
Bel pulang berdentang berkali-kali, menyalurkan energi semangat untuk sebagian jiwa yang semangatnya sudah menguap.
Sekolah menjadi riuh, siswa-siswi berduyun-duyun ke arah pintu gerbang, dilengkapi dengan jerit klakson mereka yang membawa kendaraan.
Di luar pintu gerbang kerumunan terbagi di beberapa pusat jajanan. Tukang cireng isi menjadi cluster kerumunan paling banyak, mengalahkan cluster tukang rujak.
Jajanan yang lain hanya diisi penggemar yang malas mengantri di tukang cireng.
Zainal digelandang Akri ke kantor, diserahkan kepada ibunya. Gara-gara merengek ingin ikut motornya.
"Lebih enak naik mobil, Nak," kata Bu Kania.
"Sekali-kali aku naik motor, nyobain debu jalanan, Mami."
"Gayamu, debu jalanan bukan buat dicoba, tapi disapu."
Zainal melengos, dia berjalan ke parkiran duluan. Matanya menantap sebal gengnya Akri yang keluar tempat parkir dengan berkonvoi.
Duo tuk tak ngomong nyerocos di depan kamera sambil berjalan, sesekali kamera diarahkan kepada yang lewat, beberapa kali juga ditepis dengan emosi. Tetapi mereka tidak berhenti beraksi.
Mobil Zellina penuh teman basketnya yang nebeng, berteriak-teriak menyuruh anak-anak yang berjalan menghalangi minggir memberi jalan.
Ren berjalan sendiri, melambai kecil kepada yang menyapanya. Mendung masih bergelayut pada wajahnya yang kuyu.
Andrea sengaja menunggu kelas sepi untuk beranjak.
“Senang bisa ada di sini lagi.” Dale tiduran di bangku, kedua tangannya di bawah kepala, dengan mata melihat langit-langit kelas, kalau ada yang melihat, dia benar-benar mirip anak sekolah.
“Mau di sini terus? Ayo pulang!” Andrea menaruh tasnya di punggung.
Dale bangun, dan mengikutinya.
Di depan perpustakaan mereka bertemu Fany. Andrea melewatinya dengan santai.
Dale dan Fany beradu pandang.
Fany memerhatikan mereka sampai jauh. “Kamu bisa dandan seperti dia?” tanyanya pada tiang pintu.
“Payah!” gerutunya sambil menonjok angin.
“Teman Neng yang tadi diikuti makhluk gaib.” Dale berbisik kepada Andrea.
“Aku tahu, dia juga bisa melihat kamu.”
"Oh, ternyata Neng sudah tahu. Tadinya saya pikir Neng akan takut, jadi tidak memberi tahu dari awal."
"Si Fany sendiri yang mengakui."
“Hati-hati, Neng, yang mengikutinya jin jahat.”
“Yang hati-hati itu kamu, aku kan nggak bisa lihat dia," sahut Andrea.
“Siap, Neng.”
Di depan gerbang, Ren masih ada, menunggu ojek pesanannya.
Andrea ragu untuk mendekatinya. Ren berjalan menjauh ketika melihat Andrea.
“Biasanya beli cilok dulu, Neng?" Tukang cilok menyapa, lapaknya sudah sepi pelanggan.
Andrea menggeleng. “Nggak, Mang, ciloknya bulet.”
“Tiap hari juga kan bulet.”
“Tapi hari ini lagi tidak doyan yang bulet-bulet.”
“Kenapa? Lagi berantem ya, Neng?” tukang cilok menunjuk ke arah Ren dengan dagunya.
Andrea jadi ingin menarik janggut tiga lembar tukang cilok sok tahu itu.
__ADS_1
“Sotoy si Mang.”
“Euuuhh, kalau nggak lagi berantem, kenapa jalannya pisah, biasanya bareng terus kayak truk gandeng?”
Tukang cilok benar-benar minta ditarik janggutnya. Andrea melirik ke arah Dale.
“Harus diapakan, Neng?” tanya Dale antusias.
“Ga usah, jangan bikin heboh!” Andrea berkata pelan.
Dale mengangguk, tetapi dia kesal sama tukang cilok yang berani godain juragannya.
“Rebutan cowok ya?” teriak tukang cilok, tidak menyerah.
“Tarik janggutnya, Dal!” Andrea berjalan menjauh dengan sebal.
Dale buru-buru mendekati tukang cilok, menarik dua lebar janggutnya.
“Aww!” pekiknya. Dia meringis sambil mengusap-usap dagu.
“Kenapa?” tukang cakwe yang sedang konsentrasi menuangkan saos, terkejut.
Tukang cilok yang masih meringis menggelengkan kepala.
Dia terkejut ketika melihat ke kaca spion hasil mutilasi yang menempel di gerobaknya, dua lembar janggutnya raib, menyisakan satu yang merapat ke kulit.
Andrea menyunggingkan senyum sinis mendengar tukan cilok memekik. Dia melihat Ren menaiki ojek online, berlalu tanpa melihat ke arahnya.
“Biarkan saja, Neng. Teman Neng belum menyadari, kalau Neng Andre nggak bersalah. Dia masih sedih.”
Andrea menendang-nendang trotoar dengan ujung sepatunya. Merasa omongan Dale ada benarnya juga, dia harus memberi waktu kepada Ren.
Apa yang dialami Ren jauh lebih berat daripada masalah yang sedang dihadapinya sekarang.
Dia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana Ren setiap hari harus mengurus mamanya, tidak dianggap ada, bahkan mungkin mendengar omongan tetangga yang kadang suka bikin panas kuping kalau mengetahui sesuatu yang dianggap aib.
“Kamu benar, Dal. Kasihan Ren.”
Motor ibunya berhenti. “Ibu telat ya, Ndre?” Yuli memberikan helm kepada Andrea.
Andrea menggeleng, lalu mengangkat roknya dan membonceng di belakang.
“Kamu mau bawa?”
“Bawa apa?”
“Motor.”
“Nggak, Ibu aja.” Andrea mengenakan helm.
“Ya sudah, padahal Ibu mau beliin kamu motor.”
Kemarin-kemarin itu memang sesuatu yang dia tunggu-tunggu keluar dari mulut ibunya, tetapi sekarang itu terdengar seperti sogokan untuknya. Sogokan agar bisa menerima seorang papa tiri dalam hidupnya.
Huhh, menyebalkan! Batin Andrea, dia jadi semakin malas bicara dengan ibunya.
Motor melaju, Dale berjalan di belakangnya, santai, tapi nggak pernah ketinggalan.
**
Selepas isya Andrea memanggil Dale lagi, mereka duduk-duduk di teras mencari angin. Dale menclok di dahan pohon mangga.
“Dal, kamu masih menyukai Bu Anis?” Andrea bertanya sambil melihat ke dalam, takut ibunya mendengar, tetapi suara televisi membuatnya lega.
Mendengar nama Bu Anis Dale segera meloncat turun. “Masih atuh, Neng … hehehe.”
“Tapi kamu jangan kecewa ya, kalau aku kasih tahu.”
“Kasih tahu apa, Neng?”
__ADS_1
“Bu Anis sekarang sudah tidak mengajar lagi di sekolah, dia juga lagi sakit.”
“Ooh, kalau itu mah saya juga sudah tahu.”
“Aku udah bilang ya?”
“Belum.”
“Kok kamu tahu? Eh, Iya ya, aku lupa kalau kamu itu jin."
“Saya diberi tahu calon pacar saya,” ucap Dale, tangannya menutup mulut. Rupanya dia keceplosan.
Andrea terkejut. “Sebentar sebentar! calon pacar? Kamu punya gebetan?”
Dale cengengesan, gigi geliginya sampai tampak semua. Untung bukan lagi menjadi si Belang.
“Iya, baru calon, Neng.”
“Katanya suka sama Bu Anis.”
“Saya menyukai Bu Anis, tapi bukan mencintainya.”
“Terus?”
Dale duduk di tembok pagar, membuka jasnya, lalu mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Andrea mengernyitkan dahi.
“Sebenarnya saya sedang jatuh cinta pada sesejin, Neng”
“Cieee, pantesan aku dilarang jatuh cinta sama kamu, sampai ngejelek-jelekin wujud."
“Euhh, kalau itu kan karena kita nggak sama, Neng. Kalau saya manusia mungkin ayo-ayo saja kita pacaran. Lumayan, Neng Andre kan cantik."
“Iihh, ogah!” Sekarang Andrea mencibir. “Aku nggak akan tertipuww oleh dandanan koreamu.”
“Laahh ini kan Neng yang suruh pakai.”
Andrea nyengir. “Iya ya, hehe. Siapa dia?”
“Kasih tahu nggak yaa?” Dale menempelkan telujuk di pipi.
Andrea tertawa melihat kealayan makhluk di depannya.
“Kamu masih mau nurut sama aku kan?”
Dale mengangguk. “Tentu saja, Neng. Ada tugas untuk saya?”
Andrea tersenyum. “Kalau begitu, ceritakan siapa gebetan kamu! mana tahu aku kenal," selorohnya.
“Siap, Neng.” Dale segera bersiap bercerita.
Dasar makhluk aneh, segala sesuatu harus diperintah, batin Andrea.
“Saya mempunyai perasaan terhadap seorang jin betina. Dia satu-satunya yang telah mencuri hati saya. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama.”
Andrea tidak kuat menahan geli mendengar Dale jatuh cinta. Dale terlihat malu-malu macan.
“Kapan dan di mana kalian bertemu?”
“Beberapa minggu yang lalu, di sekolahnya Neng Andrea.”
“Hah? Kamu naksir jin cewek sekolahku?”
“Bukan bukan ...." Dale memukul-mukul tembok dengan jarinya. "Di sekolah Neng Andrea jinnya jelek-jelek. Gebetan saya cantik, lembut tapi tegas, dia datang dari jawa." Dale berhenti bicara sebentar untuk manggaruk lehernya, lalu melanjutkan, "ehmm … ehmm … dia bersemayam di … di tusuk kondenya Bu Anis."
"Hahh??"
bersambung
selamat membaca, teman-teman
__ADS_1
jangan lupa like dan komennya untuk tinggalkan jejak
terima kasih 🙏 ❤❤