My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 7 Bertemu Suruhan Leluhur


__ADS_3

Bel pelajaran segera mulai sudah berdentang sejak mereka masih di dalam toilet.


Andrea setengah berlari menggeret Zellina karena takut Bu Anis sudah datang ke kelas, apalagi Ren sudah seperti orang kesurupan berlari terlebih dulu meninggalkan mereka dengan rok diangkat.


Siswa-siswi yang kebetulan melihatnya tertawa cekikikan.


“Pasti bagian pelajaran Bu Anis,” tebak salah satu siswa.


“So pasti,” kata temannya.


Mereka juga memerhatikan Andrea dan Zellina. “Setia banget, bergandengan ...."


Andrea melirik. ”Permisi, Kakak, mau nyebrang!” dia menerobos kerumunan siswa yang menggodanya


.


“Cie ngegas."


"Tapi makin manis sih.”


“Heh! Kalo ngegas itu makin kencang, bukan makin manis,” seru Zellina.


" Masa? Kok kamu malah makin manis ya, hahahaa ...."


"Iya, men. Kalah tebu."


"Jadi pengen ngisep ...."


Siswa kelas tiga yang menggoda semakin riuh, Andrea sedikit kelimpungan karena sebel. Dia kembali menggeret tangan Zellina untuk menjauh dari mereka.


“Kamu itu kebiasaan, Zel, bikin mereka makin rusuh,” kata Andrea.


Zellina mencebik. “Bukannya kamu yang ngarurusuh? Aku itu kalau di toilet enggak bisa sebentar.”


“Ya lihat sikon dong, ini udah mepet jam pelajaran Bu Anis.” Andrea bicara sambil terus menggeret tangan Zellina.


“Aku kan sudah dari awal bilang, kebelet, ingin ke toilet, kamu dan Ren yang mengulur-ngulur waktu di kantin."


Giliran Andrea yang gemas, dia melepaskan tangan Zellina. “Terserah kamu lah, aku mau lari.” Setelah itu Andrea berlari dengan mengangkat rok panjangnya.


Zellina berhenti berjalan, lalu menggigit tangannya. “Ndreee … tunggu!”


Andrea tidak menggubrisnya, dia cepat-cepat menyusul Ren.


Tiba di depan pintu kelas Ren berhenti, Andrea hampir menabraknya.


“Kenapa?”


Ren menyimpan telunjuk ke mulutnya. “Bu Anis,” bisiknya.


Andrea terkejut, dia memegang dadanya. “Gawat,” gumamnya.


“Kaliaaaan ….” Zellina berteriak.


“Ssssttt!!!” Andrea dan Ren bersamaan menyuruh Zellina diam dengan membekap mulut gadis manja itu.


Di dalam kelas, Bu Anis sudah berdiri lengkap dengan jidar panjangnya. Bersiap memberi pelajaran pertama hari itu, matematika.


Zainal yang gemulai sudah mulai pucat pasi, kedua tangannya diremas-remas di atas paha. Kalau orang yang tidak mengenal dia, pasti sudah berpikiran jorok.


Gengnya Akri sudah lengkap duduk di bangku masing-masing, tidak bersuara, padahal biasanya geng paling ribut. Di hadapan Bu Anis mereka sudah seperti jangkrik terinjak.


Dewi dan Rani sudah mengamankan perangkat shownya. Takut dibajak Bu Anis.


Kharisma Bu Anis membuat anak-anak penganut aliran rusuh seperti mereka selalu mati kutu.


Andrea, Ren, dan Zellina akhirnya memberanikan masuk dengan terlebih dulu mengetuk pintu pelan-pelan, lalu terbungkuk-bungkuk di depan Bu Anis yang memandangi mereka dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Tusuk konde andalannya terlihat lebih runcing dari tombak yang siap menusuk lawan.


Bu Anis, guru matematika merangkap wali kelas plus guru BP itu menarik nafas, menggerakkan jidar dan menunjukkannya ke arah Andrea cs.


“Cepat kalian duduk! jangan sampai saya hilang kesabaran,” ujarnya, kali ini agak lunak. Andrea, Ren dan Zellina mengibrit ke tempat duduk masing-masing.


Mereka lega luar biasa, seperti baru saja berhadapan dengan singa betina yang baru melewati pramenstruasi sindrom.


"Bagaimana liburan kalian?" Bu Anis berjalan menuju depan meja, menempelkan bokongnya di meja, dan menyender sambil bersilang kaki. Jidar kayu tidak lepas dari tangannya.


Anak-anak tidak ada yang menjawab, malah berpandangan, saling melemparkan tanggung jawab untuk menjawab pertanyaan Bu Anis.


"Seru, Bu." Akhirnya Zellina mengacungkan tangannya dan menjawab.


"Seru? bagus, berarti kamu menikmati liburannya." Zellina tersenyum senang dipuji Bu Anis, jarang-jarang guru killer muji.


"Hanya Zellina yang menikmati liburan??"


Melihat Bu Anis memuji Zellina, beberapa anak segera mengacungkan tangan.


"Menyenangkan, Bu."


"Asyik, Bu."


"Indah, terlalu indah bahkan," timpal Akri.


"Hebat."


"Pokoknya hep pan, Bu."


"Saya ...." Andrea mengacungkan tangannya.


Prokk! Prokk! Prokk!


Tepuk tangan Bu Anis memotong ucapan Andrea yang ingin pamer liburannya, anak-anak yang mulai bersiap ingin menjawab pertanyaannya kembali diam.


Hening, semua kena jebakan Bu Anis.


"Sudah, sekarang saatnya siapkan kepala kalian untuk menampung pelajaran!"


"Iya, Buuuuuu ...." semua menjawab serentak.


Andrea masih saja tidak enak hati, entah kenapa.


**


Jam pulang sekolah, angkot-angkot yang mengetem di depan gedung sekolah sudah pada penuh, mulai bergerak mengangkut anak-anak yang sebagian bergelantungan.


Andrea yang belum terangkut karena kalah main sikut terpaksa menumpang mobil jemputan Zellina.


Padahal kalau mau menunggu juga pasti ada angkot yang lewat. Tetapi Andrea juga sudah terlalu lelah, dia ingin segera sampai rumah, mandi dan rebahan. Ren sudah duluan pulang naik Ojek Online.


“Ndre, kamu kenapa, say?” Zellina yang duduk di depan melihat Andrea dari cermin kotak bedaknya. Andrea terlihat resah, celingukan tidak biasa.


“Enggak tahu nih, kok dari pagi aku seperti tidak enak gitu ya Zel, sepertinya ada yang membuntuti?” Andrea gosok-gosok tengkuk.


“Kamu punya buntut, Ndre?”


“Bukan, perasaan aku enggak enak.”


“Sop buntutnya enggak enak, Ndre?” Zellina masih sambil berkutat dengan bedaknya, membuat dia asal-asalan melontarkan pertanyaan.


Andrea menarik nafas, berusaha sabar menghadapi Zellina. Rupanya dia yang salah kenapa juga harus bercerita kepada cewek polos bin beloon itu.


“Biasanya, kalau perasaan tidak enak sampai berkali-kali suka ada sesuatu yang akan terjadi, Neng. Banyak-banyak berdoa saja." Pak Supri, sopirnya Zellina ikut nimbrung, tapi malah membuat Andrea semakin waswas.


“Iya, Ndre. Mungkin buntut sapi yang kamu makan disembelihnya tidak pakai doa dulu.” Zellina semakin ngaco.

__ADS_1


Andrea benar-benar merasa salah besar menumpang di mobil itu. Apalagi Pak Supri juga mendukung anak majikannya itu.


Di depan gerbang perumahan Andrea turun.


“Hati-hati ya, Ndre. Benaran nih enggak mau diantar sampai rumah?” tanya Zellina. Kepalanya menyembul dari kaca mobil.


“Tidak usah, aku sekalian mampir beli minuman.” Andrea menunjuk minimarket di samping gerbang perumahan.


“Oh, ya sudah sampai ketemu lagi di sekolah, muach muach!” seru Zellina.


Andrea melambaikan tangan, kemudian berjalan memasuki minimarket untuk membeli sebotol minuman kesukaannya, teh matcha khas Thailand.


Mana tahu, setelah meminum teh kesukaannya, perasaannya membaik.


Rumahnya berada di perumahan baru yang lumayan besar. Andrea harus berjalan jauh untuk sampai rumahnya yang ada di blok paling belakang. Itulah alasan kenapa dia harus bonceng ibunya kalau mau berangkat sekolah, demi menyelamatkan betisnya yang semakin mengencang karena sering berjalan.


Baru saja mau memasuki gerbang, dari arah belakangnya dua motor melaju kencang, seperti sedang balapan, keduanya berbelok mengarah ke area perumahan.


Andrea merapatkan badannya pada tembok sisi gapura untuk menyingkir.


Tetapi sayang, kedua motor itu tidak mau mengantre, sehingga terjadi penyalipan di pintu gerbang yang hanya cukup untuk sebuah mobil itu.


Andrea terkejut, rupanya salah satu pengendara motor tidak bisa mengendalikan motornya sehingga hampir menabraknya kalau tidak mendadak menungging berhenti di depan Andrea.


Motor yang satu lagi melaju kencang, suara knalpotnya meraung-raung, merasa menang.


“Heii … montong balapan di sini!!” seorang bapak yang sedang berjalan menuju keluar perumahan melihat kejadian itu, berteriak dari kejauhan, mengacungkan benda di tangannya, mengancam pengendara motor yang kencang masuk perumahan, lalu berbalik ke pengendara motor yang berhenti di depan Andrea.


Sementara Andrea masih syok, badannya menempel erat pada dinding gapura.


“Maaf, kamu tidak apa-apa?” tanya pengendara motor yang mau menabraknya itu dari atas motornya.


Andrea melotot, bukan karena melihat kegantengan cowok pengendara di depannya. Tetapi cowok lainnya yang ada di sampinya.


"Kkk ... kaamu?" lirihnya, suaranya hanya didengar oleh kupingnya sendiri


Andrea melihat kembali orang yang kemarin sore tiba-tiba berada di kamarnya. Tidak menyangka sekarang dia ada di dekatnya, menghentikan motor cowok pembalap itu dengan satu tangannya sampai nungging.


“Maaf ya, aku harus pergi. Syukurlah kalau tidak apa-apa .…” cowok pengendara itu melihat aneh kepada Andrea yang diam saja. Tetapi dia juga ngeri melihat bapak-bapak lari terpincang-pincang sambil mengacungkan sebuah benda, seperti sebuah golok.


"Aku pergi dulu ya," seru pengendara itu sambil memutar motornya.


“Tidak apa-apa, Neng?” tanya si bapak, tersengal-sengal karena lari-lari. Di tangannya ada sendal.


Andrea sadar dari syoknya, lalu cepat-cepat menggeleng.


“Enggak, Pak … tapi ini, euuhh … anu …. “ Andrea menunjuk lelaki berbaju hitam itu, ingin menjelaskan sesuatu kepada bapak-bapak itu, tapi mulutnya malah tergagap-gagap.


Bapak tadi bernafas lega. “Ya sudah, syukurlah kalau begitu, anak-anak sekarang memang sukanya kebut-kebutan. Bapak duluan ya, mau cari paku dulu. Sendalnya malah putus, nih.” Dia berpamitan, sendalnya dijepit di keteknya.


“Se … sebenarnya, siapa kamu?” Akhirnya Andrea punya kekuatan bertanya pada lelaki berkostum jawara yang kemarin sempat ada di kamarnya itu.


“Euleuh euleuh, katempoeun euy,” teriak lelaki itu sambil meraba-raba badannya, seperti seorang gadis menutupi aurat.


“Neng Andrea bisa melihat saya?” tanyanya.


Andrea menatap heran, lelaki itu tahu namanya. “Saha maneh?” tanya Andrea, sedikit berteriak.


Dia berusaha mencari orang yang bisa dimintai pertolongan, tetapi gerbang perumahan sore ini sangat sepi, hanya kendaraan di jalan besar yang lalu lalang.


“Tenang, Neng. Hayu pulang dulu, pasti ibu kamu sudah menunggu di rumah.”


“Eeeehh, jawab dulu. Saha maneh? Kalau tidak mau jawab, aku teriak, nih …. “Andrea memasang kuda-kuda seperti yang diajarkan Ren kalau merasa terancam.


“Kenalkan atuh abdi, Dulale. Biasa dipanggil Dale, tidak usah doble L. Saya teh suruhan juragan Karsijan.” Lelaki itu mengulurkan tangannya.


Andrea terkejut lagi. "Suruhan Aki?"

__ADS_1


bersambung


__ADS_2