My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 39 Melipirkan Rasa Kedua Kali


__ADS_3

Penumpang angkot hanya Ren dan Andrea. Di cuaca terik seperti itu tidak ada seorang pun penyewa angkot yang masuk sejak dari depan sekolah.


"Kenapa bisa berpikir ngajak Gigit sih?" tanya Andrea.


"Spontan saja, kayaknya dia enak diajak jalan." Ren menggerak-gerakkan alisnya. Andrea mencebik.


“Huuuhh, pada ke mana atuh orang-orang?” tiba-tiba sopir angkot menggerutu.


Andrea dan Ren saling pandang, lalu cuek, menganggap sopir angkot ngomong sendiri.


Ketika tiba di daerah toang, sopir angkot tancap gas.Angkot melaju kencang, seperti melayang.


Toang adalah jalan panjang yang lurus dan sepi. Tidak ada rumah penduduk di sana, yang terlihat hanya hamparan sawah sampai ujung mata.


“Pelan-pelan kenapa, Mang!” Ren menegur.


“Biar cepat sampai, Neng.”


“Tetapi jangan sampainya ke akhirat juga, Mang!” seru Andrea. “Kita belum mau ke sana,” lanjutnya dengan tangan mencengkeram bangku duduk.


Dia hendak memanggil Dale, tetapi ingat jin ganteng itu sedang memulihkan diri, jadi kasihan. Andrea berpikir kalau dia dalam bahaya juga Dale pasti otomatis datang.


Sopir angkot tidak menghiraukan teguran Ren dan Andrea, tetap tancap gas di jalan lengang itu.


Andrea dan Ren menatap punggungnya dengan gemas, kalau saja tidak ingat itu di jalanan jauh ke mana-mana, mereka akan minta turun.


Akhirnya angkot sampai di depan mol. Dengan wajah berkeringat menahan emosi, mereka membayar ongkos sewa setengah dilempar.


“Cari rezeki apa cari mati, Mang?” sewot Andrea.


“Iya, nih, bagaimana kalau di dalamnya ada yang lagi hamil, bisa keguguran.” Ren menimpali.


“Maaf, Neng-neng. Kan yang naik hanya Neng berdua, tidak mungkin lagi hamil,” sahut sopir angkot, tanpa dosa. Dia segera melajukan angkotnya lagi.


“Aku doa in, istrinya hamil, Mang!” seru Andrea.


“Huss!” sergah Ren.


“Kenapa? Istrinya hamil kan bagus, positif.”


“Bagaimana kalau dia jomlo?”


“Berarti doaku sia-sia.”


Mereka tertawa cekikikan, melihat kemegahan mol di depan mereka, jadi lupa dengan masalah masing-masing.


Keduanya memasuki mol, dan berkeliling, segala di lihat, segala di pegang. Membelinya kaos diskonan untuk menghindari razia, lalu patungan membeli piza untuk mengganjal perut.


“Dua kere main ke mol, ya begini, beli makan saja patungan.” Ren mencari uang di dalam dompetnya.


“Yang penting happy, Baby,” sahut Andrea.


“Betul, hati senang dan perut kenyang.”

__ADS_1


Ketika sedang asyik makan piza di salah satu sudut mol, mereka dikejutkan dengan kelompok kakak kelas yang tadi sempat bertengkar dengan Ren.


Seolah mendapat peluru, Ren segera menokang senjata, siap menembak mereka dengan kata-katanya.


“Ternyata, ada yang menikmati juga dampak dari kerasukan masal tadi,” sindir Ren, sambil menyuapkan sepotong piza ke mulutnya.


Kakak cantik menoleh. “Heh, maksudnya apa?”


Ren menghabiskan dulu piza di mulut, lalu berdiri dengan sikap santai. “Kakak-kakak yang terhormat, makanya jangan suka bicara sembarangan tentang kelas kami. Enak kan sekolah pulang cepat? Bisa nge-mol, hangaout. Jadi, jangan sok jaga image, seolah-olah sangat haus ilmu, kelaparan belajar, lalu mengutuk kami sebagai biang kerok, padahal suka juga kaaan ... pulang cepat?”


Mereka tidak bisa menjawab lagi, buru-buru melangkah menjauh, merasa sudah salah besar berurusan dengan adik kelasnya itu.


“Sudah Ren, memang kelas kita juga terkenalnya begitu, kelas angin ribut. Sampai bisa menghempaskan salah satu guru kesayangan di sekolah kita.” Andrea menekuri pizanya yang rasanya mendadak berubah menjadi seperti bakwan buatannya, hambar karena lupa kasih vetsin.


Ren melihat perubahan pada raut wajah sahabatnya itu. “Eh iya, aku mau tanya yang kamu bilang tadi di sekolah. Jelaskan sama aku bagaimana mereka bisa kerasukan seperti tadi!”


Andrea tampak ragu, tetapi dia merasa Ren harus tahu, agar mereka bisa menyelesaikan masalah itu bersama-sama.


“Tetapi aku mohon, ini hanya di antara kita saja ya, Ren. Aku cerita karena kamu juga sudah tahu Dale sejak awal.” Ren mengangguk.


Andrea meneruskan bicara, “jadi sebenarnya di kelas kita itu ada penunggunya, dia mengikuti Fany. Kata Dale dia jin jahat, suka menghasut. Anak-anak yang hatinya lemah banyak yang terhasut, mereka dari rumah sudah berniat belajar, tetapi sampai di kelas jadi malas dan berkelakuan buruk.”


“Masa sih? Kamu bilang mengikuti Fany, Fany nya tahu?” tanya Ren.


“Justru jin itu dimanfaatkan Fany untuk menghasut anak-anak. Dia ingin pintar sendiri di kelas. Kamu tahu enggak?”


“Ngga,” sahut Ren.


“Si Fany itu sebenarnya enggak genius, dia kelihatan pintar karena bantuan jinnya itu, menyontek.”


“Aku juga kaget, tapi setelah dipikir-pikir, orang genius juga kan dapat informasi dari membaca. Nah, si Fany, selama ini yang dibaca komik, memang isi komik apa? Pelajaran sekolah?”


“Hmm ... benar juga. Tapi kan dia sering ke perpustakaan?”


“Pencitraan, biar pada percaya kalau dia pintar. Aku lihat sendiri, di sana dia juga baca komik kok, mojok sama pengikutnya itu.”


Ren menghabiskan sisa piza di tangannya.


“Terus, kamu punya solusi? Si Lele bisa bantu enggak?”


“Kata Dale sih, semua akan bisa dikendalikan kalau Bu Anis kembali lagi ke sekolah.”


“Maksudnya?”


“Kamu lihat sendiri kan, kelas berbeda ketika Bu Anis mengajar?"


“Iya lah, Bu Anis kan galak,” sahut Ren.


“Bukan hanya itu, jin pengikut Fany takut sama Bu Anis, makanya dia tidak berkutik untuk menghasut sana sini.”


“Kok bisa?”


Andrea melihat sekeliling. “Dalam tusuk konde Bu Anis ada jin betina yang dia sukai,” bisiknya.

__ADS_1


“Hahh??” Ren mangap.


Andrea menutupnya dengan potongan piza, karena melihat Gigit datang menghampiri mereka.


“Kalian di sini?” Gigit menegur. Ren mengambil piza yang menyumpal mulutnya.


“Eh, kapan datang, Pange ... Eh, Git?” tanya Ren.


“Barusan, asyik benar berdua mengobrol, sampai tidak sempat baca chat.”


“Kamu chat?” tanya Ren lagi.


“Iya, ke nomor Andrea.”


“Ohh, sori, ponsel di dalam tas.” Andrea buru-buru mengambil gawainya.


“Sudah, enggak apa-apa, aku kan sudah di sini.” Gigit tersenyum, Andrea mendadak rikuh diberi senyuman menawan seperti itu.


Senyuman Dale mah lewat, karena dia hanya menawan palsu, aslinya seram. Kalau Gigit cogan seratus persen asli, tanpa pemanis buatan, apalagi wajah buatan.


“Kok bisa langsung tahu kita di sebelah sini?” tanya Ren.


“Ngga tahu juga, ingin lewat sini saja. Mungkin sinyal kalian lagi bagus, jadi GPS di hati aku cepat melacak.” Gigit menggombal.


“Eaaakk ... Bisa ae, lu!” Ren melempar tisu kucel ke arah Gigit. Gigit menghindar dengan gaya aktor menghindari peluru menyasar. Mereka sudah seperti teman lama, padahal baru sekali ketemu.


Ren dan Gigit memang cocok, keduanya supel.


Seperti terhadap Yadi yang cocok dengan Zellina, Andrea melipirkan lagi rasa untuk Gigit.


“Sekolah kalian pulang cepat?” tanya Gigit. Dia duduk di sebelah Andrea.


“Kamu enggak main medsos? Biasanya berita heboh suka langsung banyak yang up,” kata Ren.


Gigit menggeleng sambil menyimpan ranselnya di samping Andrea. “Aku enggak main medsos. Ada apa?”


“Tadi ada kesurupan masal, kami dibubarkan lebih awal.”


“Waduhh, kalian enggak terpapar kan?” tanya Gigit.


“Alhamdulillah, kita kuat iman,” sahut Andrea.


Gigit mangut-mangut. “Syukur atuh, soalnya kalau kalian terpapar kan aku bisa ajak dukun beranak ke sini.”


“Kamu kira kita kontraksi?” Ren meninggi.


Gigit tertawa lebar, Andrea suka melihat Gigit tertawa seperti itu.


Apa sih? Gue kenapa ini? Andrea kembali membatin. Ditepuk-tepuknya pipinya.


“Kenapa, Ndre?” tanya Gigit. Ren juga memandanginya heran.


bersambung

__ADS_1


selamat membaca Readers, jangan lupa tinggalkan jejak yaa pakai klik like, komen, atau vote


terima kasih 🙏


__ADS_2