
Sambil menarik tangan Gigit, Andrea menoleh lagi kepada teman-teman Dodo dengan sorot mata tajam. Mata kucing hutan, kalau kata Dodo.
Dia mengenal mereka, karena pernah beberapa kali bertemu kalau sedang liburan di sini. Tetapi tidak tahu kalau ada salah satu dari mereka menyukainya, dan melakukan tindakan bodoh dengan memukuli Gigit seperti ini.
“Brengsek!” ujarnya.
“Sudahlah, Ndre.” Gigit memutar bahunya, tidak enak juga mendengar Andrea berkata kasar seperti itu.
Zellina juga mengajaknya masuk. Mereka duduk di ruang tamu.
Andrea melihat luka lebih seksama di sudut mata Gigit. Dia sampai tidak mengenali kalau itu bukan luka karena terjatuh, tetapi luka lebam karena pukulan. Kalau benar terjatuh, pasti ada goresan tanah atau aspal pada kulit di sekitarnya.
Dodo masuk, Andrea kembali berdiri, hendak melabrak Dodo.
“Aa harusnya bisa memberi pelajaran kepada mereka, bukan malah membiarkan mereka pergi.”
“Kamu kenapa sih? Yang dipukulinya saja tidak apa-apa, kok kamu yang sewot.” Dodo balik meradang.
“Jangan-jangan mereka disuruh kamu!” Andrea meradang lebih keras, menunjuk muka Dodo.
“Heh! Jaga mulut kamu ya!” Dodo menunjuk wajah Andrea. "Aku tidak sepicik itu menyuruh-nyuruh. Mereka juga punya otak sendiri."
“Ndre, sudah, Ndre!” Zellina merangkul pundak Andrea, sebelum dua saudara itu benar-benar saling cakar.
“Ada apa ini?” Bu Nisma keluar dari kamarnya.
“Ua ....” Andrea berlari ke arah Bu Nisma.
“Ada apa, Neng?”
“Teman-teman si Aa memukuli Gigit. Tidak sopan benget, Ua, Gigit itu teman aku, tamu di rumah ini, mereka seenaknya saja berbuat seperti itu.” Andrea masih emosi.
“Do, benar begitu?” tanya Bu Nisma.
Dodo mendengus, masuk ke kamarnya.
Jeblugg!!
Pintu kamarnya ditutup dengan kencang.
Bu Nisma memandangi Gigit.
“Kamu tidak apa-apa, Nak?”
Gigit tersenyum. “Tidak apa-apa kok, Ua.”
“Maafkan teman-temannya Dodo, mereka hanya salah paham.”
Andrea mengernyitkan dahi. “Salah paham, Ua sudah tahu?”
Bu Nisma terlihat gugup. Dia membereskan rambut di pundak Andrea. “Sekilas tadi Ua mendengar kalian bicara di luar.”
“Tapi tidak semudah itu, Ua. Aku sangat kecewa dengan mereka. Setidaknya A Dodo beri mereka pelajaran juga.”
“Ndre, sudah. Kak Dodo sudah benar, kenapa harus membalas mereka dengan cara yang sama? Kalau itu dilakukan, kita sama saja dengan mereka.” Gigit malah membela Dodo.
“Git, kamu dipukuli, lho, bukan dicubit. Itu perbuatan kriminal. Kalau memang benar A Dodo tidak terlibat, seharusnya dia laporkan ini kepada pihak berwajib, atau setidaknya kepada RT sini.” Andrea masih bicara dengan nada tinggi.
Dodo keluar lagi.
“Baiklah, kalau kamu memang ingin menyalahkan aku, Ndre. Sekarang juga aku akan menghajar mereka.” Dodo memakai jaketnya.
“Eh ... Eh, Do, jangan, Nak!” Bu Nisma tergopoh-gopoh menghalangi Dodo pergi.
“Mbu dengar sendiri kan, dia ingin aku bertindak? Biarkan aku bertindak seperti yang dia mau! Biar dia puas," kata Dodo. Dia berjalan ke luar.
“Kak Dodo,” panggil Zellina. Dodo berhenti berjalan. Dia menoleh kepada Zellina. Dalam emosi juga dia masih bucin.
“Andrea sedang emosi, Kak Dodo juga. Sebaiknya kita dinginkan dulu kepala," kata Zellina dengan suara pelan, dengan maksud Dodo bisa mencerna kata-katanya.
Ren yang melihat kejadian itu dari mulut pintu kamar segera menghampiri.
“Zellina benar, Kak. Sebaiknya kita endapkan dulu masalah ini. Ndre, kita ke kamar dulu.” Ren mengajak Andrea, dengan menggandeng tangannya.
Dia tersenyum kepada Bu Nisma. Bu Nisma mengangguk setuju.
Andrea berjalan dengan malas-malasan. Gigit juga didorong Zellina masuk kamarnya.
Dodo kembali masuk, menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Bu Nisma menghampirinya.
“Sudah, Do. Sebaiknya kamu tidur saja.”
“Aku tidak tahu kenapa mereka melakukan itu. Si Asep tidak jelas juga memberi alasan. Selama ini tidak memperlihatkan kalau suka sama Andrea.” Dodo bicara pelan, seolah hanya untuk dirinya sendiri.
“Sudah, besok juga mereka pulang, masalah akan selesai.” Bu Nisma mengusap kepala Dodo. Dia berjalan kembali ke kamarnya.
Dodo terdiam, kata-kata ibunya sekarang terasa beda. Tidak terlalu membela Andrea.
Dodo benar-benar tidak mengerti dengan sikap teman-temannya. Dia sebenarnya pergi ke air terjun hanya berdua dengan Nceng. Tidak tahu kenapa Asep dan Ujang menyusul. Dia ke sana hanya ingin mengikuti saja, tidak ada maksud lain. Dia tertarik dengan Zellina.
Ketika menemui Zellina dan Ren juga dia hanya meninggalkan Nceng, tidak ada Asep dan Ujang.
Semua kejadian di luar dugaan, Andrea masuk jurang, dan dia harus pergi ke puncak sendirian. Sedangkan teman-temannya beraksi sendiri memukuli Gigit.
“Si Asep tahu Gigit dari siapa? Mereka kan baru datang kemarin malam, pergi juga pagi buta. Anak-anak tidak ada yang tahu. Si Nceng yang menghubungi?" Dodo berpikir, menyimpan kedua tangannya di dagu, merasa ada sesuatu.
Waktu sudah jam dua belas malam, badannya juga penat. Pegal setelah mendaki baru terasa sekarang.
Dodo menoleh ke kamar kakeknya. Di sana ada Zellina, pemilik mata bola pingpong yang besok akan pulang. Dia pasti akan merindukannya.
Dia merebahkan tubuhnya di sofa, dengan pandangan ke pintu kamar kakeknya.
“Kakak, ayo coba kejar aku!” Zellina berlari menjauh sambil tersenyum,
Dodo mengejarnya. Mereka berlari di bukit bunga. Keindahan bunga yang berwarna-warni menambah kebahagiaan di senyum mereka.
Di langit ada layang-layang. Dodo ingin meraihnya, tetapi terlalu tinggi. Zellina tersenyum meledek, sehingga Dodo mengejarnya lagi. Zellina menjulurkan lidahnya.
Dodo menarik tangan Zellina yang semakin dekat. Zellina tertawa geli, Dodo memeluk pinggangnya. Mereka terjatuh, bergulingan di hamparan bunga.
Zellina kini ada di bawahnya.
Mata Zellina terpejam, bibirnya merekah. Dodo tahu Zellina sudah pasrah.
__ADS_1
“Zellin, aku mencintaimu,” bisiknya.
Zellina tetap terpejam, Dodo menyentuh bibirnya dengan jarinya. Zellina tetap terpejam, Dodo tidak kuasa lagi menahan keinginannya, dia segera ******* bibir itu.
“Ehmm ....” Erangan mulutnya didengar oleh kupingnya sendiri.
Dodo terkejut.
Dia terbangun. Ruangan tamu sunyi. Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
Dodo mengangkat tubuhnya dari sofa, berjalan menuju kamarnya. Zellina mulai menyiksanya, masih dekat juga dia sudah merindukannya.
Terasa ada yang tidak enak dari tubuhnya, Dodo meraba celananya. Basah.
Di kamarnya Andrea tidak bisa memejamkan mata. Kejadian tadi membuatnya tidak enak dengan Gigit. Pantas saja Gigit bersikap kurang ramah kepada Dodo.
Ren bergerak, dia memeluknya. “Mama,” gumam Ren. Sepertinya dia sedang bermimpi memeluk mamanya.
Andrea jadi merasa bersalah juga, telah membuat teman-temannya jauh dari keluarganya.
Dia mengambil gawai dari ranselnya. Masih mati, dia juga belum sempat menghubungi ibunya maupun Bi Cicih.
Matanya terpejam, Andrea mulai membaca mantra.
“Neng,” panggil Dale dari dekat jendela. Andrea turun dari ranjang pelan-pelan. Dia takut membangunkan teman-temannya.
Dia menarik tangan Dale ke dekat lemari besar kakeknya. Jika membawanya ke luar kamar, Andrea takut uaknya atau Dodo juga belum tidur.
Dale menatap lemari itu dengan mata nanar.
“Kenapa?” bisik Andrea.
“Saya jadi ingat Juragan. Dulu saya sering duduk di sana menemani beliau.” Dale menunjuk atas lemari.
“Oh, jadi menclok di lemari itu memang kebiasaanmu dari dulu ya?”
“Iya, Neng. Duduk di atas lemari itu menyenangkan, saya bisa melihat setiap sudut kamar ini.”
“Aku juga kangen Ibu,” lirih Andrea. Dia menyandarkan punggungnya ke lemari. “Ponsel aku mati, kamu lihat ibuku, Dal, aku ingin tahu keadaannya.”
“Sayap, Neng!”
“Sebentar!” Andrea memegang lengan Dale. “Bagaimana dengan Lyla dan Bu Anis?”
Sekarang giliran Dale yang memegang tangan Andrea.
“Oh iya, saya belum mengucapkan terima kasih kepada Neng. Berkat Neng, kami berhasil melawan Byork. Lyla sudah berhasil membawa sukma Bu Anis kembali.”
“Alhamdulillah,” ucap Andrea. "Kamu hebat, Dal."
"Ah, Byork satu mah kecil, Neng." Dale menjentikkan kuku. "Kalau se rt, baru takut, hehe."
“Tetapi ....” Dale tidak meneruskan ucapannya.
“Tetapi kenapa?”
“Tetapi Byork semakin dendam. Musuh saya jadi bertambah lagi. Lyla tidak mau saya kenapa-kenapa, jadi dia memutuskan untuk menjauhi saya juga.” Dale menunduk.
“Kok begitu? Kamu sudah menolongnya, dia malah ingin menjauhi kamu,” dengus Andrea. “Tidak beres itu jin betina,” lanjutnya.
“Lyla hanya tidak mau saya celaka, Neng. Byork pasti akan terus dendam kepada saya. Mereka juga sepertinya akan jadi pulang ke Jawa.”
“Apa?”
“Mereka sepertinya akan jadi pulang ke Jawa," ulang Dale.
“Iya, aku dengar, tadi hanya kaget." Andrea mondar-mandir, memikirkan sesuatu.
“Saya jadi melihat Ibu?” tanya Dale.
Andrea memegangi kepalanya. “Iya, sekarang kamu lihat keadaan Ibu, sekalian mamanya Ren. Aku ingin tahu keadaannya. Cepat kembali ya,” perintahnya.
“Sudah tidak ada lagi, Neng?”
Andrea melirik gawainya. “Kamu bisa benerin ponsel?”
“Oh, bisa kalau bongkar, tetapi saya bukan tukang servis, Neng.”
“Oh, ya sudah. Nanti malah acak-acakan. Sudah itu saja dulu, hati-hati di jalan.”
“Sayap, Neng!”
Zellina terduduk sambil menunduk. Andrea kaget melihatnya.
“Kakak, ayo kejar aku!” gumam Zellina. Andrea cepat-cepat membaringkannya lagi.
“Mimpi kejar-kejaran sama siapa dia?” gumam Andrea.
Tidak lama Dale muncul lagi. Andrea juga belum sempat menempelkan kepalanya ke bantal.
"Ibu Neng sedang tidur, mamanya Ren juga. Bi Cicih tidurnya mengorok."
Andrea membuang nafas panjang. "Sia-sia banget sih aku suruh kamu, Dal. Jam segini memang mereka sedang tidur pulas." Andrea naik lagi ke ranjang. "Tidur di mana?"
"Di rumah."
"Ibu sudah pulang ke rumah?" tanya Andrea.
Dale mengangguk. "Mamanya Ren juga."
"Syukurlah. Ternyata tidak sia-sia aku menyuruhmu," kata Andrea sambil senyum-senyum. Itu adalah berita baik, untuknya, untuk Ren juga.
**
“Pagi, Non.” Pak Supri yang sedang mengelap mobil menyapa Zellina. Sejak bertemu lagi, majikannya itu seperti berbeda dari biasanya, lebih kalem dan adem.
“Pak Supri sudah sarapan?” Zellina bertanya kepada Pak Supri, tetapi matanya lirik sana sini, mencari seseorang.
“Sudah, Non. Bu Nisma sangat rajin, beliau sudah memasak dari subuh.” Pak Supri menatap wajah Zellina. “Non kelihatan capek sekali.”
“Aku semalam tidak bisa tidur, nanti di mobil jangan dibanguni ya,” kata Zellina.
“Baik, Non.” Pak Supri menatapnya heran.
__ADS_1
“Tidak tidur?” tanya Andrea. Dia mendengar percakapan Zellina dan Pak Supri.
Zellina mengangguk. Andrea tertawa. “Tidak tidur karena main kejar-kejaran ya?” tanya Andrea.
Zellina terkejut, Andrea mengetahui mimpinya. “Kata siapa?”
“Kata aku lah ... Kakak, ayo kejar daku, nanti kau kutangkap!” ledek Andrea.
“Iiiiikh ... Andreee!” Zellina mengejar Andrea. Andrea berlari masuk ke rumah.
Ren datang, membenarkan letak jilbabnya. “Kenapa pagi-pagi sudah kejar-kejaran? ikutan dong!”
Zellina kembali ke mobil.
“Non Zellina semalam tidak bisa tidur.” Pak Supri tiba-tiba menyeletuk.
“Kenapa? Berat meninggalkan kampung ini?” selidik Ren.
Zellina menyandarkan punggungnya ke pintu mobil. “Berat kenapa?”
“Kali saja, ada yang bikin berat,” ledek Ren. “Berat sama tukang nyusup subuh,” bisiknya.
“Ikh, apa sih, Ren.” Zellina mencubit pinggang Ren. Pagi ini kedua sahabatnya itu seperti sepakat untuk menggodanya.
Ren meringis, Pak Supri mesam-mesam.
“Tidak usah, Ua, nanti mobilnya penuh!” rengek Andrea dari dalam rumah. Bu Nisma mengiringinya dengan dua keresek besar di tangannya.
“Tidak apa-apa, Ndre, ini kan enggak minta digendong, tinggal simpan di bagasi.” Bu Nisma mencari Pak Supri.
“Pak Supri! Ini bawa, masukkan ke mobil!” serunya.
Pak Supri datang tergopoh, dia sedikit terhuyung karena tiba-tiba kepalanya kliyengan. “Sumuhun, Bu.” Dia membawa keresek oleh-oleh dari tangan Bu Nisma.
Andrea tidak bisa berbuat apa-apa, Ren dan Zellina tersenyum geli melihatnya.
Gigit sedang mengenakan sepatu, ketika Dodo muncul di mulut pintu, wajahnya segar, pagi-pagi sudah mandi.
Tidak ada percakapan di antara mereka.
Andrea menarik tangan Gigit, menjauh dari Dodo.
Dodo tidak peduli. Dia hanya peduli kepada Zellina.
Andrea menghampiri Bu Nisma. “Ua, aku pamit pulang dulu, terima kasih, maaf aku selalu merepotkan.”
Bu Nisma mencium pipi Andrea. “Iya, Neng, maaf, Ua tidak bisa ikut. Salam buat Ibu ya, semoga cepat sembuh. Tentang biaya operasi, nanti Ua kabari lagi.”
“Iya, Andrea tunggu ya, Ua. Terima kasih untuk segala perhatian Ua."
Satu per satu teman-temannya juga berpamitan.
Zellina menghapiri Dodo.
“Kak, aku pulang ya.” Dia menatap mata Dodo dengan senyuman manisnya. Sebenarnya banyak yang ingin dia katakan kepada cowok itu, termasuk tentang mimpinya semalam.
Dodo memandangi wajah Zellina, dia juga ingin mengatakan sesuatu kepada cewek itu. Tentang mimpinya semalam. Tetapi tidak dengan celananya yang basah tentu.
Keduanya hanya diam, membisu, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Lalu keduanya sama-sama menyimpan mimpi itu untuk mereka saja.
“Ayo, Zell, sudah siang nih!” Andrea segera menyusul Ren dan Gigit yang sudah ada di mobil. Dia sendiri malas berpamitan dengan Dodo.
Dodo juga tidak peduli.
Zellina berjalan, dengan mata masih menatap Dodo. Entah apa yang diharapkannya dari cowok itu. Menahannya, atau mungkin berlari memeluknya.
“Zellin,” panggil Dodo. Zellina berhenti berjalan. “Hati-hati,” ucap Dodo.
Ada kecewa di raut muka Zellina, tetapi tidak lama, dia segera mengangguk dan tersenyum.
Mobil bergerak meninggalkan halaman rumah besar itu, diiringi tatapan Dodo dan Bu Nisma dengan pikiran masing-masing.
“Aku pergi dulu, Mbu,” pamit Dodo, setelah mobil tidak kelihatan lagi.
“Ke mana? Masih pagi begini.” tanya Bu Nisma.
“Biasanya juga Mbu tara bertanya.”
“Sekarang Mbu bertanya.”
Dodo menyambar jaketnya di atas motor. “Ke si Asep.”
“Masih urusan kemarin? Jangan mengungkit masalah yang sudah selesai, Do. Mendingan kamu bantu Mbu, keluarkan sofa, mau dijemur. Mbu lihat tadi basah. Ketumpahan apa ya?” Bu Nisma bicara sambil masuk ke dalam rumahnya.
Dodo terkejut, jangan-jangan itu bekas mimpinya semalam.
Dia buru-buru masuk, melihat sofa yang ternyata basah di sudutnya, pas bekas pantatnya semalam.
Dodo mengangkat potongan sofa ke teras, untuk menjemurnya dekat kolam.
Dia sekalian duduk di sana, menunggu matahari muncul, sekalian ingin berkhayal. Tentang Zellina, tentang mimpinya semalam.
“Ah!” serunya. Dodo memukul sofa yang didudukinya. “Kenapa enggak minta nomor ponselnya?” Dia meremas rambut spike-nya.
Dia gengsi harus minta kepada Andrea. Adiknya itu sekarang sedang kesal kepadanya gara-gara Gigit.
Dodo duduk bersandar, berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan nomor Zellina.
Matanya tertumbuk pada basah di tanah dekat pohon jambu air. Sekilas seperti bekas tumpahan minyak.
Dodo beranjak untuk melihatnya lebih dekat. Sebagai seorang pengendara, dia tahu itu tumpahan minyak pelumas.
Dia melihat motornya, dari kemarin juga disimpan di teras, karena di bawah pohon jambu itu ada mobil.
“Oh, dari mobil,” gumamnya. Dia kembali ke sofa. “Apa ada yang bocor?” gumamnya lagi.
Dodo tidak jadi meneruskan berkhayal. Dia mengenakan jaketnya, lalu naik ke motornya.
“Itu minyak rem. Jangan-jangan ada masalah dengan rem mobil itu.” Dodo bicara sendiri, sambil memacu motornya.
“Do! Dodo! Ke mana?” Bu Nisma berteriak-teriak dari teras.
*bersambung
__ADS_1
* sumuhun \= baiklah
* tara \= tidak pernah