My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 95 Teka-teki Anak Tiri


__ADS_3

Jeritan Zellina mengguncang rumah besarnya. Pak Supri dan jejeran asisten di rumah itu segera berlari ke kamarnya.


“Ada apa, Non?” Pak Supri mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. “Non, ada apa?” serunya lagi. “Apa ada, Non?” Dia terus saja memanggil.


“Tidak apa-apa, kok, kalian tidak usah khawatir, aku sedang bahagia,” teriak Zellina.


Pak Supri mengusap-usap dada, paling tidak ingin nonanya itu kenapa-kenapa, karena dia yang harus bertanggung jawab kepada orangtuanya. Tidak seperti Nuri, yang lebih ke mengurus rumah, Pak Supri sudah mendapat kepercayaan penuh menjaga nona muda Zellina.


Zellina segera menempelkan ponselnya lagi ke telinga. Dia tidak menyangka, akhirnya bisa mendengar suara Dodo. Dengan terisak dia bicara, “Kak Dodo kenapa baru menghubungi aku sekarang? Aku sudah hampir mati memikirkanmu.”


“Masa sih? Baru hampir kan? Aku malah sudah pernah mati.”


“Kak Dodo!”


“Mati suri, rinduku membuatku mati suri, jiwaku mengembara, menelusuri kenangan kita, lalu siuman lagi, hehe ....” Dodo tertawa di seberang telefon.


“Iiikh, Kak Dodo apa sih?” rajuk Zellina.


“Aku kangen, Princes ilalang."


“Aku juga, Kang angon,” sahut Zellina, menggigit bibirnya sendiri. “Kamu di mana?”


“Di kota ini, besok aku akan menemuimu.”


"Aaahh, kamu di sini?" Kalau begitu cepat temui aku, Kak," rengek Zellina.


"Aku inginnya begitu, tetapi ini sudah malam. Tidak enak dengan orang tua kamu."


"Mereka tidak ada, Kak, sudah berangkat lagi ke luar negeri."


"Oya? Tetapi aku tetap tidak enak, ini sudah malam sekali. Tidak enak, masa bertamu ke rumah gadis malam sekali, nanti dikira mau nyulik kamu."


"Biarin saja, yang diculik juga mau." Zellina senyum-senyum sendiri. Tetapi dia senang, Dodo ternyata pemuda yang sopan, masih mengedepankan tata krama. Zellina jadi semakin kesengsem.


Dua sejoli itu melepas rindu lewat percakapan telefon sampai tengah malam. Dunia, udara, dan maya seolah milik mereka berdua. Orang lain hanya nebeng, karena kalau ngontrak harus bayar.


“Sudah dulu ya sayang, aku istirahat dulu, besok aku harus mengurus si Andrea. Kasihan anak itu, kerempeng-kerempeng juga dia adikku.”


“Apa yang akan Kak Dodo lakukan? Bukannya Tante Dina sudah menyewa pengacara?”


Dodo terdiam. “Aku akan menemui cowok sialan itu.”


“Kak! Aku tidak setuju. Kakak tahu siapa orang tua cowok itu?"


“Kamu tenang saja, aku pasti bisa mengatasinya.”


Dodo menutup telefonnya.


Zellina menarik nafas berat. Dia harus bisa mencegah Dodo berbuat yang tidak-tidak kepada Yadi.


**


Di rumah besar itu, Andrea tidak bisa tidur. Memikirkan kasus yang tengah membelitnya.


“Dulale Dulale westin wergan wesma werma.”


“Hoaaamm ....” Dale menguap. “Ada apa lagi, Neng?”


“Temani aku, tidak bisa tidur.”


“Neng harusnya istirahat, hari ini pasti sangat melelahkan.”


“Aku kangen ibuku." Andrea memeluk guling. "Kenapa ya, hidupku menyedihkan banget. Dari kecil ayahku meninggalkan aku, terus kakek, sekarang Ibu sakit parah, Ua istri memusuhiku, sekarang ... Ada orang yang ingin menjebloskan aku ke penjara.”


“Itu berarti, Neng orang yang kuat.”


“Kuat apa sial?”


“Huss! Tidak ada seorang pun makhluk tuhan yang sial, kecuali akibat perbuatannya sendiri.”


“Terus? Jangan bilang ini ujian, aku kan belum kelas dua belas.”


“Ini hanya cobaan.”


Andrea mendelik. “Ujian sama cobaan sama saja, dodol.”


“Pokoknya, saya harap Neng tidak berpikiran bahwa ini kesialan. Buktinya, sampai saat ini Neng Andre baik-baik saja.”


Andrea merenung. “Kamu benar. Mungkin karena takut aku akan begini, makanya Aki mengirim kamu untuk membantu.”


Dale mengusap rambutnya sendiri. “Makanya, Neng jangan ragu kalau mau perintah saya. Saat ini juga, saya bisa membuat keluarga Yadi bertekuk lutut, atau hancur lebur.”


“Hmm ... Itu bukan cara menyelesaikan masalah, Dal.”


“Setidaknya, mereka tidak punya kekuatan lagi untuk menzalimi orang.”


“Iya, tapi kita yang menzalimi kan? Terus apa tidak akan menimbulkan masalah lain? Bagaimana kalau mereka malah menyewa dukun santet, kamu yang repot kan?"

__ADS_1


Dale garuk-garuk kepala, kadang tidak mengerti dengan isi kepala Andrea. Dalam keadaan tertekan pun masih memikirkan orang lain.


Tidak begitu saja menerima bantuan, tetapi kerap mengeluh.


Dasar abege labil, batinnya.


“Seterah Neng Andre, dah.”


“Terserah,” sahut Andrea.


“Iya, seterah.” Dale merebahkan tubuhnya di karpet. Tidur berbantalkan lengannya. Pandangannya menerawang. “Lyla sedang apa ya sekarang?”


“Kalian tidak pernah bertemu lagi?”


“Belum, Neng.”


“Sori ya, Dal. Aku tidak bisa memikirkan kalian sekarang.”


“Tidak apa-apa, Neng. Hubungan kami memang sudah tidak bisa diselamatkan.”


“Memang hanyut?”


“Lyla sepertinya sudah terjebak di konde Bu Anis.”


“Jangan pesimis dulu, bilang ke Lyla, jangan jadi jin yang suka putus asa. Kalian kan sudah menjalani masalah bersama-sama, dan berhasil. Untuk itu, kalian juga pasti bisa bersatu, asal sabar, dan berusaha." Andrea mengangkat bisepnya.


Dale tidak menanggapi dengan semangat jugam


“Masalahnya, setiap laki-laki yang mendekati Bu Anis akan ketakutan, karena ada aura Lyla di sana. Bagaimana Bu Anis akan menikah?”


Andrea garuk-garuk kepala, karena sekarang malah Dale yang curhat.


“Pasti ada jalan, makanya kataku juga jangan putus asa berusaha.”


Dale terdiam, Andrea juga menekuri sprei merah motif bunga lili di depannya.


“Neng sendiri bagaimana dengan Gigit?” Dale bersuara, menggaruk punggungnya.


Belum sempat Andrea membuka mulut,


Prakk!


Jeblugg!!


Terdengar sesuatu yang jatuh dan bantingan pintu dari lantai bawah.


“Kamu lihat gih!” kata Andrea.


“Tante Dina, membanting ponselnya.” Dale melapor.


Andrea menautkan kedua alisnya. “Kenapa?”


Dale mengangkat bahu. “Mungkin ada tikus,” sahut Dale.


“Ck, masa banting tikus pakai HP? Sultan juga tidak akan mungkin begitu.”


Andrea penasaran, dia turun. Mengendap-endap mendekati kamar Tante Dina, diikuti Dale.


Klutrakk!


Kamar Tante Dina terbuka.


Andrea terperanjat, dia buru-buru berbalik, bertubrukan dengan Dale.


“Kamu belum tidur, Ndre?” Ternyata Tante Dina melihatnya.


Tante Dina menatapnya. Wajahnya terlihat sembab. Andrea merasa ada tatapan lain dari mata Tante Dina.


“Belum, Tante. Ini, tadi aku mendengar ...."


“Sebaiknya kamu tidur.” Tante Dina kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan perlahan.


Andrea dan Dale kembali ke lantai atas.


“Sudah percaya sekarang? Sepertinya di kamar Tante Dina ada tikus.”


“Maksudnya?”


“Dia terlihat masih kesal.”


“Sama tikus?”


“Sama Om Azi.”


Andrea menghentikan langkahnya di tangga. “Lama-lama kamu kayak jaka sembung ya, Dal?”


“Kenapa?”

__ADS_1


“Kagak nyambung!” ketus Andrea.


Mereka kembali memasuki kamar.


“Sekarang kamu selidiki, cari tahu apa yang telah membuat Tante Dina sedih.”


“Sayapp, Neng!”


Dale masuk ke dalam ponsel Tante Dina, menyusuri gelombang sinyal yang masih hangat.


Andrea sedang menatap foto-fotonya bersama Gigit, ketika Dale muncul lagi, dengan rambutan hutan di tangannya.


“Neng, ternyata Gigit!” serunya. Mulutnya mengunyah rambutan.


“Iya, ini aku waktu sama Gigit.” Andrea tetap melihat gawainya.


"Bukan itu, Neng," kata Dale.


“Eh, kok sudah kembali?” Dia baru sadar, Dale sudah ada di kamarnya lagi secepat itu.


“Ternyata, Om Azi itu ....” Dale menelan rambutan, beserta bijinya. “Uhuukk!”


“Ternyata apa?”


Dale memegang lehernya. Matanya mendelik.


Plakk! Plakk!!


Andrea memukul leher belakang Dale.


Tuiing!


Biji rambutan mencelat dari mulut Dale.


“Alhamdulillah, ngacleng,” ucap Dale.


“Makanya kalau makan, berdoa dulu!”


“Iya, Neng. Lupa.” Dale mengusap-usap lehernya. “Terlalu semangat, makan ini, rambutan khas dari Malaysia.”


“Masa sih? Perasaan di sini juga ada, rambutan mah.”


“Kata penjualnya sih gitu, rambutan khas dari Malaysieu, katanya.”


“Kamu ke Malaysia?”


Dale mengangguk sambil cengengesan. “Rambutan ini baru turun dari truk, katanya dari kampung durian runtuh.”


“Wah, kampungnya Upin dan Ipin itu,” kata Andrea. “Terus, tadi ada apa dengan Om Azi?” Andrea tidak sabar.


“Oiya, ternyata Om Azi ....”


Tintintiiin!


Suara klakson terdengar. Andrea melihat dari balik jendela.


“Siapa yang datang?”


Dale mengikutinya.


Andrea mengerutkan dahi. Dia memicingkan mata, melihat mobil memasuki pintu gerbang. Dua orang turun dari mobil, sepertinya mau berganti menyetir.


"Sepertinya itu Om Azi."


“Iya, Neng. Itu Om Azi."


"Bukannya dia di Malaysia?"


"Sudah pulang."


"Terus kamu ngapain ke Malaysia?"


"Kan mengikuti sinyal, hehe. Ke Malaysia dulu, terus saya ikuti lagi, eehh balik lagi ke Indonesia."


"Euuhh, dasar! Bilang saja mau jalan-jalan."


"Coba Neng lihat siapa yang satunya lagi!"


Andrea melihat ke arah mobil lagi. Kegelapan malam tidak membuat matanya kesulitan, karena memang halaman rumah lampunya terang, dan dia sangat kenal sekali dengan sosok itu. Sosok cowok yang sedang dia rindukan.


"Gigit?" gumamnya. Dia hampir saja berlari untuk turun, tetapi tidak jadi. "Sedang apa dia di sini?"


"Itu tadi yang ingin saya sampaikan, ternyata Om Azi itu ayahnya Gigit." Dale menjelaskan.


“Whats?” Andrea mundur selangkah, badannya condong ke belakang, tangan kananya menutup mulut.


Terdengar suara mobil kembali. Andrea buru-buru melihatnya, tetapi mobil sudah mundur dan pergi.

__ADS_1


"Gigit anaknya Om Azi? Anak tirinya Tante Dina? Andrea menatap Dale. Dale mengangkat bahu.


bersambung


__ADS_2