My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 88 Antara Bogor, dan Malaysia


__ADS_3

Esoknya, pagi-pagi sekali Tante Dina sudah menjemput ditemani Om Azi, suaminya. Andrea yang kini sedikit ramah, menyambutnya, lalu segera bersiap untuk mengantarkan ibunya ke Bogor.


“Kamu sudah sarapan?” tanya Tante Dina.


Andrea menggeleng. Dia memang lupa menyiapkan sarapan. Masih terbiasa langsung ‘hap’ makan, dibikinkan ibunya atau Bi Cicih.


“Kebetulan, kita bawa ini.” Om Azi mengangkat tinggi-tinggi keranjang piknik, dan satu kotak besar susu cair. Senyumnya semringah, tetapi Andrea tetap saja melihatnya sebagai tindakan sogokan.


“Tidak usah repot-repot, Om.” Andrea tersenyum hambar kepada lelaki perlente itu.


“Ngga, ini cukup untuk kita semua. Om dan Tante mau numpang sarapan di sini.” Om Azi menyerahkan kotak sarapan kepada Tante Dina.


“Iya, itu betul, Ndre. Yuk kita ajak ibu kamu!” Tante Dina mengajak Andrea ke kamar ibunya.


Ibunya menyambut dia dengan wajah berbinar. Dia sudah rapi, atas bantuan Andrea. Andrea melirik ke arah mereka, masih curiga.


“Din, kamu sudah datang?”


Tante Dina tersenyum. "Kelihatannya kamu lebih segar, Yul. Cantik sekali hari ini."


Yuli tersipu. "Alhamdulillah, ngga tahu nih, Andrea suruh aku pakai baju ini."


"Hmm, Andrea memang berselera sekali. Pandai membuat ibunya kelihatan lebih muda." Tante Dina mengerling nakal kepada Andrea.


Andrea tersenyum simpul.


“Kalau begitu, kita sarapan dulu, Yul!”


Tante Dina memapah Yuli ke meja makan.


Andrea memerhatikan keakraban dua sahabat itu. Sekarang dia lebih yakin kalau Tante Dina memang tulus membantu ibunya.


Anehnya, ibu tidak pernah merasa lupa dengan mereka. Padahal kepada aku dan Bi Cicih sering banget lupa.


Mereka sarapan bersama, roti isi dan susu kotak besar yang juga dibawa Om Azi. Sarapan orang gedongan, tetapi Andrea lebih suka makan nasi goreng terasi plus telur ceplok. Bikin kenyang. Atau jajan siomay plus bakso di sekolah, kenyangnya sampai sore.


Makan roti yang besarnya karena kembung begitu malah cepat lapar lagi. Perut karet memang begitu.


Dale nangkring di atas kulkas, makan salak semalam.


“Salaknya banyak banget, Ndre?” Tante Dina melirik ke keranjang salak di dekat meja dapur. Andrea lupa menyembunyikannya semalam.


“Oh, iya, itu kemarin dikasih tetangga, Tante.” Dia mengarang cerita.


“Siapa, Ndre? Kok Ibu tidak tahu?” Ibunya mengerutkan dahi.


Andrea terdiam, mencari alasan.


Nahh, mampus dah. Harus jawab apa ini? Si Dale malah cengengesan lagi. Andrea membatin, sambil melirik Dale.


“Aku lupa memberi tahu, Bu. Itu dari ... Mamanya Mawar, Komplek belakang.” Andrea sengaja menyebut tetangganya yang jauh, agar ibunya tidak kepo lebih lanjut.


“Oh, yang orang Jogja itu? Pasti salak pondoh.” Yuli berbinar.


Andrea menelan ludah, ternyata ibunya ingat sama dia. Sama Bi Cicih aja sering lupa, yang tiap hari ketemu. Emang niat buruk itu selalu merepotkan. Andrea garuk-garuk hidung.


“Tanggung sendiri tuh, kalau sudah berbohong, pasti akan diikuti kebohongan-kebohongan lainnya,” kata Dale.


Andrea meliriknya lagi dengan kesal.


Iya kali, aku bilang itu salak kamu yang bawa, Dal. Dasar jin kurang kerjaan ngapain juga bawa salak sekeranjang tadi malam.


“Kamu suka salak, Yul?” tanya Om Azi.


“Suka banget, Kang.”


“Iya, Yuli memang suka salak dari sejak dulu. Tahu enggak, Sayang? Dia ini pernah keselak biji salak ketika di panti dulu. Untung saja ibu panti segera memukul lehernya. Kalau enggak, tahu tuh jadinya bagaimana.” Tante Dina menyentuh tangan Om Azi.


Andrea menjadi kikuk melihatnya. Tetapi dia juga iri dengan mereka, romantis-romantisan di depan matanya, disaat sedang galau kehilangan Gigit.


“Wah, benar itu, Yul?” Om Azi melotot. “Kok bisa? bahaya banget itu."


Yuli tertawa kecil. “Kamu masih ingat, Din?”


“Ingat atuh, kan kita mencuri salaknya sama-sama dari kebun orang.” Tante Dina cekikikan sama Yuli.


"Zaman dulu, makanan susah sekali ya. Sampai harus nyolong di kebun orang seperti itu." Yuli menerawang.


Andrea ikut tersenyum kecil mendengar cerita kedekatan mereka berdua dulu. Ibunya memang dibesarkan di panti asuhan bersama Tante Dina, jadi mereka benar-benar sangat dekat. Jahat banget andaikan dia masih saja tidak percaya kepada ketulusan Tante Dina.


“Nanti di Bogor juga ada salak. Gede lagi.” Om Azi bicara sambil menghabiskan sisa roti di tangannya.


“Masa sih, Pah? Salak apa?” tanya Tante Dina, diikuti mimik wajah Yuli yang penasaran.


“Gunung salak,” kelakar Om Azi.


Mereka bertiga tertawa, Andrea hanya tersenyum kecil. Entah kenapa, perasaan dia kepada Om Azi masih saja kurang suka, padahal Om Azi sendiri terlihat sangat baik, selain terlihat kaya juga.


“Hahahahaaa ....” tiba-tiba Dale tertawa, dia telat menyadari kelakar Om Azi. Saking kencangnya tertawa, kulkas di bawahnya sampai bergoyang, menimbulkan bunyi botol minuman di dalamnya.


Yuli, Tante Dina, dan Om Azi terkejut.


“Apa ada gempa bumi?” tanya Tante Dina.


Om Azi melihat lihat sekeliling ruangan, tidak ada yang berubah atau bergoyang.


“Mungkin tikus,Tante,” kata Andrea.


“Tikus masuk kulkas?” Kedua alis Tante Dina bertautan. Entah jijik, entah takjub, jika memang benar ada tikus di dalam kulkas. Masuknya dari mana coba?


“Tikus masuk got juga banyak, Tan,” sahut Andrea lagi. Mencairkan suasana tegang, dengan sedikit berkelakar. Dan berhasil, mereka tertawa lagi, lalu melupakan kulkas bergoyang secepatnya.


Andrea kembali mendelik ke arah Dale. Dale cengengesan.


Satu yang sampai saat ini dia penasaran, kenapa Tante Dina menikah ibunya tidak memberitahu dia? Apakah menikahnya diam-diam? Kalau melihat dandanan, serta tongkrongannya, Om Azi adalah orang terpandang. Wajahnya berumur, tetapi terawat. Wajah orang beruang. Kalau bukan crazy rich, setidaknya pejabat. Jangan-jangan ...

__ADS_1


Andrea membuang pandangan, ketika Om Azi memergokinya sedang memandanginya.


**


Semakin dekat ke tempat tujuan, hati Andea semakin gelisah. Sebentar lagi dia akan berpisah dengan ibunya. Sepanjang jalan dia memeluk tangan ibunya.


Om Azi melihat dari spion depan.


“Sepertinya ada yang tidak mau berpisah nih,” ujar Om Azi.


Tante Dina yang duduk di sebelahnya melihat ke arah Andrea.


Yuli tersenyum. Selain wajah pucatnya, tidak ada tanda-tanda dia sedang sakit parah. Selama perjalanan parasnya terlihat sangat ceria, bahagia.


Berbeda dengan Andrea yang terus merengut, sesekali hanya tersenyum dipaksakan.


Mereka akhirnya sampai di tempat pengobatan alternatif itu. Yuli di sambut ramah oleh pemilik klinik, karena memang Yuli adalah pasien yang sudah mereka tangani lama.


Tempatnya tenang dan adem, membuat kerasan. Selama di sana Andrea tidak pernah melepaskan tangannya dari Yuli.


Sampai waktunya pulang Andrea menangis, berat berpisah dengan ibunya.


Yuli sendiri terlihat lebih tegar. “Jangan manja, jaga diri kamu baik-baik. Ibu janji akan cepat sembuh, dan pulang.”


Andrea mendorong tubuhnya, dia tidak sanggup menatap wajah ibunya. “Iya, Bu.” Ucapannya berat, sambil menunduk dia menghapus air mata di pipinya.


Tante Dina meraih bahunya, mereka pulang tanpa berkata apa-apa lagi.


Yuli masuk ke kamar yang telah disediakan klinik. Setelah itu dia menyenderkan punggungnya di pintu. Menangis sesenggukan. Kesedihan yang ditahannya sejak pagi tumpah juga. Dia tidak ingin memperlihatkan kesedihan di depan Andrea.


Dari sejak awal dia berpura-pura tegar, demi ketenangan anaknya itu.


Sebenarnya dia masih sangat khawatir kepada Andrea, karena ancaman kakak iparnya itu.


“Kalau Andrea masih menuntut warisan ini dijual, Teteh tidak akan segan-segan membuatnya celaka. Jangan pikir karena jauh Teteh tidak akan bisa melakukan apa-apa. Teteh bisa melakukan apa saja, camkan itu!”


Kata-kata Bu Nisma di telefon, masih terngiang di kepalanya. Dia juga tidak mengerti, kakak iparnya bisa berubah seperti itu, padahal selama ini sangat menyayangi Andrea.


Sakit kepala menyergapnya lagi, dia sempoyongan ke ranjang. Seorang pegawai yang kebetulan masuk segera menolongnya.


**


Perjalanan ke Bogor sebenarnya tidak lama, kalau tanpa macet. Berhubung macet, mereka baru sampai lagi agak malam.


Andrea sengaja meminta turun di sebuah cafe kepada Om Azi. Dia sudah ada janji dengan Ren, yang dihubunginya untuk ketemuan.


“Kamu yakin turun di sini, Ndre?” tanya Tante Dina.


“Iya, Tan. Tuh, teman aku sudah menunggu.” Andrea melambaikan tangan ke arah Ren yang sudah duduk di dalam cafe. Ren membalasnya. “Tante tenang saja, nanti aku pulang pakai ojek online,” lanjutnya.


“Okelah kalau begitu, kamu hati-hati ya,” kata Tante Dina.


“Baik, Tante, Om, terima kasih.” Andrea berjalan masuk ke kafe.


“Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi Om atau Tante ya, Ndre.” Om Azi bicara dari belakang kemudi.


Ren menyambutnya. Mereka berpelukan, seperti tidak bertemu setahun.


"Wah, itu suami Tante Dina?" tanya Ren.


Andrea mengangguk.


"Keren ya," lanjut Ren.


"Dih, sejak kapan kamu suka bapak-bapak?"


"Ah, kamu mah. Kamu dari Bogor ngapain?” tanya Ren.


“Ibu dirawat di sana.”


“Terus?”


“Ya, aku sendirian di rumah.”


“Serius?” Ren menatap Andrea.


“Tujuh rius. Akhirnya aku mengalami juga dengan apa yang kamu alami, Ren.”


Ren mengaduk jus di depannya. “Awalnya pasti berat, Ndre, tetapi kamu harus yakin, Ibu akan sembuh jika ditangani ahlinya.”


“Masalahnya aku ragu mereka ahlinya, itu hanya klinik pengobatan alternatif.”


“Apa pun itu, yang penting usaha, Ndre. Mudah-mudahan pengobatannya cocok, dan ibu kamu cepat sembuh. Kamu harus optimis, bukankah itu juga dulu yang kamu katakan sama aku?”


Andrea mengeluarkan gawainya. Menaruhnya di meja, berharap ibunya menelefon memberi kabar. Dia masih ke pikiran ibunya.


“Aku masih ingin ibuku menjalani operasi, sesuai saran dokter.”


“Terus, kenapa tidak?” Ren bertanya dengan mimik wajah serius.


Andrea baru sadar, Ren tidak mengetahui semuanya. Tentang tindakan uaknya.


“Kita tidak ada uang, biayanya ratusan juta.”


“Iya, aku tahu, bukannya kemarin kamu mau minta bantuan Ua?”


“Itulah kenapa aku sedih. Ua tidak ada uang.” Meskipun sudah dijahati, hampir dilenyapkan, Andrea masih menyembunyikan keburukan uaknya di hadapan Ren.


Walau bagaimanapun, dia harus menjaga nama baik keluarganya. Dia harus mengikuti tindakan ayahnya, yang tidak pernah melawan kakaknya, dan sangat menjaga kehormatan keluarga besarnya. Ayahnya bahkan menyimpan rapat-rapat keburukan kakak perempuannya itu sampai liang lahat. Tidak ada yang tahu, baik istrinya maupun anaknya.


Dia tidak akan mengetahui semuanya, jika Dale tidak menceritakan semuanya.


“Wah.” Hanya itu yang keluar dari mulut Ren. Merasa iba kepada sahabatnya itu.


Dia juga pernah berada di titik itu, merasakan sedih tidak berujung karena penyakit ibunya, dan Andrea satu-satunya yang selalu membuat dia kuat, bahkan dia juga yang menolong ibunya sembuh dan bangkit kembali sampai sekarang.

__ADS_1


“Apa yang bisa aku bantu, Ndre?” Ren memegang tangan Andrea.


“Tidak ada, Ren, terima kasih aku tidak apa-apa. Kamu ada di dekatku saja sudah membantu, setidaknya aku ada tempat curhat.”


“Aku tahu, kamu pasti kuat menjalaninya, apalagi kamu kan ada si Lele.” Ren tersenyum, dia melihat kiri kanan, lalu berbisik, “sekarang dia ikut?”


Andrea mengangguk. “Tuh lagi tidur di meja sebelah. kekenyangan makan talas tadi di Bogor.”


“Hah?” Ren melihat ke meja sebelah, dia tiba-tiba merinding. Menyesal telah bertanya kepada Andrea.


“Kenapa? Takut? Kalau melihatnya juga kamu akan suka, cakep. Mama kamu saja tidak takut.” Andrea mengacungkan dua jempolnya.


Ren meringis. “Jelas lah, mamaku kan tahunya dia Kak Marvel. Seganteng apa pun, dia tetap jin, makhluk gaib, aku ngeri membayangkannya.”


“Ya sudah kalau tidak percaya. Oiya, tadi katanya ada yang mau dibicarakan, apa?” tanya Andrea.


“Oiya, kita belum menengok Bu Anis, bagaimana kalau besok kita ke rumahnya? Anak-anak yang lain sudah, waktu kita masih di kampung.”


“Boleh, sekalian aku juga ingin sekali menyatukan dia dengan Pak Iwan.”


Ren berdecap. “Ck, sudah sih, Ndre, jangan bikin masalah lagi. Kamu juga kan lagi ada masalah, sok mau membantu orang.”


“Justru aku mau selesaikan masalah mereka kali. Sekalian menolong pacarnya si Dale, agar bebas.”


“Maksudnya?”


Andrea melihat ke arah Dale, yang sedang terkantuk-kantuk di meja ujung.


“Aku sudah bilang kan, kalau di konde Bu Anis ada jinnya?”


Ren mengangguk. “Iya, sudah.”


“Jin itu bisa bebas dari perjanjian, jika Bu Anis menikah, atau menemukan cinta sejatinya.”


Ren menaikkan kedua alisnya, takjub.


“Bu Anisnya tahu?”


“Dia bahkan tidak tahu di kondenya ada jin wanita. Yang tahu hanya keluarganya, tepatnya uyutnya itu.”


Ren mangut-mangut. “Yang kakeknya kakek dia itu ya? Kenapa ya, orang-orang jaman dulu peliharaannya jin? Kakekmu juga kan, Ndre.”


Andrea mengangkat bahu. “Orang sekarang juga, hampir setiap orang kan punya,” sahut Andrea.


“Masa sih? Kok kamu tahu?”


“Tahu, di mol kan banyak, berjejer dengan berbagai merk.”


“Itu jeans, dodol!” Ren menggerutu.


Andrea tertawa. Ren mendelik, tetapi hatinya senang melihat Andrea tertawa lagi.


Dia ingin terus membuat Andrea senang, dan melupakan kesusahannya. Seperti yang pernah Andrea lakukan ketika dia sedang sedih.


Andrea hanya bisa senang ketika mereka bersama-sama seperti ini.


“Ndre, besok kita kan libur, aku menginap di rumahmu ya?”


“Serius?” Mata Andrea berbinar. Malam ini pertama kali dia di rumah sendirian, lumayan ketar-ketir juga, meskipun ada Dale.


Ren tersenyum mengiyakan. “Aku bilang Papa Mama dulu ya,” ujar Ren. Dia mengambil gawai di dalam tasnya.


Selesai meminta izin, Ren menelefon Zellina. “Mau ikut menginap di rumah Andrea, enggak?”


“Kapan?” terdengar suara cempreng Zellina di ujung telefon.


“Sekarang, si Andre sendirian. Kita pesta bantal,” seru Ren.


“Mauuuuu ....” Ketika mendengar kata pesta, Zellina langsung menjerit. “Kalian tunggu di situ, Beb, aku meluncur sekarang. Pak Supriii!!”


Ren segera menutup gawainya dengan nafas mendengus. “Kebiasaan, panggil Pak Supri kayak memanggil tukang bakso di ujung komplek saja si Pecel.”


“Kamu ajak dia juga?” tanya Andrea.


“Biar seru, sekalian kan bisa ada tumpangan, enggak usah baik angkot atau pesan taksi online.”


“Siap-siap saja, mendengar curahan hati dia semalaman.”


“Kalau itu bagian kamu, aku bawa ini.” Ren menunjukkan headset di tangannya.


Andrea membuang nafas. “Mana sekarang udah jadi pacarnya si Aa lagi, apes dah nasibku.”


Ren cekikikan. “Biar rame rumahmu.”


“Iya sih, gak ada Lo ga rame!” Andrea menirukan kata-kata sebuah iklan.


“Sayang enggak ada Gigit, ya. Kurang komplit, geng kita.”


“Uhukk!!”Andrea terbatuk ketika mendengar nama Gigit, jus yang sedang diminumnya jadi muncrat. “Sejak kapan dia masuk geng kita?” tanyanya. Dia mengambil tisu.


“Sejak kita ke kampung lah, kita kan lama bareng-bareng, anggap saja dia juga masuk geng kita. Orangnya asyik tahu.”


“Dia ke Malaysia,” lirih Andrea, tangannya mempermainkan sedotan.


“Kamu bisa hubungi dia?”


Andrea menggeleng. “Dia kirim pesan waktu di hotel, dan baru aku baca ketika ponselnya nyala.”


“Pantas saja, dia agak aneh waktu di Bandung.” Ren menopang dagu. “Kenapa ya, dia enggak berterus-terang saja sama kita mau ke Malaysia. Apa buru-buru dikejar pesawat?"


Andrea mengangkat bahu. Dia dan Ren jadi terdiam, asyik dengan pikiran masing-masing.


Gara-gara Ren membahas Gigit, dia jadi teringat lagi kepada cowok itu. Ada yang bergetar di dadanya, ketika menyadari dia mungkin saja tidak bisa bertemu Gigit lagi. Pulau dan selat memisahkan mereka.


Dia semakin galau, teringat juga ibunya di Bogor.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2