My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 37 Kesurupan Masal


__ADS_3

Zellina melihat Fany datang, langsung menyambutnya.


“Fany Fany My Pretty Zombi, ternyata selama ini hanya kamu yang peduli sama aku, boleh kan kalau kita bicara sebentar?”


Fany berjalan ke tempat duduknya, Zellina mengikuti. Mereka duduk di bangku paling belakang.


“Dia diikuti temannya?” dengan berbisik Andrea bertanya kepada Dale.


“Iya, Neng.”


“Jangan-jangan Zellina juga dihasutnya?” Andrea memicingkan mata.


Dale malah berdiri. “Permisi sebentar, Neng, jin itu menantang saya.” Dia berjalan ke arah pojokan.


Andrea melihat Dale bicara dengan tembok. “Rumit banget sih hidup ini, satu kelihatan, satu enggak, padahal sama-sama jin,” lirihnya.


Andrea berusaha bersikap santai, dia meneruskan membaca.


Rendy, temannya yang dari tadi melihatnya dengan sorot mata aneh bertanya, “dari tadi kamu kayak ngomong sendiri, Ndre ”


“Kok kamu tahu? Perhatian banget.” Andrea kedip-kedip.


“Kelihatan, bukan perhatian. Jadi curiga Gue.”


“Aku lagi menghafal dialog.”


“Dialog apa?”


“Drama, untuk agustusan.”


“Ooh, Eh, memang agustusan itu bulan apa?”


“Bulan Haji.”


“Elu mau agustusan apa sembelih kambing?”


“Terserah, Elu!” Andrea melempar Randy dengan kertas.


Rendy melemparkannya lagi. Keduanya sekarang jadi lempar-lemparan.


Kelas masih ribut, apalagi tanpa guru seperti itu. Sudah dua orang guru yang sedang mengajar di kelas samping menegur menyuruh kelas diam, tetapi percuma saja, anak-anak semakin menggila.


Geng Akri malah main sepak takraw di depan kelas. Bola membentur tembok beberapa kali, diselingi teriakan-teriakan kencang, menciptakan suara berisik, kelas sudah seperti arena pertandingan.


Andrea melihat Dale masih melipat tangan di dada, berbincang dengan tembok. Meskipun dibuat santai, tetapi wajahnya serius. Terlihat seperti perbincangan beraroma menegang.


“Aaaaaarghh ....” Ani yang duduk dekat Dale tiba-tiba menjerit, lalu menangis meraung-raung. Mimik wajahnya berubah-ubah, kadang seperti marah, lalu menangis lagi dengan nada kesal.


“Kenapa si Ani?” teman-temannya kaget, berhenti bercanda sekejap, melihat ke arah Ani.


Andrea melihat Dale segera mengusap matanya. Ani sadar, lalu lemas.


Semuanya menghentikan kegiatan masing-masing. Ren, dan yang lain berlari menolong.


“Kamu kenapa, Ni?” tanya Ren. Ani masih terlihat syok.


“Aaaaaaa ... Ggrrrkk!”


Baru juga Ren dan teman-temannya bertindak untuk memberi pertolongan kepada Ani, mendadak seorang lagi menjerit, menggigit-gigit gerahamnya sendiri. Kali ini Mia yang duduk di bangku barisan depan.


“Mia? ... Itu si Mia!!” Joni berlari menghampiri Mia, tetapi dia mundur ketika melihat Mia melotot ke arahnya.


“Mia? Kenapa kamu?” Joni ketakutan.


Dale segera meloncat berbuat seperti tadi, dan Mia pun sama, mendadak lemas, lalu pingsan.

__ADS_1


Andrea hanya bisa terpaku, saking terkejut.


Ren dan yang lainnya segera berlari mencegah Mia jatuh ke lantai, karena dia dalam keadaan berdiri.


“Kalian bagaimana sih, dibiarkan saja!” teriak Ren kepada geng Akri.


Geng Akri semuanya terkesima, rasa takutnya lebih besar dari jiwa koboinya.


Pertolongan terbagi menjadi dua kluster, tiba-tiba seorang lagi menjerit.


"Gggrrhhhk ... Aaaaakhhh ...." Kali ini yang menjerit Zainal. Kipasnya terlempar jauh.


Sama seperti Ani dan Mia, Zainal terlihat geram, matanya melotot, dengan mulut menutup dan gigi gemeletuk. Andrea yang lumayan dekat dengannya segera memegang Zainal dibantu Randy yang sebenarnya ketakutan.


“Kenapa dia? Zay! Zay!” Randy menepuk-nepuk pipi Zainal dengan kencang.


“Kok kamu malah menamparnya?” Andrea menepis tangan Randy.


“Biar sadar, Ndre.”


“Jangan kencang-kencang juga, ini pipi, bukan gendang!” seru Andrea.


“Ya, maaf, refleks.”


Zainal semakin melotot, dia gemetar seperti menahan marah.


“Awas, Neng!” Dale segera bertindak, dia mengusap wajah Zainal.


Zainal lemas, dia merintih mual, dan ingin muntah.


“Kesurupan masal ....” Akri terlihat mulai sadar situasi, dia dan gengnya segera berlarian menolong, menggotong yang tiba-tiba lemas ke luar kelas.


Kelas menjadi kacau, sebanyak tujuh belas orang tiba-tiba menjerit, menangis, lalu lemas. Sebagian pusing dan sesak nafas, termasuk Dewi dan Rani.


Ren dan Andrea sampai kewalahan. Dale juga sibuk, sesekali dia terlihat menggeleng-gelengkan kepala, karena menahan pusing.


Sampai akhirnya ada yang berlari melapor ke kantor guru.


Guru-guru berlarian, semua yang lemas dibawa ke musala sekolah dibantu murid laki-laki. Guru agama segera bertindak melalui apa yang bisa mereka lakukan.


Pengeras suara menggema, memerintahkan semua siswa untuk tenang, karena hampir semuanya keluar kelas.


“Bagaimana kejadian awalnya?” tanya Pak Bayu. Wajah tampannya mendadak galak, melihat kepada yang masih tersisa di kelas Andrea.


Anak-anak kelas lain berkerumun, menonton dengan wajah ketakutan, seolah ada acara debus di kelas itu.


“Tidak tahu, Pak. Mereka tiba-tiba menjerit dan lemas,” jawab Dewi, tidak lupa mengarahkan kameranya untuk mengabadikan huru-hara itu. Padahal dia juga merasa pusing.


“Kalian ini, diberi peringatan, bukan berpikir, malah semakin brutal, sampai kesurupan segala.”


Pak Bayu melangkah ke luar dengan wajah kesal, menghampiri korban kesurupan di musala sekolah.


Bu Kania terlihat berjalan tergesa dengan wajah cemas, mendapat laporan anak kesayangannya terpapar kesurupan masal.


Murid-murid perempuan berkumpul dengan saling merangkul, Zellina menangis, memeluk Rani. Dia yang paling takut karena teman yang pertama kesurupan dekat dengannya.


Fany berjalan dengan santai. Andrea menatap tajam Dale.


“Jin jahat itu, Neng, tidak terima saya nasihati. Dia sengaja merasuki anak-anak, untuk menggertak saya.” Dale bicara, seolah tahu Andrea menunggu penjelasannya. “Dasar, beraninya main gertak.” Dale melihat ke arah Fany. Fany melotot.


“Kamu tidak apa-apa?” Andrea melihat Dale seperti lemas.


“Saya lemas, Neng, kekuatan saya hampir habis untuk menolong teman-teman Neng.”


Melihat sendiri kronologisnya, Andrea yakin Dale benar-benar digertak. Buktinya Dale yang menolong teman-temannya. Dia berlari, menjegal langkah Fany.

__ADS_1


“Mau ke mana?” tanya Andrea.


“Apa peduli, lu?”


“Kamu harus tanggung jawab!”


Fany menyeringai. “Teman lu, yang harusnya tanggung jawab. Siapa suruh mengusik hidup gue.” Dia meneruskan berjalan, mengeluarkan komik menuju perpustakaan.


Andrea mendengus. “Dasar Zombi!” serunya. Fany tidak menghiraukannya.


Andrea berlari menuju musala sekolah, tetapi Ren sedang berjalan ke arahnya.


“Ren, bagaimana mereka?”


Ren tidak menjawab, dia berjalan melewatinya untuk kembali ke kelas. Andrea mengejarnya.


“Ren, please, kamu tidak seharusnya begitu sama aku, kamu tidak bisa mengurus ini sendirian. Aku bantu ya,” Andrea memegangi bahu Ren.


“Kenapa harus minta izin, mau bantu tinggal bantu, tidak ada yang melarang, mereka juga kan teman-teman kamu.”


“Ren, aku tidak keberatan kamu marah sama aku, mau anggap musuh juga aku ikhlas. Tetapi tolong, kita harus bekerja sama soal ini.”


“Minggir, Ndre, aku mau ambil kipas Zainal.” Ren menepiskan tangan Andrea di bahunya.


“Kelas kita tidak normal, bukan keinginan anak-anak sendiri. Aku rasa percuma saja kamu bikin surat pernyataan juga."


Ren berhenti melangkah. “Maksud kamu apa?” tanyanya, tanpa melihat kepada Andrea.


“Kelas kita dihasut makhluk gaib,” sahut Andrea.


Ren tersenyum kecut lalu berbalik menghadap Andrea. “Terserah, itu kan duniamu, dunia mistis. Aku penganut realistis." Ren bermaksud mendorong bahu Andrea dengan telunjuknya, tetapi telunjuknya mendadak lengket di baju Andrea. Dia merasa jarinya kaku seperti terpaku di beton, susah digerakkan.


“Tangan kamu dipegangi Dale,” kata Andrea pelan.


Ren membuka mulut, dengan mata mengerjap-ngerjap.


“Asal kamu tahu saja, aku tidak main-main tentang mereka. Di kelas kita ada jin jahat, dia pengaruhi anak-anak sejak lama. Jin itu kepunyaan Fany.” Andrea pergi meninggalkan Ren dengan jari menggantung kaku.


“Lepaskan, Dal!” perintahnya. Jari Ren terlepas dari jepitan tangan Dale.


Andrea sengaja melakukan itu kepada Ren, biar sahabatnya itu percaya. Karena dia juga bingung harus bagaimana untuk membantu memulihkan kelasnya yang kacau.


“Mereka tidak apa-apa, Neng, hanya dirasuki sebentar. Tubuhnya hanya syok, kasih minum air putih yang banyak juga pulih,” kata Dale.


Andrea segera membeli beberapa botol air minum di kantin.


Guru-guru ikut panik, sehingga tidak terpikirkan oleh mereka untuk memberi mereka minum. Dari tadi mereka hanya digosok minyak angin untuk menghilangkan mual.


Satu per satu korban kesurupan sembuh, dan diantar pulang, sampai akhirnya sekolah dibubarkan. Kepala Sekolah tidak mau kesurupan masal lebih meluas ke kelas lain.


“Kamu masih lemas?” tanya Andrea, ketika mereka berjalan pulang. Kasihan juga melihat Dale diam saja.


“Iya, saya pamit dulu, mau cari jengkol.”


“Jengkol?”


“Iya, hanya jengkol yang bisa mengembalikan kekuatan saya.”


Andrea bengong, lalu nutup hidung.


bersambung


Happy reading!


Mohon untuk meninggalkan jejak yaa

__ADS_1


Kalau berkenan lempar sawerannya untuk Author 😁😁😁


__ADS_2