
Sesuai waktu undangan, Sabtu sore Andrea sudah ada di depan gerbang rumah Zellina yang megah. Gerbangnya dijaga seorang satpam, yang tidak ada seram-seramnya. Tetapi cukup tegas, meminta akses untuk bisa masuk ke dalam rumah besar itu.
"Sudah kayak mau masuk Istana Presiden," rutuk Andrea.
"Maaf, Mbak, ini untuk keamanan." Satpam tanpa seram itu mendengat rutukan Andream
Andrea menunjukkan kartu undangan. Dia dipersilakan masuk, lalu seorang pegawai rumah tangga menyuruhnya untuk langsung masuk ke taman di belakang.
Andrea menurut saja, ketika sopir yang biasa mengantar Zellina membawanya masuk melewati beberapa ruangan.
“Baru datang, Neng? Yang lain sudah dari tadi.”
“Iya, Pak. Maklum, tunggu angkot dulu, lama.”
“Kenapa enggak minta jemput saja, Non Zellina pasti bisa suruh saya, Neng kan sahabatnya."
“Aah, nanti malah merepotkan, Pak.”
“Enggak lah, itu kan sudah tugas saya. Silakan, Neng.” Pak sopir membuka pintu kaca yang menghubungkan rumah dengan taman belakang.
Semacam pesta kebun digelar di sana, meja makanan dan minuman terhampar di sana-sini, termasuk makanan kucing yang disiapkan di tempat berbeda. Hiasan balon dan bunga bertebaran. Tidak menyangka ide konyolnya dianggap serius dan jadi sebuah ajang kumpul-kumpul teman sekelas, dan kucing-kucing berbagai jenis.
“Ndre!” Zellina menyambutnya.
Teman-temannya yang lain juga dengan ceria menyapanya. Mereka tampak berbeda, terlihat lebih rapi dan elegan, daripada ketika berada di dalam kelas, amburadul.
“Haii, Andre Tau Tau cewek, barbekyu, yuk!” Akri menyapanya, sambil membolak-balik sosis di panggangan. Gengnya juga berkumpul, berpakaian rapi, malah ada yang memakai batik kondangan.
“An An, sini!” Zainal memanggilnya, dia sedang selfie dengan si Kety yang hari ini cantik sekali. Bulu-bulu halusnya bertebaran pita berwarna-warni.
"Hati-hati, Kety, si Zay suka nyakar," seloroh Andrea.
"Iihh, yang kucing itu si Kety, An An ... Kok aku yang nyakar," sungut Zainal.
"Oh, kebalik, ya?"
Si Kety melihat ke arah Andrea, kucing angora betina itu seperti minta tolong, untuk dijauhkan dari makhluk lembek seperti Zainal.
Laras, Dewi, dan Rani sedang cuap-cuap di depan kamera. Tidak di kelas tidak di mana, kerjanya ngevlog, tetapi follower ngga nambah-nambah.
Fany tetap sendirian, membaca komik jepang, berdandan ala harajuku, dan kali ini dandanan wajahnya menyesuaikan, riasan mata kucing.
Andrea tersenyum. “Hai, Fan!”
Fany hanya melirik. Andrea jadi geram, pengen nambahin kumis ke atas bibirnya.
"Dasar Setan Kucing."
Fany mendelik lagi.
Di seberang kolam renang anak-anak yang lain menyapa Andrea dengan gembira ria. Mengacungkan minuman yang sedang mereka nikmati, orange juice.
Dasar anak-anak kurang pesta, pesta kucing saja antusias, batin Andrea.
Kucing-kucing berkeliaran, selain kucing tetangganya, kucing-kucing itu juga dibawa tamu undangan yang punya kucing. Dari mulai kucing kampung tidak berharga, sampai kucing mahal tanpa bulu ada di sana, saling mengeong bercengkerama.
“Kucingmu mana, Ndre?” tanya Zellina.
“Euhh, aku enggak pelihara kucing, tetapi aku bawa ini.” Andrea menyerahkan sekotak camilan kucing yang dililit pita. Itulah kenapa dia datang kesorean, keliling dulu nyari sesuatu untuk si Kety yang ulang tahun saja kagak.
“Oww ... thanks, Ndre, Kety pasti suka. Dan terima kasih juga ya sudah bikin Yadi datang ke sini,” bisik Zellina.
“Dia sudah datang?”
“Tuh!” Zellina menunjuk seseorang yang sedang mengusap-usap kucing persia minum susu.
Yadi melihat ke arah mereka, lalu menyapa dengan melambaikan tangan. Andrea dan Zellina membalasnya.
“Ren?” Andrea celingukan mencari Ren.
“Belum datang.”
“Tumben.” Andrea mengambil gawainya, lalu menghubungi Ren. Tidak aktif.
“Mamah sama Papah kamu enggak ada, Zel?”
“Mereka di Kanada, kenapa? Mau salim?” tanya Zellina.
__ADS_1
“Mau sungkem,” jawab Andrea.
“Jauh, Ndre ....”
“Iya ya, harus naik pesawat.”
“Nahh, kamu tahu ... hkhkhk, ya sudah, aku ke sana dulu ya, kamu nyari makan atau minum saja ya.”
“Okk, tenang.”
Zellina menghampiri Yadi, mereka berbincang dan bermain dengan kucing-kucing. Andrea bersyukur, mereka ternyata punya kesukaan yang sama. Setidaknya jadi sedikit connect, jadi dia tidak usah banyak aksi sebagai Mak Comblang.
Andrea bersama teman-temannya menikmati pesta itu, kecuali Ren, karena dia tidak muncul sampai pesta usai.
Semua senang, semua kenyang. Setelah acara Kety tiup lilin, dan nyanyi-nyanyi sekedarnya, satu per satu tamu undangan pulang, membawa kembali kucing-kucingnya.
Akri end the genk menyimpan kucing di depan pintu gerbang.
"Kalian pulang sendiri ya, ke rumah masing-masing," kata Joni, melepaskan kucing-kucing kampung tangkapannya.
Andrea menunggu angkot, dia melihat jam di gawainya, masih jam lima lebih.
Titiid!
Sebuah mobil mewah berhenti di depannya.
Yadi melongok dari kaca mobil. Selain ganteng, dan atletis, dia juga sudah bawa mobil sendiri. Tipe rebutan cewek banget.
Tetapi, Andrea tetap saja tidak berani sedikitpun untuk ikut saingan. Yadi memang lebih cocok dari segi mana pun sama Zellina. Seperti Putri dan Pangeran.
Aku mah apa atuh, cuma rengginang bubuk, ditiup angin juga hengkang, batin Andrea.
“Mau langsung pulang, Ndre?”
“Iya, Kak. Eh, enggak, aku mau ke rumah Ren dulu.”
“Yuk, sekalian!" ajak Yadi.
“Ngga usah, Kak.”
“Ayo, aku juga lagi belum mau pulang, pengen jalan-jalan dulu.” Yadi sedikit memaksa.
“Nanti malah putar balik, Kak.”
“Ngga apa-apa, Ndre. Kamu tenang saja, aku senang kok mutar-mutar.”
"Asal jangan sampai pusing, Kak."
"Ngga, paling tersesat."
Andrea tersenyum, dia bisa menebak arah kata-kata Yadi, tetapi dia sedang malas gombal-gombalan, takut kebablasan.
"Kakak bisa ae ...." Akhirnya kata-katanya menjegal bibit gombalan Yadi.
Yadi garuk-garuk setir mobil.
“Iya. Oiya, kamu tiap hari ke mana-mana naik angkot?”
“Kadang diantar ibu.”
“Kenapa tidak pakai online, atau bawa kendaraan sendiri?”
“Aku lebih suka pakai angkutan konvensional, Kak, lebih menantang ketika menunggu. Kalau bawa motor sendiri nanti ibu yang ke mana-mana naik angkot dong.” Andrea nyengir kuda.
“Ooh, kalau kamu lagi kepepet atau lagi ingin lebih nyaman berangkat atau pulang sekolah, boleh minta jemput aku.”
Andrea pura-pura terkejut. “Wah, Kak Yadi juga taksi online?”
Yadi yang terkejut beneran, dia menoleh ke Andrea yang sedang menatapnya. “Bukan, maksudku, kita bisa pergi atau pulang bareng, begitu. Kamu kan punya kontak aku.”
“Ooh.” Andrea ngangguk-ngangguk. Yadi tidak melepaskan pandangannya begitu saja. Sore ini Andrea terlihar cantik dengan dandanan casualnya.
Sejak pertama kali bergabung ekstrakurikuler basket, Yadi sudah menaruh hati kepada cewek di sampingnya itu. Selain cantik, Andrea juga sangat enerjik, dan sedikit tomboy, menjadi nilai plus di mata Yadi yang menyukai cewek seperti itu.
Ren terkejut melihat kedatangan mereka. Setelah mempersilakan Yadi duduk di teras, dia menyeret Andrea ke dalam.
"Ngapain bawa dia ke sini?" bisik Ren.
__ADS_1
"Lah, memang kenapa?" Andrea keheranan melihat Ren gelagapan seperti itu.
Ren mengintip Yadi dari balik gorden. "Malu."
"Malu? Eh, kamu kenapa sih, Ren? Kenapa enggak datang ke acaranya Zellina?" Andrea malah menodongnya dengan banyak pertanyaan.
"Sibuk."
"Sibuk apa?" Andrea melihat berkeliling. "Ayah dan Ibu kamu enggak ada?"
Ren menggeleng.
"Terus kamu sibuk ngapain?"
"Kepo."
"Dihh, enggak jelas banget. Ayo, kasian dia sendirian." Andrea mengajak Ren keluar.
"Maaf, Kak, ditinggal sendirian." Andrea menghampiri Yadi yang sedang memegang-megang samsak yang menggantung di sudut teras.
"Ngga apa-apa, Ndre. Ren enggak apa-apa kan?"
"Ngga apa-apa, tadi ketiduran." Ren tidak kosisten beralasan.
"Ooh, jadi sibuk tidur?" tanya Andrea.
"Oh iya, gimana ekskul basketnya, Kak?" Ren sengaja mangalihkan pembicaraan.
"Lagi kurang seru, sepi pertandingan juga. Ngga ada niat gabung lagi, Ndre?" Yadi malah mengajak bicara Andrea. Ren terdiam.
"Kan sudah aku jawab tadi, kemarin juga. Enggak."
"Padahal kamu ada potensi untuk bikin tim dan merekrut pebasket cewek. Saat ini tim cewek belum ada."
"Sudah enggak minat, Kak."
"Kamu, Ren?"
Ren yang sedang termenung sedikit kaget. "Hah? Oh, maaf, saya sudah ikut bela diri, Kak."
"Oh, iya ya. Kalau Zellina kira-kira mau enggak ya?" Yadi meminta bantuan berpikir.
"Pasti bisa, Kakak tanya saja langsung," sahut Andrea.
"Bener?" Yadi menatap Andrea serius. "Kelompok kalian kan lumayan ngetop di sekolah, enggak ada salahnya jika salah satu dari kalian aktif di basket, untuk menarik minat yang lain."
"Cobain saja, Kak." Andrea nyengir. Ren menyikut pinggangnya.
Tidak berapa lama terdengar kimandang adzan magrib.
"Ngga apa-apa kan kita ikut salat di sini, Ren?"
"Ngga apa-apa, menginap juga boleh, Ndre."
"Oh, kalau itu jangan, nanti ibuku sendirian."
"Malam Minggu nih, kalian enggak ada acara?" tanya Yadi.
Andrea dan Ren saling pandang. Keduanya menggeleng. "Jalan yuk!" ajak Yadi.
"Yuk!" Ren bersemangat. Andrea diam saja.
"Oke, kita cari tempat nongkrong yang enak." Yadi senang ajakannya bersambut.
Ren tersenyum, dan mengangguk kepada Andrea.
Andrea tidak bisa menolak. Sebenarnya dia agak bimbang karena baru kali ini diajak cowok hangout malam-malam, tetapi melihat Ren bersemangat dia pun setuju.
Selepas magrib mereka bertiga berangkat. Ren terlihat sumringah, dan cantik dengan gaun dan jilbabnya.
Klulung! Pesan masuk ke gawai Andrea, dari Zellina.
Ndre, sekali lagi terima kasih ya atas ide kamu
Kak Yadi seperti semakin manaruh hati padaku
Aku bahagiaaaa banget hari ini
__ADS_1
Emoticon pelukan berjejer. Andrea tidak membalasnya. Dia mendadak tidak enak hati kepada Zellina.
bersambung