My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 87 Mandiri


__ADS_3

Di kamar.


"Kamu yang sudah yakinkan aku untuk menyetujui kepergian Ibu, jadi aku ingin kamu selalu ada buat aku.” Andrea melempar-lemparkan bola tenis ke dinding kamarnya.


“Neng bicara sama saya?” Dale bertanya.


“Sama siapa lagi?”


“Saya kira bicara sendiri.”


“Kamu siap, enggak?”


“Sayapp, Neng. Saya kan selalu siap.”


“Bagus, karena selanjutnya aku pasti akan selalu membutuhkan kamu."


"Saya senang kalau dibutuhkan."


Andrea memeriksa gawainya. Dengan harapan ada sesuatu yang bisa dia ketahui tentang Gigit. Semakin lama, dia semakin kehilangan cowok itu.


Darahnya berdesir ketika ingat beberapa kali mereka hampir berciuman. Dia sebenarnya sudah pasrah, jika Gigit mau melakukan itu, toh hanya sekedar berciuman. Tetapi kenyataannya mereka tidak pernah jadi berciuman.


Ya Tuhan, Ndre. Apa yang ada di pikiranmu? Kamu itu cewek, harusnya punya harga diri. Jangan gampangan!


Andrea menundukkan kepala, menyimpan wajahnya di antara kedua lututnya.


Kamu harusnya sadar, Tuhan sedang menyelamatkanmu dari perbuatan tercela. Malah merasa ga terima dengan kata-kata cowok itu.


Benar kata Gigit, semuanya hanya bawaan suasana. Suasana hawa dingin, dan hawa nafsu. Setan menari-nari di kepala.


Dale memerhatikan kegelisahan Andrea dari atas lemari.


“Kenapa, Neng?”


“Ngga apa-apa?”


Terdengar ketukan pintu dari luar. “Neng, boleh Bibi masuk?”


“Masuk saja, Bi,” sahut Andrea.


Bi Cicih masuk dengan wajah musim hujan, angkeub.


“Neng, Bibi mau pamit. Bibi kan sudah dipecat, jadi nanti tidak ke sini lagi.” Bi Cicih memilin-milin ujung bajunya.


“Bibi kok bilangnya begitu. Bibi bukan dipecat, tetapi dipensiunkan.” Andrea mencoba membesarkan hati Bi Cicih.


“Pensiun, memang Bibi sudah tua?”


“Hehe. Ya sudah sih, Bi. Bibi jangan bilang juga tidak akan ke sini lagi. Bibi kalau mau ke sini tinggal ke sini saja, kita kan sudah seperti keluarga.”


“Boleh, Neng?” mata Bi Cicih berbinar.


“Ck, kenapa enggak boleh, nanti kita bikin rujak lagi. Pasti aku juga akan kangen rujak Bibi.”


Terbit senyum di wajah bulat Bi Cicih. “Oke, Neng, nanti Bibi akan sering ke sini, bawa petai ....”


Dale melompat ke jendela, mau kabur. Dia ngeri ketika mendengar petai di sebut.


“Wahh, jangan, Bi!” seru Andrea.


Bi Cicih terkejut, sambil menutup mulut. “Kenapa, Neng?”


“Aku tidak suka kan, Bi. Aku lebih suka jengkol.”


“Oh, begitu ya? Tapi Bibi tidak punya pohon jengkol.”


“Kalau begitu Bibi tidak usah bawa apa-apa, aku akan selalu menyambut kedatangan Bi Cicih di sini.” Andrea tersenyum.


“Ah, Neng mah, malah bikin Bibi sedih saja.” Bi Cicih mengelap ingus, air matanya yang sudah kering, berderai lagi.


Andrea turun dari ranjangnya, dia memeluk Bi Cicih. Walaupun sedikit asem, dan bau bawang, tetapi Andrea benar-bebar tulus.


Sebenarnya dia juga sedih, nanti harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, tetapi dia harus kelihatan kuat, dan siap, biar Bi Cicih tidak khawatir.


Ternyata begini rasanya hidup tidak punya uang. Sedih, batinnya.


Bi Cicih pulang, sambil terus mengelap-elap ingus di hidung.


Andrea membantu ibunya berkemas, untuk keperluan besok pergi ke Bogor. Dale membantunya.


Apa yang dikerjakan Dale untuk membantu Andrea? Menerbang-nerbangkan baju Yuli ke dalam koper. Dalaman dan luaran, ketika Yuli sedang tertidur.


Dia juga membantu Andrea menyiapkan makan malam. Menghangatkan bubur yang dibuat Bi Cicih, lalu membuat sayur sop bakso.


Mereka kelihatan sibuk. Segala bumbu dimasukkan. Segala sayur yang ada di kulkas dirajang. Air mendidih di dalam panci, membuat bola-bola daging di dalamnya berputar naik turun.


Andrea merajang cabai dan bawang untuk membuat sambal.

__ADS_1


“Kalau sop pakai ini enggak, Neng?” Dale menunjukkan satu geluntung sawi putih.


Andrea berpikir keras. “Boleh deh,” sahutnya.


Dale mencemplungkan satu gelundung sawi putih ke dalam panci. Air mendidih di dalam panci meluap, dan tumpah. Baksonya banyak yang melompat, terjun bebas, menggelinding di lantai.


“Dale! Kok semuanya?” Andrea menepuk jidat. “Diiris dulu kali, Dal!” serunya lagi.


Dale cengengesan. "Maaf, Neng, saya kira langsung dimasukkan."


Andrea membuang nafas sekaligus. Sia-sia sudah sayur sop bakso yang dibuatnya dengan susah payah itu.


“Ndre... Ada apa?” Yuli bersuara lirih dari ruang televisi.


“Ngga, Bu. Ini tadi ada yang tumpah,” teriak Andrea. Dia mengambil sawi gelondongan dari dalam panci.


“Bagaimana ini? Kacau deh, sopnya.” Andrea garuk-garuk tengkuk. Sop buatannya jadi kotor gara-gara Dale.


Repot amat, Neng. Dale menjentikkan jarinya.


Tring!


Satu mangkuk sop tersedia di meja. Andrea melihatnya sambil berdecap. Perutnya sudah benar-benar lapar, apalagi ditambah wangi aroma sop iga di hadapannya. Air liurnya meluruh banyak.


“Dari mana itu?”


“Dari nampan restoran.”


“Balikin, Dal! Aku enggak mau makan sop curian.”


Dale membuang nafas. Dia hendak menghilangkan lagi sop iga yang terlihat lezat itu.


“Tetapi kalau dibayar enggak apa-apa kali, ya.” Andrea menelan ludah, dia sungguh-sungguh tergoda dengan sop iga kesukaannya. Dia mengambil uang darisaku celananya, lalu menyerahkannya ke Dale. “Bayar gih!”


Dale tersenyum. Dia menukar satu mangkok sop dengan selembar uang dua puluh ribuan. Bodo amat dengan pelayan restoran yang kehilangan semangkok sop di dalam bakinya.


“Ibuu ... Aku bawakan sop kesukaan Ibu.”


Andrea berseru dengan semangkuk bubur dan sop di atas nampan.


Yuli yang sedang menonton televisi menengok. Menatap Andrea dengan heran. “Kamu siapa?” tanya Yuli.


Andrea yang sudah biasa dengan kondisi ibunya tersenyum pahit.


“Pelayan pribadi Ibu, membawa sop iga. Coba cicipi, Bu!”


“Memang tidak, tetapi Ibu harus makan sop iga ini.”


“Iya, nanti.” Yuli meneruskan menonton televisi. Seakan tidak peduli dengan Andrea.


"Saya bisa makan sendiri." Yuli menepis sendok yang Andrea sodorkan ke mulutnya.


Andrea mengedikkan bahu. Dia harus kuat menghadapinya, itu tidak akan lama. Ibunya akan seperti biasa lagi setelah beberapa saat.


“Sabar, Neng. Nanti juga enggak.” Dale membesarkan hatinya.


“Kamu tolong jaga ibu ya, aku mau makan.” Andrea beranjak ke dapur.


Yuli mengamatinya dengan pandangan curiga. “Sedang apa dia di dapurku? Ayah cepat pulang! Ibu takut sendirian di rumah, ada penyusup, Yah,” gumam Yuli, tetapi masih terdengar jelas oleh Andrea.


Andrea makan di meja makan dengan cucuran air mata. Dia memang harus kuat, sabar, dan mengerti. Tetapi kenyataannya tidak bisa.


Sop iga yang dimakannya terasa seperti sayur tutut pedas level sepuluh, membuat mulutnya monyong. Cantiknya berkurang dua persen.


Sejak pulang dari kampung, teman-temannya tidak ada yang mengontak. Mungkin Ren dan Zellina mengira ponselnya masih mati. Grup ramai juga dia abaikan. Sekolah mulai libur, Andrea sedang ingin punya waktu sendiri. Merasakan nikmat Tuhan lewat cobaan ke sekian kalinya.


Andrea sudah merasakan sedihnya kehilangan orang yang disayangi, ayah dan kakeknya.


Menyaksikan ibu yang dicintainya koma, diujung maut. Diculik cowok berwajah malaikat. Terperosok ke jurang. Hmpir mati karena rem blong akibat perbuatan uaknya.


Sekarang, harus kuat untuk jauh dari ibunya, tanpa Bi Cicih, dengan uang seadanya. Masa gara-gara ibunya lupa saja harus termehek-mehek begitu.


Andrea menyantap sop iga dengan lahap. Sesekali dia menghapus air mata, dan ingusnya.


Aku harus kuat, makan yang banyak, karena kata Zellina juga galau juga butuh tenaga, apalagi menghadapi kenyataan hidup.


Selesai makan Andrea cuci piring. Sesuatu yang harus dia biasakan, mulai dari sekarang. Di jadi teringat Ren yang melakukan pekerjaan rumah sendiri, sampai lupa menyetrika bajunya karena sudah kelelahan.


Ternyata dia mengalaminya sekarang, dan itu, sangat perih.


Sekarang juga dia harus mulai memikirkan kerja, untuk mendapatkan uang demi kelangsungan hidupnya nanti. Tetapi bukan kuli panggul juga seperti yang diusulkan Akri.


“Sudah makannya, Neng?” tanya Dale. Dia sedang mengupas bengkuang dengan giginya.


"Sudah, kamu?"


"Nih, makan bengkuang."

__ADS_1


“Dapat bengkuang dari mana?” Andrea sengaja bicara sambil membelakangi Dale, menyembunyikan matanya yang sembab.


“Dari pinggir kali, sekarang bengkuang lagi banyak.”


“Bukan lagi banyak. Itu memang ada yang tanam. Kebun orang,” ujar Andrea.


“Tumben cuci piring?”


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Dal!"


Dale menunduk. "Iya, Neng, maaf. Habisnya saya ngiler melihat bengkuang ini nongol di atas tanah. Seperti mengintip, ngagupayan saya."


"Hmm ... ngarang saja. Sudah jangan diulangi!"


"Sayap, Neng."


“Tentang mencuci piring ini, aku kan harus membiasakan diri, Dal.”


“Kan Neng bisa suruh saya?”


“Halahh, kamu kerja begini malah ngaco. Jadi tambah kacau. Lihat tuh! Sop bakso aku berantakan.”


“Iya maaf, Neng. Tapi kalau cuci piring saya bisa, lihat nih!”


Dale menjentikkan jarinya, piring kotor terbang, turun ke bawah kran air, spons berbusa menggosoknya, lalu air mengguyurnya, membuat piring itu bergoyang-goyang. Piring yang sudah bersih langsung terbang ke rak.


“Oke, oke, tetapi itu nanti saja ya, kalau kita sudah berdua saja. Aksi kamu itu akan bikin copot jantung Ibu, kalau dia melihatnya.”


“Sayap, Neng!”


Selesai makan dan cuci piring, Andrea kembali menemui ibunya yang sedang menonton televisi. Buburnya masih utuh.


“Ibu belum makan?”


Yuli menolehnya. “Belum, Ndre. Ibu mau makan buah saja.”


Andrea tersenyum. Ibunya sudah ingat lagi kepadanya.


“Tentu saja boleh, aku ambilkan ya, Bu.”


Andrea mencari buah-buahan di kulkas. Lumayan masih banyak, sepertinya dari orang-orang yang menjenguk ibunya di rumah sakit. Andrea membawa sebuah apel dan jeruk.


“Ibu mau pilih mana? Biar aku kupasin.”


“Ibu mau salak, Ndre,” sahut Yuli.


“Salak tidak ada, Bu, yang ada ini.” Andrea mengacungkan apel dan jeruk.


“Ada, Ndre. Tadi baru dibeli Ayah. Kamu yang benar mencarinya, Nak!”


Bahu Andrea terkulai, ternyata ibunya masih lupa.


Andrea tidak tega melihat ibunya mengiba seperti itu. Dia pergi ke dapur, mencari Dale.


Dale menyodorkan sekeranjang salak kepada Andrea yang sedang bengong di depan kulkas.


“Dari mana?”


“Kalau ini asli dari hutan, Neng. Bukan kebun orang.”


“Hmm ... Yakin?”


Dale mengangguk.


Andrea segera mengambil satu buah salak yang cukup besar.


“Bisa mengupasnya, Neng?” tanya Dale.


Andrea menggeleng. Dia benar-benar tidak tahu cara mengupas salak. Bukan karena sok artis, atau sok takut kulit jarinya tergores, tetapi karena dia tidak suka buah berkulit kasar itu.


Dale segera membantu membukanya. Andrea menyimpan salak-salak kupas itu di piring, lalu membawa kepada ibunya.


“Bu, ini salaknya.” Andrea melihat ibunya sudah tertidur di sofa. Dia memandangi perempuan yang sangat disayanginya itu.


“Dal, aku minta tolong bopong ibuku ke kamar.”


“Sayap, Neng!”


Dale segera membopong Yuli ke kamarnya. Andrea mengikuti dari belakang. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya tidak ada Dale bersamanya, mungkin dia akan kebingungan sendiri.


Secret Bodyguard paling tampanku, semoga kamu selalu setia menjagaku dan ibuku, batinnya.


Andrea tidur di sofa, sedangkan Dale pamit ke luar. Dia berjaga-jaga di pintu pagar, seperti biasanya.


bersambung


*angkeub \= mendung

__ADS_1


*ngagupayan \= melambaikan tangan


__ADS_2