
Karena Bu Anis resign, tugas wali kelas sementara jatuh kepada Pak Haris.
“Sekarang saya adalah wali kelas kalian, dan mulai saat ini segala tindakan kalian yang suka di luar kewajaran, akan ditindak langsung Kepala Sekolah dan Ketua Yayasan.” Suara Pak Haris.
“Bapak tidak sanggup melakukan sendiri, Pak?” tanya Akri.
“Jika tidak berkenan dengan cara saya, silakan keluar atau saya juga akan keluar seperti Bu Anis!" ancam Pak Haris. Suaranya berbeda dari biasanya, karena sudah punya beking, Ketua Yayasan.
Akri mesem, tidak terpengaruh oleh ucapannya Pak Haris. Ketua yayasan kan ibunya Zainal, sekaligus ibu angkatnya dia.
Anak-anak yang masih baper kehilangan Bu Anis tidak ada yang menjawab, semua terdiam.
Mereka tidak ingin kehilangan guru-guru yang telah memberi mereka ilmu. Biarpun tindakan mereka sedikit liar, mereka bukan pelajar tanpa akhlak. Guru adalah kebutuhan mereka, buat apa sekolah tiap hari kalau tidak ada gurunya.
Pak Haris mulai mengajar, dengan suaranya yang pelan dan merdu. Seperti biasa anak-anak pun mengikuti pelajaran sambil mengantuk, seperti ada yang meninabobokan.
Andrea melihat ke luar jendela. Pak Iwan tidak ada di sawahnya.
“Pak Iwan ke mana ya, Ren?” bisiknya.
Ren melihat ke arah sawah, lalu mengangkat bahu. “Kenapa? Kangen?”
“Tumben saja, biasanya tidak pernah absen di sawah sama kerbaunya, apa dia sakit ya?” telisik Andrea.
“Pak Iwan memang lagi break trek-trekan sama kerbaunya kali ....”
“Selama ini pernah nggak kamu lihat dia absen ke sawah?”
Ren menggeleng.
“Kebetulan banget ya, Bu Anis pergi, Pak Iwan juga hilang, jangan-jangan ....” Andrea mulai gosip.
Tok tok tok!! Papan tulis diketok.
“Kalau mau merumpi silakan keluar!” perintah Pak Haris.
Dia bicara sambil menempel gambar contoh iklan masyarakat di papan tulis.
Ren menutup mulut dengan pisang goreng dingin dari kolong meja. Zellina asyik upgrade bedaknya.
Pak Haris mulai bicara lagi di depan kelas. Andrea kembali melihat sawah Pak Iwan.
Dia menerawang, tiba-tiba teringat diskusinya dengan Dale di pinggir sawah waktu itu.
Pembicaraan pertama mereka, yang dia lakukan dengan sekuat tenaga sambil menahan gemetar, karena menepis rasa takut. Sampai akhirnya takut itu hilang.
Dale yang polos, semakin terlihat konyol, dan sering membuatnya tertawa. Dale yang akhir-akhir ini menjaga, dan memberinya kemudahan. Dale yang penurut dan sopan, wajahnya juga begitu enak dipandang. Dale yang seandainya manusia ....
“Ya Tuhan,” gumam Andrea.
Ren menoleh. “Kenapa?”
“Kenapa, Ndre?” Zellina ikut mencolek punggungnya.
Andrea terkejut, tidak menyangka, gumamnya bisa sekeras itu.
Pak Haris dan teman-teman yang lainnya juga sedang melihat ke arahnya.
“Kenapa lagi?” tanya Pak Haris.
“Euuhh, itu, anu, Pak.” Andrea bingung.
“Kenapa anumu?”
Seluruh kelas tertawa, Andrea menunduk.
“Anunya mungkin anu, Pak, “ celetuk Akri. Anak-anak semakin riuh.
Andrea melotot.
Akri malah menjulurkan lidah.
“Sudah sudah! Sekarang coba kausebutkan beberapa contoh iklan!” Pak Haris mulai mengetest. Andrea yang kena, padahal Akri yang ngajak ribut.
"Iklan sabun, iklan permen, iklan susu ...." Belum selesai Andrea menjawab, teman-temannya kembali riuh.
"Korban iklan, tuh si Andre," kata Joni.
"Kayak kamu tahu aja." Akri menoyor kepala Joni.
"Bukan itu, Ndre, nih!" Ren menyodorkan buku paketnya.
Andrea segera membaca jenis-jenis iklan yang ada di buku pelajaran.
"Makanya, perhatikan," tegas Pak Haris.
Andrea menunduk, dari tadi dia memang tidak perhatikan Pak Haris mengajar. Teringat terus akan Dale. Andrea mengambil kalung hitam berbandul anak kunci di dalam tasnya.
Dale, aku butuh kamu, batinnya.
Setelah jam belajar berakhir Andrea berjalan lunglai. Ren menegurnya.
“Kamu kenapa, dari tadi kelihatannya melamun terus? gara-gara salah nyebutin iklan?" Ren tersenyum.
Andrea merengut. “Nggak.”
“Bener?”
Andrea mengangguk. Mereka berjalan ke pintu gerbang.
“Kalian mau numpang?” tanya Zellina dari dalam mobil mewahnya. Kepalanya melongok ke luar.
__ADS_1
“Numpang numpang, emang lu kuntilanak?” bentak Ren.
“Salah ya? Kalau ikut mobil orang emang namanya apa?” Zellina mengernyitkan dahi.
“Nebeng,” jawab Pak Supri.
“Ooh, kalian mau nebeng?” ulang Zellina.
“Nggak!!” Ren masih nyolot.
“Biasa aja kali, Ren. Aku kan nawarin doang.” Zellina cemberut.
“Ayo, Pak, di sini ada yang lagi dapet mulu,” katanya lagi.
Mobil melaju menyeruak anak-anak yang berjalan menuju gerbang sekolah.
“Si Pecel, lama-lama nyebelin juga.” Ren melilitkan jibabnya kencang ke leher.
“Kamu kenapa sih, Ren? biasanya paling toleran sama dia.”
“Ck,” Ren hanya berdecak. Dia membetulkan letak jilbabnya yang mulai longgar penitinya.
“Ngomong dong, sejak si Inzel ngadain pesta kucing, kamu berubah.”
“Nggak kok,” Ren terus berjalan, ditendangnya daun kering dengan ujung sepatunya.
“Ren, duduk dulu yuk!” Andrea mengajak Ren duduk di bangku panjang tempat biasa tukang cilok mangkal.
Ren memesan ojek online. “Sebentar lagi ojekku datang.”
“Iya, sambil nunggu. Mang, cendol!” Andrea mengacungkan tangannya memesan es cendol dari seberang jalan.
“Kamu suka sama Yadi ya, Ren?” pertanyaan Andrea membuat Ren terkejut, dia jengah juga, kelopak matanya tanpa sadar berkedip agak sering.
“Nggak,” jawabnya.
“Terus kenapa kamu seperti tidak suka Zellina ingin dekat dengan Yadi?”
“Kata siapa?”
“Ren, kita bersahabat sudah lama, sejak SMP lho, aku kenal kamu. Kamu ngga akan bersikap seperti itu kepada Zellina tanpa alasan. Kamu cemburu?" Andrea menyelidik.
Ren tidak menjawab, dia melirik ke arah tukang cendol yang sedang menyebrang.
"Cendolmu datang, tuh!”
Andrea menerima dua plastik cendol dan membayarnya. “Terima kasih, Mang, hati-hati menyebrang,” katanya.
“Sami-sami, Neng. Mau bantu nyebrang, Neng?” Tukang cendol malah kurang ajar.
“Nyebrang aja sendiri,” kata Andrea. Tukang cendol cengengesan.
Andrea menyerahkan satu cendol kepada Ren.
“Emang, kan aku yang pesan.”
Ren menerima cendol dari Andrea.
“Kamu sendiri kenapa?” tanya Ren.
“Aku?” sekarang giliran Andrea yang terkejut.
“Iya, tadi kan aku yang pertama nanya, dan belum dijawab keburu ada si Pecel lewat."
“Ngga apa-apa,” jawab Andrea.
“Inget, Ndre, kita bersahabat udah lama lho, sejak SMP,” kata Ren, sambil menyenggol lengan Andrea.
Mereka berdua tertawa, lalu terdiam, menikmati sedotan demi sedotan cendol manis dingin di sore hari yang ngelekeub itu. Mewakili perasaan masing-masing.
Tintiiiin!
Klakson motor ibunya membuyarkan lamunan masing-masing.
“Bentar, Bu. Ren belum ada jemputan.”
“Oke.” Yuli turun dari motor. Membuka helm. “Sudah pesan ojolnya, Ren?”
“Sudah, Tan. Eh, tapi nggak apa-apa kalau mau duluan, Ndre.” Ren merasa tidak enak kepada Yuli.
“Nggak apa-apa kita temenin dulu, Ibu mau cendol?” tawar Andrea.
“Bekas kamu?” tanya Yuli.
“Ya ngga lah, tuh, beli!”
“Ditraktir?”
“Nggak lah, aku sekalian beliin seblak di sebelahnya.” Andrea nyengir.
“Nahh, kan. Nggak usah, Ibu nggak haus.”
“Ibuuuu ....” Andrea merengek.
“Lihat, Ren. Dia kalau ada Tante begitu, kolokan.”
Ren tersenyum geli. “Iya, Tan. Padahal kalau di kelas tomboy banget, ngalahin cowok. Masa tadi berantem sama cowok."
Andrea mendelik, menarik kerudung Ren.
“Kamu juga, hobby nya masang kuda-kuda, kayak tukang bangunan."
__ADS_1
“Ndre, jilbabku kendooorr ....”
“Bodo.” Andrea semakin menarik jilbab Ren.
“Ndreee ....” Yuli melotot.
Andrea segera membenarkan letak jilbab Ren sambil minta maaf. Yuli geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya.
Sebuah motor berhenti. Semuanya menengok. Pengendaranya membuka helm. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi tidak mengurangi ketampanannya. Cuaca sore itu kalah sejuk oleh senyumannya yang menguar.
“Dengan Mauren?” tanyanya, suaranya sangat Andrea kenal.
“Iya.” Ren terkejut, dia menyenggol Andrea.
“Gigit ....” Andrea berkata pelan.
“Digigit apa, Ndre?” tanya Yuli.
Andrea senyum-senyum. “Nggak, Bu.”
Ren memeriksa aplikasi. Nomor motornya sama, tetapi foto dan nama pengemudinya beda.
“Maaf, ini motor Pak Ruslan, beliau mendadak sakit, asmanya kambuh, saya yang gantikan.” Gigit menjelaskan, melihat Ren kebingungan.
“Emang bisa ya? kenapa nggak cancel aja?" selidik Ren.
“Beliau butuh uang untuk berobat.”
Andrea dan Ren saling pandang.
"Cancel saja dari kamu kan bisa, Ren." Andrea memberi solusi. Dia masih merasa harus jutek kepada cowok itu.
Gigit meboleh. Andrea membuang plastik cendol ke tempat sampah.
“Ngga apa-apa, Ren, sekalian kamu juga nolong beliau kan?” Yuli meyakinkan Ren untuk naik motor yang dikendarai Gigit.
"Gitu ya, Tan?" tanya Ren. "Oke deh, aku naik."
“Terima kasih, Tante” Gigit tersenyum ke arah Yuli, dibalas anggukan Yuli.
“Oke, aku duluan ya, Ndre, Tan.” Ren mencium tangan Yuli.
“Hati-hati, Sayang,” kata Yuli.
“Iya, hati-hati, Sayang,” ulang Andrea. Ren mencibir.
Gigit tersenyum lagi. “Mari, Tante, Andrea.” pamitnya.
Andrea mendadak kikuk. Dia ingin judes sejudes-judesnya, tapi nggak bisa. Malah sedikit iri melihat Ren dibonceng tukang ojek handsome.
“Kamu kenal tukang ojek itu?” tanya Yuli ketika motor mereka mulai berjalan.
“Dia bukan tukang ojek, Bu, tadi kan dengar sendiri, menggantikan doang.”
“Apalah itu, kamu kenal?”
“Iya, dia anak SMA Negeri.” Andrea enggan menceritakan kepada ibunya kalau Gigit pernah mau menabraknya.
“Ooh, anak sekolah juga.”
“Emang Ibu kira siapa?”
“Kok jadi tukang ojek?”
“Nggak boleh? Tukang ojek jaman sekarang beda, Bu. Mahasiswa juga banyak, bahkan guru aku juga ada yang nyambi jadi ojek online.”
“Begitu ya? Kalau Ibu, ojek apa?”
“Ojek cerewet."
“Ojek gratis,” cibir Yuli.
Andrea terkekeh. “ Ya udah, biar Ibu ngga usah jadi ojek terus, bolehin dong aku bawa motor sendiri.”
“Ibu?”
“Ibu nyicil mobil. Ya, Bu, ya ....” Andrea merayu sambil memeluk erat pinggang ibunya.
“Mimpi, angkot masih banyak.”
“Ibuuuu ... naik angkot terus betisku gede,” rutuk Andrea.
“Biar sehat, Ndre.”
Yuli menghentikan motornya, mereka sudah sampai di rumah. Bi Cicih menyambut.
“Saya langsung pulang, Bu.”
“Iya, Bi, jangan lupa nasi dan lauknya.”
“Tidak lupa, Bu.” Bi Cicih mengacungkan keresek hitam di tangannya.
“Kalau kurang mampir di warung nasi Ceu Yuyum, Bi.” Andrea bicara sambil ngeloyor masuk rumah. Bi Cicih misuh-misuh, dikiranya mau dikasih tambahan.
Masuk ke kamarnya, Andrea melempar tas, dia menghampiri meja belajarnya. Memeriksa laci. Kotak kayu milik kakeknya masih di sana.
Pelan-pelan dia membuka kotak itu, memandangi gembok antik di dalamnya.
Andrea merebahkan tubuhnya di kasur, memeluk kotak itu.
Tidak menyangka dia akan rindu pengawal rahasianya itu.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote yaa readers 😉