
Selepas magrib Gigit menepati janjinya. Andrea sudah menunggunya di teras, tersenyum manis, mengenakan pakaian kasual yang pas banget membalut tubuhnya yang tinggi semampai.
Ditambah kupluk rajut menutupi rambutnya yang sebagian jatuh di bahu.
Gigit berusaha menahan diri untuk memuji. Sedangkan Andrea berusaha diizinkan pergi oleh ibunya.
“Dia tukang ojek itu kan?” Yuli berbisik kepada Andrea sambil memandangi cowok yang tadi mengenalkan diri kepadanya di teras.
“Ibu jangan meledek terus, dia teman aku. Aku minta datang untuk menemani. Boleh ya, please, ini penting,” rengek Andrea.
Yuli melihat keseriusan dari mata Andrea. Dia juga menyesal Andrea sudah mengetahui kebohongannya tentang perjalanannya ke Bogor.
Untuk menebus kesalahannya, Yuli mengangguk. Dia juga harus memberi kepercayaan kepada anaknya itu.
“Ya sudah, jangan malam-malam pulangnya.”
“Oke.”
Andrea tersenyum, lalu mencium tangan Yuli. “Ibu istirahat saja, aku bawa kunci kok.”
“Iya.” Yuli membereskan rambut di bahu Andrea. “Hati-hati ya!”
“Sayap, Bu.”
“Eh, itu punya saya, Neng!” Dale nimbrung, sambil mengupas jeruk bali.
Andrea menjulurkan lidah. Yuli mengernyitkan dahi, melihat anaknya menjulurkan lidah ke pintu kamar.
Gigit juga berpamitan. Yuli menjawabnya dengan anggukan.
Mereka menerobos gelap. Dale santai saja berjalan di belakang motor, mulutnya tidak berhenti mengunyah jeruk bali.
"Jangan terlalu rapat, Neng, bukan muhrim." Dale meledek.
"Iya, tahu," bisik Andrea.
“Kita ke mana?” Suara Gigit tertelan angin, tetapi masih terdengar oleh Andrea.
“Tempat karaoke di Cafe Family.” Andrea mendekatkan mulutnya ke helm Gigit.
“Hah?? Kamu suka nyanyi?”
“Ngga.”
“Terus mau apa ke tempat karaoke?" Gigit curiga.
"Nanti juga kamu akan tahu.”
“Dari tadi nanti-nanti saja, jelaskan dong, Andrea!” Gigit melambatkan laju motornya. Mereka sekarang memasuki kawasan jalan toang yang gelap.
“Iya, Gitara, nanti, sekarang kita diburu waktu. Ini ada kaitannya dengan aksi penculikan tadi siang.”
“Oya?” Gigit tidak bicara lagi, dia tidak menyangka Andrea akan seberani ini mencari tahu. Kebanyakan gadis seumur dia, akan trauma dan menangis sepanjang hari. Andrea tidak menunjukkan itu, dia terlihat biasa saja, kecuali manisnya yang semakin membuat hatinya cenat-cenut.
Gigit tancap gas lagi.
Tujuh menit mereka melewati jalan toang yang sepi, lalu tiba di jalan menuju kota yang mulai ramai.
Gigit memarkir motor di depan Cafe Family. Beberapa anak muda terlihat nongkrong. Mereka sepertinya habis bermain futsal yang tempatnya bersebelahan. Terlihat dari kostum yang mereka pakai dan bau apek keringat ketika melewatinya.
Beberapa cowok melirik dan terpesona pada Andrea, tetapi buru-buru memalingkan muka ketika Gigit memergokinya.
“Silakan Akang, Teteh.” Seorang pramuniaga, menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
“Kita lagi menunggu teman, boleh duduk di sini?” tanya Andrea.
“Silakan, mau pesan minuman apa?” pramuniaga itu menyodorkan menu.
“Oh, harus pesan minum ya?” Andrea menatap pramuniaga itu.
“Orange jus saja, Mbak, dua,” sahut Gigit. Dia tahu Andrea jarang ke tempat seperti itu.
“Baiklah, ditunggu sebentar.”
__ADS_1
“Harus pesan ya? Orang mau ikut duduk,” bisik Andrea.
“Ya dari pada dicurigai. Ini bukan kantin sekolah, Neng,” bisik Gigit juga.
“Justru karena bukan kantin sekolah, aku takut minumannya dikasih obat perangsang.” Andrea kembali berbisik.
Gigit menjauhkan wajahnya dari Andrea, lalu tertawa. “Biar saja kamu terangsang, nanti aku bawa ke hotel,” bisik Gigit lagi.
“Ikh!” Andrea memukul lengan Gigit. “Mesum,” bentaknya.
“Lahh, kamu tuh yang mesum, bilang-bilang perangsang segala.”
“Aku hanya takut, kayak di film-film.”
“Kamu belum pernah ke tempat seperti ini?”
“Pernah sih, dulu sama Ren. Diajak kakak kelas, tapi kita kabur.”
“Kok kabur?”
“Kita tidak tahu kalau di dalam ada tempat karaoke. Eh, dia main booking saja, kirain mau minum doang. Ya kita kabur lah, apalagi Ren kan alim, malu sama jilbab.”
Gigit tertawa. Dua orange jus datang.
Mulut Dale berdecap, melihat irisan lemon di bibir gelas. Padahal dia baru saja menghabiskan separuh jeruk bali besar.
Seseorang keluar dari ruangan dalam, kelihatannya cowok tajir, karena mengeluarkan kartu dari dompetnya. Seorang pramuniaga menerima kartu itu dan membawanya ke tempat kasir. Di belakangnya menyusul dia orang yang sedang tertawa-tawa.
“Itu dia, Neng, si Atang!” seru Dale.
Andrea menoleh ke arah yang ditunjuk Dale. Benar saja, orang berjaket coklat sedang berjalan bersama temannya.
Andrea menurunkan kupluknya, lebih menutupi wajahnya.
“Kita langsung ke mana, Bos?” tanya orang yang bernama Atang.
Orang yang dipanggil bos duduk di bangku pojok. “Ke mana saja terserah kalian.” Mereka asyik berbincang, sesekali tertawa.
Benar kata Dale, dia tukang nebeng, batin Andrea.
Gigit buru-buru melihat, dan memerhatikan lebih seksama.
“Iya, benar, Ndre."
Gigit mau berdiri, Andrea buru-buru mencegah.
“Mau ke mana? Mereka bertiga.”
“Terus kita biarkan saja setelah tahu dia ada di sini?"
“Kamu tenang dulu!" Andrea menyuruh Gigit diam dulu.
Andrea memberi kode kepada Dale untuk beraksi.
Dale segera menghampiri mereka, membuat ketiganya tertidur. Lalu Dale menepuk pundak pria berjaket coklat.
Pria itu menguap sambil berdiri, lalu berjalan sempoyongan ke tempat parkir, dan tidur di belakang sebuah mobil di tempat parkir.
Dale tinggal mengikat jempol tangannya, beres.
Andrea dan Gigit keluar, setelah membayar minuman. Mereka mengikuti Atang yang berjalan sambil tidur.
“Mereka tidur apa mabuk ya?” Gigit keheranan kepada dua orang sedang terus saja dibagunkan pramuniaga yang akan mengembalikan kartu.
“Lemah syahwat.”
“Hahh??”
“Kenapa?” tanya Andrea.
“Kamu tahu artinya lemah syahwat?”
“Ngga,” sahut Andrea.
__ADS_1
Gigit tertawa tertahan, geli melihat kepolosan cewek tomboi di sebelahnya.
“Heh, bangun!” Andrea menepuk pipi si Atang yang tadi pagi hampir membuatnya celaka.
Si Atang terkejut, tiba-tiba ada di sana dengan jempol terikat.
Gigit juga keheranan.
“Si ... siapa kalian?”
“Ngga kenal aku?” Andrea membuka kupluknya.
Si Atang terkejut yang kedua kalinya. “Kamu?”
“Iya, kita tadi bertemu kan?”
Si Atang menelan ludah. Dia ingin berdiri, tetapi tidak bisa. Tangannya tidak bisa bergerak bebas.
“Dengar ya, jangan sok jagoan dengan mau culik anak orang, bisa berurusan sama polisi.” Gigit berjongkok, mengamati wajah bantal si Atang.
“Kalian polisi?” si Atang gelagapan.
“Sudah berapa orang yang kamu culik?” tanya Gigit.
“Enggak, saya enggak pernah menculik, tadi pagi kan gagal.”
Gigit tertawa. “Dasar, badan saja besar, menculik cewek rata begini saja gagal.”
“Git!” Andrea melotot.
Gigit cengengesan.
“Sudah, Ndre, kita bawa saja ke kantor polisi.” Gigit mengancam.
Atang merengek memohon-mohon.
“Tolong, jangan bawa saya. Saya tadi hanya disuruh, bukan mau menculik, hanya disuruh membawa saja.”
“Sama saja, bloon!” Dale menghardik.
“Disuruh siapa?” tanya Andrea.
Atang tidak menjawab.
“Kok diam?” Gigit bertanya.
“Saya belum dibayar," lirih Atang, dengan wajah memelas.
“Ooh, rupanya ingin dibayar di dalam penjara.” Andrea berkata sinis.
“Jangan, saya mohon jangan masukkan saya ke penjara!”
“Kalau begitu, bilang, siapa yang menyuruh kamu?” Andrea berusaha galak, tetapi malah kelihatan semakin manis di mata Gigit.
“Tuan Sanjaya.” Atang bicara pelan.
“Sanjaya?” tanya Andrea. Keningnya berkerut, familiar dengan nama itu.
“Sanjaya mana?” ulang Gigit.
"Sanjay Dut kali, Neng." Dale menebak. Andrea makin mengerutkan dahi.
“Lengkapnya Yadi Sanjaya.” Atang bicara lagi.
“Whats?” Andrea meloncat.
Dale geleng-geleng kepala, tidak percaya.
Gigit mah bingung, karena tidak tahu siapa itu Yadi Sanjaya, dan kenapa itu penculik gagal bisa memborgol jempolnya sendiri. Dia garuk-garuk body mobil.
*bersambung
Terima kasih yang sudag setia membaca.
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak di kolom komentar yaa, like, vote dan rate juga
Terima kasih 😊🙏*