
Dua detik setelah dia membaca mantra, terdengar suara khas Dale.
"Neng ....”
Panggilan itu sudah Andrea prediksi akan cepat dan ragu. Dale tentu masih merasa bersalah karena disalahkan, walaupun sebenarnya tidak salah.
Andrea menatap jauh lorong rumah sakit. Mencoba menelaah apa yang sebenarnya diinginkan hatinya.
Malu, tentu saja dia kini merasa malu berhadapan dengan Dale. Emosinya semalam telah menelan jasa Dale, tanpa menyisakannya sedikit pun.
Ren yang telah mengingatkannya, bahwa Dale ternyata sangat dia perlukan. Setidaknya, untuk membuatnya sedikit tenang, berkawan, melawan kegetiran yang dihadapinya kini.
“Kamu sudah makan?” tanya Andrea, pelan.
“Saya tidak bisa makan,” sahut Dale.
Andrea menunduk, semakin merasa bersalah, membuat dia tidak bisa makan. “Maaf,” ucap Andrea.
“Neng tidak usah minta maaf, saya tidak bisa makan karena ini, nih.” Dale mengacungkan kedua telapak tangannya.
“Kenapa?” Andrea melihat tangan Dale yang kotor.
“Kena getah nangka, Neng. Susah hilangnya, jadi kalau pegang sesuatu menempel di sini."
Bahu Andrea terkulai, dia geleng-geleng kepal. Benar kata Ren, Dale berbeda, kenapa harus bawa perasaan untuk menghadapinya. Semua kekesalan, dan penyesalan tadi, kini seolah percuma.
“Sudah coba menghilangkannya dengan minyak?” tanya Andrea. Kali ini dia menghampiri bodyguard tampannya itu.
“Minyak apa?”
“Minyak sayur atau minyak tanah juga bisa. Aku pernah diberi tahu Aki dulu.”
“Ooh, sebentar atuh saya mau cari minyak dulu.”
“Oke, kalau sudah bersih, cepat ke sini lagi, temani aku."
“Sayap, Neng!” Dale antusias.
Ada perasaan lega di dadanya, dan tenang di hatinya. Andrea kembali menuju ruang ICU.
“Teman-teman kamu mana, sayang?” Tante Dina menyambutnya.
“Sudah pulang, Tante. Mereka harus kembali ke sekolah.”
“Oiya, ini sudah siang, Tante juga sudah harus kembali ke kantor. Kamu tidak apa-apa ditinggal?”
“Oh, tidak apa-apa, Tan. Maaf ya, aku sudah merepotkan.”
“Tidak, Ndre. Ibu adalah bagian dari keluarga Tante. Tante juga punya tanggung jawab kepada kalian. Kalau ada apa-apa hubungi Tante ya. Kamu jangan pikirkan biaya rumah sakit, biar Tante bantu ajukan biaya ke kantor.”
“Terima kasih, Tan.”
Satu per satu kegalauan hati Andrea memudar, meski kabar dari Uaknya belum dia terima.
Tante Dina pergi, di rumah sakit tinggal dia dengan Bi Cicih yang mulai terkantuk-kantuk di ruang tunggu.
Lelah badannya sudah tidak bisa diceritakan. Andrea bersandar, tertular kantuk oleh Bi Cicih. Samar bunyi alat medis dari dalam ruangan menjadi musik pengiring lelahnya.
“Neng,” panggil Dale. Andrea menengok pada Dale yang sudah duduk di dekatnya.
“Sudah bersih?”
Dale mengacungkan tangannya dengan bangga. “Sudah bersih, ternyata betul minyak bisa menghilangkan getah. Saya kapok makan nangka, Neng. Mendingan cempedak saja.”
“Bukannya itu sama saja?”
“Hehe, iya sih, sama.”
“Ck, kamu mah bodor.”
Bi Cicih tidak kuat menahan kantuknya, dia tertidur sambil duduk.
Andrea dan Dale melihat Yuli dari kaca pintu ketika seorang perawat melakukan sesuatu di dalam.
“Kasihan Ibu,” lirih Andrea.
“Ibu sedang di apain, Neng?”
“Tidak tahu. Sepertinya sedang diberi obat.”
“Biar sembuh ya, Neng?”
“Iya. Tapi aku sedih melihat dia tidak sadarkan diri seperti itu. Apa kamu bisa melakukan sesuatu, Dal?” Andrea menatap Dale, memberi kode bahwa dia kini tidak akan melarang lagi jika Dale ingin menolongnya.
Dale menatap balik Andrea dengan mimik wajah serius. “Bisa, Neng. Saya memang tidak bisa menyembuhkan penyakit Ibu, tetapi bisa menyadarkannya, tetapi ....” Dale tidak meneruskan ucapannya, dia terkejut, karena perawat di dalam terlihat sibuk.
Andrea juga melihatnya dengan cemas, dia tidak tahu apa yang terjadi.
Dokter segera datang, ditemani dua orang perawat. Bi Cicih sampai terbangun mendengar langkah mereka yang tergesa.
Andrea segera menghadangnya. “Dok, kenapa dengan ibu saya?”
“Kamu tenang dulu, ya, saya akan memeriksanya.” Dokter tersenyum, berusaha meredakan kepanikan.
Dokter segera masuk, Andrea mengikutinya, suara monitor terdengar seperti menjerit-jerit di telinga Andrea, dia memaksa masuk ketika perawat melarangnya masuk.
“Adik di sini saja, biar dokter bekerja dulu," perintah perawat.
“Tapi, Sus ...." Andrea mulai merasakan sakit lagi di lehernya, menjalar ke dadanya, sampai matanya memanas.
“Percayakan semuanya kepada kami,” sahut perawat lagi. Dia menutup pintu ruangan dan menguncinya.
Andrea mundur, dia cemas sekali, tidak tahan melihat itu semua. Dia takut hal buruk terjadi pada ibunya.
Dia terduduk, doa-doa sebisanya dipanjatkan, lalu menutup muka. Bi Cicih mendekatinya. Dale tetap mendampinginya.
“Aku takut ibu kenapa-apa, Bi,” Andrea terisak.
Bi Cicih merangkul pundaknya. “Tenang, Neng, Ibu akan baik-baik saja,” katanya dengan tangan sibuk menyeka air matanya. “Ya Allah, jangan ambil Ibu Yuli secepat ini,” lanjutnya, membuat Andrea semakin takut dan ingin histeris.
Dia berdiri. “Lakukan sesuatu untuk ibuku, Daaaal!” Andrea menatap dinding, bibirnya gemetar menahan tangis.
Bi Cicih melihatnya heran, lalu membawa Andrea duduk lagi. “Neng, nyebut, Neng! Jangan begitu, istigfar, Neng!” kata Bi Cicih.
__ADS_1
Mendapat perintah, Dale beranjak, dia segera masuk dan menyelusup di antara dokter dan perawat.
Andrea melihatnya dari kaca pintu, dengan perasaan waswas. "Kamu bisa melakukannya, Dal, please, demi aku," lirihnya.
Dale menaruh telapak tangannya di atas kening Yuli, dia berusaha mengumpulkan energi yang dimilikinya, dan menyalurkannya ke tubuh Yuli yang mengejang.
Puncak kekuatannya dilepas sekaligus, Yuli mengejang lagi.
Tidak kuat menahan pantulan yang keluar dari tubuh Yuli, Dale terdorong, dan terjengkang membentur ke tembok. Dia meringkuk, lalu perlahan hilang.
“Dale!!” Teriak Andrea. Dia mendadak tidak melihat Dale.
Bi Cicih menghampirinya. "Ada apa, Neng?"
Garis lurus di layar monitor mulai bergelombang lemah, lalu menguat secara perlahan. Dokter dan perawat yang dari tadi sibuk memacu detak jantung Yuli terlihat lega.
“Dia kembali,” lirih Dokter, menyerahkan Defibrilator kepada perawat. “Pantau terus perkembangannya,” perintahnya, setelah yakin semuanya beres.
“Dok,” panggil seorang perawat.
Dokter yang sudah mau keluar ruangan segera kembali. Dia melihat tangan Yuli bergerak, lalu dengan saksama memeriksa keseluruhan tubuh Yuli.
“Ndre ....” Bibir Yuli bergerak, memanggil nama anaknya.
“Dia sadar,” kata dokter kepada perawat. Para perawat terlihat lega dan merasa kagum.
Yuli membuka mata perlahan, seolah baru bangun dari tidurnya.
Dokter tersenyum. “Ibu sudah sadar?”
“Saya di mana?”
“Ibu di rumah sakit, tenang saja, anak Ibu sedang menunggu di luar.” Dokter menyuruh perawat memanggil Andrea.
Andrea terkejut ketika perawat menyuruhnya masuk, dia langsung berlari menemui dokter.
“Suster, saya boleh ikut masuk?” Bi Cicih memasang wajah memelas.
Suster mengernyitkan dahi, lalu tersenyum. “Boleh,” ucapnya. Bi Cicih segera masuk sambil terbungkuk-bungkuk.
“Ibu kamu sudah sadar,” kata dokter.
Andrea menutup mulutnya, tidak percaya. “Alhamdulillah, benarkah, Dok?”
Dokter tersenyum sambil mengangguk. “Ini keajaiban, berkat doa-doa kamu. Sekarang kamu bisa temui dia.”
Andrea segera menghampiri ibunya.
“Bu,” lirihnya, air matanya tidak bisa dibendung, berderai, menganak sungai, ketika melihat ibunya sadar dan menatapnya. Dari semalam dia mengharapkan ini terjadi.
Andrea tidak bisa berkata-kata, dia memeluk ibunya dan menciumi tangannya dengan penuh haru. Andrea tahu ini semua berkat Dale. Dia mencari Dale ke sekeliling ruangan, tetapi tidak ada.
“Andrea, ayahmu mana?” tanya ibunya dengan suara lemah.
Andrea terkejut, lalu menoleh kepada dokter.
“Bu Yuli jangan terlalu banyak berpikir dulu ya, Bu.” Dokter yang memberi jawaban.
“Saya permisi dulu,” kata dokter.
“Apakah saya masih boleh di sini, Dok?” tanya Andrea.
Dokter menepuk bahu Andrea. “Boleh, silakan, tetapi ingat jangan membuat Ibu terganggu dulu."
“Iya, terima kasih, Dok.”
Andrea mengusap rambut ibunya dengan penuh kasih sayang.
Bi Cicih menyaksikan di belakangnya dengan air mata berlinang. “Alhamdulillah,” gumamnya.
Sesaat tidak ada yang bersuara, selain suara ingus Bi Cicih yang tidak bisa dibendung.
“Bi, sini!” Andrea menyuruh Bi Cicih mendekat. Dia baru menyadari Bi Cicih ada di dalam.
“Bu, saya senang Ibu sudah sadar,” kata Bi Cicih, sambil memijit kaki Yuli.
Yuli memandanginya. “Ibu siapa?” tanyanya.
Andrea dan Bi Cicih saling pandang.
“Saya ....”
“Dia Bi Cicih, Bu, yang selalu membantu kita di rumah.”
Yuli terdiam, sorot matanya seperti bingung.
“Ndre, ayahmu mana?” Dia kembali menanyakan suaminya.
“Kata dokter, Ibu jangan banyak berpikir dulu. Aku ada di sini, Bu.” Andrea menyimpan kepalanya di bahu ibunya. Yuli mengusap-usap kepalanya.
“Iya, Nak.” Yuli tersenyum. “Kenapa menangis? Bukankah kamu tidak cengeng?”
“Ngga kok, aku tidak menangis," sergah Andrea, dia mengusap-usap pipinya.
“Itu, hidung kamu merah, kayak badut,” ledek Yuli sambil mencolek hidung Andrea.
“Iihh, Ibuuu ....” Andrea merengek.
Yuli tersenyum, mengusap-usap pipi Andrea.
"Kamu kok sekarang cengeng, biasanya tidak mau kalau dibilang cengeng oleh Aa Dodo."
"Eh iya, Ua sedang ke sini, lho, Bu." Mendengar nama Dodo, Andrea jadi teringat uaknya yang belum juga muncul.
"Mana?" tanya Yuli.
"Belum sampai, mungkin sebentar lagi. Andrea senang Ua mau ke sini."
Yuli tersenyum. "Ibu juga senang, walaupun tidak enak merepotkan."
"Aku jamin, Ua tidak akan repot bawa kecimpring," seloroh Andrea.
Yuli tersenyum.
__ADS_1
Bi Cicih ikut senyum-senyum dalam ingsreuk ingusnya melihat Andrea kembali ceria.
Yuli masih lemah, beberapa kali memejamkan mata seolah tidak bisa menahan mengantuk.
“Bi, tolong jaga Ibu sebentar, aku mau keluar sebentar.” Andrea pamit kepada Bi Cicih, ketika melihat ibunya mulai tidur.
“Iya, Neng.”
Andrea keluar, mengabari mereka yang ikut mencemaskannya.
Gigit adalah orang yang pertama kali dia hubungi, lalu Ren, selanjutnya Tante Dina. Pak RT dan Uaknya tidak bisa dihubungi.
Andrea memanggil Dale dengan mantranya, tetapi Dale tidak datang.
“Kamu kemana, Dal?” lirihnya. “Semoga kamu baik-baik saja,” gumamnya lagi.
Beberapa perawat masuk. “Maaf, kami harus membawa Bu Yuli untuk melakukan CT Scan,” kata salah satu perawat, senyumnya tersungging kepada Andrea dan Bi Cicih. Perawat lainnya membuka pintu lebar-lebar.
“Ibu saya tidak apa-apa kan, Sus?” tanya Andrea.
“Tidak apa-apa, kami akan memeriksanya lagi di sana. Melihat kondisi Bu Yuli, jika membaik kemungkinan sore ini bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Nanti di sana kalian bisa menemaninya.”
“Begitu ya, Sus?” Andrea melebarkan matanya.
Perawat mengangguk. “Sekarang, Ibu ikut kami ya, Bu.” Perawat bicara kepada Yuli dengan ramah. Mereka mendorong ranjang Yuli ke luar.
Andrea dan Bi Cicih ikut keluar.
**
“Dulale Dulale westin wergan wesma werma!” Ini yang ke tujuh kali Andrea memanggil Dale. Tetapi Dale tidak muncul. Hidungnya sampai mau copot disentil-sentil.
Ibuku sadar, kamu malah terpental, Dal.
Andrea putus asa, dia memutar badannya untuk pergi dari situ.
“Neng ada di sini?” Bi Cicih mengagetkannya.
“Apa, Bi?”
“Dokter ingin bicara, kata Neng suster, ditunggu di ruangannya.”
Andrea segera pergi ke ruangan dokter. Bi Cicih kembali menunggu Yuli di ruang CT Scan.
“Jadi, ibu saya harus segera di operasi, Dok?”
“Iya benar, tumornya memang masih kecil. Tetapi akan lebih baik jika dilakukan sejak awal. Sekarang kondisi Bu Yuli cukup stabil, ini keajaiban. Bu Yuli akan langsung dipindahkan ke ruang perawatan, supaya kamu bisa mendampinginya setiap saat."
“Alhamdulillah,” ucap Andrea. “Tapi, Dok, kenapa Ibu saya tidak ingat ayah sudah meninggal? Tadi juga dia tidak ingat kepada Bi Cicih. Asisten rumah tangga kami.”
“Itu sering terjadi kepada orang yang terkena tumor otak. Impitan tumor pada syaraf di kepalanya kadang akan mengganggu ingatan beliau, atau bisa juga mengganggu emosinya. Maka dari itu, saya menyarankan operasi secepatnya untuk menghindari hal yang lebih buruk." Dokter menjelaskan.
Dokter menatap iba Andrea yang termenung.
"Kamu rundingkan lagi dengan keluarga ya, Andrea. Setelah ada kejelasan, nanti saya bisa hubungi dokter ahli.”
“Baik, Dok, terima kasih.”
Andrea keluar dari ruangan dokter bertepatan dengan azan Ashar. Sehari semalam dia dirundung gelisah, suara itu menyentuh kalbunya, untuk sejenak meyakini, bahwa semua itu adalah atas kehendakNya.
Dia berbelok dulu ke musala, menunaikan kewajiban, sekaligus menyejukkan jiwa dan raganya, juga memasrahkan semuanya hanya kepada Dia, pemilik seruan seluruh alam.
Yuli sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Tante Dina meminta rumah sakit untuk menempatkannya di ruang VIP. Dia juga sudah mulai bisa makan, dan minum dengan baik.
Bi Cicih setia menemani, meskipun sesekali menelefon suaminya untuk memastikan ayam dan bebeknya pulang kandang.
Menjelang Magrib, Gigit datang, bersama Ren. Membawa makanan dan beberapa potong baju ganti.
“Aku membelinya, Gigit yang pilih buat kamu.” Ren menyerahkan baju ke Andrea.
“Iih, kamu tahu banget kalau aku belum mandi,” kata Andrea. Senyumnya sudah kembali. Gigit dan Ren menutup hidung.
Andrea masuk kamar mandi untuk mandi, dan berganti pakaian. Ren berbincang dengan Yuli dan Gigit. Mereka tampak akrab.
“Terima kasih ya, kalian sudah menjadi teman baik Andrea.”
“Iya, Tante. Tante cepat sembuh, demi Andrea yang sangat menyayangi Tante.”
Yuli tersenyum, dia melirik ke arah Gigit. “Bagaimana jalan-jalan kemarin?” Yuli ingat anaknya dibawa tukang ojek itu jalan-jalan.
“Oh, baik, Tan, kita berhasil ....”
“Berhasil cari bukunya ya, Git.” Andrea yang baru keluar dari kamar mandi segera memotong ucapan Gigit.
Gigit menatap Andrea, lalu mendukung ucapan Andrea. “Iya, Tante, bukunya ada kok.”
Andrea mengajak Gigit ke luar. Ren melihat mereka dengan heran.
“Ibuku tidak tahu ada yang mau menculikku,” bisik Andrea.
“Oh, maaf, Ndre.”
“Ngga apa-apa, Git, aku juga lupa memberi tahu kamu.”
Ren datang menghampiri. “Ada apa?”
Andrea memajukan wajahnya untuk berbisik ke telinga Ren. “Kepo,” bisiknya.
Ren mencebik, lalu menarik rambut panjang Andrea.
Gigit ingin mengikuti Ren, menarik rambutnya, tetapi Andrea langsung memasang kuda-kuda.
Gigit menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Galak amat."
“Neng.” Bi Cicih menjulurkan kepala, memanggil Andrea.
“Kenapa, Bi?” Andrea terkejut.
“Ibu tidak mengenali saya lagi,” kata Bi Cicih dengan nada pilu.
Andrea menatapnya sedih. "Yang sabar ya, Bi."
bersambung
__ADS_1