Andrea berpikir sejenak. “Coba pakai t-shirt aja!"
Dale segera memutar badan. “Taraaaaa ....”
“Ya ampun, kenapa jadi kayak mumi gitu?” Andrea terbelalak.
“Katanya pakai tisyu,” jawab Dale.
Andrea menepuk kening. “T-shirt, Dal. Kayak gini, nih.” Andrea menarik bajunya di lemari.
“Ooh, kedengarannya tisyu.”
__ADS_1
“Celananya pakai celana jeans, aja. Kamu pasti terlihat semakin ganteng.”
Dale melongo. “Saya kan memang jin, Neng.”
Andrea mencari jeans di lemari. “Kayak gini, Dal.”
“Ooh, siap, Neng.”
Dale memutar badan, dia sudah memakai t-shirt dan jeans yang pas di badannya. Andrea memandanginya.
“Gimana, Neng?”
Andrea menggeleng. “Kamu jadi kelihatan mirip pemuda 80-an.”
“Siapa?”
“Hmm ... ada deh, kamu nggak akan kenal."
“Dilan atau si Doel?”
“Bukaaan ... Eh, kok kamu tahu mereka?”
“Waktu itu pernah nonton sama Bi Cicih.”
“Apa?” Andrea melongo. “Kamu suka nonton drama Korea, nggak?” lanjutnya.
Dale menggeleng. Andrea mengambil gawainya, lalu mencari beberapa drama Korea yang dia sukai. Memperlihatkannya pada Dale.
“Kamu bisa pakai baju kayak gini?” Andrea menunjuk aktor Lee Min Ho yang sedang memakai seragam sekolah dalam The Heirs.
Dale memicingkan mata, lalu memutar badan. Badannya yang ramping tinggi semampai, sangat cocok dengan dandanan itu. Kim-Tan mah lewat, batin Andrea.
Andrea mengacungkan jempolnya, dia tidak mungkin akan bilang kalau Dale memesona sekali dengan dandanan sekolah SMU orang Korea, nanti Dale gede rasa.
“Gimana, Neng?”
“Euhh ... lumayan. Sementara pakai itu saja ya!”
Dale mengangguk.
Andrea mengalihkan pandangan ketika Dale tersenyum kepadanya, dia takut menghadapi pria yang terlalu ganteng, takut tidak bisa menguasai diri, pengen meluk dan minta tanda tangan.
“Siapp, Neng. Jadi, setiap hari saya pakai baju ini, Neng?” Dale sumringah sambil ngaca di tembok.
Andrea mengangguk, menelan saliva. Di depannya berdiri makhluk kece, idola remaja masa kini.
Dia ingin pamer kepada Ren, Zellina, dan teman-temannya yang lain, kalau dia punya pengawal yang sangat tampan, dan bisa diandalkan.
Andrea pura-pura menepuk-nepuk pipinya, dia jangan terlihat terpesona seperti itu. Dale hanya seorang jin, belum tentu yang terlihat akan sama dengan aslinya, apalagi umurnya sudah ribuan tahu. Andrea butuh dia untuk membantu segala kesulitannya.
Tetapi Dale masih dilarang ikut ke sekolah, Andrea tidak akan tergantung lagi kepada Dale soal pelajaran.
Dia berjanji akan belajar sendiri demi tidak tergantung kepada Dale. Sekaligus untuk membuktikan kepada Fany kalau jin peliharaannya adalah jin baik-baik, bukan tukang fitnah seperti peliharaannya.
Dale tentu saja menurut, walau sekilas terlihat di matanya ada kesedihan ketika melihat Andrea mau berangkat sekolah pagi-pagi.
“Kamu nggak apa-apa, Dal?” tanya Andrea sambil mengenakan sepatu. Dale menopang dagu di atas lemari.
“Ngga apa-apa, Neng. Sayang aja, udah dandan keren begini nggak bisa ikut sekolah."
“Nanti, kalau semuanya sudah kondusif kamu aku ajak lagi. Ya sudah, aku berangkat dulu. Jaga rumah, jangan ganggu Bi Cicih. Nanti sore aku panggil, pulang sekolah kita jalan-jalan."
Dale mengangguk setuju. “Boleh kan saya ke hutan, Neng? Bosen makan mangga terus.”
“Boleh, dong! Kalau cari makan aku kan nggak larang.” Andrea tersenyum membayangkan Oppa Korea menclok di pohon.
“Ndreee, ayo! Sudah siang,” teriak ibunya di teras. Andrea segera berlari.
*Se*lamat membaca! Jangan lupa like dan komennya yaa, untuk nambah vitamin Author ... hehe
__ADS_1