My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 73 Reuni Kecil-Kecilan dengan Mantan Juragan Kecil


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap. Ren dan Zellina menyelinap di antara orang-orang yang berkerumun ikut menyongsong Andrea, yang langsung dibawa ke pos pengelola wisata air terjun.


Di sana sudah banyak orang-orang yang menunggu juga, rupanya berita tentang pengunjung yang masuk ke jurang sudah menyebar ke masyarakat lokal.


Mereka berbondong-bondong ingin tahu kejadiannya. Pengelola sampai kesulitan untuk mencegah masyarakat memenuhi area air terjun.


“Dia selamat, tetapi tolong beri kami jalan. Dia tidak apa-apa, baik-baik saja."


Masyarakat tetap berkerumun.


“Orang kota katanya ya?"


“Nekat sendirian ke puncak.”


“Ditolong pacarnya.”


“Bukan, kakaknya.”


“Kakak ketemu gede kali.”


“Huss.”


“Tidak tahu apa ya, kalau di sini dilarang pacaran.”


“Iya, suka ada yang sirik.”


“Memang sedang pacaran?”


“Yang menolong kan pacarnya.”


"Katanya kakaknya?"


"Kakak ketemu gede!"


Suara-suara sumbang masyarakat terdengar dari sana-sini. Mereka sengaja datang dengan membawa senter, menjadikan peristiwa kecelakaan itu layaknya hiburan gosip Infotainment. Digosok sedikit saja, semakin sip, untuk disebarkan lebih besar besoknya.


Pengelola wisata yang ketar-ketir, takutnya kejadian itu menjadi masalah untuk kelangsungan tempat wisata itu. Makanya, sebisa mungkin mereka memberitakan bahwa korban baik-baik saja.


“Ya Allah, Andrea.” Zellina menjerit ketika berhasil menerobos kerumunan orang-orang.


“Sebaiknya bawa ke mobil saja, Pak. Kami bawa mobil,” kata Ren.


“Kalian siapa?” tanya pengelola.


“Saya temannya, dia datang bersama kami. Kakaknya tadi ikut menyusul ke atas, tidak ikut turun?" tanya Ren.


“Kakaknya masih di atas, tadi tidak bareng. Baiklah, kalau begitu kita harus membawanya ke rumah sakit," kata salah seorang tim penyelamat.


“Kakaknya sedang apa?” tanya Zellina.


Anggota tim itu menggelengkan kepala, tanda tidak tahu.


Ren menghubungi Gigit lagi, dari tadi dia menghubunginya tetapi tidak diangkat.


“Bagaimana?” tanya Zellina.


“Dia tidak mau angkat.” Ren memandangi gawainya. "Padahal tersambung."


“Ck, biar aku yang cari.” Zellina beranjak.


“Eh, dia menghubungi.” Ren melihat gawainya. Ada panggilan dari Gigit.


“Hallo, Git, kamu di mana? Andrea celaka, dia masuk jurang. Kita harus membawanya segera ke rumah sakit!”


Hening.


"Hallo, Git?"


Tidak ada jawaban dari Gigit, selain suara krasak krusuk sesuatu terinjak.


Ren manatap gawainya.


"Kenapa? Di mana Gigit?" tanya Zellina.


Ren mengangkat bahu. "Dia menutup telefonnya."


Andrea segera dibawa ke mobil. Dia sadar, tetapi masih lemah. Ren dan Zellina menggenggam tangannya.


“Kamu yang sabar ya, Ndre. Kita akan ke rumah sakit,” kata Ren.


Setelah sampai di mobil, ternyata Gigit tidak ada. Ren dan Zellina kembali panik karena kunci mobil ada pada Gigit.


“Bagaimana ini?” tanya petugas pengelola.


“Teman kami tidak ada, dia membawa kunci mobilnya.” Ren melihat kanan kiri.


Akhirnya Andrea dibawa memakai mobil bak terbuka yang ada di sana.


“Aku menunggu Kak Dodo dan Gigit saja di sini, Ren. Kamu ikut sama Andrea, nanti aku menyusul," kata Zellina.


Entah kenapa dia juga mengkhawatirkan Dodo. Takut terjadi apa-apa dengan cowok penyusup itu.


"Kamu yakin?" tanya Ren.


"Iya, kamu naik saja!"


“Oke, kamu hubungi terus Gigit, Pak Supri atau siapa pun, jangan matikan telefon kamu.” Ren naik ke atas mobil.


Zellina mengangguk, dengan hati waswas juga berada di sana sendiri. Meskipun banyak orang, tetapi dia tidak kenal. Harapannya tentu saja Dodo segera datang.


Pak Supri akhirnya bisa dihubungi, dia segera meluncur untuk segera ke sana.


“Pak Supri, jangan pakai lama. Aku bisa mati ketakutan di sini!” teriak Zellina.


“Iya, Non, tenang, Non. Saya sekarang ke sana.” Suara Pak Supri terdengar gugup di seberang telefon.


Zellina merengut, hampir setengah jam dia berdiri di situ.


“Zellin, bagaimana Andrea? dibawa ke mana?” tiba-tiba Dodo datang dari belakangnya, bajunya kotor tidak karuan.


“Ah, akhirnya Kakak datang.” Tanpa sadar Zellina memeluk Dodo.


Dodo tentu saja merasa kejatuhan bulan. Dia terpaku, tidak bisa berkata-kata. Zellina juga memakai jaket miliknya, dia tentu tidak akan mencucinya seumur hidup.


Menyadari Dodo tidak bergerak, Zellina buru-buru melepaskan pelukannya. Dia mengusap-usap air mata di pipinya.


“Andrea di bawa ke rumah sakit, aku takut, menunggu Gigit di sini.”


“Sebaiknya kita susul Andrea saja.” Dodo meraih tangan Zellina, lalu membawanya ke tempat motornya diparkir.


“Tapi Gigit?” Zellina juga masih harus khawatir kepada Gigit.


“Biarkan saja, dia cowok.” Dodo menatap mata Zellina, lalu melirik tangan mereka yang kini bertautan. Rasa mereka kini bercampur aduk, entah apa. Dodo menuntunnya lagi.


Zellina segera naik ke atas motor Dodo.


Motor melaju belum jauh ketika Dodo mengerem mendadak, karena tiba-tiba ada seseorang melintas.


Zellina menahan nafas, dadanya menekan punggung Dodo. Membuat Dodo juga menahan nafas.


“Enjang! Hampir kamu ketabrak, keur naon di dieu?” Dodo berteriak.


“Aaa ... Aaaa ... Aaa ....” Enjang menggerak-gerakkan tangannya. Dia memegang sebuah ponsel.


Dia berlari ke semak-semak.


Dodo dan Zellina melihatnya bingung.


“Siapa dia?” tanya Zellina, dia seperti mengenal suara itu, tetapi entah di mana.


“Dia cucunya teman Aki. Sepertinya ada sesuatu,” kata Dodo. “Sebaiknya kita turun.”


Dodo dan Zellina turun dari motor. Enjang berjalan cepat, menuju semak-semak dengan tidak henti-hentinya berteriak tidak karuan.


Zellina dan Dodo terbelalak, ketika melihat seseorang bersandar di pohon, tidak sadarkan diri.


“Gigit! Ya Tuhan, itu Gigit.” Zellina berteriak. Mereka segera menolong Gigit.


Berdua dengan Enjang, Dodo membawa Gigit ke pinggir jalan. Mendudukkannya dekat motor.

__ADS_1


Zellina menahan punggung Gigit dengan bahunya.


“Git, Gigit, sadar Git!” Zellina menepuk-nepuk pipi Gigit. Luka lebam tampak di pipi kanan Gigit. Ada darah di sudut bibirnya.


“Kunaon?” tanya Dodo kepada Enjang.


Enjang menggeleng-geleng kepala, dia menyerahkan ponsel yang dipegangnya.


Zellina melihatnya. “Itu ponsel Gigit. Mungkin dia mendengar ponsel Gigit berbunyi.” Zellina mengambil gawai yang dipegang Enjang. "Mungkin dia tadi yang menelfon Ren," lanjut Zellina.


“Punya minyak angin atau apa saja?” tanya Dodo.


Zellina merogoh-rogoh tasnya.


“Ada juga ini.” Zellina menyerahkan parfumnya.


Dodo membuka tutup botolnya.


“Itu spray,” kata Zellina.


“Iya, tahu. Masa mau disemprotkan ke hidungnya.” Dodo menuangkan sedikit parfum itu ke jarinya, lalu mendekatkan ke hidung Gigit.


Zellina akhirnya mengerti, tadinya dia sudah khawatir, parfum mahalnya akan diguyurkan ke wajah Gigit.


Gigit akhirnya sadar.


“Git, kamu kenapa?” Zellina memegang bahu Gigit.


Gigit meringis, memegangi lengannya. Dia melihat Dodo, lalu bangkit pelan-pelan.


“Tanyakan saja sama dia!” kata Gigit. Di menarik tangan Zellina. “Kita pulang sekarang.” Dia berjalan dengan terhuyung.


“Git, ini ada apa?” tanya Zellina.


“Mana yang lainnya?” tanya Gigit, sambil terus menarik tangan Zellina.


“Jangan kasar dengan cewek!” Dodo menghadangnya.


“Minggir! Preman kampung seperti kalian mana mengerti menghormati cewek.” Gigit tidak kalah marah, matanya setajam serigala.


Dodo mengepal, dia menatap Gigit dengan sorot mata tidak kalah tajam. Memghujam.


"Maksud lu apa?" berang Dodo.


"Seharusnya aku yang tanya, apa maksud geng kampungan kamu?"


Gigit tidak gentar, dia berjalan, menuntun Zellina sambil menubruk bahunya.


Zellina tidak mengerti apa yang terjadi kepada Gigit, dia menurut saja berjalan mengikuti Gigit. Bagaimanapun, Gigit yang lebih dulu jadi temannya, sedang Dodo baru beberapa jam kenal.


Dodo tetap di tempatnya. Enjang melihat mereka dengan pandangan bingung.


“Di mana yang lainnya?” Gigit bertanya lagi kepada Zellina, setelah sampai di mobil.


“Sudah selesai menyeretku paksa?” tanya Zellina. Zellina menyerahkan ponsel Gigit.


“Zell, aku menyelamatkanmu.”


“Menyelamatkan aku dari apa?”


“Aku dipukuli teman-temannya tanpa alasan.” Gigit bicara sambil membuka pintu mobil.


“Apa?" Zellina tercengang.


“Mungkin mereka disuruh Dodo.”


Zellina menutup wajahnya. Dia merasa lelah dengan semua ini. Masalah timbul bertubi-tubi. "Masa sih? Kamu yakin itu teman-temannya?"


"Aku melihat mereka bareng menyusul ke sini."


Zellina menekur.


“Yang lain ke mana?” Gigit bertanya yang ketiga kalinya.


“Ke rumah sakit. Andrea masuk jurang, dia dibawa ke rumah sakit, Ren bersamanya,” lirih Zellina.


Dodo masih di tempat yang tadi ketika mereka lewat. Gigit tidak menolehnya, dia menginjak gas dengan kencang.


Zellina melihatnya dari spion, Dodo menaiki motornya.


Mereka menuju rumah sakit sesuai posisi Google Maps dari Ren. Untungnya sinyal sedang bersahabat, jadi mereka tidak harus lama mencari lokasi rumah sakitnya.


Mobil berhenti di depan rumah sakit umum daerah sana. Tidak lama kemudian Dodo datang.


Mereka langsung menuju UGD, tempat Andrea mendapat penanganan.


Beberapa orang pengelola tempat wisata ada di sana, termasuk Ren yang segera menyongsong mereka.


“Kamu dari mana saja, Git?” tanya Ren. Wajah kamu kenapa?”


Gigit tidak menjawab, dia malah balik bertanya, “Bagaimana Andrea?”


“Dia masih ditangani, dokternya baru datang dari salat maghrib.”


“Bagaimana kejadiannya?” tanya Gigit.


“Aku juga tidak tahu pasti, mendengar dari Kakak tim penolong ini, katanya Andrea terperosok.” jawab Ren. “Mungkin Kak Dodo tahu,” lanjutnya. Dia menatap Dodo, yang berdiri agak jauh dari mereka.


Para pengelola yang ada di sana menyimak pembicaraan mereka.


“Iya, Aa ini berani sekali, menolong dengan sigap Teteh tadi ketika jatuh," kata salah satu dari mereka.


Gigit meliriknya dengan ujung matanya.


Tanpa sepatah kata, Dodo berbalik, pergi keluar. Semua yang ada di sana melihatnya heran.


Zellina menyusulnya. Dia membuka jaket yang dipakainya.


Dodo duduk di motornya. Zellina menghampirinya.


“Ini jaketnya, terima kasih.” Zellina menyerahkan jaket.


“Pakai saja, saya sudah terbiasa dingin.” Dodo melipatkan tangannya di dada. Keduanya terdiam.


Zellina menyimpan jaket Dodo di motor, lalu berjalan hendak kembali ke dalam.


“Kamu percaya sama ucapan dia?” tanya Dodo.


Zellina menghentikan langkahnya. “Maaf, Kak. Sekarang keadaannya sedang kacau, semua orang tidak bisa berpikir jernih. Maaf kalau Gigit salah bicara, tetapi keadaan Andrea lebih penting untuk kita pikirkan dulu." Zellina sedang memakai kewarasannya.


Dia berjalan masuk kembali ke dalam rumah sakit.


Dodo menekur, dia merasa ucapan Zellina ada benarnya juga.


“Kamu sedang apa di sini? Andrea di dalam, dia baru saja kecelakaan. Kata Andrea kamu selalu menjaganya." Dodo bicara sambil menatap lurus ke depan.


Dale mengernyitkan dahi. Biji kedondong menempel di sudut bibirnya.


“Benar, Den? Kok sukma saya tidak merasakan apa-apa?" Biasanya Neng Andre digigit nyamuk saja, sukma saya langsung kesedot." Dale malah berpikir.


"Oh, kejadiannya mungkin ketika saya masih ditawan." Dia sendiri yang memberi jawaban.


"Jadi benar kamu menjaganya?" tanya Dodo.


Dale mengangguk.


"Kok, dulu waktu sama aku, kamu tidak menjagaku? beberapa kali kejedot, kepentok, kejebur juga. Kamu malah ngetawain." Dodo bicara sengit.


"Ya beda atuh, Den. Aden mah laki-laki, tidak ada perjanjian saya menjaga Aden. Saya dikontrak untuk menjaga cucu perempuan Juragan Karsijan."


"Pilih kasih," ujar Dodo. Tetapi sekarang dia merasa tidak cemburu lagi sama Andrea, kasihan malah. Mungkin ada kaitannya dengan perasaannya kepada Zellina.


“Dia belum tahu kalau kamu sudah bebas, ayo sana, sembuhkan dia!”


“Tentu, Den. Saya pasti ke sana kalau Neng Andrea memanggil.” Dale menghisap-hisap biji kedondong, seperti menghisap tutut pedas.


Dodo terlihat kesal. “Dari dulu, kelakuanmu membuat kesal saja, inisiatif kek, dodol!” bentak Dodo.


“Dodol mah nama Aden, kalau ditambah L.”

__ADS_1


“Heuuhhh!!” Dodo menggeplak kepala Dale. “Tampang saja orang Korea, otak kayak robot doyok,” lanjutnya.


Dodo beranjak, dia masuk kembali ke dalam. Meninggalkan reuni kecil-kecilannya dengan Dale.


Kebetulan dokter keluar dari ruangan, dia tersenyum kepada semua yang ada di sana.


“Tidak usah khawatir, dia gadis yang kuat, tidak apa-apa, hanya shock, dan butuh istirahat.”


Semua yang ada di sana bernafas lega, termasuk Ren dan Zellina.


“Boleh kami melihatnya, Dok?” tanya Ren.


“Boleh, sebentar lagi juga bisa dibawa pulang, menunggu diperban dulu.”


“Terima kasih, Dok,” kata Ren dan Zellina. Dokter mengangguk-angguk.


Dodo segera masuk, mendahului Ren yang bersiap masuk.


Ren dan Zellina berpandangan. Gigit masih melihatnya dengan geram.


“Biar saja, dia kakaknya,” kata Ren.


Tim penolong dari pengelola berpamitan, mereka lega mendengar Andrea tidak apa-apa.


“Maaf, kami tidak bisa menemui ke dalam, tetapi administrasi rumah sakit ini sudah kami selesaikan.”


“Oh, iya, terima kasih atas bantuannya, Kakak-Kakak.”


“Lain kali, kalau mendaki jangan sendirian. Apalagi baru pertama kali, dan tidak tahu medan.”


“Baik, terima kasih.” Ren tersenyum.


Tim penolong dan pengelola air terjun segera berpamitan dan pulang, mereka lega karena tidak harus berurusan dengan yang berwajib.


“Lagian siapa yang mau mendaki lagi, aku kapok,” bisik Zellina.


“Jangan bilang kapok, nanti ketagihan,” bisik Ren.


“Dihh, enggak mungkin.”


Ren mencibir, lalu menghampiri Gigit yang dari tadi hanya duduk menekur. “Kamu tidak apa-apa, Git?” tanyanya.


Gigit beranjak. "Aku mau mencari musala."


"Oke, nanti kita menyusul." Ren sangat respek sama cowok yang sangat tahu waktu.


“Dia diserang teman-temannya Kak Dodo,” kata Zellina, memandangi punggung Gigit.


Ren memandangi wajah Zellina. “Alasannya?”


Zellina mengangkat bahu. Ponselnya berdering. Pak Supri menelefon.


“Non di mana? Saya di air terjun, tidak ada siapa-siapa.”


“Telat, aku di rumah sakit!” kata Zellina.


“Waduh,” seru Pak Supri.


“Kenapa?” tanya Zellina.


“Ojeknya sudah pergi. Saya di sini sendirian.” Pak Supri terdengar panik.


“Bodo amat!” seru Zellina.


“Non ... Non ... Halooow!” Pak Supri berteriak-teriak dari air terjun. Zellina menutup gawainya.


“Kebanyakan molor sih,” rutuk Zellina.


Ren meraih bahu Zellina. "Kita susul Gigit dulu, yuk!"


Mereka beranjak, menyusuri lorong rumah sakit.


**


“Aa,” panggil Andrea. Dia melihat Dodo berdiri di pintu masuk UGD.


Perawat sedang memasang perban di pelipisnya.


Dodo menghampirinya, memerhatikan perawat yang sedang bekerja.


“Dia sudah bebas, panggillah!” kata Dodo, ketika perawat sedang mengambil sesuatu di tempat lain.


Andrea memandangi Dodo dengan mata berbinar, dia tidak menyangka Dodo akan melakukan itu untuknya.


Dodo hendak keluar lagi.


“Aa mau ke mana?”


“Pulang, teman-teman kamu di luar, sebaiknya kamu pulang bersama mereka saja.”


“Aa,” panggil Andrea lagi. Dodo berhenti melangkah, dia diam memunggungi Andrea. “Terima kasih,” lanjut Andrea.


Dodo berjalan lagi untuk meneruskan ke luar ruangan.


Andrea melihat ke arah perawat yang sedang membereskan peralatan. Dia memejamkan mata, lalu membaca mantra seperti biasa.


“Dulale Dulale, westin wergan wesma werma!”


“Neng!"


Andrea tergugu, dia senang sekali bertemu lagi dengan Dale. Kalau saja tidak ingat ada perawat di sana, dia sudah memeluknya dan menangis sesenggukan.


“Saya permisi sebentar, nanti kembali lagi,” kata perawat.


“Baik, sus.”


Andrea memandangi Dale. “Kenapa kamu masih di sini?” tanya Andrea.


“Memangnya saya harus ke mana, Neng?”


Andrea memegangi kepalanya yang masih cekot-cekot. “Lyla malam ini mau dinikahi Byork, kamu tidak tahu?”


Dale menekur. “Tahu.”


“Terus kenapa masih di sini?”


“Saya tidak bisa melakukan apa-apa, Lyla bukan tanggung jawab saya.”


“Kamu rela kehilangan dia?”


“Ngga.”


Andrea memegangi kepala lagi. Dia tidak ingin perjuangan dan pengorbanannya sampai saat ini gagal begitu saja.


Selama ini dia sudah kesampingkan urusan yang lain, meninggalkan ibunya, dan sekolah demi menyelamatkan makhluk semi robot ini.


“Sekarang, aku perintahkan kamu untuk menolong Lyla, melawan Byork. Kalahkan setan jahat itu. Bawa kembali sukma Bu Anis dari tawanan Byork!” perintah Andrea.


“Sayap, Neng. Terima kasih atas pengertiannya.” Dale raib.


Bahu Andrea terkulai, sambil geleng-geleng kepala.


Bersamaan dengan itu, Ren, Zellina, dan Gigit masuk.


“Syukurlah kamu tidak apa-apa, Ndre.” Ren memeluk Andrea yang terduduk di ranjang.


Zellina menyenderkan kepalanya di pundak Andrea.


“Kita pulang saja yuk, Ndre,” lirihnya.


Andrea memegangi tangan Ren dan Zellina.


“Terima kasih ya, kalian sudah temani aku. Aku tidak tahu kalau kalian tidak ada.”


Ren dan Zellina memeluk Andrea sambil menangis.


Gigit hanya bisa memandangi mereka.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2