My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 43 Hati yang Terpotek


__ADS_3

Ren menyikut Andrea, sambil menggelengkan kepala, meminta Andrea untuk menghentikan ide konyolnya itu.


Tetapi Andrea tetap melancarkan aksinya. "Iya, Bu. Pak Iwan, juragan gabah yang punya sawah luas di dekat sekolah. Yang masih setia membajak sawah dengan kerbaunya, sehingga pecutnya selalu terdengar menggelegar sampai ke kelas kita. Saingan dengan jidar Ibu, hehe ...."


Bu Anis masih terlihat bingung.


Ren menelan ludah ketika melihat Bu Anis kebingungan seperti itu, dia sudah bersiap jika harus mendengar gelegar jidar kayu, tetapi lega setelah melihat sekeliling ruangan itu tidak ada jidar, semuanya barang antik yang tidak mungkin Bu Anis banting.


Dia menengok ke ruangan dalam, menunggu asisten Bu Anis membawa minum. Kerongkongannya kering menahan gugup.


Nekad benar si Andre, tidak takut pulang bonyok apa? Batin Ren.


“Ada apa dengan beliau?” tanya Bu Anis, keningnya mulai berkerut.


“Euuhh, Pak Iwan sakit, Bu,” sahut Andrea. Dia terlanjur beraksi jadi harus melanjutkan semuanya sampai tuntas.


“Ada hubungannya dengan saya?” tanya Bu Anis lagi, kerutan di keningnya bertambah.


Andrea melirik Ren yang menunduk antara malu dan takut, juga haus.


“Sejak Ibu berhenti, beliau juga tidak pernah terlihat di sawahnya. Lalu kami dapat kabar, beliau sakit, patah hati.” Andrea menghentikan ucapannya, melihat reaksi Bu Anis yang semakin mengerutkan kulit keningnya.


Tidak ada tanda-tanda akan marah, makanya Andrea meneruskan ucapannya, “hanya untuk info saja, beliau adalah seorang perjaka tua. Selama ini, tidak pernah absen ke sawah demi dekat dengan Ibu, pujaan hatinya.”


Bu Anis sedikit salah tingkah, terlihat dari matanya yang berkedip-kedip tidak terkontrol.


“Kalian dapat kabar dari siapa? Selama ini kalian dekat dengan Pak Iwan?”


Andrea terlihat gugup, dia tidak mungkin bilang kalau dia dapat info dari Dale.


“Ada teman yang mengatakannya kepada saya,” jawab Andrea.


“Maaf, Bu, maksud saya, kembalinya Ibu ke sekolah bukan hanya demi kami, tetapi juga demi sebuah hati yang terpotek,” lanjutnya.


Ren tidak kuat menahan geli, mendengar penuturan Andrea tentang Pak Iwan. Dia tertawa tertahan, membuat Bu Anis menoleh.


“Terpotek, memang beliau ayam?”


“Kalau ayam berkotek, Bu,” sahut Andrea.


“Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, apa itu terpotek?" Bu Anis malah menguji.


“Euuh, Terpotek itu terpetik, patah tanpa sengaja, atau disengaja juga bisa,” Andrea menggerakkan tangannya, seperti sedang memperagakan memotong kacang panjang oleh tangannya.


Bu Anis terdiam, kerut di keningnya mulai terurai sedikit demi sedikit. Dia mulai bisa mencerna apa yang disampaikan Andrea sedikit demi sedikit.


Hatinya shock juga, tetapi dibuat biasa saja, demi menjaga reputasinya di depan anak-anak didiknga.


Dengan gemulai Bu Anis berdiri, gaun rumahan yang dipakainya tampak pas di tubuhnya yang ramping.


Dia memandangi taman rumahnya yang asri. Kucingnya sudah lari entah ke mana.

__ADS_1


Tidak berapa lama Bu Anis bicara pelan. Suaranya terdengar lembut penuh perasaan.


“Sebenarnya sudah lama merasakan gelagat itu, tapi tidak mau berprasangka lebih.”


Andrea dan Ren yang pendengarannya masih tajam karena sering berlatih menguping, berbinar, seperti sedang memancing ikan dan kena umpan.


“Jadi, Ibu juga menyukai Pak Iwan?” tanya Andrea.


Bu Anis terbelalak. Ren menyikut Andrea, kali ini agak kencang, sampai Andrea kesakitan.


“Bukan, bukan itu maksud saya …” jawab Bu Anis dengan wajah berubah-ubah, terkejut, gugup, lalu malu, sampai akhirnya kesal.


"Kebiasaan jelek jangan dipertahankan!"


"Kebiasaan apa, Bu?" tanya Ren.


"Menguping," sahut Bu Anis.


"Maaf, Bu," kata Andrea dan Ren berbarengan, meskipun dalam hati mereka tidak mengakui kalau tadi menguping. Mereka kan satu ruangan, jadi bisa mendengar dengan jelas. Bu Anis yang gumamnya kekencangan.


Benerapa saat tidak ada yang bicara. Bu Anis kembali memandangi taman.


Andrea dan Ren tersenyum mengerti ketika melihat rona di wajah Bu Anis yang tengah senyum-senyum sendiri.


Rupa-rupanya Bu Anis juga sama-sama memendam rasa kepada Pak Iwan. Bagi Andrea itu seperti pucuk dicinta ulam pun tiba.


“Bagi Pak Iwan, tidak masalah ibu menerima dia atau tidak, kehadiran Ibu di sekolah adalah semangat dalam hari-harinya. Tetapi, jika Ibu memang harus berobat ke kampung halaman, kami bisa apa, tetapi mungkin Ibu bisa memikirkan lagi untuk selamanya di sana. Sekali lagi, demi hati yang terpotek.” Andrea masih berusaha memperagakan memetik sayuran.


“Jika berkenan, kami bisa membantu,” ujar Andrea lagi, membuat Ren terbelalak.


Bu Anis juga terkejut, dia menoleh kepada Andrea, matanya melebar.


"Membantu apa?" tanya Bu Anis.


"Membantu Ibu mengobati hati yang terpotek," jawab Andrea.


“Kalian apa-apaan, tidak usah! Kalian sudah selesai? Saya bukan mengusir, tetapi ini sudah siang, sudah saatnya kalian kembali ke sekolah.” Bu Anis mengusir mereka secara halus.


“Baik, Bu. Kami mohon maaf jika sudah lancang. Ini semua kami lakukan demi mendapatkan ilmu lagi dari ....”


“Andrea, Mauren, terima kasih atas usaha kalian.” Bu Anis memotong ucapan Andrea sambil tersenyum.


Andrea dan Ren mengangguk lesu. Mereka berpamitan sambil saling sikut.


Asisten Bu Anis datang membawa nampan. “Lho, tamunya pulang, Ndoro?”


“Kamu kelamaan, ngapain saja di dapur?”


“Goreng ini dulu, Ndoro, makaroni bantat.”


“Sudah, bawa lagi ke dalam!”

__ADS_1


“Baik, Ndoro.”


Andrea dan Ren yang masih di depan pagar mendengar semuanya.


“Dari tadi, kek, aku haus,” gerutu Ren.


“Goreng dulu makaroni bantat,” bisik Andrea.


"Gagal lagi, Ndre." Ren berjalan mencari angkot, raut mukanya putus asa. "Mungkin memang harus menyerahkan surat pernyataan itu."


"Belum, kita kan tidak tahu, setelah ini Bu Anis akan gelisah dan penasaran. Aku sering baca novel percintaan, biasanya pemeran utama suka mendapat kemenangan dengan kejutan yang tidak terduga." Andrea berkata penuh percaya diri.


"Maksudnya, kamu pemeran utama?" cibir Ren.


"Pak Iwan lah, yang sedang punya kisah cinta kan Pak Iwan," sahut Andrea. "Pangeran Pemecut Kerbau," lanjutnya.


Ren tertawa. "Kualat, lho, begitu sama orng tua," katanya.


"Aku hanya membantu, Ren, kalau Pak Iwan jadian sama Bu Anis apa itu bukan perbuatan membantu?"


"Iya deh, iya. Walaupun sebenarnya kita juga punya kepentingan, kan? manfaatkan hati Pak Iwan yang terpotek."


Andrea cengengesan.


Angkot datang, lalu berhenti dan menelan dua anak sekolah yang tengah berjuang demi kelasnya itu.


“Buyut itu apa, Ndre?” tanya Ren ketika sudah di dalam angkot.


“Euuuhh, setahu aku sih. Bapaknya kakek, atau kakeknya bapak," sahut Andrea.


“Bagaimana sih?” Ren kebingungan, dia garuk-garuk jilbab.


“Begini deh, kamu punya Kakek?” tanya Andrea.


“Sudah meninggal.”


“Tapi punya kan?”


“Iya, punya, dua-duanya sudah meninggal.”


“Nahh, buyut itu ayahnya kakek kamu."


Ren berpikir sebentar lalu melongo, takjub, sudah setua itu Bu Anis masih punya buyut. "Umurnya berapa ya?" gumamnya.


Andrea melihat jam di gawainya. Tiga puluh menit lagi jam pelajaran berganti, mereka harus segera ada di sekolah.


Tiba-tiba gawai Ren berbunyi. Ada telefon dari nomor yang tidak dikenal.


“Hallo, saudari Mauren. Ditunggu sekarang di klinik Waras Jiwa. Ibu Anda anfal, dan membutuhkan kedatangan Anda di sini.” Suara perempuan dari seberang tetefon terdengar serius.


*bersambung

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak, komen, like, dan vote ya Readers. Semuanya sangat berarti untuk Author, terima kasih 🙏❤❤*


__ADS_2