My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 55 Trek-Trekan Ala Zainal


__ADS_3

“Maaf, Bu, eh ... Bi.” Gigit terlihat gugup, menjauhi Bi Cicih dengan telapak tangan melebar.


“Tidak apa-apa, atuh, Aden.” Bi Cicih tersenyum genit. Matanya mengedip-ngedip senang. Kapan lagi pundaknya dielus-elus cowo ganteng, pikirnya.


Gigit jadi semakin gugup, dia buru-buru menghampiri Andrea.


“Ndre, boleh bicara sebentar?”


Andrea melepaskan pelukannya dari Tante Dina. Tante Dina tersenyum mengerti, dia berjalan untuk duduk.


Andrea menatap Gigit. “Ada apa, Git?”


“Ndre, sepertinya kamu sudah ada teman. Aku pulang dulu ya," katanya.


“Oh iya, Git. Kamu pulang saja, aku tidak apa-apa kok. Sudah ada Bi Cicih dan Tante Dina.” Andrea tersenyum, agar Gigit percaya dia tidak apa-apa.


Gigit juga tersenyum, tanpa sungkan dia memegang tangan Andrea. “Kamu jangan khawatir, aku pasti datang lagi. Kalau ada apa-apa kamu hubungi aku.”


Andrea juga memegang tangan Gigit. “Terima kasih, ya, Git.”


“Jaga diri kamu ya, jangan lupa makan. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja.” Gigit menatap bola mata Andrea yang masih menyimpan banyak kesedihan. Sisa-sisa tangisnya masih tampak jelas.


Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Andrea dalam keadaan masih menunggu kabar kerabatnya, tetapi dia juga harus pulang agar orang tuanya tidak khawatir.


Mereka berpegangan lama, seperti berat untuk saling melepaskan.


“Uhukk!!” Bi Cicih terbatuk.


Gigit dan Andrea terkejut, keduanya buru-buru melepaskan pegangan tangannya. Tante Dina melirik Bi Cicih dengan pandangan lucu.


Gigit berpamitan kepada semuanya. Andrea menatap punggung Gigit, seolah takut cowok itu menghilang tak kembali. Tetapi dia bisa apa, Gigit bukan siapa-siapanya, hanya sekedar malaikat tak bersayap yang dikirim Tuhan untuknya.


**


Pelajaran Bu Anis masih berlangsung, kelas sangat damai. Itu yang diinginkan semuanya. Kelas tetangga juga ikut damai, guru-guru juga santai.


Bu Anis memang guru yang mereka butuhkan selama ini, untuk mengendalikan satu kelas unik di sekolah itu.


Tiba-tiba kedamaian mereka belajar dikejutkan suara riuh dari jalan raya. Bunyi klakson dan teriak-teriak manusia memenuhi udara.


“Kalian berjaga, jangan sampai terjadi kerusuhan di sini,” kata Pak Haris di luar kelas, kepada satpam dan penjaga sekolah.


Bu Anis melihat ke luar kelas. Dua orang satpam berlari ke depan sekolah. “Ada apa?” tanyanya.


Yang ditanya menoleh.


“Eh, Bu Anis. Tidak ada apa-apa, Bu. Itu hanya demonstran yang menuju gedung Wakil Pemerintah, sopir angkot mau berdemo kenaikan harga BBM.” Pak Haris menjelaskan.


“Kenapa berkumpul di situ?”


“Mereka pada jajan cilok dulu sepertinya, makanya saya menyuruh satpam di belakang untuk berjaga di depan.”


“Ooh ....” mulut Bu Anis membulat.


Bertepatan dengan itu suara bel istirahat berbunyi. Bu Anis permisi kepada Pak Haris, dan kembali ke dalam kelas.


“Baiklah, sekarang kalian boleh istirahat.” Bu Anis membereskan bukunya, tidak lupa membawa jidar andalannya.


Anak-anak satu per satu ke luar kelas, menggunakan hak mereka untuk beristirahat seusai belajar.


“Mauren, saya mau bicara sebentar.” Bu Anis memanggil Ren yang sedang membereskan alat belajarnya dengan wajah lesu.


“Iya, Bu.” Ren menghampiri Bu Anis.


“Bagaimana rencana kamu tentang Andrea?”


“Saya belum tahu, Bu.” Ren menunduk, memainkan ujung jilbabnya.


“Sebaiknya kamu sudah memikirkannya. Kamu kan ketua kelas.”


“Iya, Bu, maaf. Mungkin nanti sore saya akan menemui Andrea.”


“Euhmm, kenapa tidak sekarang? Kan bisa izin ke guru piket.”


“Saya ... Saya sudah mendapat peringatan, Bu. Waktu itu ... Waktu itu, saya tidak kembali ke sekolah, jadi ....” Ren tidak sanggup meneruskan ucapannya.


Bu Anis geleng-geleng kepala. “Kamu ini, malah memberi contoh tidak baik kepada teman-temanmu.”


Ren menunduk lebih dalam, merasa tidak berguna sekali menjadi sahabat. Dia mendadak sedih dan mulai terisak.


“Kenapa malah menangis?” Bu Anis terkejut, keningnya berkerut.


“Kasihan Andrea, Bu, dia tidak ada saudara di kota ini.” Ren menyusut pipinya dengan lengan bajunya.


“Tetangganya, kan banyak.” Bu Anis berkata lirih.


“Bagaimana kalau ....” Ren tidak meneruskan ucapannya, tangisnya semakin terdengar jelas. Dia membayangkan hal buruk terjadi pada ibunya Andrea.


Teman-temannya yang masih ada di dalam kelas memandangnya iba.


“Sudah, sudah! Saya tahu bagaimana persahabatan kalian. Begini saja, saya izinkan kamu ke sana, ajak beberapa orang lagi, tapi jangan banyak-banyak.” Bu Anis juga merasa iba, dia sangat mengerti perasaan Ren.


Dia mengeluarkan surat izin untuk Ren, itu adalah surat saktinya sebagai Wali Kelas.


“Bagaimana dengan peringatan Pak Haris untuk saya, Bu?” tanya Ren, pipinya basah, hidungnya juga merah, ingusnya bening, Ren menghirupnya sampai terdengar nyaring di kuping Bu Anis.


“Saya sekarang yang menjadi Wali Kelas kalian lagi. Ini, makanya kamu bawa ini ke guru piket, dalam waktu dua jam kalian harus ada di sini lagi.” Bu Anis memberikan surat saktinya.


“Ingat! Dua jam saja, kalau bisa sebelum dua jam, kalian sudah ada di sini lagi,” ucapnya lagi.


Ren tidak kuasa menahan gembira, sambil menyeka air mata dia memeluk Bu Anis.


“Terima kasih, Bu, Ibu memang seperti malaikat untuk kami.”


“Jangan lebay!" Bu Anis meringis, takut terkena ingus Ren.

__ADS_1


"Ayo cepat berangkat, ingat waktu kalian hanya dua jam!" perintahnya lagi.


Ren melepaskan pelukannya. Bu Anis berjalan meninggalkan Ren sambil membereskan bajunya.


Beberapa orang temannya cepat mengerubungi Ren.


“Bagaimana?” tanya Salsa.


“Kita diizinkan,” sahut Ren. Dia mengacungkan surat sakti Bu Anis. “Sa, kamu temani aku ya.”


Salsa mengangguk cepat. “Oke, Ren.”


“Aku sama Rani juga ikut, Ren.” Dewi memohon.


“Boleh,” sahut Ren. Dewi dan Rani meloncat kegirangan. “Aku ingin Andrea terhibur dengan kedatangan kita," kata Ren lagi.


“Aku ikut!” Akri berteriak. “Biar ada cowok yang menjaga kalian.”


Ren berpikir sebentar. “Boleh, benar itu, kita butuh cowok juga sih, takut ada apa-apa di jalan. Tapi jangan berbuat rusuh ya!” Ren mengancam dengan tinjunya.


“Lu enggak percaya banget sama Gue.” Akri menatap Ren.


“Iya, iya, lu ikut sama Joni.” Ren mencari Joni.


“Oke siaaap ....” Joni mengacungkan tangan dari luar jendela.


"Kita butuh tukang angkat galon memang Ren?" tanya Rani.


"Berisik, Lu!" gertak Joni.


Rani tertawa sambil ngumpet di belakang Dewi.


“Kita hanya punya waktu dua jam, rumah sakit cukup jauh. Kita berangkat sekarang.”


Ren segera mengambil tasnya, dan berjalan ke luar diikuti Salsa, Dewi, Rani, Akri, dan Joni.


Zellina memerhatikan mereka dari lapangan basket. Ada sedih dari sorot matanya, tetapi dia berusaha untuk tidak peduli. Dia kembali berebut bola dengan gengnya, tidak lupa teriak 'onde-onde'.


“Teman-teman aku ikuuuuut!” Zainal berteriak. Dia baru datang dari kantin, di tangannya ada dua tusuk sosis bakar.


Akri segera menyuruh teman-temannya untuk berlari. Zainal berteriak-teriak sambil jalan di tempat, seperti anak bebek ketinggalan rombongan.


Dengan surat sakti dari Bu Anis, Ren bisa dengan mudah meminta izin guru piket.


“Cepat kembali, jangan telat!” kata Bu Neni, yang hari itu menjadi guru piket.


“Baik, Bu.” Ren berjanji.


“Boleh bawa motor, Bu?” tanya Akri.


“Tidak!” jawab Bu Neni.


Akri dan Joni garuk-garuk kepala. "Katanya suruh cepat."


“Terima kasih, Bu.” Ren segera mengajak teman-temannya untuk segera berangkat.


Mereka berlari ke depan pintu gerbang, memanggil-manggil Pak Satpam.


“Kalian mau ke mana sih, buru-buru banget?” Pak Satpam berjalan santai.


“Kita dikejar waktu, Pak, ke rumah sakit,” seru Ren.


Pak Satpam geleng-geleng kepala sambil membuka pintu gerbang. “Masih kecil sudah banyak urusan,” gumamnya. Dia sudah sering melihat Ren izin ke luar seperti ini.


Ren mencebik ke arahnya.


“Lagian kalian mau naik apa ke sana?” tanya Pak Satpam lagi.


“Angkot.”


Pak Satpam tertawa. “Mana angkotnya? Sopir angkot sedang pada demo, baru saja berangkat. Kalian tidak mendengar tadi teriakannya?”


Salsa menepuk dahi. "Oiya, tadi kan mereka konvoi."


“Aduh, bagaimana dong?” Ren gelisah.


“Memang kalau demo, BBM akan turun ya?” tanya Rani.


“Ya enggak lah, yang turun itu kolor Joni,” sahut Akri, sambil tertawa. “Kalau ada kolor naik, itu kolor Jojon,” lanjutnya.


Pak Satpam tidak kuat menahan tawa.


“Siapa Jojon?” tanya Dewi.


“Legend,” jawab Akri.


Ren semakin gelisah. “Kalian malah berbincang pagi, kita bagaimana ini? Waktu semakin melaju.”


“Eh, iya, kumaha Kri?” Salsa ikut gelisah.


“Tenang atuh teman-teman, dari tadi kita kayak orang kesetanan.” Dewi mulai memasang kamera. “Jarang-jarang nih, bikin konten rusuh seperti ini.” Dia mulai menyorot wajah teman-temannya satu per satu.


“Gue ada die ....” Akri menjentikkan jempolnya.


“Edi kali,” sahut Salsa.


“Kalian tunggu di sini!" kata Akri lagi. Dia bergegas kembali ke kelas, ditemani Joni.


“Jadi bagaimana nih, jadi keluar?” Pak Satpam tersenyum meledek, dia masih memegangi selot pintu gerbang dengan satu tangannya, satu lagi memegangi sabuk besarnya.


Semuanya melirik tajam ke arahnya. Pak Satpam gelagapan dilirik empat cewek manis.


Tidak berapa lama mobil Alphard ungu milik Bu Kania mendekati mereka. Pak Satpam buru-buru membuka pintu gerbang lebar-lebar, lalu membungkuk.


Ren dan teman-temannya minggir. Mobil berhenti.

__ADS_1


“Kalian, ayo masuk!” Zainal berteriak dari kaca sopir mobil.


“Zay?” Ren, Salsa, Dewi, dan Rani berteriak tidak percaya.


Akri juga nongol. “Ayo! Malah bengong,” teriak Akri. Joni juga melambaikan tangan dari dalam mobil.


Ren dan teman-temannya segera masuk. Mobil bergerak keluar gerbang, Pak Satpam bengong.


"Kirain Kepala Sekolah," gumamnya.


“Zay, kamu yakin bisa nyetir?” tanya Ren. Dia berpegangan tangan dengan Salsa, Dewi dengan Rani, sedangkan Joni yang duduk di belakang memeluk bantal.


Mobil jalan seperti orang kebelet, jedad- jedud.


“Yaaa ... Bisa, bisa atuh Ren.” Zainal menjawab penuh ragu.


“Tenang Ren, dia kan sedang kursus. Iya kan, Zay?” Akri santai saja di kursi depan. “Masa Bu Kania saja bisa mengendalikan mobil ini, dia enggak bisa. Iya kan, Zay?” tanya Akri lagi, setengah yakin.


Zainal mengangguk. Dia membenarkan saja ucapan Akri, demi ikut bersama mereka. Padahal, sebenarnya dia baru satu minggu kursus menyetir, tetapi tadi dia bilang sudah sebulan kepada Akri.


“Sedang kursus? Masih belajar dong?” tanya Ren, dia mulai waswas. Salsa memegangi tangannya semakin erat.


“Sudah sebulan kok, sudah tenang saja, Ren. Katanya ingin menemui Andrea.” Akri menyolot.


Mobil melaju, Zainal menyetir dengan keringat membanjiri keningnya, padahal AC mobil menyala. Dia kalau sedang konsentrasi, selalu dibanjiri keringat.


Sampai di jalan toang, Zainal mulai tenang, karena jalanan lengang, dia tidak harus menghindari banyak kendaraan lain. Untuk mengurangi ketegangan, Akri menyetel lagu. Bicause You Loved Me dari Celine Dion mengalun lembut.


“Lagunya jadul banget,” kata Rani.


“Ini mobil Bu Kania, Neng, orangnya juga sudah antik,” jawab Akri.


Zaina melirik sebal. “Jangan menghina ibuku, Kri!” rutuknya.


“Aku bilang antik, masa menghina. Antik kan mahal,” jawab Akri.


Zainal makin sebal, tidak terima ibunya disamakan dengan barang antik. Dia gas mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Semua yang ada di dalam mobil menegang, tangan mereka berpegangan lagi, dengan mata melotot ke depan. Toang sudah seperti sirkuit mematikan.


“Zay, jangan ngebut-ngebut!” pekik Ren, suaranya hilang ditelan suara mesin mobil.”


“Zaayyy ....” Joni juga berteriak di belakang.


Rani dan Dewi komat-kamit berdoa. Salsa mulai mual-mual.


Akri sendiri tidak berkedip melihat jalanan di depannya. Awas kau, Keong! Rutuknya dalam hati.


“Hahaha ... Bukannya kalian buru-buru? Jadi nikmatilah ini!” Zainal semakin seperti kesetanan mengemudi mobil. Dia malah merasa sedang trek-trekan.


Lebih dari lima belas menit mereka sampai di rumah sakit. Penumpang Alphard turun dengan wajah kacau. Salsa muntah-muntah di tempat parkir, dia dipapah masuk oleh Dewi dan Rani, karena lemas.


Senyum kecil tersungging dari sudut bibir Zainal, baru kali ini dia merasa Akri tidak berkutik olehnya.


“Git!” Ren berteriak ketika melihat Gigit.


“Ren, akhirnya kamu datang juga.”


“Sori, Git. Aku baru terima pesan kamu di sekolah. Andrea di mana?”


“Dia di ruang ICU, kasihan, Ren, dia kacau banget.”


“Iya, aku tahu. Aku ke sana sekarang."


“Oke, aku pulang dulu, dari kemarin belum pulang.”


Ren menatap Gigit dengan haru. Dia ingin sekali memeluk cowok itu sebagai ungkapan rasa terima kasihnya, telah mewakilinya menemani Andrea. “Terima kasih ya, Git.”


Gigit tersenyum, dia mengerti, Ren sangat sayang kepada Andrea.


“Ekhem ....” Akri berdehem.


Ren menolehnya. “Oh iya, ini teman-teman sekelas aku dan Andrea.”


Gigit menyalami mereka satu per satu. Para cewek memasang senyum ramah, sedangkan Akri dan Joni memasang wajah datar.


Zainal lain lagi, dia menyalami Gigit dengan kaki goyang-goyang. Gigit sampai heran.


"Kenapa?" tanyanya.


“Kebelet pipis," kata Zainal.


“Oh.” Gigit tersenyum geli.


Ren dan teman-temannya segera masuk. Zainal kabur mencari toilet.


“Dia yang ada di kontak kamu itu, Ren?” bisik Salsa, wajahnya masih pucat, sarapan paginya keluar semua.


Ren mengangguk.


“Dapat?” tanya Rani kepada Dewi.


Dewi mengacungkan jempolnya. Dia berhasil mengabadikan Gigit yang sedang mengenakan helm. Damagenya membuat cewek-cewek blingsatan.


“Ganteng banget,” kagum Dewi. Rani ikut melihat, lalu keduanya menjerit histeris.


Ren dan Salsa menyimpan telunjuk di mulut masing-masing.


“Ini rumah sakit, bukan gedung konser Black Pink!” kata Ren. Dewi dan Rani cekikikan.


Akri dan Joni sudah sedang bertanya kepada resepsionis, tempat ruang ICU berada, lalu memberi kode kepada cewek-cewek untuk mengikutinya.


Mereka menyusuri lorong rumah sakit yang lebar dan ramai. Lupa dengan Zainal yang sedang pipis di toilet.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2