My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 67 Kesambet Zigonk


__ADS_3

Andrea merasa heran dengan mimik wajah Anjar dan teman-temannya.


“Apakah dia membawa kompas?” tanya Anjar.


“Iya, bawa bendera kecil juga,” sahut Andrea.


Mereka terkejut, dan kelihatan bingung, lalu Anjar tiba-tiba tersenyum. Dia berdiri.


“Ada ... dia ternyata masih ada.” Anjar berjalan mendekati jurang lagi, kedua temannya menghampiri. Seperti sedang melakukan selebrasi, atau semacam sebuah perayaan, mereka mengapit dan memeluk pinggang Anjar.


"Mereka mau loncat sama-sama," bisik Zellina.


"Sshhtt ...." Ren menyimpan telunjuknya di mulut. Dia mengaduk mi di panci. "Kalau di hutan begini, kata orang jangan bicara sembarangan," lanjutnya.


"Iya, Nenek," sahut Zellina.


"Kamu tuh yang Nenek," balas Ren.


Andrea asik memerhatikan cowok-cowok pendaki itu. Mereka bertiga terdiam lama, dengan pandangan sama-sama ke jurang.


Andrea, Ren dan Zellina tidak mau mengganggu mereka. Sampai akhirnya Anjar melihat ke arah Andrea, lalu kembali duduk melingkar bersama-sama.


“Kalian kenapa?” tanya Ren.


Anjar terlihat lebih murung dari sebelumnya.


“Yang kamu temui tadi sahabat kami. Dari SMP kami sudah mendaki, hampir semua gunung di Pulau Jawa ini kami daki. Awal masuk SMA, kami mencoba mendaki di sini.”


Anjar berhenti bicara, dia menunduk. Temannya mengusap-usap pundaknya. Anjar mengangkat kepalanya, memandangi tebing di depan mereka.


“Lima tahun lalu, tepatnya di tanggal ini.” Temannya menambahkan dengan suara lirih.


“Iya, dulu aku dan Restu bersitegang. Dia tetap ingin naik ke puncak yang lebih tinggi, sedangkan kawasan ini masih sangat liar. Masyarakat juga sudah mengingatkan. Restu memaksa, dia pergi sendiri, dan tidak kembali." Anjar menerawang.


Andrea terkejut. “Maksudnya?”


“Setelah dua hari kami mencari, dia ditemukan meninggal di dasar jurang.” Temannya Anjar meneruskan cerita Anjar.


Ren dan Zellina terbelalak.


Andrea terpaku, darahnya terkesiap, lalu seperti beku. Dingin.


“Jadi, yang aku temui tadi?”


Anjar menatapnya penuh arti.


“Pantas saja,” Andrea bergumam.


“Kenapa?” tanya Anjar.


“Dia tadi menasihati aku, untuk tidak egois ketika dalam pendakian. Kerja sama itu hal yang paling utama, katanya."


Anjar menunduk, kedua tangannya menutup muka. “Tu, maafkan aku,” lirihnya. Temannya menepuk-nepuk bahunya lagi.


“Dia ada di sini, Njar. Dia tidak menyalahkanmu. Kita sudah tahu sekarang," hibur teman-temannya.


Anjar menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.


“Dia juga bilang, teman-temannya di bawah. Berarti, dia tahu kalian di sini. ” Andrea berkata seolah ingin memberitahu kepada mereka bahwa Restu masih menganggap mereka teman.


Anjar mengangkat kepalanya. Wajahnya terlihat lebih tegar.


“Terima kasih, pertemuan kamu dengannya, mewakili kerinduan kami kepadanya. Setiap tahun kami ke sini, mengenang dia. Setiap tahun juga kami hanya bisa camping di sini. Tidak bisa ke mana-mana.” Anjar meluruskan kakinya, dia seperti lelah.


Tiba-tiba suasana menjadi hening. Yang terdengar hanya suara air gemercik dari bawah jurang.


“Gigit?” Andrea jadi teringat kepada Gigit. Dia dan Gigit sempat bertengkar di atas.


Andrea beranjak, mi goreng yang belum disentuhnya di tinggalkan begitu saja.


“Ndre,” panggil Ren.


Ren berlari mengejar, Zellina tidak mau ketinggalan. Anjar dan teman-temannya juga ikut beranjak.


“Gigit!” panggil Andrea.


"Gitara!" Ren ikut-ikutan.


"Giiiitt!!" Zellina tidak mau kalah.


“Gigiit!” Anjar ikut berteriak, diikuti teman-temannya.


Mereka berlomba memanggil-manggil Gigit.


Dari ujung tanjakan, terlihat Gigit berjalan gontai.


Andrea berlari, lalu memeluknya.


“Git, kamu baik-baik saja?”


Gigit memandanginya heran. Tidak menyangka akan mendapat pelukan dari Andrea.


"Maafkan aku, ya,” kata Andrea lagi.


Gigit semakin memandangi heran. Andrea begitu khawatir dengannya.


“Ekheemm ....” Ren berdehem. Anjar dan teman-temannya melirik Ren. Zellina senyum-senyum sendiri.


“Syukurlah, kamu kembali. Kami sempat khawatir tadi.” Anjar menatap Gigit.


Gigit garuk-garuk kepala. Dia tidak menyangka akan dikhawatirkan seperti itu. Tadi dia ketiduran di bawah pohon pinus, semalam menyetir lumayan melelahkan.


Mereka kembali ke tenda. Andrea menuntun Gigit seolah tidak ingin kehilangan lagi.


"Kamu takut aku hilang?" bisik Gigit.


Andrea pura-pura tidak mendengar, dia sedikit mencubit tangan Gigit. Gigit terkejut, sambil tersenyum kecil.


“Sekarang rencana kalian mau ke mana?” Anjar melihat langit, lumayan cerah. Bayangan pohon masih pendek, menandakan matahari masih di atas kepala.


“Kakak tahu tujuh air terjun?” tanya Andrea. Anjar dan kedua temannya berpandangan.


“Itu salah satu kawasan kaki gunung ini juga. Dulu kami juga pernah berencana ke sana, tetapi belum kesampaian.”

__ADS_1


Andrea merundukkan matanya, dia benar-benar telah diberi pencerahan oleh arwah Restu.


“Sebenarnya, aku mau ke sana sekarang. Aku diberi petunjuk oleh Restu soal air yang aku cari.”


Anjar kembali terenyak. “Benarkah?”


Andrea mengangguk. "Teman kalian sangat membantu."


“Git, kamu masih mau antar aku?” tanya Andrea, memegangi kencang tangan Gigit. Dia takut Gigit masih marah, mengingat pertengkaran mereka tadi.


Gigit merebahkan badannya di tikar, dia seperti sengaja tidak mendengar. “Aku mengantuk.”


“Giiitt,” Andrea mengguncang-guncang lutut Gigit, seperti anak kecil minta diajak main.


“Ndre, kamu minta antar Gigit doang? Aku yang punya mobil lho,” seru Zellina.


Andrea cengengesan.


“Aku juga yang masak mi goreng buatmu, Ndre!” Ren tidak mau kalah.


“Iya, iya ... Aku minta kalian temani aku ke air terjun.” Andrea merapatkan tangannya di dada, seolah sedang memohon kepada teman-temannya.


“Meskipun mi gorengnya belum sempat di makan.” Andrea melirik mi goreng yang tampak dingin. Dia tidak berselera lagi.


“Kami juga mau ke sana,” kata Anjar.


“Kalian juga mau ke sana?” Gigit mengulang pernyataan Anjar sambil mencoba bangun.


Anjar mengangguk. “Itu pernah menjadi rencana kami dengan Restu. Semoga dia suka, dan kami semua tenang.”


Andrea mendengar sesuatu yang ganjil dari kata-kata Anjar.


Berarti selama ini mereka tidak tenang, batin Andrea.


“Dari tadi kalian sebut-sebut nama Restu. Siapa dia?” tanya Gigit.


“Han ....” Zellina tidak meneruskan ucapannya, dia tidak enak dengan Anjar dan temannya.


“Teman kami,” jawab Anjar.


“Eh, kalau begitu, kita ke sana sama-sama saja.” Zellina berseru.


“Iya, seru tuh.” Ren berdiri. “Ayo bersiap!” serunya lagi.


Andrea tersenyum senang, kini teman-temannya yang antusias.


Mereka membantu membereskan alat-alat camping, lalu turun bersama-sama. Anjar dan kedua temannya berjalan di belakang.


Matahari sudah mulai condong ke barat ketika mereka sampai di bawah.


“Non, kalian dari mana?” Pak Supri berlari menyambut.


“Dari tiang langit ... Pak Supri tidur terus sih,” sahut Zellina.


“Pak sekarang kita jalan lagi. Pak Supri tahu tujuh air terjun?” tanya Andrea.


“Tahu atuh, itu tempat saya ngabolang waktu masih muda."


“Pak Supri tolong ambil tali untuk memuat bagasi di atas,” perintah Zellina.


“Buat apa, Non?” tanya Pak Supri


“Taruh bagasi, Pak Supriiii ... Di dalam enggak akan muat, ranselnya besar-besar,” sahut Zellina lagi.


“Ransel?” tanya Pak Supri, melihat ke arah mereka siapa yang bawa ransel besar. Yang membawa ransel hanya Andrea, itu pun kecil. Ren dan Nonanya hanya bawa tas kecil. Gigit malah enggak bawa apa-apa, lenggang kangkung.


“Iya, ransel mere ....” Zellina melihat ke arah belakang. Dia kebingungan.


Andrea, Gigit, dan Ren juga terkejut.


“Ke mana mereka?” gumam Ren.


Zellina celingukan. “Bukankah mereka mau bareng?”


“Mereka siapa, Non, dari tadi saya tidak melihat siapa-siapa lagi selain kalian.” Pak Supri juga ikut bingung.


Andrea, Gigit, Ren, dan Zellina berpandangan. Tiba-tiba suasana menjadi hening, lalu mereka dikejutkan suara burung elang yang berputar-putar di atas pohon tinggi.


“Ndre ....” Zellina memeluk Andrea.


“Jangan-jangan mereka,” ucap Pak Supri.


Zellina menjerit, dia berlari masuk ke dalam mobil. "Ayo, cepat kita berangkat!” teriaknya.


Semua yang masih bengong segera masuk ke dalam mobil. Tidak ada yang bicara, semua masih syok, bahkan Andrea yang sebelumnya juga pernah merasakan bertemu dengan hantu Restu.


“Terus Restu?” lirihnya, setelah ada di dalam mobil.


“Restu itu siapa?” Gigit masih penasaran.


“Teman mereka yang sudah meninggal, aku bertemu dengannya di atas.” Andrea menjelaskan.


“Apa?” Gigit memundurkan badannya.


“Mungkin yang bertemu kamu itu orang, Ndre.” Ren menebak-nebak.


“Sebaiknya kita segera pergi dari sini.” Gigit juga merasa merinding, jiwa lelakinya menciut juga dihadapkan yang begituan.


“Iya,” sahut Pak Supri. Dia menyalakan mesin dan segera melajukan mobil.


Sekira sepuluh menit mobil berjalan, mereka melihat rumah penduduk.


“Tadi saya mencari kalian sampai ke sini, lalu ikut ngopi di warung. Bicara dengan bapak-bapak di sini. Mereka bilang, daerah tadi itu sangat rawan." Pak Supri baru bercerita. Anak-anak tegang.


"Dulu, ada seorang pendaki yang hilang, dan ditemukan meninggal di jurang. Setahun kemudian teman-temannya kembali mendaki untuk mengenang teman mereka. Mereka terjebak hujan lebat, dan semuanya ditemukan mengalami hipotermia setelah dua hari di atas. Mereka semua tidak tertolong.” Pak Supri meneruskan ceritanya.


" Saya rasa, mereka semua ...."


Zellina lemas, dia benar-benar ketakutan. Lama sekali dia bersama mereka, makan minum dan bernyanyi. Cerita Pak Supri membuatnya mual, ingat mi goreng yang dia makan.


“Non tidak apa-apa?” tanya Pak Supri, cemas.


“Aku pusing,” rintih Zellina. Dia tiba-tiba menggigil.

__ADS_1


Begitu juga dengan Ren. Dia mengeluh mual, sambil memegang perut.


“Ren?” Andrea panik melihat Ren memucat sambil memegang perut.


Pak Supri segera menghentikan mobilnya. “Bagaimana ini? Non Zellina pusing, badannya juga panas.” Pak Supri memegang tangan Zellina.


“Iya, Ren juga, panas.” Andrea khawatir melihat kedua temannya merintih.


“Sebaiknya kita cari minum dulu.” Gigit keluar.


Andrea membawa Ren ke luar. Ren muntah-muntah. Pak Supri memeriksa keadaan Zellina yang bersandar lemas di jok. Badannya panas sekali.


“Tadi mereka ceria-ceria saja.” Andrea memijit pundak Ren.


“Mungkin kesambet,” kata Pak Supri.


Gigit datang membawa air mineral, ditemani seorang bapak-bapak. Ternyata dia orang yang pernah mengobrol dengan Pak Supri, namanya Pak Jaja.


“Sebaiknya kalian minta air ke Aki Sudira. Dia bisa menyembuhkan orang kesambet.”


“Di mana rumahnya?” tanya Pak Supri. Wajahnya terlihat sangat khawatir.


“Ayo saya antar! Jalan kaki saja, rumahnya dekat, di ujung jalan sana."


Andrea memapah Ren. Pak Supri dibantu Gigit memapah Zellina yang terlihat lemas sekali.


Mereka sampai di depan rumah berdinding bilik bambu. Halaman rumahnya cukup luas, dihiasi beberapa tanaman warung hidup.


Di plafon atap rumahnya yang rendah bergantung beberapa tanaman hias dalam pot. Gigit sampai menunduk ketika melewatinya.


“Punten, Assalamualaikum, Aki.” Pak Jaja memanggil.


Tidak ada sahutan. Pak Jaja mengulangi panggilannya.


“Ada apa enggak, Pak?” tanya Pak Supri.


“Aaa ... Aaa ....” tiba-tiba ada suara dari belakang mereka.


Seorang pemuda tanggung, membawa golok, memandangi mereka dengan sorot mata tajam.


Andrea terkejut, anak itu seperti tidak menyukai kedatangan mereka. Dia menelan saliva, melihat golok yang dibawa pemuda itu.


“Enjang, Aki aya?” tanya Pak Jaja.


Pemuda yang dipanggil Enjang itu menyimpan golok ke sarungnya yang ada di pinggang dia. Dia berjalan cepat ke samping rumah.


Pak Jaja, dan rombongan tetap menunggu di depan pintu.


“Dia Enjang, cucu Aki Sudira. Dia tuna wicara,” kata Pak Jaja.


Andrea mengerti sekarang kenapa pemuda itu tadi hanya berteriak-berteriak saja.


Tidak lama pintu kayu dibuka. Suaranya menggetarkan hati yang mendengar. Berderit, seperti suara pintu di film horor, ketika sedang tegang-tegangnya.


“Wa Alaikumsalam,” jawab yang punya rumah. Seorang sepuh berperawakan kurus, janggut dan rambutnya sudah memutih semua. Dia memakai pakaian pangsi hitam yang sudah memudar warnanya. Andrea jadi teringat dandanan Dale.


“Aki, punten mengganggu. Ini ada yang mau minta air.” Pak Jaja menunjuk Zellina dan Ren yang lemas tidak berdaya.


Terlihat Pak Jaja berbisik. Aki Sudira memutar badannya untuk masuk.


“Duduk saja, Neng.” Pak Jaja menggeser dipan lebar beralaskan tikar pandan yang ada di sana.


Andrea segera mendudukkan Ren. Gigit dan Pak Supri juga membawa Zellina untuk duduk.


“Kamu tidak apa-apa, Zell?” Andrea menggenggam tangan Zellina yang terlihat sangat pucat.


“Aku pusing, Ndre. Kita di mana?”


Andrea meraba kening Zellina. Panasnya semakin tinggi.


“Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja?" Andrea melirik Ren yang juga semakin pucat. Dia benar-benar khawatir dengan mereka.


“Ini bukan sakit biasa, Neng. Makanya jangan main-main kalau tidak tahu medan," bisik Pak Supri.


“Aku tahu, Pak. Dulu pernah diajak sepupu ke sana.” Andrea membela diri.


“Yakin ke situ?” tanya Pak Jaja.


“Maksud Bapak?” tanya Andrea.


“Pintu masuk ke puncak memang sama. Di sebelah wetan juga ada pintu masuk untuk pendaki, sama melalui hutan pinus. Jalur pendakian di sana lumayan terurus, karena sekarang dikelola karang taruna setempat. Kalau yang sebelah kulon tadi, pendaki jarang ada yang masuk, karena masih terlalu liar, dan ya itu tadi yang saya ceritakan kepada Pak Sopir ini.” Pak Jaja menjelaskan.


Andrea mengingat-ingat. Bisa jadi dia memang keliru, karena dia ke sana sudah lama sekali, waktu liburan masih SMP.


Aki Sudira ke luar, di tangannya ada dua gelas air. “Sina nginum!” katanya, dia memberikan air ke Pak Jaja. Aki Sudira kembali masuk ke dalam rumahnya.


Pak Jaja langsung membawa air minum kepada Ren dan Zellina. Andrea dan Pak Supri membantu mereka minum.


Terdengar Pak Jaja dan Aki Sudira berbincang dengan bahasa Sunda.


Andrea tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, karena mereka di dalam.


Setelah minum dan berbasa-basi, mereka pamit.


“Tidak apa-apa, di perut mereka hanya ada benda tidak seharusnya. Sekarang sudah diberi penawar, nanti juga sembuh,” kata Pak Jaja, ketika mereka sampai jalan.


Memang setelah minum tadi, Ren dan Zellina terlihat berangsur membaik, mereka tidak terlalu lemas, meskipun panas di badan mereka masih ada.


“Terima kasih, Pak Jaja.” Pak Supri berpamitan.


“Sami-sami, Mang.” Pak Jaja melepas mereka dengan wajah ramah.


Dari bali semak-semak, Andrea melihat Enjang memerhatikan mereka. Andrea sampai ketakutan sendiri melihat sorot mata Enjang yang tidak bersahabat kepadanya.


Hari sudah sore. Andrea bingung harus bagaimana. Diusap wajah Ren dan Zellina yang kini duduk satu jok dengannya.


Mereka tertidur. Andrea jadi merasa bersalah atas kejadian yang menimpa mereka.


Maafkan aku, teman-teman, kalian pasti sangat ketakutan sekali. Sahabat macam apa aku ini. Membiarkan kalian lelah, lapar, dan takut, sampai sakit seperti ini, batinnya.


Digenggamnya tangan Ren dan Zellina yang tertidur di bahunya kiri dan kanan.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2