
“Neeng ....” Tiba-tiba Andrea juga mendengar suara uaknya, Bu Nisma.
"Ua?" Andrea memekik, tetapi masih belum ada yang mendengarnya. Dia menggapai-gapai dalam hawa yang menyelubunginya.
“Neng, maafkan Ua, geulis. Sudah jahat sama kalian." Suara Bu Nisma memelas.
"Ua menyesal, sudah keterlaluan. Ua tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian. Ua sangat egois," lanjutnya. Bu Nisma menangis sambil memeluk tubuh Andrea yang tidak bergerak.
Gigit yanh ketakutan, kekasihnya benar-benar meninggal.
"Ua berjanji, akan menjadi keluarga kamu yang baik, bersama Dodo akan menjagamu dan ibumu, sesuai pesan Aki. Karena kita semua adalah keluarga." Bu Nisma bicara penuh ketulusan. Dia sesenggukan dekat tubuh dingin Andrea.
Gigit hanya bisa menatap, kedatangan Dodo dan Bu Nisma secara tiba-tiba membuatnya heran.
Setelah Bu Nisma bicara, Andrea merasakan perlahan-lahan dirinya turun. Dia seperti bermimpi, mendengar semuanya dari ketinggian, entah dari mana. Pokoknya tinggi sekali, mungkin langit, awan, atau pohon kelapa.
Harimau di kamar itu perlahan merunduk, matanya tidak lagi merah, lalu tiba-tiba pergi dengan meloncati jendela dan menghilang.
Hawa yang menyelimutinya berangsur menghangat. Andrea seperti menghampiri tubuhnya. Dia merasa lemas sekali, tetapi akhirnya dia punya kekuatan untuk membuka kelopak matanya, setelah Gigit memberinya minum.
Andrea sekarang berada di pangkuan Gigit, kepalanya di usap-usap oleh Dodo, dan Bu Nisma. Ketiganyan terlihat cemas.
“Ua ...." Andrea memanggil Bu Nisma.
“Iya, Ndre. Ini Ua, Maafkan Ua ya sudah jahat sekali pada kalian." Bu Nisma menatap mata Andrea dengan mata basah. Hidungnya juga berair. Tetapi Andrea melihatnya seperti embun pagi yang menyejukan. Tubuh uaknya juga terlihat kurus, tulang pipinya menojol. Seperti baru sakit.
"Ua jahat, Neng." Bu Nisma kembali menyesali diri.
"Padahal, Aki pernah berpesan, kalau Ua yang harus menjaga dan mengurusi kalian, karena Ua ada Dodo, anak laki-laki. Ua dendam, kenapa harus menjaga kamu, sedangkan semua harta peninggalan Aki semua jatub ke tangan kamu."
"Ua." Andrea duduk, lalu memeluk Bu Nisma. Mereka menangis bersama-sama.
Gigit sampai tidak tahan, bibirnya ikut bergetar melihat Andrea menangis seperti itu. Dia juga baru tahu, Andrea ada masalah keluarga sebesar itu.
"Ua tidak usah minta maaf, aku baik-baik saja. Harta Aki, adalah peninggalan Aki yang yang akan kita jaga bersama-sama, Ua. Maafkan aku kalau kemarin-kemarin mau membuat peninggalan Aki dijual." Andrea sesenggukan di pelukan Bu Nisma.
"Neng, kamu baik sekali. Ua telah dibutakan dendam sama kamu."
Setelah acara peluk-pelukan selesai, mereka keluar dari kamar Andrea. Ibunya yang masih lemas segera memeluknya. Andrea menangis lagi di pelukan ibunya.
Zellina terpaku, melihat Dodo di depannya. Ingin sekali menubruk cowok itu, mencurahkan setiap tetes rindu yang sudah mengubun itu kepada kekasihnya. Tetapi, dia masih waras, ketika melihat sekeliling, semua orang sedang mengharu biru.
“Maaf ya, Bu, Ibu jadi ketakutan.” Andrea mengusap-usap punggung ibunya.
Yuli tidak kuasa menahan tangis, dipeluknya lagi anaknya satu-satunya itu. “Sebenarnya ada apa sih, Ndre, kenapa ada harimau di kamar kamu?”
Bu Nisma dan Dodo menghampiri mereka. Yuli terlihat masih ketakutan melihat kakak iparnya.
"Teteh," lirihnya.
“Yul, maafkan Teteh. Teteh menyesal sudah membuat kalian takut dan menderita. Teteh pasrah jika kalian masih membenci Teteh. Tadinya Teteh kira akan mudah memengaruhi Dodo, ternyata dia sangat menyayangi kalian. Teteh hancur tanpa Dodo, tanpa kalian, maafkan ....” Bu Nisma bicara sambil tersedu.
"Iya, Bi, Ndre. Mbu sudah menyadari perbuatannya sekarang. Tolong maafkan Mbu." Dodo mengusap-usap punggung ibunya dengan sorot mata penyesalan. Walau hanya sebulan, jeruji besi telah mengubah sifat ibunya yang egois. tamak, dan arogan. Ibunya kini sudah berubah menjadi lebih baik.
Yuli dan Andrea saling pandang.
“Bagi kami, keluarga adalah yang terpenting daripada harta. Teteh tidak usah khawatir, warisan Bapak adalah harta leluhur, kami juga ingin tetap lestari, sampai keturunan selanjutnya.” Yuli menggenggam tangan Bu Nisma.
“Terima kasih kalian tidak dendam kepada Teteh.”
“Tentu saja tidak, Teh. Dari dulu Teteh tetap pengganti orang tua bagi saya dan Andrea.”
Dengan wajah terharu, Bu Nisma memeluk Yuli dan Andrea, diikuti Dodo.
Ren dan Zellina juga berpelukan, ikut terharu melihat keharuan yang membuncah di depan mereka.
“Sebenarnya mereka kenapa?” bisik Zellina.
“Nanti aku ceritakan,” sahut Ren. Mereka meneruskan haru yang tidak jelas itu.
Sementara Bi Cicih tanpa sadar memegang erat tangan Gigit, Gigit membiarkannya, sampai Bi Cicih menyadarinya dan cengengesan senang sudah ketiban rejeki memegangi tangan cowok ganteng.
“Kamu juga tidak usah khawatir tentang si Dale, dia sudah bebas.” Dodo mengacak-acak rambut Andrea.
__ADS_1
“Benarkah, A? Bagaimana caranya?”
Dodo segera keluar, lalu masuk lagi dengan mengajak dua orang ikut di belakangnya.
“Lho, bukannya itu ....” Gigit mengingat-ingat.
“Kamu kenal mereka?” tanya Dodo.
“Ini Kakek yang menyembuhkan Ren dan Zellina waktu kesurupan di gunung, kan?” tanya Gigit.
“Benar, beliau Aki Sudira, dan ini Enjang. Enjang juga pernah menyelamatkan kamu ketika pingsan karena dipukuli teman-teman aku.” Dodo mengenalkan tamu yang ikut serta dari kampung.
“Aaahh iya, aku ingat!” Zellina berseru.
Dodo tersenyum kepada Zellina, keduanya tentu ingat kejadian waktu itu. "Kamu masih ingat, sayang?"
Zellina tersipu malu dipanggil sayang di depan calon mertua. Ren meringis, geli.
Aki Sudira dan Enjang dipersilakan duduk dulu oleh Dodo. Setelah duduk dia mulai bercerita.
“Saya adalah teman Karsijan, Aki kalian. Selama ini juga sedang mencari si Dale. Karsijan pernah berpesan untuk membantunya pergi dan bebas dari perjanjian.”
“Jadi, Kakek tahu Dale?” tanya Andrea.
Aki Sudira mengangguk. “Dale itu dipelihara kakek kalian karena awalnya sangat membantu pekerjaan kami di hutan dan penurut, kakek kalian sangat sayang. Lama kelamaan tabiat jeleknya muncul, apalagi kalau keinginannya tidak terpenuhi. Dia suka berdebat dengan kakek kalian. Sampai suatu hari dia mencelakakan menantunya, dan dia menghukumnya di dalam gembok."
“Dia bilang itu kecelakaan," kata Andrea.
“Ke Aa juga bilangnya begitu,” sahut Dodo.
“Memang tidak ada yang tahu persis kejadiannya, tetapi dia tidak berusaha menolong, padahal sangat bisa. Karsijan tahu, dia sengaja melakukannya, karena saat itu mereka sedang tidak akur.” Aki Sudira menjelaskan.
“Tapi dia baik. Selalu menjagaku.” Andrea bergumam, tidak terima jika Dale dicap jelek.
"Iya, Aki kalian punya perjanjian. Dia harus menjaga cucu perempuannya, dari hal-hal yang menyakitinya."
"Hanya cucu perempuan?" tanya Dodo.
Aki Sudira mengangguk. "Iya, karena cucu perempuannya tidak berayah. Tidak ada laki-laki yang menjaganya."
Zellina mengusap-usap pundak Dodo dengan wajah turut prihatin.
"Tetapi kenapa dia bisa berubah begitu ya?" gumam Andrea.
“Kita dan mereka berbeda, Neng, jadi tidak tahu sifat, ukuran kebenaran, kejujuran, atau penghianatan mereka seperti apa. Yang pasti kita jangan sampai terpengaruh tipu daya mereka.” Aki Sudira mengelus-elus janggutnya.
“Benar, Dale sebenarnya baik banget. Aku selalu dijaga dan ditolong dalam segala permasalahan. Dia berubah ketika dia galau ingin bebas seperti pacarnya. Mungkin waktu sama Aki juga seperti itu, makanya dia dikunci dalam gembok."
Bu Yuli memeluk lagi Andrea, dia tidak tahu kalau selama ini anak gadisnya itu berteman dengan jin.
“Apakah Dale sudah bebas, Kek?” tanya Ren.
“Insya Allah, Neng. Keikhlasan hati Bu Nisma dan Dodo sudah membebaskannya dari perjanjian. Mereka sudah benar-benar tulus ingin menjaga Neng Andrea. Itulah kenapa Aki meminta mereka segera ke sini, untuk menolong Neng dari tempelan jin itu. Ucapkan setulus hati, dan alhamdulillah tepat waktu." Aki Sudira tersenyum.
"Eh, Aki malah diajak. Ya sudah ikut saja, sekalian ngajak si Enjang pelesir, hehe." Aki Sudira melanjutkan ucapannya sambil terkekeh, memperlihatkan giginya yanh tinggal beberapa biji.
"Dan semuanya tepat dalam dia hampir saja mencelakakan kamu." Bu Nisma mengelus rambut Andrea.
Andrea menunduk. “Iya, Ua. Terima kasih, sudah menolong aku."
“Sebenarnya Dale tidak bisa kamu lepaskan itu karena kamu sendiri, Ndre." katA Dodo.
"Hah? Aa kenapa ngomong begitu?"
"Selama ini, di lubuk hati kamu yang paling dalam sangat cemas pada kehidupan kalian tanpa Ayahmu kan?” tanya Dodo.
Andrea menekur, dia mengakui selama ini dia selalu merindukan ayah dan kakeknya. Dibalik sikapnya yang tomboi, Andrea sangat membutuhkan sosok pelindung untuk melindungi dia dan ibunya.
“Aa tahu dari mana?”
“Sudahlah, yang pasti sekarang kamu tidak perlu Dale lagi. Ada Aa dan Mbu yang akan menjaga kamu sampai kamu ada yang benar-benar menjaga lahir dan batin.” Dodo mengusap kepala Andrea.
"Maaf kalau Aa juga suka membuat kamu merasa tidak punya kakak."
__ADS_1
“Maafin Ua juga, Ndre,” isak Bu Nisma. “Ua tidak memikirkan kamu, sampai kamu merasa cemas begitu.”
“Ndre, benar selama ini kamu begitu cemas dalam menghadapi kehidupan kita tanpa Ayah?” Yuli ikut bertanya.
Andrea semakin terharu, dia mulai menangis. Semua yang ada di sana ikut terharu.
“Iya, Bu. Aku ini insecure, hidup tanpa Ayah.”
“Ah, sayang. Ibu juga minta maaf kalau selama ini belum membahagiakan kamu.” Andrea menangis di pelukan ibunya.
Dalam hatinya menyesal juga tidak bisa bertemu Dale lagi, yang raib tanpa mengucapkan apa-apa.
"Eh, sebentar deh. Dale itu sebenarnya siapa sih?" Tiba-tiba Zellina nyeletuk.
"Iya, siapa ya?" Bi Cicih ikut bertanya.
**
Di gerbang sekolah Gigip sudah menunggunya, dalam waktu yang bersamaan juga Pak Iwan datang. Bu Anis tersenyum lebar dalam balutan jilbab lebarnya, menghampiri motor gede Pak Iwan.
“Ada kabar kalian akan bertunangan,” ujar Bu Anis.
Andrea dan Gigit mengangguk. Mereka sudah berjanji membiarkannya seluruh dunia tahu bahwa mereka saling memiliki. Terkesan lebay memang, masih sekolah sudah menjalin hubungan yang serius. Andrea tidak peduli dengan pikiran orang lain, yang jelas hubungan mereka itu unik, dipertemukan secara misterius, dan terjalin menuju serius. Tadinya demi menolong pasangan makhluk gaib yang terjebak perjanjiaan, tetapi malah menolong diri sendiri yang terjebak cinta.
“Ooh, tentu saja tidak ada salahnya kalian bertunangan. Asal selalu dalam keadaan bisa menjaga diri dan menjaga satu sama lain.” Bu Anis mencoba bijaksana, dia juga merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta.
Andrea dan Gigit tersenyum malu-malu.
“Suatu hari kita akan seperti mereka,” bisik Gigit setelah Bu Anis dan Pak Iwan pergi.
“Asal kamu sabar saja lama-lama menunggu, aku juga pengen kuliah dulu.” ujar Andrea.
“Tidak akan ada putus rasa sabarku, sampai kita siap. Aku senang mengikat cinta kita dan orang tua kita mengetahuinya, karena sebenarnya cinta itu hadir untuk dipelihara.” Gigit memegang tangan Andrea. “Tapi jangan coba pelihara jin lagi ya! Kita pelihara banyak anak aja,” rajuk Gigit. Andrea tergelak.
“Kamu tuh sudah membahas anak saja, masih sangat jauh itu untuk kita. Eh, tapi lucu juga ya kalau punya anak cewek.” Andrea menunjuk anak cewek yang memakai rok lucu turun dari angkot, menuju mini market.
“Anak cowok lebih lucu, Ndre. Bisa diajak manjat-manjat.” Gigit protes.
“Cewek.”
“Cowok.”
“Iiihh, Gigitt!” Andrea mencubit tangan Gigit. Gigit meringis. Andrea tertawa geli.
“Kamu tunggu sebentar ya, aku lupa bawa buku tugas di kelas.” Andrea ingat telah melupakan sesuatu.
“Oke.”
Setelah mendapatkan buku tugasnya Andrea segera kembali, tapi ekor matanya menangkap pasangan yang tidak asing lagi untuknya. Mereka berjalan masuk ke perpustakaan yang masih ditongkrongi beberapa siswa.
Dandanannya mirip Dale dan Lyla, mereka memakai busana jadul.
Andrea berpikir mereka siswa yang sedang latihan ekstrakurikuler kesenian. Lalu Andrea perhatikan lagi, mereka bergandengan tangan pergi ke belakang lemari buku, Andrea tahu itu sebuah tembok. Andrea mengucek matanya, mereka menghilang di belakan lemari yang merapat ke dinding.
“Si Dale bebas ya? Ternyata kamu bisa menemukan caranya.” Tiba-tiba Fany berbisik di sebelahnya, sambil makan wafer coklat. Bibirnya berlepotan coklat.
“Bukan aku kok yang menemukan cara melepaskan mereka, tapi cinta dan kasih sayang keluarga."
Fany tersenyum, lalu beranjak setelah sebelumnya bicara, “Kalian berdoa saja nanti tidak punya anak perempuan, setahu aku, jin turunan akan menjaga turunan tuannya yang satu gender.”
Andrea mendengus merasa tidak perlu meladeni Fany yang dirasa melantur. Benar-benar Fany itu perlu di rukiah karena kebanyakan main sama makhluk gaib, batinnya.
Tetapi, bagaimana kalau dia benar?
Andrea buru-buru menghampiri Gigit yang sedang bicara dengan tukang cilok janggut tiga lembar.
“Git, aku ingin anak laki-laki saja deh.”
Gigit melongo. Tukang cilok juga.
TAMAT
Hai Readers, terima kasih sudah mengikuti novel ini sampai selesai. Maaf jika Author angin-anginan dalam menyelesaikan tulisan tiap episode.
__ADS_1
Author berharap, readers sekalian bisa mendapat hikmah dari cerita ini, ambil yang baik, dan buang yang buruknya yaa...
Terima kasih, sampai jumpa lagi.