
Bu Nisma masih menyulam di teras, ketika Dodo kembali. Sesekali terbatuk, lalu meminum tehnya. Dia melepaskan kacamata yang dipakainya.
“Sibuk banget, Do? Dari tadi Mbu lihat, ada apa?" tanyanya.
Dodo tidak segera menjawab pertanyaan ibunya. Dia duduk dengan wajah yang sulit untuk digambarkan, yang pasti tidak enak dilihat.
“Mbu," ucapnya. Dia seperti ragu untuk bicara.
“Hmm ....” Bu Nisma menatapnya.
“Kenapa Mbu melakukan semua itu kepada Andrea?” tanya Dodo.
Bu Nisma memakai kacamatanya lagi, lalu asyik dengan benang sulamnya lagi. Menusuk, menyilang, menusuk lagi, mengikuti pola yang dia siapkan. Kacamatanya melorot beberapa kali, sehingga harus beberapa kali juga dia benarkan letaknya.
“Melakukan apa?” setelah beberapa lama mendiamkan Dodo, dia bertanya.
“Mbu jangan pura-pura tidak tahu.”
“Memang Mbu tidak tahu,” sahut Bu Nisma, masih dengan sikap santai.
“Aku sudah besar, Mbu. Mbu jangan perlakukan aku seperti anak kecil terus.” Dodo mulai kesal. "Mbu kira aku tidak tahu rencana Mbu terhadap Andrea?"
“Lho, siapa yang memperlakukan kamu seperti anak kecil? Bukankah selama ini kamu melakukan banyak hal yang cukup dewasa? Sakarepna, tidak mau kuliah, maunya berhura-hura, traktir sana-sini, pergi pagi, pulang malam, sudah seperti Mang Toyib,” sindir Bu Nisma.
Dodo membuang nafas. “Mbu, aku serius. Apa yang ibu lakukan kepada Andrea sudah melampaui batas.”
Bu Nisma masih tenang. Dia menggulung benang yang dipakainya menyulam. Dia tahu, Dodo mengetahui semuanya dari Mang Ohen.
Awas maneh Ohen, batinnya.
“Jadi, kamu sudah tahu semuanya?”
“Aku harap Mbu menghentikannya.”
“Lalu, kamu bisa menghentikan kebiasaanmu?” Bu Nisma menatap Dodo.
"Mbu? Apa hubungannya dengan kebiasaanku?"
Bu Nisma menyimpan alat-alat menyulamnya ke meja dengan kencang.
Prakk!!
Ring besi menghantam meja marmer.
“Anak bodoh! Ibumu ini sedang memperjuangkan hakmu, mengusahakan kehidupanmu agar tidak kekurangan, berusaha supaya kamu bisa tetap hidup senang. Kamu malah menyuruh menghentikan semuanya.” Bu Nisma berdiri, wajahnya yang tadi masih lembut sekarang berubah menjadi menggarang. Rahangnya mengeras, mengubahnya menjadi ibu yang berbeda dari selama ini.
Dodo terkejut, baru kali ini dia melihat ibunya berwajah galak kepadanya. “Mbu?”
“Apa kamu lupa? Kamu tidak punya keahlian apa-apa selain menghamburkan uang, apa kamu sadar? Kamu hanya mengandalkan peninggalan Aki. Apa kamu tidak tahu? Aki memperlakukan kita dengan tidak adil!” Bu Nisma menunjuk hidung Dodo.
Dengan gemetar, Bu Nisma meneruskan ucapannya, “Kamu, tidak jauh beda dengan ay ....”
“Cukup, Mbu, jangan bandingkan aku dengan ayahku!” Dodo juga berdiri. Dia tahu sifat buruk ayahnya di masa lalu.
Bu Nisma tersenyum sinis. “Mbu juga tidak mau menyamakan kamu dengan dia, tetapi kenyataannya kalian sama."
"Mbu tidak sadar, kalau Mbu sendiri yang membuatku begini. Pikasebeleun, tengil, judes kepada Andrea dan ibunya. Ibu sengaja kan? membuat aku kesal kepada mereka?"
Dodo melangkah masuk ke dalam rumah.
“Dengan membela Andrea, kamu akan dapat apa? Aki sudah mewariskan semuanya kepada dia, kita tidak dapat apa-apa.” Bu Nisma bicara lagi.
Dodo menghentikan langkahnya. Tidak menyangka ibunya akan setamak itu.
"Mbu masih meninggali rumah Aki, menikmati hasil sawah, kebun, pabrik. Masih kurang?" tanya Dodo. Dia berusaha selunak mungkin mengungkapkan kekesalannya, dia tidak mau durhaka.
"Tidak, Do! Aki tidak mewariskannya kepada kita. Semua diwariskan kepada Mang Danu, paman kamu!" Bu Nisma sedikit histeris.
Dodo terkejut. "Kenapa? Mbu melakukan kesalahan apa?"
"Mbu tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aki kamu hanya tidak percaya kepada Mbu."
"Dan Aki benar. Aku setuju dengan Aki."
Dodo masuk ke kamarnya.
Bu Nisma terdiam.
Jadi selama ini ibunya telah mengusai harta milik Andrea? Pantas saja dia tidak bisa menjualnya.
Sedangkan Andrea dan bibinya tidak tahu apa-apa, tetap berjuang hidup sendiri di kota. Hanya ikut menikmati hasil kebun yang tidak seberapa banyak. Bahkan mereka tahunya tanah warisan kakeknya itu tidak produktif, diambang kebangkrutan. Padahal dia tahu sendiri, sawah selalu menghasilkan panen yang melimpah. Kebun karet dan pabriknya juga tidak pernah berhenti produksi.
Andrea dan bibinya saja yang kelewat percaya kepada ibunya untuk mengurus semuanya, sehingga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka telah dibohongi. Ibunya sangat pandai bersandiwara.
Dodo termenung di kamarnya, tidak menyangka sama sekali ibunya setamak ini.
Rupanya kakeknya sudah mengetahui sifat anak perempuannya itu, makanya dia tidak memberinya hak warisan atas namanya, tetapi atas nama Danu, adiknya.
Ibunya membuka pintu kamarnya. Dodo tidak menghiraukannya, dia memandangi luar jendela.
Bu Nisma duduk di ranjangnya.
“Sekarang kamu sudah tahu semuanya, Mbu harap, kamu mengerti. Mbu juga tidak akan membiarkan Andrea begitu saja.”
“Aku tidak percaya,” kata Dodo. Dia tahu, ibunya sedang berusaha mengambil hatinya untuk tidak mencampuri urusannya.
“Ya sudah, terserah kamu. Andrea sekarang sedang membutuhkan untuk operasi ibunya, Mbu akan memberinya.”
“Kalau Mbu berniat memberinya, kenapa tidak dari kemarin, ketika dia masih di sini. Mbu bicara seperti itu hanya untuk menyenangkan hatiku. Aku tahu, Mbu akan memberinya, tetapi tidak membuat Mbu berhak atas harta yang seharusnya menjadi milik mereka."
Bu Nisma kembali berang. “Cukup, Do! Mbu melakukan semua ini juga demi kamu!”
“Demi aku? Kalau demi aku, sekarang juga Mbu serahkan hak Andrea, Mbu. Apa Mbu enak makan hak orang lain?”
“Dan kita tidak punya apa-apa?”
“Terus kenapa kalau tidak punya apa-apa? Aku bisa bekerja.”
Bu Nisma tertawa, “Do, Do. Kamu ini, mau bekerja apa? Ngupil saja tidak bersih, mau bekerja ....”
“Aku yakin, Andrea juga tidak akan membiarkan kita, Mbu. Aku tahu sifat dia, dia seperti Om Danu." Dodo bicara pelan, dia mendadak sedih ketika mengingat pamannya itu. Selama ini dia tidak bisa menjagakan Andrea untuknya. Padahal pamannya itu sangat menyayangi dia dan ibunya.
“Tidak!” Bu Nisma berdiri dengan wajah menggarang lagi. “Pokoknya Mbu tidak ingin harta ayahku jatuh kepada dia. Kamu laki-laki, Do, lebih berhak atas semua ini. Mbu tidak rela sepeser pun Andrea menikmati warisan ini. Camkan itu, Do!”
__ADS_1
Bu Nisma keluar kamar, dia membantingkan pintu dengan kencang.
“Mbu!” Dodo mengejar. Gawainya berbunyi, ada chat masuk, dari Zellina. Dodo tidak segera membacanya, dia memasukkan kembali gawainya ke dalam saku. “Mbu!” Dodo memanggil kembali ibunya.
Bu Nisma pergi ke luar, entah mau ke mana.
Dodo meremas rambutnya, pikirannya kacau. Dia cepat-cepat menuju motornya untuk menyusul ibunya.
**
Zellina merengut, Dodo tidak membalas chat yang dia kirimkan diam-diam. Jalanan yang mereka lalu sudah nyaman, menjauh dari liku-liku jalan pegunungan.
Ren sudah nyaman tertidur, Andrea asyik melamun. Tidak ada yang bicara, hanya Gigit yang sibuk sendiri di belakang kemudi.
Gigit, melirik Pak Supri yang mulai siuman dari tidur nyenyaknya.
“Pak Supri sudah bangun?” tanya Gigit.
“Pak Supri, welcome to the world,” seru Andrea, dari belakang.
Pak Supri terkejut, sambil mengelap iler. “Non, ke mana Nona saya?” Dia seperti orang linglung.
“Nona Pak Supri di belakang,” sahut Gigit.
Pak Supri segera menengok Zellina yang sudah merengut di belakang, bibirnya maju bercenti-centi sambil menatapnya.
“Non, Alhamdulillah, Non baik-baik saja?” tanya Pak Supri.
“Pak Supriiii ....” jerit Zellina.
“Zell!" Ren terbangun. Dia melempar Zellina dengan tisu yang dipegangnya.
Zellina menghentikan jeritannya.
"Kamu mulai lagi, deh, Zell," kata Gigit.
“Pak Supri, sudah teruskan tidurnya, aku baik-baik saja, kok,” kata Zellina dengan lemah lembut. Dia ingat kata-kata Gigit tentang sopan santun kepada orang tua.
Gigit tahu, Zellina hanya akting. Pak Supri malah semakin tidak enak.
“Sudah, Non, cukup.” Pak Supri cengengesan. “Nak Gigit, biar saya gantian menyetir,” katanya kepada Gigit.
“Pak Supri yakin sudah tidak mengantuk?” tanya Gigit.
“Yakin, Den ... Eh, Git, duh, Nak Gitgit.”
“Nah kan, jadi Gitgit ... Pak Supri tenang saja, sebentar lagi kita sampai Bandung. Zell, kita istirahat di sana ya?” tanya Gigit.
“Terserah,” sahut Zellina.
“Ndre?” Gigit bertanya kepada Andrea.
“Kata Nona juga terserah, Git.”
“Ya sudah, kita istirahat dulu di Paris van Java," seru Gigit.
"Aku tidak ditanya, Git?" Ren bertanya dengan suara parau.
"Kamu enggak usah ditanya, mau protes juga tidak bisa. Lemah!" kata Zellina.
"Ikh, nyendernya jangan ke sini!" Zellina mendorong kepala Ren. Ren malah semakin menekan kepalanya.
"Ke mana kita?" Gigit butuh penjelasan.
“Alun-alun saja, Git.” Andrea yang menjawab.
“Baik, Non,” sahut Gigit.
"Aku bukan Nona, Git. Nona lagi asem," sahut Andrea, sambil melirik Zellina yang merengut karena keberatan menahan kepala Ren.
Gigit melirik ke Andrea lewat spion depan. Pandangan mereka bertemu di spion. Andrea tersenyum kecil, Gigit juga.
Duh, cowok ini, maunya apa? Batin Andrea.
Pak Supri yang tidak enak duduk, dia berkali-kali bergerak seperti orang kebelet, karena duduk di tempat duduk majikannya.
Zellina kembali melamun, dia sebenarnya tidak peduli Pak Supri duduk di mana, atau Ren yang ngiler di pundaknga, yang dia pikirkan hanya Dodo, yang belum membalas chat nya.
Baru tiga jam mereka berpisah, tetapi rindu sudah menyergap kembali. Dia tidak bisa membayangkan jika sudah di rumah nanti, apakah akan kuat menanggung rindu itu.
“Hhh .....” Zellina mendesah.
“Kamu kenapa?” tanya Andrea.
“Ngga.”
Andrea mencebik. “Hadeuuhh, tumben banget kamu tidak jujur, biasanya paling vokal kalau curhat.”
“Mau vokal bagaimana, tidak ada yang harus dicurhatin.” Zellina menopang dagu pada kaca mobil.
“Oke deh, seterah kamu.”
"Terserah."
Mereka sampai di Bandung. Setelah makan, duduk-duduk di rumput sintetis di dekat masjid besar, mereka bertiga berjalan mengikuti orang-orang. Gigit masih asyik di masjid.
Tragedi rem blong sudah terlupakan, diganti dengan keceriaan menikmati Bandung sore hari.
Gigit menghampiri Andrea yang duduk di bangku panjang di kawasan jalan Asia Afrika. Dia sedang memerhatikan Ren dan Zellina yang sedang berselfie ria bersama para super hero dan hantu-hantu KW di sana, hiburan khas dari jalan itu.
“Sudah selesai?” tanya Andrea.
“Sudah, kamu?”
“Sudah dari tadi, kamu berdoa apa? lama sekali, jadi kita tinggal.”
Gigit tersenyum. “Banyak.”
Mereka terdiam, sambil memerhatikan orang berlalu lalang.
“Git, terima kasih ya, kamu sudah banyak sekali membantu. Padahal aku pasti menyebalkan banget buat kamu.”
Gigit tersenyum, dia mengacak-acak rambutnya yang masih basah bekas air wudu.
“Aku juga minta maaf, kalau kemarin memaksa kamu menceritakan semuanya. Dan aku juga mau ....” Gigit lama terdiam. Andrea menolehnya.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Semalam itu ....” Gigit seperti ragu untuk bicara.
Andrea melemparkan pandangannya ke arah lain, jantungnya berdetak kencang lagi.
Ya ampun, Gigit, kenapa malah mau nembak di sini, batin Andrea.
“Malam itu, sepertinya kita terbawa suasana. Aku mau minta maaf sama kamu.” Gigit melanjutkan ucapannya dengan perlahan.
Jlebb!!
Pelan sih, tetapi menusuk bagi Andrea. Seperti ada pedang menancap di dadanya, dia merasa kesakitan, walaupun tidak berdarah.
“Benar kata orang tua, laki-laki dan perempuan tidak boleh berduaan saja ketika malam, karena akan mengundang setan menyusup, bahkan agama juga melarang," kata Gigit lagi, sambil tersenyum.
Andrea jadi memaksakan diri untuk tersenyum juga, walaupun sakitnya masih begitu perih.
“Iya, aku juga minta maaf.” Andrea berdiri, menghampiri Ren dan Zellina. Gigit memandangi punggungnya dengan sorot mata sesal. Dia mengusap wajahnya.
Maafkan aku, Ndre, batin Gigit.
Sebelum Andrea sampai, Zellina sudah menghambur berlari ke arahnya.
“Ndre, Kak Dodo mau menyusul!” seru Zellina.
Andrea mengernyitkan dahi. “Menyusul ke mana?”
“Ke sini,” sahut Zellina.
“Kakak kamu menghubungi Zellina, katanya mau menyusul kita di sini. Kita disuruh menunggunya.” Ren ikut bicara.
“Ada apa?” tanya Andrea.
Zellina mengangkat bahu, berbeda dengan Andrea yang bingung, wajahnya semringah.
“Telfon saja, Ndre!” saran Ren.
Zellina sedikit ragu, tetapi dia akhirnya menyerahkan gawainya. “Boleh, nih. Hubungi saja.”
Andrea meraih gawai yang diberikan Zellina. Nadanya tersambung, tetapi Dodo tidak menjawab.
"Tidak diangkat." Andrea memandangi Zellina dan Ren.
"Mungkin sudah jalan, kita tunggu saja," kata Ren.
“Kapan dia menghubungi?” tanya Andrea.
“Barusan,” sahut Zellina. Andrea memandanginya. “Ndre, ponsel kamu kan mati. Untung saja aku tadi tukaran kontak sama dia,” lanjut Zellina, seolah tahu kalau Andrea curiga dengan hubungan mereka.
Zellina belum mau memberi tahu Andrea tentang hubungan mereka yang baru jadian beberapa jam yang lalu dengan simbol rumput ilalang.
Dia mau memberi tahu itu nanti, sebagai kejutan. Terlalu istimewa untuk diproklamasikan darurat seperti itu.
Gigit menghampiri mereka. Andrea sedikit jengah, dia kini merasa Gigit sudah berubah menjadi orang lain. Hatinya masih berdarah.
“Ada apa?” tanya Gigit.
“Git, kita sepertinya agak lama di sini, Kak Dodo mau menyusul ke sini. Dia nik bis dari sana," kata Zellina.
Gigit mengernyitkan dahi. Andrea juga.
“Naik bis?” tanya mereka berbarengan.
“Iya,” sahut Zellina.
Andrea berbalik, lalu berlari.
"Ndre, kamu mau ke mana?" tanya Ren.
"Menghubungi Dale!" seru Andrea. Dia berhenti berlari, sambil menutup mulut. Dia keceplosan.
"Siapa Dale?" tanya Gigit.
Ren kebingungan harus menjawab apa, dia menggaruk-garuk jilbabnya sambil mengangkat bahu. "Mungkin mencari lele."
"Lele?" tanya Zellina. "Pecel lele?"
Mereka memandangi Andrea yang semakin menjauh, lalu hilang berbaur dengan orang-orang yang semakin sore semakin banyak.
Di balik tembok pagar, Andrea berhenti. Di sana jarang orang lewat. Dia segera membaca mantra seperti biasanya.
"Neng," panggil Dale.
"Dal, ada tugas buat kamu." Andrea celingukan, melihat mana tahu ada orang yang melihatnya bicara sama tembok pagar.
"Saya sayap membantu, Neng."
"Aku ingin kamu cari tahu, A Dodo sampai di mana, dan beritahu aku ada apa sampai dia mau menyusul ke sini."
"Sayap, Neng."
"Aku curiga, dia tahu siapa yang telah membuat rem mobil blong."
"Perlu saya cari tahu juga, Neng?"
"Ehm ...." Andrea berpikir. "Boleh, tetapi, nanti kalau sudah mengetahui tentang si Aa."
"Sayap, Neng!" Dale memberi hormat.
"Ya sudah, sana berangkat, jagain juga A Dodo ya!" perintah Andrea.
"Sayap, Neng!"
"Sayap, sayap, sudah empat sayap tuh! GPL!"
"GPL itu apa, Neng?"
"Gak Pake Lama!" seru Andrea.
"Oke." Dale menjentikkan jarinya, lalu raib.
Andrea menyandarkan punggungnya ke tembok.
bersambung
__ADS_1
* sakarepna \= semaunya