My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 96 Pagi yang Pedas


__ADS_3

“Aku harus kejar Gigit.” Andrea berlari ke luar kamar. Tetapi, di ujung tangga dia melihat Om Azi di depan kamar Tante Dina.


Andrea berhenti, memastikan Om Azi tidak melihatnya dulu, kalau bahasa lebih lugasnya, sembunyi.


“Kenapa, Neng?” tanya Dale.


“Sstt!” Andrea menempelkan telunjuknya di bibir.


“Kenapa?” Dale berbisik. Sesuatu yang sangat unfaedah dilakukan, soalnya kan Dale enggak kelihatan, apalagi kedengaran.


Andrea menunjuk ke arah Om Azi, yang terlihat ragu untuk memasuki kamar.


Dengan sabar Andrea menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Jiwa keponya keluar, mengalahkan emak-emak kompleks.


Yang membedakan, Andrea kepo dengan elegan, berdiri di ujung tangga, tidak sambil memilih-milih terong atau kangkung di tukang sayur seperti emak-emak.


Tidak berapa lama, Tante Dina yang keluar kamar, dengan wajah dingin dan sembab.


Om Azi menarik tangannya. “Din," ucapnya.


“Sebaiknya kamu sudah tidak perlu pulang lagi.” Tante Dina bicara, tanpa melihat wajah Om Azi.


"Din, dengarkan dulu!" Om Azi memaksa menarik Tante Dina.


Andrea seperti melihat adegan drama Korea yang sedang tegang-tegangnya berkonflik. Lupa dengan masalahnya sendiri.


"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Kang."


“Kenapa? Kamu kan istriku? Kita menikah dengan sah, diakui agama maupun negara.”


“Aku tidak menikahi pria beristri.” Tante Dina masih dengan posisinya, memalingkan muka dari Om Azi, walaupun membiarkan tangannya digenggam.


Setelah beberapa lama, Om Azi melepaskan tangannya dari Tante Dina. Jelas, wajahnya dipenuhi rasa bersalah.


“Maafkan aku.”


“Kenapa kamu sembunyikan semuanya dariku?”


“Aku tidak ingin ada yang tersakiti.”


“Bagus, dan kenyataannya semuanya telah kau sakiti. Aku, istrimu, dan juga anakmu.”


“Din ....”


“Aku tidak menyangka, kamu pandai berbohong. Selama setahun, Kang. Kita sudah setahun menikah, dan aku bodoh sekali." Tante Dina duduk di sofa. Tangannya memegang kepala.


“Ternyata anakmu itu lebih dewasa, meskipun dia bisa saja menghakimi aku, tetapi bisa menjelaskan semuanya tanpa emosi. Dan itu malah membuat aku semakin merasa bersalah. Apalagi dia temannya Andrea. Teman baiknya, Kang. Kamu tidak tahu?"


Om Azi menunduk. "Aku tidak tahu kalian sudah saling mengenal."


"Apa yang akan Andrea pikirkan kalau mengetahui semua ini." Tante Dina mengusap wajahnya yang basah.


Andrea jadi terenyuh, iba melihat Tante Dina yang baik, harus tertipu wajah malaikatnya Om Azi.


Tante, aku tidak apa-apa, tenang saja. Andrea bicara dalam hati. Matanya juga mengembang, ikut merasakan perih di dada Tante Dina.


"Sebaiknya kamu pulang saja, Kang.”


“Ibunya masih di Malaysia.”

__ADS_1


“Aku tahu. Kamu bisa pulang mengurus anak kamu, bukankah dia yang pulang?" Tante Dina beranjak, dia masuk ke dalam kamar, menutup pintu, lalu menguncinya.


Tinggal Om Azi yang mematung, lalu mengetuk-ngetuk lagi pintu kamar istrinya.


Andrea menelan saliva. Pahit terasa.


Pasti anak yang dimaksud Tante Dina itu Gigit. Ternyata hatiku selama ini benar, sama sekali tidak menyukai pria setengah baya itu. Bukan hanya karena pernah memergokinya bersama ibu, tetapi karena memang dia benar-benar telah menyakiti hati Tante Dina dan Gigit.


Ternyata juga, keluarga Gigit yang selama ini terdengar hangat, menyimpan busuk yang lama-lama terungkap.


Git, yang tabah ya honey. Andrea menutup mulut, malu dengan ucapan hatinya sendiri.


“Kasihan Gigit, Neng,” kata Dale, seolah mengetahui isi lamunannya.


“Kamu bisa mendengar suara hatiku?”


Dale menggeleng. “Ngga. Memangnya hati Neng sedang bicara apa?”


“Kepo,” sahut Andrea.


Dia tidak meneruskan niatnya untuk turun, dia kembali ke kamarnya. Setelah dipikirkan ulang, dia akan menyusul Gigit ke mana, bukankah ponselnya juga tidak aktif.


“Pantas saja, kemarin dia pergi tidak bilang-bilang.” Andrea bersandar di kusen jendela kamar. “Keluarga Gigit rupanya sedang kacau.”


“Hebat ya, ayahnya Gigit.”


“Hebat apanya?”


“Bisa beristri dua, saya mah mau punya pacar saja susahnya minta ampun,” keluh Dale.


“Hebat dari mananya, kalau menyakiti.”


“Kenapa? Minat?”


“Ngga, hanya ingin tahu saja.”


“Ya sudah, kalau tidak minat, kenapa harus tanya-tanya.”


“Kok marah, Neng? Kan Neng tidak sedang mau dipoligami.”


“Dal, sekali lagi bahas itu, aku masukkan gembok!” Andrea mengeluarkan anak kunci di lehernya.


Dale terdiam.


**


Pagi-pagi dia melihat Tante Dina sudah rapi di meja makan. Baju kantornya membelit tubuhnya yang semampai. Dia sangat cantik, meskipun usianya sudah tidak lagi muda. Wajahnya glowing, dan terlihat terawat.


Pantas jika Om Azi ingin memilikinya selamanya. Tetapi tidak mau kehilangan yang lama juga.


Aku jadi penasaran dengan ibunya Gigit. Andrea membatin sambil berjalan perlahan menuruni tangga.


“Hai, Ndre. Bagaimana istirahatmu?” Tante Dina menyapa.


Buruk sekali, aku bahkan tidur menjelang pagi. Memikirkan nasib anak tirimu. Andrea misuh-misuh dalam hati.


“Nyenyak kok, Tante”


Tante Dina tersenyum, menarik kursi untuknya. “Ayo kita sarapan dulu. Hari ini akan ada teman Tante datang ke sini. Membicarakan kasus kamu.” Tante Dina bicara seolah tidak pernah terjadi apa-apa semalam. Padahal sisa sembab di matanya masih terlihat, meski pun sudah disamarkan dengan make-up.

__ADS_1


Pandai sekali menyembunyikan perasaannya, persis ibunya. Ah, mereka memang terlahir dari rahim yang sama, panti asuhan.


Andrea duduk. Terbersit dalam hatinya ingin mengobati kesedihan wanita baik di depannya. “Tan,” ujar Andrea.


“Hmm ....” Tante Dina asyik mengoles roti dengan selai cokelat.


“Maaf ya, aku selalu merepotkan.”


“Kamu kok ngomong begitu, Ndre?” Tante Dina berhenti mengoles roti. Dia memandangi Andrea. “Kamu kan tahu, siapa Tante. Kita sudah sering membahas ini."


“Aku ....”


“Lho, kamu tidak bilang ada Andrea di sini, Din?” Om Azi datang, pakaiannya sudah rapi. Tapi sepertinya Tante Dina membiarkan dia berdandan sendiri, soalnya dasi yang dipakainya tidak cocok dengan kemejanya. Terlihat tidak serasi seperti biasanya. Sedikit mengurangi ketampanan lelaki berperawakan tinggi itu. Andrea juga tidak tahu semalam Om Azi tidur di mana.


Ah, bagaimana Tante Dina tidak jatuh cinta, lelaki itu memang tampan, mirip Gigit. Andrea baru menyadari itu. Om Azi juga terlihat sangat kebapaan.


Tante Dina tidak menjawab, dia malah berdiri, dan menuang jus ke dalam gelas suaminya. Dalam suasana hati seperti apapun, melayani suami di meja makan masih tetap dilakukannya.


"Terima kasih, Din." Om Azi berusaha tersenyum. Tante Dina kembali duduk.


Laki-laki berkedok wajah malaikat itu tersenyum ke arah Andrea. “Pantas saja, rumah ini terasa sedikit hangat. Ramai euy, pagi ini.”


Andrea membalas dengan senyuman tipis.


Ya Tuhan, bagaimana Gigit bisa tercipta dari laki-laki pandai berbohong ini?


“Aku kan sudah bilang, mau menjamin Andrea.” Tante Dina duduk kembali, mengambil pisau makan.


“Tetapi kamu tidak bilang tuh, Andrea tinggal di sini.” Om Azi tersenyum mesra kepada Tante Dina. "Kalau bilang kan, bisa dibawakan oleh-oleh dari Malaysia."


Drama, kalian kira aku anak Tk yang polos, yang baru saja kalian pungut dari depan supermarket karena kehilangan ibunya.


Lalu apa yang semalam kalian bahas? Cinta yang terbagi? Atau cinta dibalas dusta? Batin Andrea lagi.


Tante Dina asyik mengiris roti dengan pisau makannya. Kalau diperhatikan, dia menekan pisau dengan kuat, seakan sedang mengiris-iris Om Azi.


Andrea bingung harus menunjukkan mimik wajah bagaimana, berada di antara dua orang yang sedang bermasalah. Bertanya? Atau pura-pura saja terus sampai Dale berubah jadi manusia?


Akhirnya dia ikut mengolesi roti, mengambil stoples selai berwarna merah yang berada di antara selai cokelat dan kacang.


Pasti ini selai strawberry, selai kesukaan Gigit, pikirnya.


“Ndre, itu pedas,” ujar Om Azi, dengan mata terbelalak.


Terlambat, Andrea sudah mengoleskannya banyak-banyak pada roti. Seperti rindunya yang menggunung kepada Gigit.


“Tidak apa-apa, Om, aku suka roti pedas.” Andrea melipat roti, dan menggigitnya. Pedas menyeruak di mulutnya, tetapi dia harus terus mengunyahnya, demi meredam pandangan aneh Om Azi dan Tante Dina.


"Kamu yakin, Ndre?" taya Tante Dina.


"Iya, Tante, tinggal pakai sosis kan enak."


"Oh, begitu ya? Kenapa kamu tidak bilang, kan bisa disiapkan sama Bibi."


"Tidak usah, Tan, ini juga sudah enak," sahut Andrea, wajahnya mulai memerah.


Ya Allah, semoga aku kuat menanggung pagi yang pedas ini, batinnya.


Dale terkekeh dari pegangan tangga, melihat Andrea kepedasan.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2