
Pagi kedua di rumah sakit, tetapi kali ini tidak sesedih kemarin. Rekahnya sinar matahari seolah menggambarkan senyum Andrea yang mengetahui perkembangan kesehatan ibunya. Dokter mengatakan kondisi ibunya semakin membaik.
“Aku senang ibu membaik, Ibu jangan bikin aku khawatir lagi ya!” Andrea menggenggam tangan ibunya, setelah Dokter meninggalkan ruangan.
“Iya.” Yuli mengusap kepala Andrea.
“Tetapi dokter menyarankan Ibu untuk operasi, kenapa tadi Ibu menolak?”
“Ndre, tumor ini ada di kepala Ibu entah sejak kapan. Ibu baru mengetahuinya beberapa bulan ini. Kamu lihat, sebelumnya, selama itu, Ibu baik-baik saja, bukan?”
“Bu, itu bukan penyakit sembarangan. Aku takut terjadi apa-apa sama Ibu.”
“Ibu tahu, ini bukan penyakit biasa. Selama ini juga Ibu tidak diam. Ibu ikhtiar, kok.” Yuli membenarkan letak duduknya dengan menyandarkan punggung pada bantal yang ditata Andrea.
“Kemarin kamu bertanya soal keberangkatan Ibu ke Bogor. Ibu minta maaf, karena tidak jujur sama kamu,” lanjutnya, menatap lekat wajah Andrea.
“Sudahlah, Bu, tidak usah dibahas.” Andrea menunduk.
“Justru itu ada hubungannya dengan penyakit Ibu.”
“Maksud Ibu?”
Yuli menggenggam tangan Andrea. “Sebenarnya Ibu benar pergi ke Bogor, tetapi Tante Dina juga benar, tidak ada tugas kantor. Ibu berobat."
Andrea terkejut. “Jadi?”
“Iya, Ibu berobat alternatif di sana. Ibu disarankan menjalani pengobatan dua kali dalam sebulan, tetapi harus menginap di sana.”
“Ibu ....” Andrea terharu mendengar ikhtiar ibunya yang dia sangka telah berbuat macam-macam. "Terus, aku lihat ibu pergi bersama bapak-bapak, itu juga berobat?"
Yuli mengernyitkan dahi. "Kamu memata-matai Ibu?"
Andrea tersipu. "Habis, aku takut ...."
“Assalamualaikum."
“Wa alaikumsalam,” sahut Andrea dan Yuli.
“Dina?” Yuli langsung menyambut sahabat sekaligus atasannya itu dengan senyuman.
“Bagaimana kabarmu, Yul?” Tante Dina masuk, di belakangnya ada seorang pria yang tidak asing lagi bagi Andrea. Dia pria yang dilihatnya naik mobil bersama ibunya. Iya, dia pria yang jalan bareng dengan ibunya waktu itu.
“Baik. Eh, Kang Azi?” Yuli terlihat surprise mengetahui kedatangan pria itu.
Andrea melihatnya dengan pandangan kurang suka.
“Assalamualaikum, Yuli,” sapa pria itu.
“Wa alaikumsalam,” jawab Yuli, dengan wajah lembut.
“Maaf aku baru datang lagi, urusan di kantor lumayan banyak nih.” Tante Dina memegang tangan Yuli.
“Tidak apa-apa, Din. Meskipun kamu tidak datang, bantuan kamu sangat kami terima. Terima kasih ya.”
“Sama-sama. Aku senang sekali melihat kamu lebih baik sekarang.”
Andrea beringsut, dia sedikit tidak nyaman berada dekat dengan pria yang mungkin saja calon papa tirinya.
“Ndre, mau ke mana?” Tante Dina menegur. “Oh iya, kenalkan ini suami Tante, Om Azi.”
Whats? Mata Andrea hampir meloncat dari kelopaknya, karena kaget.
Pria itu menyodorkan tangannya. “Oh, ini Andrea?”
“Benar, Kang. Ini Andrea anakku.” Yuli menjelaskan.
“Saya Andrea, Om.” Andrea menyalami Pak Azi dengan wajah sulit diartikan.
“Om, Tante, aku ke luar dulu sebentar, mau menelefon teman.”
“Ooh, oke.” Tante Dina tersenyum, suaminya juga.
Di luar Andrea berjalan mondar-mandir. Dia baru tahu kalau Tante Dina sudah punya suami lagi, setahu dia Tante Dina sudah lama bercerai dengan suaminya yang dulu.
Andrea menutup matanya dengan tangan sebelah.
“Ya Tuhan, bisa-bisanya aku curiga sama ibuku sendiri," gumamnya. "Tapi, kenapa mereka jalan berdua?"
Dalam kepalanya terlintas, permainan belakang ibunya dengan pria itu. Dia membayangkan ibunya jadi pelakor, sahabatnya sendiri. Ibunya dihujani uang dan direkam, lalu disebar ke media sosial, dan viral. Andrea duduk dengan hati gelisah.
“Ndre ...." Panggilan lembut Tante Dina mengejutkan lamunannya. “Kok melamun? Sudah menelefonnya?”
“Eh, enggak, eh, sudah, Tante.” Andrea melirik ke dalam. Om Azi ditinggalkan begitu saja di dalam bersama ibunya.
Kenapa Tante Dina malah membiarkan mereka berduaan di dalam, gawat ini mah, malah diberi kesempatan, gawat gawaaatt. Batin Andrea nyerocos.
Tante Dina duduk di sebelahnya. “Ibu tidak mau operasi?”
“Iya, Tan.” Andrea menunduk.
“Tidak apa-apa, kita harus menghormati keputusannya.”
“Tapi kata dokter itu jalan satu-satunya untuk menghilangkan tumor di kepala Ibu. Aku takut Ibu seperti kemarin lagi. Semalam juga dia tidak ingat kalau Ayah sudah tiada.”
“Iya, Tante mengerti. Tetapi, Ibu kamu sepertinya lebih yakin untuk mengobatinya dengan pengobatan alternatif. Bagi sebagian orang, meja operasi kadang akan terlihat seperti meja eksekusi kematian. Yaahh, Tante rasa, sebaiknya kita turuti saja kemauannya, dari pada dia stres dan memburuk lagi.”
“Tante benar, mungkin Ibu takut, dan kami juga tidak punya uang.”
“Bukan itu, sayang.” Tante Dina memeluk pundak Andrea. “Kalau soal uang Tante juga bisa usahakan. Tetapi ini menyangkut mental ibu kamu, dia tidak siap. Tante tidak mau perasaan takutnya, malah akan memperburuk keadaannya.
Andrea menatap lekat manik mata Tante Dina, ada ketulusan di sana. Ketulusan hati seorang sahabat, dan seorang ibu. Tante Dina sangat keibuan, meskipun belum pernah punya anak.
“Tante, kenapa meninggalkan Om di dalam?”
“Tidak apa-apa, Om sedang berbincang dengan Ibu mengenai pengobatan alternatif yang bagus."
Andrea mengangguk-angguk, tetapi dia tetap tidak suka pada Om Azi.
__ADS_1
Tante Dina permisi kembali ke dalam. Andrea melihat jam di gawainya, sekarang di sekolahnya sedang jam istirahat, dia bisa menghubungi Ren.
Aku pengen curhat, kapan kita bertemu? Astaga, kepalaku seperti mau pecah.
Ren terlihat mengetik.
Iya, nanti sore aku ke situ, jangan dipecahin dulu kepalamu, tunggu aku!
Bi Cicih datang, dia membawa keperluan ibunya. Selepas subuh dia pulang untuk beres-beres rumah dan menengok ayam dan bebeknya, sekaligus anak dan suaminya.
“Bi, sekarang giliran aku yang pulang.” Andrea menjegal Bi Cicih di pintu ruangan.
“Iya, Neng.”
“Ya sudah, aku pamit dulu sama Ibu.”
Bi Cicih mengangguk. Mereka masuk bersama-sama.
“Bi Cicih sudah datang. Sudah beres di rumah, Bi?” tanya Yuli.
“Sudah, Bu,” jawab Bi Cicih. Senang majikannya kembali ingat kepadanya.
“Bu, tidak apa-apa aku pulang dulu?” Andrea duduk di samping ranjang.
“Kamu mau pulang, Ndre?” tanya Tante Dina.
“Iya, Tante, mau mandi. Tidak enak banget kalau belum mandi di rumah.”
“Kalau begitu, ikut Tante saja, kita juga sudah mau pulang. Tidak apa-apa kan, Yul?”
“Bu?” Andrea bertanya lagi kepada ibunya yang diam saja.
“Iya, Ndre, enggak apa-apa ikut saja sama Tante Dina.”
“Ya sudah, Ibu sama Bi Cicih dulu ya.” Andrea mencium tangan dan pipi Yuli.
“Kalau begitu kita pulang dulu, ya, Yul. Nanti kita ke sini lagi.”
“Iya, Din. Terima kasih ya, Din, Kang.”
Tante Dina mengusap tangan Yuli, Om Azi juga berpamitan.
"Mari, sayang." Om Azi menggenggam tangan Tante Dina.
Huhh, flamboyan kelas buaya, rutuk Andrea dalam hati.
“Titip Yuli ya, Bi,” kata Tante Dina, tersenyum kepada Bi Cicih.
Bi Cicih mengangguk dengan badan membungkuk. “Iya, Bu, hati-hati di jalan.”
Mereka keluar ruangan. Bi Cicih segera menyimpan barang bawaannya. “Ibu sudah makan?” tanyanya pada Yuli.
“Kamu siapa?” Yuli mengernyitkan dahinya. Bi Cicih menahan nafas.
**
Andrea sedikit sungkan ketika Tante Dina menggandeng tangannya sepanjang lorong rumah sakit. Melepaskan begitu saja gandengan tangan Om Azi.
“Kita makan dulu ya, Ndre,” ucap Tante Dina.
“Terserah Tante saja, “ sahut Andrea. Dia menumpang, masa menolak ajakan yang punya mobil.
Mereka makan di restoran. Andrea diperlakukan seperti mereka memperlakukan anak kecil, apa-apa ditanya, apa-apa dilayani. Andrea jadi kikuk sendiri.
Padahal, sebenarnya dia sudah ingin ada di rumah, mencium aroma rumahnya, mandi dan berganti pakaian. Baju yang dibelikan Ren sudah bau kecut tidak karuan.
Dia juga mau mencari gembok hunian Dale, mau diketuk, mana tahu Dale ada di sana, terkunci lagi.
Ah, pokoknya banyak yang akan dia lakukan setelah sampai di rumah nanti. Menumpang sama Tante Dina malah membuat dia seperti tidak bebas bergerak.
“Berapa hari tidak sekolah, Ndre?” tanya Om Azi, dia menggigit ujung sate meranggi.
“Dua hari, Om.”
“Kalau melihat kondisinya Yuli, mudah-mudahan bisa cepat pulang.” Tante Dina menuangkan nasi ke atas piring Andrea.
“Iya, biar kamu juga tidak kelamaan bolos,” kata Om Azi lagi.
“Iya, mudah-mudahan.” Andrea menjawab tanpa melihat muka Om Azi. Dia malas, pikirannya terbelenggu prasangkanya sendiri.
Akhirnya dia sampai di rumah. Aroma rumahnya seakan telah melahirkan dia kembali, menjadi gadis kecil yang betah di rumah, bergulung dengan bantal dan mainan kesayangannya.
Andrea menjatuhkan dirinya di kasur, menatap langit-langit kamarnya.
Sakit ibunya belum sembuh, masih banyak yang harus dia pikirkan untuk mengurusnya.
Andrea mengambil gawainya, dihubungi sekali lagi Bu Nisma. Tidak aktif. Lalu dia menghubungi Dodo. Tersambung.
Andrea bangun, menunggu Dodo mengangkat telefonnya.
“Ayo angkat dong, Aa!”
Dia mengulang panggilannya sampai tujuh kali.
“Assalamualaikum.” Terdengar jawaban dari sana.
“Aa, akhirnya diangkat juga. Aa ini aku. Kenapa Ua belum sampai ke sini? Apa Ua sudah berangkat?”
“Euhh, maaf, saya bukan Dodo.”
“Siapa kamu?”
“Usep.”
“Usep? Siapa Usep? Kamu jambret ya? Kenapa ponsel kakak saya ada sama kamu?” Andrea meradang.
“Oh, eh, ini, bukan, itu, anu ....”
__ADS_1
“Anu, anu ... Kenapa ponsel A Dodo ada di kamu?” bentak Andrea.
“Ini, ponselnya sedang di service ...”
“Ooh, bilang dari tadi!” Andrea lega, urat syarafnya kembali kendor.
“Neng langsung nyerocos aja, hehe ... Ponsel Dodo di service, saya barusan coba menyalakannya, eh, langsung ada telefon masuk, tadinya tidak mau angkat, tetapi takut penting, makanya saya angkat.” Usep mulai lancar bicara.
“Memang, ini penting banget. Aku sepupunya, dari kemarin menghubungi A Dodo tidak bisa. Bisa tolong sampaikan?”
“Ooh, bisa, saya ke rumahnya sekarang. Kebetulan ponselnya juga sudah beres.”
“Terima kasih ya, Asep.”
“Usep.”
“Oh iya, Usep.” Andrea menutup telefonnya.
“Akhirnya ....” gumamnya.
Dia menjatuhkan diri lagi ke kasur, merentangkan tangannya ke atas. Aroma tidak enak menguar, dia mengingus-ingus keteknya.
“Astaga, sudah seperti bau batu bara.”
Andrea menyambar handuk, lalu pergi mandi.
Setengah jam kemudian, dia kembali, dengan kesegaran yang hakiki. Guyuran air telah meluruhkan kepentingan segala kuman di tubuhnya.
Gawainya masih sepi, tidak ada tanda-tanda Dodo menghubungi.
“Sudah pergi belum si Usep?”
Dia memijit ikon telefon, dihubungi sekali lagi Dodo. Mereka tersambung, Andrea lega.
“Ya,” sahut Dodo dari sana. Terdengar ogah-ogahan.
“Aa, Ua sekarang di mana?”
“Kenapa memang?”
“A, Ibu sakit, dirawat di rumah sakit ....”
“Sama, Mbu juga sedang sakit, memang hanya kamu yang punya ibu?”
“Ua istri sakit?”
“Dengar ya, Ndre. Jangan manja jadi orang. Hanya memikirkan diri sendiri, bahkan orang lain juga harus memikirkan kamu saja. Mbu aku juga banyak urusan. Montong egois, urus ibumu sendiri! Montong ngaririweuh wae!” Dodo malah ceramah.
Andrea tertegun, tidak menyangka Dodo akan bicara seperti itu.
“Aa ....”
Terdengar Dodo menutup sambungan telefonnya.
Andrea memandangi layar gawainya. Kesegaran yang baru dia rasakan, sekarang mulai dinodai kembali oleh keringat yang keluar karena menahan emosi yang mengganjal di tenggorokannya, sakit.
“Aaarggh!” Andrea melemparkan gawainya ke kasur. Bisa-bisanya Dodo mengatakan semua itu. Seperti sudah tidak ada ikatan persaudaraan lagi pada mereka.
Dia membenamkan wajahnya pada bantal, menahan cairan panas yang mulai rembes di matanya. Beberapa saat dia membiarkan sakit di hatinya membuncah, sampai akhirnya mereda sendiri.
Sakit, uaknya sakit. Andrea mencoba berpikir positif. Dodo juga mungkin sedang panik karena ibunya sakit.
Andrea mengetik pesan untuk Dodo, melihat ucapan Dodo tadi, tidak mungkin dia menelefonnya lagi, dia tahu sifat Dodo sekarang tidak asyik lagi, pasti telefonnya tidak akan diangkat.
Setidaknya, jika dengan menulis pesan, kakak sepupunya itu bisa membaca, kecuali kalau dia buta huruf.
Maaf, aku tidak tahu kalau Ua istri sedang sakit. Aku hanya sedang kesulitan, tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa, selain kepada kalian, keluargaku.
Terlihat Dodo membaca pesannya, tetapi dia tidak membalas, walau dengan emoticon berwajah setan sekalipun. Sepupu ketusnya itu benar-benar sudah tidak punya hati.
Andrea beranjak, keluarga di kampung sedang tidak bisa diharapkan saat ini.
“Semoga Ua istri baik-baik saja,” gumamnya.
Dia mengambil ranselnya, membawa keperluan sekedarnya.
Dibukanya kotak kayu dalam laci, dikeluarkan gembok antik tempat bersemayam Dale. Anak kunci yang menggantung di lehernya segera dikeluarkan dari balik kerah baju.
Klek!
Gembok terbuka. Andrea melihat sekeliling. Hening.
Andrea memasukkan lagi gemboknya ke kotak kayu, lalu menyimpannya ke dalam ransel.
Dia keluar, melewati kamar ibunya. Langkah dia terhenti ketika ingat pesan Bi Cicih, untuk membawa ponsel ibunya.
Andrea memasuki kamar ibunya, buru-buru dia ambil gawai di atas meja rias. Dia mencoba menghidupkan ponsel, mengecek batere. tampak deretan pesan dan panggilan tak terjawab. Andrea tidak bisa membukanya, ponsel dipasword ibunya.
Pandangannya tertumpu pada anak kunci yang menggantung di laci nakas samping tempat tidur.
Seperti ada yang menarik hatinya. Akhir-akhir ini ibunya terlalu banyak rahasia. Tidak salah kalau dia memeriksa kamarnya.
“Maaf ya, Bu, aku lancang,” gumamnya.
Selama ini dia tidak pernah berbuat seperti itu, kepada Dale juga dia enggan menyuruh memata-matai kalau tidak terpaksa.
Di dalam laci dia menemukan surat keterangan dari rumah sakit, mengenai penyakit ibunya. Ternyata ibunya sudah mengetahui itu sejak lima bulan lalu. Di sana juga ada buku tabungan, Andrea melihat saldo yang membuat hatinya miris.
Selama ini dia tidak pernah memikirkan dari mana uang, untuk keperluan sehari-hari mereka. Dia senang-senang saja nerima uang jajan, dan keperluan lainnya. Sedangkan ibunya, mungkin saja berjuang setiap hari untuk menghemat pengeluaran mereka.
Di dalam laci juga ada majalah wanita dengan headline artis yang mengidap tumor otak.
“Aku sampai tidak mengetahui ini semua, anak macam apa aku ini,” lirihnya.
Di bawah majalah ternyata masih ada sebuah amplop lagi. Andrea membukanya.
Matanya terbelalak tidak percaya.
__ADS_1
“Apa ini?” teriaknya.
bersambung