
Kata-kata Fany membuat Andrea terkejut. Bagaimana dia tahu tentang Dale, batinnya.
Sejenak keduanya diam, dengan pandangan sama-sama kepada Pak Iwan.
Lalu Fany berbalik.
Kalian tahu lagu Lingsir Wengi? Andrea barusan seperti sedang menikmatinya, mengiringi gerakan Fany memutar badan dan berjalan, sepatunya diseret pelan, persis seperti hantu penasaran, untung tidak sampai berjalan melayang.
“Iiihh ....” Andrea bergidik. Meskipun begitu, tentu saja ucapan Fany barusan membuat Andrea bingung.
Untung saja Fany bicaranya lemah, sesuai dengan gayanya yang selalu terlihat kurang darah, sehingga teman-temannya yang lain tidak mendengar karena sedang asyik menonton Pak Iwan yang sedang baper.
“Kok lu tahu?” Andrea memegang pundak Fany, menghentikan langkahnya.
Fany tertegun, tanpa menoleh dia bicara, “jangan terlalu dengar omongannya, makhluk seperti dia tidak bisa diercaya, ” lirih Fany lagi.
“Maksud lu?”
Fany melepaskan tangan Andrea di pindaknya, lalu berjalan lagi, tanpa menjelaskan apa-apa.
“Fan ... Fany!” Andrea memanggil Fany yang berjalan ke luar kelas. “Ck ... Dasar zombie!” gumam Andrea.
“Ada apa, Ndre? Kenapa semua orang mendadak aneh hari ini?” tanya Zellina.
“Nahh, kamu aneh dari dulu,” jawab Andrea.
“Biarlah, daripada jadi orang aneh baru." Zellina duduk di kursi guru. "Oiya, Ndre, bagaimana dengan Kak Yadi?”
Andrea menepuk keningnya. Gara-gara semalaman mikirin si Dale, dia jadi lupa mau hubungi Yadi.
“Aku lupa, Zel. Ya sudah mumpung masih ada waktu kita ke kelasnya aja.” Andrea menarik tangan Zellina.
“Asyiiiikk ....” Zellina kegirangan.
Satu per satu anak-anak meninggalkan jendela, bosan melihat Pak Iwan begitu-begitu saja, melongo memandangi sawahnya.
“Lapar kali dia.”
“Ngantuk kali ah.”
“Atau, dia bangkrut.”
“Bodo amat.”
“Jangan-jangan dia ikut kesurupan?”
Akhirnya semua bubar, Pak Iwan masih asyik melamun.
“Ren,” panggil Andrea. “Bagaimana si Zain?”
“Sudah dibawa emaknya pulang.” Ren melihat ke arah tempat parkir, di sana Zain sedang digelandang Bu Kania masuk ke mobil Alphard ungunya.
“Aku baru tahu, kalau Bu Kania itu emaknya si Zain,” kata Andrea.
“Emangnya kenapa?” tanya Ren.
“Nggak apa-apa, heran aja, Bu Kania kok bisa melahirkan makhluk lembek kayak dia.”
“Nggak lah, si Zain kan bukan lahir dari perut Bu Kania.”
“Oh tuhan,” pekik Zellina. “Dia lahir dari apa?”
__ADS_1
“Dari keong,” jawab Ren.
“Waduhh!” Andrea melebarkan matanya. Pantas saja Akri selalu menakut-nakuti dia sama keong, pikirnya.
Zellina cekikikan. “Mirip sih ya,” celetuknya.
"Iya, lembek tak bertulang," kata Andrea.
“Sukanya juga masuk-masuk kolong,” tambah Zellina. Dia menggamit tangan Andrea. "Yuk!"
“Kalian mau ke mana?” tanya Ren.
“Ke kelas Kak Yadi,” Zellina mengedip-ngedipkan matanya.
“Iya, kita mau bicarakan yang waktu itu.”
Ren tertegun sebentar. “Ya udah, kalian pergi saja.”
“Kamu temenin dong, Ren,” ajak Andrea.
“Ogah.”
“Iiihh, jutek amat. Ndre, si Ren masih dapet kayaknya, biarin aja kita berdua aja.” Zellina merengut.
Andrea tidak bisa mengelak ketika Zellina menarik tangannya.
Si ganteng Yadi ternyata sudah menunggu kedatangan mereka.
“Jadi, kamu bersedia?” Yadi semringah.
“Tentu, Kak.” Zellina lebih semringah.
“Baiklah, kalau begitu, mulai sekarang kamu promosi, ajak siswi yang minat. Kita bikin sekolah ini bangga dengan olah raga,” semangat Yadi.
“Sayang, Andrea nggak mau gabung, padahal skill kamu bagus.” Yadi menoleh kepada Andrea.
Andrea yang bersender ke tembok kelas hanya melipat tangan di dada sambil tersenyum ke arah lain, sudah bosan menjelaskan semuanya kepada Yadi. Dia sudah tidak berminat bermain basket.
Yadi memandanginya penuh kagum, sedangkan Zellina memandangi Yadi sambil senyum-senyum nggak jelas. Ketiganya berada dalam pikiran masing-masing.
Andrea baru sadar, Yadi sedang memandanginya.
Malu karena dipandangi seperti itu, Andrea melempar pandangan ke tempat lain. Dari jauh dia melihat Bu Anis berjalan memotong lapangan basket, tanpa jidar panjangnya. Sepertinya dia mau pulang.
Andrea benar-benar merasa harus bertanggung jawab, sebelum Fany membocorkan semuanya tentang Dale.
“Buuuu, Bu Aniiiiss!” teriak Andrea, dia membuat corong mulut dengan kedua telapak tangannya agar suaranya bisa terdengar gurunya yang unik itu. Tidak peduli dengan Yadi dan teman-temnnya yang memandangnya aneh.
Bu Anis menoleh, Andrea cepat-cepat berlari menghampirinya, diikuti tatapan semua yang ada di sana.
“Ndreee, Andreee ... Andrehahanusaaaa!!” Zellina berteriak.
Yadi mengernyitkan dahi.
Zellina tersenyum malu. “Maaf, Kak Yadi, aku susul Andrea dulu,” pamitnya.
Yadi mengangguk, menyilakan Zellina pergi dengan tangannya.
“Ada apa?” tanya Bu Anis, dengan alis mengerut melihat Andrea megap-megap karena berlari.
Bu Anis berdiri pas di tengah lapangan. Matahari sedang terik-teriknya, tusuk konde di kepalanya mengeluarkan cahaya cemerlang, berkilauan menusuk mata setiap mata yang kebetulan melihatnya.
__ADS_1
“Saya tahu Bu Anis mau mengundurkan diri dari sekolah ini. Please, Jangan pergi, Bu! Kami, ingin belajar dengan Bu Anis lagi,” pinta Andrea.
“Heiii, dari mana kau tahu semua itu? kau nguping ya?” Bu Anis terkejut.
Andrea gelagapan, Bu Anis tepat sekali kalau sedang menuduh.
Sreett!
Bu Anis mencabut tusuk kondenya.
Pletakk!
“Aww ....” Ujung gagang tusuk konde yang berkelopak itu mampir di kepala Andrea. Pelan sih, tapi lumayan pedas.
Tetapi Andrea menerimanya dengan senang hati, demi Bu Anis mengurungkan niatnya.
Semua yang menyaksikan di sana baru tahu, ternyata tusuk konde itu aksesoris semata, buktinya tidak berpengaruh dengan letak sanggul cepol Bu Anis. Cepolnya tetap di tempat, kokoh seperti keong emas di Taman Mini.
“Hmm ... ini sudah menjadi keputusan saya. Saya harus menghormati keputusan yang telah diambil diri saya sendiri." Suara Bu Anis berbeda sekali dengan suaranya ketika mengajar matematika, lebih elegan. Ada nada lega dari sana, seperti telah menghempaskan beban besar di dada.
Tusuk konde kembali ditusukkan ke rambutnya. Clebb!
Andrea menelan ludah, tusukan itu seperti menghujam jantungnya.
“Sudah sana kembali ke kelas, bilang sama teman-temanmu, wali kelas pengganti akan datang besok.”
“Baik, Bu.” Andrea menunduk, lalu memegang kepalanya yang benjut.
“Lebay,” kata Bu Anis ketika melihat Andrea memencet-mencet kepalanya.
Andrea masih kesakitan, dan heran, itu tusuk konde terbuat dari apa. Mantap betul menggetok kepalanya.
"Ndre, kamu nggak apa-apa?" tanya Zellina, yang menyaksikan penggetokan oleh tusuk konde itu.
Andrea melihat berkeliling, ternyata siswa-siswi lain sedang memerhatikannya.
"Benjut," jawab Andrea.
"Berani banget sih sama Bu Anis, Ndre. Dia kan lagi marah sama kelas kita." Zellina mengusap-usap kepala Andrea.
"Aku ingin mencegah dia resign." Andrea berjalan memuju kelasnya.
"Berhasil?" tanya Zellina lagi.
"Berhasil, nih, benjut."
"Syukur deh kalau berhasil." Zellina mengusap-usap kepala Andrea lagi. Ren menyambut mereka di pintu kelas.
"Kasih selamat, Ren. Andrea berhasil," kata Zellina.
"Berhasil apa?"
"Berhasil benjut kepalanya," jawab Zellina. Ren melihat ke arah Andrea.
"Main drama apa barusan di lapangan?" tanya Ren.
"Bu Anis nggak bisa membatalkan niatnya ternyata." Andrea mengeluh.
"Repot amat ngurus Bu Anis, Ndre," kata Ren.
Andrea tidak menjawab, dia sendiri bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Ren. Dia merasa sangat bersalah, karena kecerobohannya membawa Dale ke sekolah, seluruh siswa yang diajar Bu Anis harus kehilangan guru terbaik mereka. Sedangkan Fany sekarang sudah mengetahui itu.
__ADS_1
Andrea duduk di bangkunya, melihat Pak Iwan yang sedang dikelilingi pegawainya. Mereka sedang berusaha mengajak lelaki setengah baya itu untuk pulang. Pak Iwan bergeming.
Happy reading ...