
Pesta bantal dimulai.
Zellina yang paling antusias. Dia benar-benar membawa bantal-bantal kesayangannya dari rumah. Jadinya, kamar Andrea jadi sudah kayak toko bantal, segala bantal karakter ada. Dari yang lucu sampai menyeramkan.
Pak Supri yang kerepotan, bolak-balik mengangkutnya dari mobil.
“Pak Supri pulang saja, besok pagi ke sini lagi, bawa sarapan ya!”
“Baik, Non!”
"Oke, bye!"
**
Selesai mengacak-acak dapur membuat mi rebus, lalu makan, mereka langsung masuk kamar. Duduk di atas ranjang dengan berkeliling.
Dale yang kebagian beres-beres. Tidak harus susah payah sih, tinggal jentikkan jari.
Cling!
Semua beres, kinclong.
“Kita mau apa sekarang?” Zellina memeluk bantal bulu angsa kesayangannya.
“Tidur lah,” kata Ren.
“Masa mau tidur secepat ini. Katanya mau pesta bantal.”
“Lah, pesta bantal kan tidur, memang apa? Pukul-pukulan bantal?” tanya Ren.
“Hiss, bikin acara apa kek, panggil jailangkung kek.” Zellina menyenderkan kepalanya ke senderan dipan. "Belum mengantuk juga kalau tidur."
"Huss, jangan! Aku tidak mau kesambet lagi," sergah Ren.
“Halahh, kalau benar datang juga kamu yang duluan pingsan, Zell.” Andrea tertawa.
“Ya, panggilnya jangan genderuwo. Vampir atau serigala jadi-jadian, kan ganteng-ganteng.”
“Ganteng itu kalau di film, aslinya belum tentu, Nona,” sambar Andrea.
“Daripada panggil jailangkung, nanti yang datang malah Pak Supri, mendingan kita rencanakan besok, jadi kita ke rumah Bu Anis?” Ren menguap.
“Jadi dong, Ren, kan kamu sudah tahu tadi.”
Ren menatap Andrea. “Iya, iya. Aku juga sudah kangen sama Bu Anis.”
“Kangen digebrak jidarnya ya?” tanya Zellina.
“Bukan, kangen makaroni bantatnya itu. Dulu enggak sempat dicicipi sudah diusir.”
“Aduh, Ren, Ren, aku kira kangen apa. Makaroni bantat tinggal beli saja di kantin, yang mekar juga ada.” Zellina melengos.
“Beda kali, beli sama gratis,” sambar Andrea. Dia mengambil gawainya di nakas.
“Eh, sudah sehat dia?” tanya Zellina.
“Sudah dong, sudah berobat. Tahu ngga kalian di mana dia berobat?" tanya Andrea.
Ren dan Zellina menggeleng.
"Di mana emang?" tanya Ren.
"Di kliniknya Akri."
"Hah, Akri sudah jadi dokter?" Zellina mangap.
"Owh, di sana." Ren menguap.
"Iya, aku juga baru tahu dia punya counter," kata Andrea.
"Punya pamannya itu."
"Kamu tahu, Ren?" tanya Andrea.
"Ya tahu lah, aku kan sama Akri sepupuan." Ren mulai mijit-mijit kepala, kantuknya menyerang.
"Oya?!" Andrea dan Zellina terkejut.
"Kok kamu ngga bilang-bilang," kata Zellina.
"Ngapain bilang-bilang," sewot Ren.
"Terus si Zay?" tanya Andrea lagi, dia masih penasaran soal keong yang sering mereka sebut-sebut.
"Ya, Akri dan Zainal itu kembar."
"Haahh!?" Andrea dan Zellina kembali terkejut.
"Yang satu keluar dari kepiting, yang satu lagi lahir dari keong." Ren tertawa terbahak-bahak.
"Iihh, kamu Ren!" Andrea melotot. Sejak ditanya masalah itu, selalu saja ngawur.
Zellina melemparkan bantal jeruk ke Ren.
“Hubungi kakak kamu dong, Ndre. Aku kangen, please, lewat kontak Ua istri juga enggak apa-apa?” Zellina memelas, air mukanya sangat tidak enak dipandang.
Ren masih cekikikan melihat kedua sahabatnya kesal. Keluarga besar mereka memang aneh, tidak ada yang waras. Dia memang sepupuan sama Akri dan Zainal. Ibu mereka bersaudara.
“Lho, kamu yang kangen kok aku yang repot,” sahut Andrea, dahinya berkerut ke arah Zellina.
“Kalau dia kakaknya Ren, Ren juga pasti mau direpoti ya, Ren?” Zellina menengok Ren yang sudah mulai memasang headset.
“Ogah." Ren berbaring. "Ada bagusnya juga aku tidak punya kakak,” gumamnya.
“Ndre, please. Aku belum bisa hubungi dia sejak berpisah, kamu tega melihat aku galau dan menangis tersedu setiap waktu merindukan dia?” Zellina mulai berlebihan.
“Sudah bantu saja, Ndre. Kasihan, lagi hangat-hangat tai ayam, dipisahkan jarak dan calon mertua.” Ren meledek.
"Ikh, jorok banget sih, Ren." Zellina meringis.
“Masalahnya, aku juga belum tentu bisa menghubungi dia," kata Andrea.
“Kenapa?” tanya Zellina.
Andrea memainkan gawainya. “Ua aku sepertinya sedang tidak mau diganggu.”
__ADS_1
“Kenapa?” Giliran Ren yang penasaran, dia mencopot lagi headset yang belum terpasang sempurna.
“Kalian tidak usah tahu, ini urusan keluarga.” Andrea turun dari ranjang. “Ada yang mau susu hangat?”
“Tetapi aku juga kan calon keluargamu, Adik!” Zellina ikut turun.
“Belum,” ujar Andrea, dia keluar. "Belum resmi."
“Ndre! Adik! Hiss!” Zellina merengut.
“Aku mau coklat panas,” seru Ren.
“Bikin sendiri!” Andrea berteriak dari luar kamar.
Zellina mengambil gawai Andrea yang disimpan di kasur.
“Zell.” Ren mengingatkan. “Tidak sopan!”
Zellina malah memperlihatkan wajah sedihnya. Dia berjalan ke sisi Ren. “Ren, aku kangen dia, tolong aku!” Zellina memeluk bahunya.
Ren berusaha melepaskan pelukan Zellina. “Jangan lebay, makanya kalau melakukan sesuatu itu dipikir dulu. Siap enggak el de er? sanggup enggak menanggung kangen? Pacaran juga butuh kepastian, dan kepastian didapat ketika ada komunikasi. Komunikasi akan lebih lancar, jika jarak kita dekat. Makanya punya pacar jangan jauh-jauh!”
“Apa sih, kamu malah pidato, aku enggak ngerti,” potong Zellina.
“Mana mengerti, yang didahulukan perasaan saja, bukan logika.”
“Jadi, harus selalu pakai logika? Hellooww, kamu tidak kenal Agnezmo?” Zellina mengentak-entakkan kakinya, mengikuti gaya menari Agnes Monika.
“Kagak! Sudah sih, aku mau bikin coklat panas dulu.” Ren beranjak, setelah mengamankan gawainya dan gawai Andrea dari kekepoan Zellina.
Zellina bersungut-sungut, lalu melemparkan tubuhnya ke kasur, tengkurap. Dia menjerit-jerit di dalam bantal. "Kak Dodoooo ....!"
Andrea sedang bersandar di meja dapur ketika Ren datang. Di tangannya ada segelas susu hangat.
“Kok melamun di sini, Ndre?" Ren melihat sekeliling. "Kamu yang beres-beres?" Ren takjub, setahunya dapur itu berantakan waktu mereka pergi ke kamar. Tidak lama dia terdiam, tengkuknya terasa dingin.
"Memang menurut kamu siapa?"
"Tidak penting. Yang penting sekarang kamu jangan pikirkan Ibu, dia kan sedang berobat.” Ren berusaha menyembunyikan kejanggalan perasaannya.
“Ngga, kita sedang memikirkan cara mempertemukan Bu Anis dan Pak Iwan.”
“Kita?” Ren melihat berkeliling, tengkuknya semakin merinding. “Pasti sama dia,” bisik Ren.
“He em ....” Andrea menyeruput susu panas di tangannya.
“Duh.” Ren mengusap-usap tengkuknya. "Ternyata benar."
“Kamu masih belum terbiasa saja, Ren. Padahal dia sudah baik sama kamu, tidak seseram yang kamu bayangkan kok. Bukannya kamu juga sempat bicara sama dia waktu di klinik? berterima kasih."
Ren merapatkan tubuhnya ke Andrea. "Hah? Jadi, dia mendengar?"
"Mendengar lah, kan punya kuping."
Ren meringis. “Namanya juga takut, aku juga kan enggak ingin takut.” Ren menyerahkan gawai Andrea. “Nih, tadi mau di utak-atik si Pecel.”
Andrea menerimanya.
“Dal, kamu bisa menampakkan diri enggak?” tanyanya kepada Dale.
Ren memegang tangannya. “Ndre!”
“Ck, ya sudah. Tadinya aku ingin biar Ren tahu wajah tampanmu.”
“Ah, Neng bisa saja.” Dale mengusap-usap dagunya.
“Jangan gede rasa. Tampan juga percuma kalau kagak kelihatan.” Andrea mencebik.
Ren meringis-ringis sendiri, melihat Andrea bicara sama kulkas. “Kayak orang syaraf.” Dia menempelkan telunjuknya di jidat.
“Sudah biasa, syarafku kan memang bermasalah. Buktinya bisa melihat dia.” Andrea duduk di meja makan, memeriksa gawainya.
“Kasihan juga ya si Inzel. Aku coba hubungi A Dodo.”
“Iya tuh.” Ren yang sedang mencari coklat instan di lemari, menyahut. “Wajahnya sudah hancur-hancuran begitu, tidak tega aku.”
Andrea menghubungi Dodo beberapa kali.
“Tidak tersambung.”
Ren menghampiri dengan coklat panas, mengepul. Aromanya membuat Dale melirik.
Andrea membuka-buka galeri ponselnya. Melihat foto-foto dia bersama Gigit. Padahal sudah ratusan kali, tetapi dia selalu merasa foto-foto itu sangat istimewa. Andrea juga memutar video yang tersimpan.
“Astaga! Ren, keinginanmu terkabul,” teriak Andrea.
Ren mengernyitkan dahi, dia merasa sedang tidak mendambakan apa-apa, selain coklat panas di depannya.
“Keinginan apa?”
“Lihat ini!” Andrea menyodorkan gawainya. Wajahnya terlihat tegang. "Aku yakin kamu juga bisa melihatnya, ini kan video."
Ren menerima gawai yang disodorkan kepadanya. Di sana terlihat ada adegan seseorang yang sedang mewek-mewek, mengakui sesuatu. Gigit di sebelahnya, memegangi bahunya. Seseorang berkostum seragam sekolah Korea sedang bersender dengan kaki diangkat sebelah ke badan mobil.
“Ini video si penculik itu?” tanya Ren.
Mata Andrea berbinar. “Iya, itu si Atang. Kamu lihat yang lainnya?”
Ren mengerutkan dahi, masih belum mengerti. “Sama Gigit,” sahutnya.
“Terus? Apa kamu melihat ada orang lain di sana?”
Ren kembali melihat cuplikan video itu. Dia menutup mulut ketika menyadari sesuatu.
“Dia?” teriaknya, dengan mata terbelalak.
Andrea mengangguk dengan wajah senang.
Dale penasaran. Dia meloncat dari atas kulkas. “Ada apa, Neng?”
“Ndre! Ini dia?” Ren berteriak lagi, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ren melihat ke arah kulkas. “Apa dia masih ada di sana?”
“Ngga, dia di belakangmu. Kepo dengan apa yang kamu lihat.”
“Hah?” Ren melihat ke belakangnya, kosong.
__ADS_1
“Kok di film itu ada saya, Neng?” Dale juga merasa kaget.
“Iya, itu kamu, Dal. Itu bukan film, itu rekaman aku ketika waktu itu nangkep si Atang. Ternyata kamu bisa tertangkap kamera.”
“Waduhh, nanti banyak orang yang tahu, saya terkenal?” tanya Dale.
“Enggak lah, ponsel ini kan punyaku. Hanya aku yang tahu. Sama Ren.”
Andrea melirik Ren yang masih shock.
“Bagaimana Ren, tampan kan? My Secret Bodyguardku?”
Ren mendadak menangis. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Andrea dan Dale terkejut.
“Kenapa dia, Neng?”
“Ren, kamu kenapa?” Andrea mengguncang-guncang bahu Ren.
Zellina datang, memeluk bantal dengan wajah ditekuk. “Kalian sedang apa sih? Lama banget, aku mau cur ... Hei, Ren kok nangis? Kenapa, Ndre?” tanya Zellina.
Andrea menggeleng, Zellina jadi merapat mendekati Ren yang sedang terisak.
“Kamu kenapa, Ren?”
Ren menangis tersedu, tidak bisa berhenti. Andrea dan Zellina kebingungan.
"Apa dia takut melihat saya, Neng?" tanya Dale.
"Ren, kamu takut?"
Ren menggeleng.
“Aku jadi teringat kakakku. Ndre, boleh enggak kalau Dale aku anggap sebagai kakakku saja. Aku sekarang tidak takut lagi, aku akan menganggap dia kakakku yang datang dari keabadian.” Mata basah Ren menatap Andrea.
“Ren.” Andrea merasa gugup karena di sana ada Zellina yang sedang kebingungan.
“Dale siapa?” tanya Zellina.
“Aku, Neng Rinces,” sahut Dale. Tapi Zellina tidak mendengar.
“Ren, Dale siapa?” tanya Zellina lagi, melihat kedua sahabatnya diam. “Kalau kalian tidak mau kasih tahu, aku teriak nih!” Zellina bersiap berteriak.
“Ini, kamu lihat saja video ini!” kata Andrea.
“Ndre?” Ren tidak mengerti dengan aksi Andrea, kalau Zellina tahu, pasti akan jadi runyam.
Tetapi Andrea malah mengedipkan matanya. Dia memang ingin tahu, apa Zellina juga melihatnya seperti Ren.
Zellina melihat video itu dengan saksama.
“Ini kan orang suruhan Kak Yadi yang kita sergap itu?”
“Iya, dia berusaha menculik aku sejak awal. Aku berusaha mencarinya dengan Gigit. Enggak nyangka dia mencoba menculik aku lagi.”
“Terus, Oppa Korea itu siapa? yang namanya Dale?” tanya Zellina.
Andrea tersenyum. “Ternyata kamu juga bisa melihatnya, Zell?”
“Maksud kamu aku buta? Kalau cogan mataku tidak akan melewatkannya, hehe.”
“Huh! Aku bilang si Aa lho!” seru Andrea.
“Owh, Ndre, Adik ipar yang cantik. Jangan melakukan itu sama calon kakak iparmu ini. Demi apa pun, sekarang hanya A Dodo yang paling tampan.” Zellina memeluk bahu Andrea.
“Hmm ... Bucin,” sahut Andrea. Dia merebut gawainya dari tangan Zellina.
Ren menghapus air matanya. “Sori ya, Gaes, aku melow banget, setelah melihat dia, aku seperti bertemu kakakku lagi."
Zellina gantian memeluk bahu Ren. “Jadi, gara-gara cowok di video itu kamu jadi sedih? Memang dia mirip kakakmu ya? siapa? Komplotannya Yadi?” berondong Zellina.
“Euhh ... Bukan, dia yang ikut menolong aku menemukan orang suruhan Yadi. Euhh ... Temannya Gigit. Iya, dia temannya Gigit.”
“Berbohong lagi, nanti ketahuan, malu, Neng.” Dale mengingatkan.
Andrea melirik ke arah Dale. “Hehe, enggak lah, Gigit kan tidak ada.”
“Maksud kamu?” Zellina mengernyitkan dahi.
“Euhh, maksud aku. Waktu itu Gigit membawa temannya, aku kira tidak.” Andrea menjawab sekenanya.
Ren tahu Andrea sedang berbohong kepada Zellina. Dia merasa ikut bertanggung jawab, karena telah membuat Zellina penasaran.
“Sudah yuk kita tidur saja,” ajak Ren.
“Iya, sih. Kalau kamu kangen kakakmu, doa in saja, Ren. Biar di tenang.” Andrea tersenyum kepada Ren.
“Iya, benar itu, Ren.” Zellina memeluk Ren lagi.
Mereka kembali ke kamar. Meninggalkan Dale, yang disuruh Andrea berjaga-jaga saja di luar.
“Eh, Ndre, bagaimana kelanjutan kasus Kak Yadi?” tanya Zellina.
Andrea mengangkat bahu. “Kan kita belum sempat balik ke sekolah, Zel, menehetehe,” sahut Andrea.
“Iya ya, di grup juga anak-anak tidak membicarakannya lagi. Apa aku tanya Salsa saja?” Zellina memeriksa gawainya.
“Sudah ah, besok lagi, aku capek, pulang dari Bogor nih,” kata Andrea. Dia segera berbaring.
“Iih, Ndre, aku mau curhat dulu,” rengek Zellina.
“Tinggal curhat saja sih, tuh sama Ren,” sahut Andrea.
Ren yang masih melow segera memasang headset di telinganya. Lalu berbaring membelakangi Zellina. Dia masih membayangkan sosok Dale di video tadi. Ternyata Andrea benar, dia benar-benar tampan.
“Iiihhh, kaliaaan!!” Zellina berteriak. Andrea dan Ren menutup kepala masing-masing dengan bantal yang berserakan.
**
Jauh dari ibunya membuat Andrea tidak nyenyak tidur. Jam dua malam Andrea terbangun, dia mendengar yang berteriak-teriak di luar. Kadang juga merintih.
Andrea bergegas untuk melihatnya ke depan. Dari balik gorden dia mengintip. Di luar terang bulan, sehingga dia tidak usah mengucek-ngucek mata lagi untuk memastikan semuanya.
Terlihat Dale sedang berdiri, sambil memerhatikan dua orang menggantung dengan sarungnya, di dahan paling tinggi pohon ketapang pinggir jalan depan rumahnya.
__ADS_1
bersambung
Jangan lupa like, komen, vote, dan rate yaa, untuk vitamin Author menulis terus