My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 8 Mereka Tidak Melihatnya


__ADS_3

Mendengar nama kakeknya disebut Andrea mengernyitkan dahi, lalu menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Dulale alias Dale.


Sodoran tangan sebagai tanda perkenalan dicurigai Andrea sebagai sinyal bahaya. Dia takut dihipnotis, mana gerbang perumahan sedang sepi-sepinya.


Memang orangnya tidak menyeramkan, terlihat manis dan lucu malah, tetapi Andrea tetap harus waspada. Tidak ada yang menjamin, berwajah malaikat selalu orang baik.


Andrea menatap Dale, lalu mundur beberapa langkah bersiap untuk lari.


Baru juga membalikkan badan, tiba-tiba Dale sudah ada di depannya, menghalanginya dari tiang listrik.


"Hati-hati, Neng, ini ada tiang listrik."


Andrea menelan ludah, antara percaya dan tidak. Dia lupa kalau di situ ada tiang listrik.


Kalau Dale tidak menghalanginya, tidak tahu hidung dulu, atau jidatnya dulu yang terbentur tiang beton itu.


"Huhh!"


Meskipun begitu Andrea tidak akan segampang itu percaya kepada orang itu. Dia buru-buru melangkah. Dale mengikutinya. Andrea berhenti dan menoleh, lalu menatapnya tajam.


"Kalau berani selangkah lagi mengikutiku, aku teriak nih," gertaknya. Dale berhenti sambil garuk-garuk kuping.


"Iya, Neng." Dale bersandar ke pohon ceremai.


Andrea berbalik dan cepat-cepat berjalan. Tetapi baru beberapa langkah dia berhenti, memikirkan sesuatu. Dia menoleh.


“Siapa kamu sebenarnya?Apa urusannya sama Gue?” Andrea bertanya dengan nada tetap menggertak, sok berani.


"Kan sudah saya bilang, nama saya Dale, tidak usah dobel L," jawab Dale sambil mengamati buah ceremai yang bergerombol di tiap gagang dahan. Mulutnya berdecap.


"Urusan dengan gue?"


"Menjaga dari segala marabahaya." Dale menjawab dengan pandangan masih pada buah ceremai.


"Jangan bohong!"


“Buat apa saya bohong, Neng. Saya ditugaskan juragan saya untuk menjaga Neng Andrea dari segala bahaya yang mengancam.” Dale berkata dengan logat Sunda yang kental.


"Bahaya apa?"


"Ya yang bahaya, mengancam keselamatan, Neng Andrea."


Andrea kembali mengernyitkan dahi, jawaban Dale membuatnya bingung. “ Aku tidak percaya,” teriak Andrea.


“Ya sudah kalau tidak percaya,” gumam Dale dengan santai, dia lebih serius melihat buah ceremai dengan lidah berdecap, ingin segera menyantap buah asam itu.


Andrea ikut-ikutan mendongak, lalu dengan kesal kembali menggertak, “ceritakan yang sebenarnya!”


Sebenarnya dia masih tegang, tetapi penasaran. Ini semua dilakukan demi ketenangan dia dan ibunya. Apalagi setelah kejadian cowok itu ada di kamarnya.


“Katanya tidak percaya,” gumam Dalle sambil garuk-garuk tangannya.


Andrea terlihat semakin kesal. Tetapi dalam hatinya berpikir, kalau lelaki ini memang dua kali telah menyelamatkannya dari bahaya. Ketubruk motor, dan kejedot tiang listrik. Tidak terbayang kalau dia tidak ada, sudah penyok seperti apa tadi badannya.

__ADS_1


Tiba-tiba terlihat sebuah angkot berhenti. Andrea gembira, karena Bu Asih, tetangganya turun dari angkot.


"Baru pulang, Bu?" Andrea menghambur ke arah Bu Asih seperti anak kecil yang baru ditinggal ibunya ke pasar.


“Iya, kamu juga baru pulang, Ndre? Hayu atuh sedang apa di sini sendirian, sudah sore.” Bu Asih memandangnya dengan curiga.


"Sendirian?" Andrea balik bertanya, sambil melirik Dale.


"Emang kamu sama siapa?" Bu Asih melihat berkeliling.


Andrea menelan ludah.


“I ... Iya, Bu, sendirian. Kita bareng ya.” Andrea buru-buru menggandeng tangan tetangganya itu.


Sepanjang jalan dia merasa seram juga, ternyata hanya dia yang bisa melihat Dale. Bu Asih tidak melihatnya, padahal Dale sedang bersama mereka.


Andrea baru ingat, cowok pembalap yang mau menabraknya, dan Bapak pembawa sendal di ketek juga seperti tidak melihatnya tadi, mereka cuek saja meninggalkannya tanpa basa-basi.


Ternyata mereka tidak melihatnya, batin Andrea.


Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya.


“Bu Asih dari mana?” Andrea bertanya untuk menghilangkan ketakutannya, dia menggandeng tangan Bu Asih dengan erat. Tidak mungkin dia bilang sekarang ke Bu Asih kalau mereka sedang diikuti setan, bisa-bisa Bu Asih ngibrit, atau pingsan.


“Beli obat di apotek, Dede Rendy sakit. Kamu teh kenapa?” Bu Asih melihat ke tangan Andrea yang memegangnya seperti ketakutan.


“Enggak apa-apa, Bu.” Andrea melepaskan tangannya pelan-pelan. "Dede Rendy sakit apa?"


"Biasa, panas, tapi kepalanya saja. Ibu sudah urut, tapi masih panas."


"Ah, biasanya juga sembuh kalau sudah diurut."


"Itu Ibu beli obat untuk apa?"


"Buat jaga-jaga, mana tahu enggak sembuh."


Andrea pusing mendengar penjelasan Bu Asih, tetapi dia hanya bisa tersenyum mengiyakan.


Dale berjalan di belakang mereka, sambil makan buah ceremai yang sempat diambilnya. Wajahnya terlihat lebih segar setelah mengunyah beberapa butir buah ceremai, walaupun jelas kelihatan dia sambil menahan asamnya buah itu.


Andrea ikut berliur melihatnya.


"Ndre, mampir dulu?" Bu Asih sudah sampai di depan rumahnya.


"Terima kasih, Bu, sudah sore, belum mandi."


"Iya atuh, salam ya buat Bu Yuli," kata Bu Asih. "Kangen juga lama enggak main ke rumah," lanjut Bu Asih.


"Iya, semoga cepat sembuh ya Dede Rendy-nya."


Bu Asih tersenyum sambil mengangguk, Andrea cepat-cepat berjalan lagi menuju rumahnya yang tinggal beberapa rumah lagi.


Dia berusaha tenang, Dale membuntuti sampai depan pagar rumahnya, lalu hilang entah ke mana.

__ADS_1


Sore itu Andrea menjadi sering mengintip ke luar rumah.


“Kenapa, Neng? Ada yang ditunggu?” Bi Cicih yang baru akan berpamitan pulang keheranan melihat Andrea mengintip dari balik gorden.


“Ehh, ehm ... Iya, Bi. Andrea lagi tunggu ... tunggu apa ya? tunggu magrib, iya tunggu maghrib.”


Andrea sengaja tidak menceritakan soal Dale dulu ke ibunya maupun Bi Cicih. Takutnya mereka jadi ketakutan, bisa berabe. Apalagi kalau Bi Cicih ketakutan, nanti malah berhenti kerja gara-gara takut di rumah ini.


“Memang Neng Andrea lagi puasa?”


“Enggak"


"Itu menunggu magrib segala," kata Bi Cicih.


"Ya mau salat atuh, Bi, masa harus lagi puasa saja menunggu beduk maghrib tuh. Eh, Bibi mau pulang?"


"Iya."


"Jangan lupa kuacinya dimakan ya!"


“Kuaci? Memang Bibi dikasih kuaci, ya? Perasaan gulai ikan.” Bi Cicih membuka rantang yang ditentengnya.


Sudah menjadi jatahnya, setiap pulang dia membawa lauk untuk makan malam keluarganya.


“Lah, itu yang menempel di daster Bi Cicih apa?”


“Mana?”


“Nih!” Andrea menunjuk gambar bunga matahari di daster Bi Cicih. "Ini kan gambar kuaci, Bi."


Seberat apapun keresahannya, tidak membuat Andrea lupa bercanda.


Bi Cicih geleng-geleng kepala dengan tingkah Andrea. "Ini mah bunga matahari, Neng."


"Kan kuaci juga biji bunga matahari, Bi."


"Lahh si Neng mah aya-aya wae."


Andrea cekikikan melihat Bi Cicih keki sambil pergi. Dia kembali mengamati halaman depan, Dale menghilang entah ke mana.


“Apa dia makhluk halus? Kok makan buah-buahan?" gumam Andrea. Lalu dia ingat dengan botol parfum yang terbawa dari kamar kakeknya.


Apakah dia keluar dari sini? Kenapa hanya aku yang bisa melihat dia? Batin Andrea bertanya-tanya.


Ditelitinya lagi botol kaca itu, bentuknya memang antik, tutupnya juga terbuat dari semacam kayu yang diukir. Berulang kali Andrea menggosok botol itu, tetapi tidak keluar apa-apa.


Andrea tidak bisa tidur, pikirannya hanya pada Dale, yang bilang suruhan kakeknya itu.


Lupa makan, lupa belajar, padahal ada tugas rumah dari Bu Anis. Mengerjakan soal matematika yang belum sempat dibahas siang tadi.


Tidak bisa tidur dengan tenang, Andrea kembali menyusupkan dirinya pada ranjang di kamar ibunya. Botol kaca sudah dia sisipkan di lemari pajang ibunya.


Tidak ada yang bisa dia ceritakan kepada ibunya, dia yakin ibunya akan tidak percaya, dan akan berpikiran hanya halu semata, seperti kejadian waktu Dale menyusup ke kamarnya.

__ADS_1


Ah, Andrea resah, memikirkan kenapa hanya dia yang bisa melihat Dale.


tunggu episode lanjutannya yaa ...


__ADS_2