My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 90 Duo Kepompong Hidup


__ADS_3

Andrea cekikikan dari dalam rumah. Lucu sekali melihat dua orang bergelantungan sarung di dahan pohon. Persis kepompong.


Dale yang mencangkelkan mereka di sana. Soalnya, mereka berniat mencuri di rumah itu.


“Mereka sudah berkali-kali mengintai rumah ini, Neng, meskipun saya sudah takut-takuti dengan menjadi si belang. Mereka tetap saja usaha. Ya sudah, kali ini dibuat kapok saja dengan menggantungnya begitu," ujar Dale.


Andrea kembali ke kamar, mengambil gawainya dan segera melapor ke Pak Rt.


“Maaf, Pak, mengganggu malam-malam. Di depan rumah saya ada suara minta tolong dari atas pohon. Tidak tahu siapa."


Tidak berapa lama Pak Rt dan jejerannya datang.


“Pak, tolong!” teriak mereka yang di atas pohon.


“Heh, ngapain kalian di sana?” Pak Rt berteriak, terkejut dengan dua kepompong hidup.


“Saya kapok, Pak, tolong! Pak Hansip, tolong saya!" suara mereka memelas.


Pak Rt menyuruh dua orang hansip untuk membawa tangga.


“Kalian ini, malam-malam bikin gaduh, mengganggu warga saya saja.” Pak Rt berseru.


Dua orang itu segera turun, dibantu hansip. Ternyata mereka Mang Kemed dan Mang Menying. Warga kampung sebelah perumahan.


“Maaf, Pak.” Mang Menying terbungkuk-bungkuk kepada Pak Rt.


“Maaf kenapa? Kalian berbuat salah?”


“Jangan-jangan mereka mau maling,” seru Pak Hansip. Dia memeriksa seluruh badan keduanya. Mang Menying dan Mang Kemed kegelian.


"Kalian mau maling?" tanya Pak Rt.


Mereka menggeleng.


“E ... Enggak, Pak. Kita hanya lewat, tetapi ada makhluk besar membuang kita ke atas pohon,” kata Mang Kemed.


Semua yang ada di sana terkejut, lalu sama-sama tertawa.


“Kalian ini, mentang-mentang ke mana-mana bareng, mimpi juga sampai bareng begini. Ngelindur kompak sampai jauh ke sini," ujar Pak Rt.


“Mimpi bareng? Yang ada tidur bareng, Pak Rt.” Pak Hansip kembali tergelak.


“Kalau tidur bareng, itu maunya kamu tuh sama si Eem!” sahut Pak Rt.


Pak Hansip cengengesan, Pak Rt menyebut nama janda semok incaran para lelaki.


“Tapi benar, Pak. Di rumah ini ada penunggunya.” Mang Kemed mencoba meyakinkan semua orang yang ada di sana. Matanya melihat berkeliling.


“Iya, Pak. Dulu kan kita juga pernah melapor ke Pak Hansip, ada seekor macan yang nangkring di atas tembok pagar. Beberapa kali kita melihatnya.” Mang Menying menimpali.


"Iya, tetapi buktinya tidak ada apa-apa. Warga sini tidak ada yang melihatnya. Kalian saja yang mengada-ada," kata Pak Hansip.


"Benar, Pak Hansip. Kita berdua melihat dengan mata kepala sendiri."


“Sudah, sudah! Sekarang saya mau tanya, kenapa kalian sering banget memerhatikan rumah Bu Yuli?” tanya Pak Rt.


“Kita tidak memerhatikan, Pak, hanya lewat.” Mang Menying yang bicara. Dia menyikut Mang Kemed. "Sungguh, iya kan, Med?" lanjutnya.


Mang Kemed mengangguk-angguk.


“Lewat mau ke mana?”


“Euuh, mau cari angin saja, Pak.”

__ADS_1


"Memang di rumah kalian tidak ada angin?"


Andrea keluar. Diikuti Ren dan Zellina yang ikut terbangun karena mendengar keributan.


“Ada apa, Pak Rt?” tanya Andrea.


“Eh, Andrea. Ternyata mereka ini yang menggantung dan berisik di pohon itu."


“Ooh, saya kira kepompong, Pak.” Andrea tersenyum.


Mang Menying dan Mang Kemed menunduk. Mereka merasa Andrea tahu kalau mereka mau masuk ke rumahnya.


“Katanya tidak ada orang,” bisik Mang Menying. Mang Kemed mengerak-gerakkan matanya agar Mang Menying diam.


“Andrea tidak apa-apa kan? Bagaimana dengan ibumu?” tanya Pak Rt.


Andrea kembali tersenyum kepada Pak Rt, orang yang telah berjasa sekali dalam menyelamatkan ibunya ketika jatuh koma. Pak RT juga yang telah membantu menjaga rumahnya selama ibunya di rumah sakit, sedangkan dia malah hiking dadakan ke kampung.


“Oh, iya, sekalian saya juga mau bilang. Ibu sekarang dirawat di Bogor, Pak. Dan malam ini, teman-teman saya ini menemani saya di sini.”


Ren dan Zellina memberi hormat kepada Pak Rt yang terlihat bersahaja itu, dengan kopiah kebesarannya.


“Oh, begitu? Syukurlah kalau ada teman. Kalau nanti ada perlu apa-apa, hubungi saya saja.”


“Baik, Pak.”


“Ya sudah, Mang Menying dan Mang Kemed pulang saja, nanti ada yang menggantungkan lagi di tiang listrik. Mau?lni sudah malam, nanti malah semakin banyak warga terganggu.”


"Iya, Pak."


Mang Menying dan Mang Kemed beringsut pergi. Dengan berkerudung sarung. Pak Rt dan jejerannya juga berpamitan pulang kepada Andrea.


Sepanjang jalan Mang Kemed dan Mang Menying berbisik-bisik.


“Yang ke Bogor ibunya doang, Kemed, maneh tidak mendengar tadi?”


"Berarti si Cicih kasih info tidak kuret."


"Kuret? Akurat kali, Med," sahut Mang Menying.


"Iya lah, itu. Tapi memang tadi kita seperti dilempar ya, Nying?” tanya Mang Kemed.


“Iya, sarung saya seperti ditarik, lalu dikaitkan begitu saja. Saya mah yakin, rumah itu ada penunggunya.”


“Memang benar, aku penunggunya ....” Tiba-tiba sebuah suara besar menggelegar dari balik pohon beringin.


Mang Kemed terkejut. Dia gemetar. Kakinya tidak bisa melangkah lagi, seperti terpaku ke tanah. Dale menginjak kakinya.


Mang Menying yang juga mendengarnya merapatkan tubuhnya ke Mang Kemed.


“Med, siapa itu?”


Mang Kemed semakin gemetar. Dia mengompol.


“Med, kamu kencing di celana?”


“Nying, kaki ... kakiku, berat. Tolong bantu ... angkat!” kata Mang Kemed dengan suara bergetar.


Mang Menying segera membantu, tetapi dia urung melakukannya, karena celana Mang Kemed basah dan bau pesing.


“Ayo, Nying!”


“Kamu bau pesing, Med!”

__ADS_1


“Nying, tolong atuh, Nying!”


Mang Menying kasihan juga melihat temannya ketakutan seperti itu. Di mengangkat kuat-kuat kaki Mang Kemed sambil menahan nafas.


“Bau banget, makan jengkol ya, Med?” Mang Menying bicara sambil mencabut kaki Mang Kemed sekuat tenaga.


“Nying, ayo, Nying!”


"Susah, Med!"


Dale tertawa saja melihat kelakuan mereka. Lalu dengan cepat melepaskan kakinya, sekaligus.


Mang Menying terjengkang ke belakang.


Mang Kemed langsung lari terbirit-birit.


“Meeedd! Tunggu!!” Mang Menying juga ikut ngacir.


“Dasar, manusia tidak punya ahlak, sama temannya saja begitu. Sudah ditolong malah ditinggalkan.” Dale ngomel-ngomel. Dia mengambil sebuah batu bata, lalu melemparkannya ke sawah yang berair.


Kucuprakk!!


Air muncrat ke sekitarnya.


Mang Menying dan Mang Kemed semakin berlari kesetanan.


**


“Sebenarnya ada apa sih, Ndre?” tanya Ren. Mereka sudah kembali ke kamar.


Zellina menguap berkali-kali, rasa kantuk sudah tidak mendukung kekepoannya. Dia kembali mapan tidur.


“Dua orang tadi menyangkut di pohon," jawab Andrea.


“Kok bisa?”


“Sepertinya mau mencoba masuk ke sini, tetapi kan kamu tahu sendiri di rumah ini ada siapa?” Andrea bicara berbisik, sambil melihat ke arah Zellina yang sudah kembali nyenyak.


“Owh ... Eh, Ndre, coba aku lihat lagi video tadi!”


“Untuk apa?”


“Ingin melihat saja lebih jelas, tampang si Lele. Tadi keburu ada Zellina."


Andrea mencebik. “Nanti mewek lagi.”


“Kagak, tadi aku ingat kakakku saja.”


“Jangan naksir ya, soalnya aku juga dulu sempat naksir, hehe.”


“Kalau naksir memang kenapa?” tanya Ren.


“Akan menciptakan kerumitan baru. Aku malas ada masalah lagi.”


“Iya ... Masa aku naksir asap kemenyan.”


Andrea memutar lagi video di gawainya. Ren duduk di sebelahnya. Keduanya asyik melihat adegan dalam video. Menikmati pemandangan cukup indah, dan tidak mau berhenti.


Ren menatap Dale, si Oppa Korea KW, sedangkan Andrea menatap Gigit, si ganteng kalem, penyebab kegalauan hatinya.


Bersambung


Maneh \= kamu

__ADS_1


__ADS_2