My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 84 Kejar-kejaran


__ADS_3

Ke mana pun kita pergi, pulang ke rumah tetap akan menjadi hal sangat menenangkan.


Andrea membuka mata, tidur siangnya kali ini sangat nyaman. Dia senang, menemukan lagi aroma khas pewangi ruangan kamarnya, yang ada hanya ketika datang, selanjutnya menghilang.


Dia juga senang, bertemu lagi dengan cecak di dinding, yang menghuni celah langit-langit kamarnya, dan pasti tahu segala hal ketika dia tidak ada.


Onggokan baju kotornya yang apek, gerakkan kipas anginnya yang menyebar angin ke segala penjuru.


Dia masih merebahkan diri, matanya menatap langit-langit kamar. Dia sudah di rumah, Dale telah bebas, tetapi Gigit menghilang.


Banyak sekali kejadian yang dia lalui, dan semuanya melibatkan Gigit, cowok yang dikenalnya hanya dengan hitungan hari.


Dia belum sepenuhnya tahu tentang Gigit, selain anak kelas dua SMA Negeri di kotanya. Selebihnya di tidak tahu banyak. Yang dia tahu, hatinya sempat berharap cowok itu mempunyai rasa sama sepertinya, tetapi Gigit mengoyak harapannya.


Kamu di mana sebenarnya, Git?


Andrea menutup wajahnya dengan bantal. Dia sebenarnya rindu, tetapi kecewa.


“Dulale, Dulale, westin wergan wesma werma!” ucapnya.


Dale nangkring di lemari. “Ada apa, Neng?”


“Hmm ....” Andrea tidak mau melepaskan bantal di wajahnya.


“Ada apa memanggil saya?”


Andrea membuka bantal. “Kenapa? Aku enggak boleh panggil kamu?”


“Boleh banget, Neng.”


“Ya sudah, di sini saja, aku butuh teman.”


“Sayap, Neng.” Dale melompat dari lemari. “Neng kenapa, galau?”


Andrea bangun, dia menggerak-gerakkan tangannya, meluruskan urat-uratnya, lalu mematahkan sendi-sendi jarinya sehingga terdengar gemeletuk.


Dale ikut-ikutan, menyimpan tangan di pinggang, menggerak-gerakkan pinggulnya ala senam pagi.


“Siapa yang galau?”


“Neng, lah, masa saya. Saya kan tidak boleh galau, meskipun sebentar lagi akan jauh dari Lyla.” Dale tetap menggerak-gerakkan pinggulnya.


“Memang jarak berlaku di negeri kalian?”


“Ngga sih, jauh yang saya maksud adalah hubungan kami, yang tidak akan seperti kemarin.” Dale nungging, jari tangannya menyentuh ujung kakinya, bergantian.


“Aku juga sepertinya sudah kehilangan Gigit.”


“Gigit memang ke mana?”


Andrea menggeleng. “Tidak tahu.” Dia mengambil tali skiping dari laci, lalu melemparkan kepada Dale. “Olah raga gutak-gitek doang, mainkan tuh!”


Dale menurut, dia mulai memainkan skiping di tempat yang lebih luas. Luar jendela.


“Perlu saya cari, Neng?” seru Dale.


“Ih, memang aku cewek apa an, cari-cari cowok.” Andrea mencebik.


“Katanya kehilangan, solusinya ya dicari.”


“Kagak!” Andrea merengut, ingat kata-kata Gigit ketika mereka di Bandung.


"Malam itu, sepertinya kita terbawa suasana. Aku mau minta maaf sama kamu."


Kata-kata itu masih selalu terngiang di telinganya, membuat rontok seluruh rasa. Tega!


“Biasa saja kali, Neng, bilang kagaknya. Seperti si guguk menyalak saja.”


Andrea mencebik. Dia beranjak untuk ke luar kamar. “Kamu jangan ke mana-mana, aku malas harus baca mantra terus,” perintahnya.


“Sayap, Neng.” Dale kembali meloncat-loncat.


“Iya, kenapa, Neng?” Bi Cicih tergopoh-gopoh menghampirinya. Di tangannya ada mangkuk bubur. Andrea meninggikan kedua alisnya.


“Eh, Bi, itu buat Ibu?” Dia mengalihkan pembicaraan.


“Iya.”


“Ya sudah, sini, aku yang menyuapi.”


“Boleh, Bibi mau menyiram tanaman, soalnya, sejak sepulang dari rumah sakit belum disiram."


“Oke, Bi.”


Andrea menghampiri ibunya yang sedang menonton televisi.


“Ibuuu ... Makan dulu,” ujar Andrea lembut.


“Kok, kamu yang bawa, Ndre. Ayah mana?”


Andrea terdiam, salivanya mendadak pekat. Ada pahit terasa di sana.


“Sudah, Ibu makan saja ya, nanti Ayah pulang.”


“Ooh, ya sudah.”


“Aku suapi ya, Bu.”


Yuli mengangguk.


Suara mobil berhenti di depan pagar. Andrea menyimpan bubur ke meja.


Di melihat siapa yang datang. Darahnya mendesir. Tante Dina datang bersama Om Azi.


Bi Cicih yang sedang menyiram tanaman segera menyambutnya.


“Bagaimana Yuli, Bi?” tanya Tante Dina.


“Baik, Bu. Sedang disuapi Neng Andrea.”


“Oh, Andrea sudah pulang?” terlihat binar di wajah Tante Dina. Dia tersenyum ke arah Om Azi.


“Sudah, Bu.”


“Ya sudah, kita masuk ya. Bibi teruskan saja menyiramnya.”


“Iya, Bu.” Bi Cicih terbungkuk-bungkuk kepada mereka.


Mau apa lagi mereka? Andrea menggerutu dalam hati. Dia kembali ke ibunya.


“Ada apa, Ndre?” tanya ibunya.


Andrea menghampirinya sambil tersenyum. “Tidak apa-apa, Bu. Di luar ada Tante Dina.”


“Oya? Suruh masuk dong!”


“Tanpa disuruh juga mereka sudah masuk.”


Terdengar pintu dibuka.


“Assalamualaikum.”


“Wa Alaikumsalam.” Yuli terlihat ramah menyambut mereka.


Selanjutnya mereka basa-basi yang kini terasa menyebalkan bagi Andrea.


Tante Dina mencoba mengambil alih menyuapi Yuli, Andrea berasa ingin muntah saja.


“Kamu kapan pulang, Ndre? Pulang kampung kok enggak bilang-bilang. Ibu kamu sampai sedih.” Om Azi bertanya. Lelaki paruh baya itu sebenarnya terlihat baik. Nada bicaranya juga kebapakan. Tetapi Andrea tidak mau dia menjadi bapak angkatnya, apalagi bapak tirinya.


Andrea malas untuk menjawab. Dia diam saja.


“Ponselnya jatuh, rusak, Kang. Jadi Andrea tidak bisa menghubungi ke sini.” Yuli yang menjawab.


“Oya, mau bantu Om servis? Atau mau beli yang baru?” tanya Om Azi.


Andrea semakin tidak suka dengan laki-laki setengah baya itu. Terlihat sekali suka mengaitkan apa pun dengan uang. Tajir sih, tetapi Andrea tidak suka semua yang terlihat dan terdengar dari laki-laki itu.


“Tidak usah, Om, saya bisa betulkan sendiri. Tante, Om, permisi, aku mau istirahat.” Andrea beranjak ke kamarnya.

__ADS_1


“Kamu bukannya baru bangun, Ndre?” tanya ibunya.


“Mau beres-beres, Bu.”


“Ooh, ya sudah.”


“Biar, Yul. Andrea juga punya privasi, masa iya bergabung di sini, yang sudah manula begini.” Om Azi tersenyum.


Terlihat sekilas olehnya, Tante Dina dan Om Azi berpandangan. Mungkin mereka merasa telah dijutekin.


Di kamar, Andrea merebahkan diri lagi di kasur. Merogoh sesuatu di ranselnya. Surat perjanjian itu masih ada, kusut karena diremas-remas.


Kenapa aku masih menyimpannya? Harusnya kubakar saja, biar perjanjian mereka juga lenyap. Ah, nanti aku dituduh melanggar hukum, atau bisa saja ini hanya salinan, sedangkan yang asli ada pada mereka. Andrea bicara dalam hati.


Dale duduk di jendela pendek. Kelelahan main skiping. Tali skiping dia lilitkan di tangannya, yang memegang kayu jendela.


Andrea pergi ke kamar mandi, cuci muka.


“Dal, aku pergi ya. Kamu di sini saja, jaga ibuku. Sambil dengarkan apa yang mereka bicarakan ketika aku tidak ada.” Andrea memunguti


“Neng mau saya jadi mata-mata?”


“Lebay, aku mau kamu jadi kuping-kuping.”


“Sayap, Neng!”


“Neng,” panggil Bi Cicih, dari luar pintu kamar.


“Masuk, Bi.”


Bi Cicih membuka pintu, lalu masuk dengan keranjang baju. “Mau ambil baju kotor.”


“Bi, apa mereka selalu datang?”


“Siapa?”


“Tante Dina dan Om Azi.”


“Iya, setiap hari mereka ke sini. Mereka juga kan yang membawa Ibu pulang paksa, karena Ibu selalu ingin pulang. Padahal ....” Bi Cicih tidak meneruskan ucapannya.


“Padahal apa, Bi?”


“Padahal, dokter bilang Ibu masih harus dirawat.”


Andrea menelan saliva, ada sesak di paru-parunya. “Mungkin karena ibu tidak ada biaya lagi, Bi.”


Bi Cicih menunduk. “Semua biayanya ditanggung Bu Dina, Neng.”


“Iya, makanya Ibu sungkan kepada mereka.”


“Aku bingung, Bi. Bagaimana caranya mendapat uang. Jangankan untuk operasi, Ibu sepertinya sudah tidak punya uang sekarang."


Bi Cicih terdiam, dia tidak mungkin juga bilang kalau bulan ini dia juga belum mendapatkan gajinya. Dia mengambil beberapa baju kotor Andrea yang menggantung di kapstok.


Bi Cicih juga mengambil tali skiping yang menggantung di jendela. Dale terkejut, karena skiping itu masih dia lilitkan di tangannya. Bi Cicih kesulitan mengambilnya.


“Eh, Bi, biar itu sedang aku jemur.” Andrea berseru.


Bi Cicih melihat tali itu dengan heran. Seperti menggantung di udara, tetapi tidak bisa ditarik.


Andrea mengambilnya dari tangan Dale.


“Iseng banget, sih!” gumamnya.


“Dia yang iseng, Neng, main tarik saja.”


Terdengar Tante Dina dan Om Azi tertawa, mereka tega sekali tertawa-tawa di atas penderitaan ibunya. Andrea berdiri, menyambar jaketnya.


“Bi, aku pergi dulu ya,” katanya.


“Ke mana, Neng? Sudah mandi?"


“Keluar sebentar. Gampang nanti mandinya."


Andrea menyambar ranselnya. Mencari kunci motor yang biasa dipakai ibunya.


Andrea menghampiri ibunya. “Bu Aku keluar sebentar ya.”


“Mau ke mana?”


“Betulkan ponsel.”


“Hati-hati, Ndre!”


“Iya, Bu. Tante, Om, permisi.” Andrea melirik Tante Dina dan Om Azi.


“Kamu naik motor?” Om Azi melihat helm yang dibawa Andrea.


“Iya, Om.”


“Mau Om antar? Kan lebih nyaman pakai mobil.”


“Tidak usah, Om. Aku mau langsung ke rumah teman juga, ada perlu.”


“Oh, ya sudah, kalau begitu, jangan ngebut saja, jangan lupa lagi selalu gunakan lampu sen.”


Andrea mengangguk. Dia berlalu, membawa kekesalan dalam hatinya. Melihat perhatian yang tidak sewajarnya dari mereka.


Di tempat servis HP, Andrea menghentikan motornya. Seseorang sedang menunduk di dalam toko, mengamati perangkat keras di atas meja. Kelihatan sedang berpikir keras.


“Permisi, mau servis.” Andrea permisi dari etalase toko.


Cowok itu menolehnya. Andrea terkejut, ternyata Akri.


“Ndre?” Akri terkejut.


“Lho, sedang apa di sini, Kri?”


“Ini toko Om gue, Ndre,” sahut Akri.


“Oya?” Andrea merasa kejutan melihat Akri di sana. “Terus, lu apakan itu ponsel? ” Andrea tersenyum meledek.


“Gue sedang karaoke,” sahut Akri. “Ya servis lah,” lanjutnya.


Andrea tergelak. “Awas lho, makin rusak HP orang.”


“Lu enggak percaya gue bisa servis, Ndre?”


“Kagak,” sahut Andrea. “Lu kan bisanya ngebully si Zay.”


“Eh, Lllu mau apa ke sini? Masuk saja, Ndre.” Andrea masuk ke dalam toko yang lumayan besar dan lengkap itu. Beberapa orang melihatnya, mungkin karyawan di sana.


“Ngga apa-apa nih, aku masuk?” tanyanya.


“Ahelahh, ini toko, Ndre, bukan kamar kos.”


Andrea duduk di kursi tempat tadi Akri duduk. Mengeluarkan ponsel dari ranselnya.


“Aku mau servis ini, kira-kira bisa cepat enggak, Kri? Ini toko servis HP kan?” Andrea melihat berkeliling.


Akri memeriksa ponsel Andrea.


“Sebentar,” kata Akri, dia beranjak, menghampiri seseorang di dalam. Lalu kembali lagi. “Sedang dilihat sama ahlinya.” Akri cengengesan.


“Bagus, deh. Jangan sampai lu yang benerin, bisa hancur ponsel aku.”


Akri cengengesan. “Lagian, gue kan lagi main, masa iya ikut kerja."


“Lahh, tadi lagi ngapain?”


“Iseng, hehe. Sekalian belajar, mana tahu bapak gue mau modalin usaha counter." Akri membawa kursi untuk duduk dia sendiri.


Andrea menatap Akri, memikirkan ucapan teman sekelasnya itu. Masih sekolah sudah berniat punya usaha.


“Apa kabar ibumu?” tanya Akri.


“Baik, dia sudah pulang ke rumah.”


“Syukur deh kalau begitu, sudah jangan sedih-sedih melulu.”

__ADS_1


Andrea tersenyum kecil, ternyata Akri si biang kerok di kelas bisa juga diajak ngobrol.


“Eh, iya. Kalian ini, bolos sampai berhari-hari, ke mana saja sih? Kayak sekolah di kakeknya saja. Untung saja seminggu ini belajar lagi tidak karuan."


Andrea menunduk. “Ada urusan. Aku tadinya tidak mau melibatkan Ren dan Zellina, Kri, tetapi mereka malah ikut.” Andrea menopang dagu pada etalase toko Akri.


"Gue acungkan jempol deh buat persahabatan kalian."


“Ya, begitulah. Tapi, aku juga lagi bingung nih.” Entah mengapa, Andrea jadi berniat curhat kepada Akri.


“Bingung kenapa?”


“Sepertinya ibuku sudah tidak bisa bekerja lagi.” Andrea menarik nafas panjang.


"Memorinya sudah tidak sebagus dulu. Dia sudah sering lupa. Dalam sehari dia bisa lupa sama aku beberapa kali, bingung dengan namanya sendiri, juga tidak ingat kalau ayahku sudah tiada.”


Akri ikut-ikutan menopang dagu. “Ibu kamu mau pensiun dini?”


“Pensiun apa, Ibu kan kerjanya di perusahaan swasta. Mengundurkan diri iya."


“Terus, rencana lu apa?”


"Sepertinya mau cari kerja, kira-kira kerja apa ya?" tanya Andrea. Kata-kata Akri tadi, mengingatkan dia untuk mandiri. Hari esok adalah misteri, meskipun dia meronta-ronta menolak takdir buruk, kalau sudah ditetapkan yang diatas, kita bisa apa. Dia ingin bersikap mandiri dari sekarang.


Akri tertawa terbahak-bahak. "Andre Andre ... memang lu bisa apa?"


Andrea menojok lengan Akri. "Jangan remehkan aku, Kri!"


Akri meringis, memegangi lengannya.


"Oh iya, bener, lu bisa tuh jadi kuli panggul. Tonjokan lu barusan buset dah ...."


Andrea terdiam. Seseorang memanggil dari luar toko, mau membeli pulsa. Akri melayaninya. Lalu kembali menghampiri Andrea.


Andrea mendengar suara motor Gigit.


Dia akhirnya melihat ke luar toko.


“Apa, Ndre?” tanya Akri.


“Ngga, kok kayak ada suara motor teman aku.”


Akri ikut-ikutan melihat ke luar. “Siapa?”


“Ah, mungkin hanya pendengaranku saja.”


“Teman yang mana? Si Power Ranger itu ya? Yang motornya gede.”


“Kamu kok tahu?”


“Waktu di rumah sakit kan pernah ketemu.”


“Oya?”


“Iya, anak SMA Negeri kan? Itu barusan yang beli pulsa motornya sama."


“Ooh.” Mulut Andrea membulat. "Pantesan," lanjutnya. Ah, dia kok jadi rindu Gigit. Gigit saja tidak.


“Eh, terus, rencana Lu apa?” Akri mengulang pertanyaan yang tadi terpotong pembeli.


Andrea terkejut. “Menurut kamu, aku cari kerja apa, serius, Kri."


Akri tertawa lagi, tidak terbayang olehnya, Andrea yang tomboi, mau bekerja.


“Menurutku jadi kuli panggul saja, Ndre, Lu kan kayak cowok.” Akri keukeuh.


“Boleh, asal Lu yang aku panggul, setelah itu dilemparkan ke gunung Tangkuban Perahu.”


“Hahaha ... Nanti Gue jadi Malin Kundang, dong,” kelakar Akri.


“Kok Malin Kundang?”


“Terus siapa?”


“Sangkuriang, dodol!"


Akri garuk-garuk kuping, “salah ya?”


“Anak SD juga tahu. Makanya kalau sedang pelajaran Bahasa jangan molor saja."


Terdengar suara motor lagi. Pengendaranya turun.


Akri menghampirinya.


“Dek, pulsanya enggak masuk-masuk.”


“Masa?” Akri memeriksa kembali transferan pulsa elektronik yang dia berikan.


“Iya nih, belum.”


“Tunggu saja sebentar lagi, Pak.”


“Bagaimana sih, biasanya langsung masuk.”


“Mungkin jaringannya sedang lelet, Pak. Sabar saja!”


Si Bapak pembeli pulsa duduk di depan etalase, dengan wajah ditekuk.


Andrea beringsut untuk melihat motornya. Dia penasaran, karena suaranya sama dengan suara motor Gigit.


“Beli dua puluh ribu saja, enggak sabar,” gumam Akri.


“Eh, konsumen adalah raja.” Andrea bicara sambil mengamati motornya.


“Raja kok beli dua puluh ribu.”


Tidak lama bapak itu tersenyum, lalu beranjak dari tempat duduknya. "Sudah, Dek!"


Andrea terkesiap melihat stiker yang menempel di motor itu. Di yakin itu motor Gigit. Pelat motornya dia tidak hafal, tetapi stiker itu di tahu.


Andrea semakin yakin kalau itu motor Gigit, setelah melihat helm yang dipakai bapak pembeli pulsa tadi. Sama dengan helm yang sering dipakai Gigit, dia juga pernah memakainya.


“Ya Tuhan,” gumam Andrea, dia menutup mulutnya.


Akri menengoknya. “Kenapa, Ndre?”


“Kri, tolong berhentikan bapak itu! Pak, Pak! Sebentar!” Andrea menggapai-gapai, memanggil bapak penunggang motor.


“Ada apa, Ndre?” Akri ikut panik.


Andrea tidak menjawab, dia cepat ke luar, dan mengejar motor yang mulai bergerak.


“Pak!”


“Pak!” Akri ikut berteriak.


Si Bapak akhirnya menghentikan motornya.


Dia menatap heran Akri dan Andrea yang berlari ke arahnya.


“Sebentar, teman saya ada perlu," kata Akri.


“Pak, ini motor Gigit kan?” tanya Andrea.


Si Bapak pembeli pulsa terkejut, dia segera tarik gas dan pergi.


"Eehh, malah kabur," seru Andrea.


Andrea cepat menaiki motornya.


“Eh, mau ke mana, Ndre?” Akri kembali ikut panik.


Andrea tidak menjawab, dia langsung mengenakan helm, dan tancap gas mengejar bapak tadi.


Akri menaiki motornya, menyusul. Mereka bertiga jadi kejar-kejaran di jalan raya.


bersambung


*gutak-gitek \= goyang

__ADS_1


__ADS_2