My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 69 Duo Bidadari Bangun dari Tidur


__ADS_3

"Git ...." Andrea memandangi wajah Gigit.


Mereka kembali berada dalam suasana beda.


Andrea tidak mengerti kenapa mereka jadi sering seperti itu. Tidak nyaman tetapi suka. Deg-degan, tetapi ingin lagi. Malu tapi mau.


“Aku ingin yang hangat-hangat,” bisik Gigit. Membuat Andrea semakin gugup.


Apa Gigit benar-benar mengajakku mengendap-endap?


“Maksudnya?” Andrea merasakan genggaman tangan Gigit semakin erat pada jari-jarinya. Membuat jantungnya melonjak-lonjak.


Entah kenapa Andrea jadi melihat bibir Gigit, menunggu jawaban cowok yang telah mencuri hatinya itu.


Gigit mencondongkan kepalanya ke wajah Andrea, lalu berbisik. “Teh hangat, atau susu hangat.”


Andrea menahan nafas.


“Ada?” bisik Gigit lagi.


Andrea bernafas lega. Dia sudah berpikir yang bukan-bukan tadi.


“Aku bikinin.” Andrea menarik tangannya dari genggaman Gigit, lalu berjalan cepat, menyembunyikan gugupnya.


Gigit tersenyum nakal.


Andrea segera ke dapur, dia mencari teh di lemari dapur dengan hati masih berdebar-debar tidak karuan.


Tidak lama Gigit sudah ada di sampingnya, memakai baju Dodo.


Andrea tersenyum melihat baju yang dipakai Gigit ngatung semua, karena dia terlalu tinggi untuk baju ukuran Dodo.


Dia mencelup-celupkan teh ke air panas.


“Ini tehmu.” Andrea duduk di meja makan.


“Kamu tidak bikin?”


Andrea menggeleng.


Terdengar suara motor dengan knalpot racing memasuki halaman Andrea sudah hafal itu suara motor Dodo.


Suara pintu depan dibuka.


Dari pintu tanpa daun di ruang depan, Dodo menatap mereka yang sedang duduk di meja makan.


“Baru pulang, A? Aku baru datang.” Andrea menyapa sambil tersenyum manis.


Dodo tidak mengucapkan sepatah kata pun, melemparkan jaketnya ke kursi tamu, lalu pergi masuk ke kamarnya.


“Dia kakak sepupuku.” Andrea menekuri meja makan. Dodo sungguh tidak menghargainya di depan Gigit.


“Oya? Anaknya Ua?”


Andrea mengangguk.


“Beda banget sama ibunya,” lanjut Gigit.


“Sudah biasa. Dulu dia tidak seperti itu. Entah, semakin dewasa umur manusia, kadang semakin berubah sifatnya.” Andrea mengambil teh di depannya, lalu menyeruput.


“Tidak semuanya, Ndre. Kamu jangan samakan semua orang seperti itu dong."


“Iya, kamu benar, tidak semuanya. Tetapi aku sering bertemu.” Andrea kembali menyeruput teh di tangannya.


Gigit tidak tahu, kalau dia sebenarnya sedang membicarakan Tante Dina, dan Yadi. Orang-orang yang terlihat baik, tetapi berhati jahat.


“Hmm ... Kalau aku malah merasa, semakin dewasa umur seseorang, dia jadi pelupa.”


“Kalau itu karena memang sudah tua," sahut Andrea.


“Enggak juga, masih muda juga, contohnya ada di depanku nih, lupa membuat teh buat siapa.”


Andrea terkejut. “Heh! Sori ....” Andrea senyum-senyum malu.


Gigit memonyongkan bibirnya. “Ya sudah, aku bikin sendiri,” ujarnya.


Gigit mau beranjak ketika Dodo bersuara.


“Tidak baik malam-malam berduaan di rumah orang. Kalian boleh saja orang kota, tetapi ini kampung.” Dodo mengambil gelas untuk minum. Dia melirik baju yang Gigit pakai.


“A, yang sopan sedikit apa, ini temanku,” ketus Andrea.


Dodo tersenyum sinis. “Sabodo teuing. Terus sopan ngacak-ngacak lemari orang?"


"Iya, maaf," lirih Andrea. “A, aku mau minta tolong," lanjutnya.


Dodo tidak menanggapi ucapan Andrea. Dia mencari mi instan di lemari. Kebiasaan malamnya, makan mi instan sambil nonton televisi.


“Antar aku ke tujuh air terjun.” Andrea tidak peduli dengan sikap Dodo. “Besok pagi.”


Dodo anteng masak. Andrea menatap punggungnya.


“Nyebelin. Aku bilang Ua, tahu rasa.” Andrea benar-benar muak dengan sikap Dodo, dia menarik tangan Gigit untuk pergi dari sana.

__ADS_1


Gigit mengekor saja ke mana Andrea bawa.


“Jangan ngamar!” teriak Dodo.


“Sabodo teuing!” jawab Andrea.


"Kakak sepupumu galak juga." Gigit berbisik.


“Sampai ketemu besok pagi, Git.” Andrea melepaskan tangan Gigit ketika sudah sampai di depan kamarnya. “Maafkan sikap kakak aku ya,” lirihnya.


“Tenang saja, Ndre. Aku maklum kok.”


“Kamu jadi tidak jadi minum teh hangat.”


“Tidak apa-apa. Melihat kamu kesal juga sudah hangat,” ledek Gigit.


“Kamu hangat, aku panas.” Andrea menunjuk dadanya, lalu membuka pintu kamar.


Gigit tersenyum lebar.


Andrea menyusupkan tubuhnya di antara Ren dan Zellina yang sudah asyik terbang ke pulau kapuk.


Dia tidak bisa memejamkan mata, belum tenang karena belum bicara dengan uaknya, sedangkan besok dia harus berangkat ke air terjun, sudah tidak ada waktu lagi untuknya membebaskan Lyla dan Bu Anis.


**


Seperti dalam mimpi, Andrea mendengar suara uaknya memasak. Aroma bakwan jagung menyeruak sampai ke rongga hidungnga.


“Apa aku di rumah kakek?” Andrea bergumam. Dia mengangkat kepalanya, Ren dan Zellina masih tidur.


Andrea menepuk keningnya ketika ingat dia memang sedang berada di rumah kakeknya.


Tidurnya terlalu lelap, sampai lupa ada di dunia.


Andrea bangun, melihat jam di dinding. Jam lima, pantas saja uaknya sudah sibuk di dapur.


Andrea keluar kamar sambil tidak henti-hentinya menguap. Terdengar uaknya mengobrol dengan seseorang.


Ternyata Gigit sedang menikmati teh hangat.


“Ndre, kamu sudah bangun?” tanya Gigit, melihat Andrea termangu di mulut pintu.


“Sudah salat, Neng?” tanya Bu Nisma.


“Belum.” Andrea menguap lagi.


“Ih, cepat atuh, salat dulu. Malu sama Gitara, cowok juga rajin.” Bu Nisma mulai membanding-bandingkan, Andrea melirik Gigit. Yang dilirik sedang asyik makan singkong goreng.


Uaknya sama Gigit kembali berbincang, tentang singkong. Gigit memang paling bisa bergaul, pembawaannya yang supel gampang mencuri hati siapa saja, termasuk Bu Nisma.


“Aaaaaa ....”


Tiba-tiba terdengar suara jeritan Zellina dan Ren.


Gigit dan Bu Nisma segera berlari ke kamar.


“Ada apa?” tanya Gigit.


Zellina menunjuk seseorang yang berdiri merapat ke lemari, dengan wajah gugup.


“Dodo? Sedang apa kamu di sini?” Bu Nisma mengambil kemoceng yang tadi mengait di paku.


“Mbu, kenapa enggak bilang ada tamu cewek?” Dodo keluar kamar.


Gigit tidak kuat menahan geli, melihat Dodo gugup seperti itu.


“Ada apa?” Andrea heran dengan perkumpulan orang-orang di kamar kakeknya.


Dodo misuh-misuh sambil melesat kembali ke kamarnya. Dia malu sekali, pada dua bidadari bangun dari tidur.


“Itu, si Aa, mungkin nyalindur lagi, masuk kamar Aki. Neng-Neng itu sampai ketakutan.” Bu Nisma menjelaskan.


“Hah?” Andrea kemudian tertawa lebar. Gigit sampai mencium aroma pasta gigi dari nafasnya.


“Tenang Neng-Neng, dia kakakku, sudah jinak kok, sekarang ayo bangun! Salat subuh!” perintah Andrea.


Gigit dan Bu Nisma kembali ke dapur. Ren dan Zellina kembali berbaring.


“Woyy! Bangun!” seru Andrea lagi. “Kita ke air terjun. Apa ditinggal saja?”


“Ikuuuttt!!” Ren dan Zellina serentak melompat dari tempat tidur.


**


Jam tujuh mereka sudah siap, tetapi Pak Supri tidak bisa dihubungi.


“Mungkin dia masih tidur," kata Andrea.


“Aku juga kalau tidak terpaksa pasti mau tidur lagi. Udaranya enak buat tidur,” sahut Ren.


“Ya sudah, tunggu saja kenapa, Say,” kata Zellina, melihat ke arah Andrea.


“Tidak bisa, Zell, waktunya tinggal hari ini, belum lagi kalau bukan air terjun itu yang dimaksud. Aku harus berpikir lagi.”

__ADS_1


Andrea masuk lagi ke dalam rumah, membujuk Dodo untuk mengantarnya. Dodo tidak bergeming, dia asyik bermain game online.


Andrea menatap Bu Nisma, meminta bantuan.


Bu Nisma membujuknya.


“Kasihan Andrea, Do. Nanti mereka nyasar.”


“Apa sih, Mbu?”Dodo terdengar kesal. Andrea duduk di ruang tengah, berharap sedikit kebaikan Dodo.


“Dia saudara kamu satu-satunya. Masa kamu membiarkan kesulitan.”


“Ah, Mbu mah suka begini kalau ada dia. Kenapa sih, Mbu? Yang anak Mbu itu aku atau dia? Biarkan saja mereka cari sendiri, teknologi sudah canggih. Ada GPS, punya mulut juga. Aku itu sudah malas berurusan dengan dia. Kalau Mbu terus saja membela dia, aku yang akan pergi dari sini.”


“Do!” bentak ibunya. “Keterlaluan, kamu!”


Andrea yang mendengar semua itu sekarang mengerti, kenapa Dodo selalu jutek kepadanya. Dia cemburu, karena ibunya memanjakan dia.


Dan sekarang semua itu sudah memuncak, Dodo sepertinya tidak main-main dengan ucapannya. Andrea jadi kasihan kepada uaknya.


“Ua,” panggilnya. “Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri.”


“Neng!” Bu Nisma keluar dari kamar Dodo. “Yakin mau pergi sendiri?"


Andrea mengangguk.


"Kalau boleh Ua tahu, kamu mencari apa ke tujuh curug?" tanya Bu Nisma.


"Euhh, ada keperluan saja, Ua. Sekalian anak-anak pengen piknik."


Ooh, ya sudah, hati-hati, Geulis!”


“Iya, Ua, nanti aku balik secepatnya. Ada sesuatu yang penting ingin aku sampaikan kepada Ua, menyangkut Ibu."


"Apa itu?"


"Euuh, nanti saja ya, Ua. Sekarang aku buru-buru." Andrea mencium tangan Bu Nisma.


Andrea menghampiri teman-temannya.


“Sudah, kita cari sendiri saja,” ajaknya.


Gigit yang sudah memanaskan mobil dari tadi segera masuk, diikuti yang lainnya., setelah berpamitan kepada Bu Nisma.


Bu Nisma memandangi mereka dari kejauhan. Dia buru-buru masuk kamar, menelefon seseorang.


"Saya tunggu kamu di sini," ujarnya, tegas. Kepada teman bicaranya di telfon.


**


Mobil bergerak, menyusuri jalan kampung menuju jalan kecamatan, lalu meluncur di jalan kabupaten.


Gigit mulai memasang GPS.


“Apa kita susul Pak Supri?” tanya Ren.


“Memang kamu tahu rumahnya?” Zellina mulai touch up.


“Kan di Hawaii.” Ren menjawab enteng.


“Aku rasa tidak usah, kita ikuti GPS saja,” kata Gigit.


“Iya, tapi jangan sampai mencebur ke kali saja,” kata Ren. “Di sini sinyalnya ampun deh,” lanjutnya.


“Tenang, Ren, paling juga nabrak pantat kebo.”


“Ih, Gigit, porno,” seru Zellina.


“Porno dari mananya? Kebonya juga tidak merasa porno, padahal kan tidak pakai celana.” Gigit malah menggoda Zellina.


Zellina mencubit pundak Gigit dari belakang. Gigit malah tertawa-tawa.


Andrea yang duduk di depan bersama Gigit ikut senyum-senyum. Dirogohnya botol kecil dalam ranselnya, dia ingin cepat-cepat sampai ke tujuh air terjun itu, dan menyelesaikan semua masalah.


“Teman-teman, terima kasih ya, kalian selalu mendukung aku sampai sejauh ini.” Andrea bicara seolah telah berhasil memenangkan misinya.


“Iya, Ndre. Tenang saja, kita kan sahabat. Kita semua sayang sama kamu.” Ren menggigit bakwan jagung yang dibawakan Bu Nisma untuk bekal mereka di jalan.


“Kita?” tanya Gigit, dengan pandangan tetap lurus ke jalan, takut ada pantat kebo.


“Maksudku aku dan Zellina, kalau kamu mah enggak tahu.” Ren mengedipkan mata kepada Zellina.


“Apa Ren kedip-kedip?” Zellina tidak bisa diajak kompromi. Ren menepuk keningnya sendiri.


“Aku juga sayang sama kalian.” Tiba-tiba Gigit menyahut.


“Aiihh, Gigit, memangnya kita selir-selir?” Zellina menyindir sambil cekikikan.


Entah kenapa mendengar pernyataan Gigit, Andrea merasakan ada goresan di hatinya, membuat sedikit luka, lalu berdarah, dan perih menyergap. Dia tersenyum terpaksa.


bersambung


mohon dukungan, Readers

__ADS_1


like komen dan vote untuk Author🙏


Terima kasih terus membaca 🙏


__ADS_2