My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 61 Teka-Teki Persembahan Lyla


__ADS_3

“Sampeyan saged sumerep?” (kamu bisa melihatku?)


Dengan sedikit kesal Andrea melepaskan pelukannya. Dia telah salah orang, dikira yang menolongnya itu Dale, ternyata seorang cewek aneh.


“Kenapa Kakak menolong aku?” teriaknya. “Biarkan aku tertabrak! Aku mau Dale datang,” lanjutnya, masih dengan wajah kacau.


“Sampeyan saged sumerep?” kata cewek itu lagi, seolah mengetahui sesuatu yang menakjubkan pada dirinya.


Dia melihat dirinya sendiri, lalu menatap Andrea. Mimik wajahnya lucu, karena kebingungan.


“Apa sih, sampean sumenep, sampean sumenep, memang di sini ada bawang Sumenep?"


Andrea berdiri, menjauh dari cewek aneh yang menyelamatkannya. Dia kembali melihat-lihat ke jalan, mana tahu ada gerobak sayur atau troli bayi lewat, dia akan menabrakkan diri.


Dengan cara begitu, Dale akan datang.


Cewek itu sigap memegangi tangannya. "Kamu bisa melihat saya?” tanyanya.


Andrea mendengus kesal. “Nih, mataku belum buta,” ketusnya, sambil melebarkan kelopak matanya dengan jarinya.


“Tolong lepaskan tangan saya, atau saya teriak!” Andrea mengancam. “Hidup aku sudah kacau, Kakak jangan menambah pusing kepala aku!”


Cewek aneh itu tidak mau melepaskan tangan Andrea. “Sampeyan mau apa? Mencelakakan diri biar Kang Dale datang ? Sampai sampeyan meregang nyawa sekalipun Kang Dale mboten saged dugi.”


Andrea terkejut, bukan karena mengerti ucapan cewek itu yang menggunakan bahasa campur aduk ala es campur, tetapi karena dia menyebut-nyebut nama Dale.


Andrea meneliti cewek aneh di depannya. Cantik, tidak terlalu muda atau terlalu tua. Seorang cewek yang sedang ranum, waktunya dipetik.


Dandanannya mirip dengan pendekar cewek di film-film kungfu, rambutnya sebagian digelung ke atas, tusuk konde menghiasi, sebagian lagi dibiarkan terurai ke punggung.


Dia memakai kemban sampai pinggang, sedangkan bawahannya memakai celana sampai betis, dilapisi kain sekitar pinggul. Tulang selangkanya yang terbuka ditutupi selendang ungu tua, warna yang pas membalut kulitnya yang putih.


Dia juga Memakai gelang lengan perhiasan model kuno. Sedangkan kakinya beralaskan sendal tali yang talinya sampai betis.


Melihat cepol dan tusuk kondenya, sekilas seperti melihat dandanan Bu Anis.


“Kakak siapa? Mau karnaval ke mana?”


Cewek itu melihat dirinya sendiri. “Saya Lyla.” Dia mengulurkan tangannya.


“Lyla?” Andrea memekik. Bukankah dia pacarnya Dale? Dia melihat sekeliling. “Aku bisa melihat kamu?”


“Mata sampeyan belum buta kan?"


Andrea buru-buru membawa Lyla masuk ke dalam rumah. Menutup pintu pagar dan menguncinya. Yakin, Lyla juga tidak terlihat seperti Dale. Dia tidak ingin ada yang melihatnya bicara sendiri.


Lyla melihat-lihat sekeliling rumah Andrea.


“Puniki griya juragane Kang Dale?” gumamnya.


Andrea menatap Lyla lama. “Lyla, please, tolong aku, Dale menghilang. Kamu tahu dia di mana?” tanyanya.


Lyla juga menatap Andrea dengan saksama.


“Sampeyan belum tahu Kang Dale ke mana? Bukankah dia sudah memberitahu lewat mimpi?”


“Oh, jadi, mimpi itu benar? Dale terbelenggu dan masuk ke dalam celah langit.”


"Iya, benar. Celah itu pintu ke dimensi lain, yaitu dimensi kami."


"Apakah dia baik-baik saja?"


"Mboten."


"Maksudnya?"


"Tidak, dia tidak baik-baik saja."


"Lyla, bicaranya jangan campur-campur, aku tidak mengerti."


Lyla diam saja, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sebenarnya saya tidak punya waktu banyak."


"Sebentar Lyla, kamu belum menjelaskan apa-apa."


“Assalamualaikum.” Seseorang mengucap salam dari pintu pagar.


Andrea belum mau berurusan dengan orang, dia mengintip dari kaca. Bu Tiur, tetangganya, berdiri di sana.


“Tidak ada orang, Pak.” Bu Tiur tengak-tengok ke dalam pagar.


“Tadi Bapak dengar ada orang bicara di dalam.”


“Mungkin Bapak salah dengar.”


“Ya sudah, mungkin hanya perkiraan Bapak saja.”


“Kirain benar sudah datang, Ibu ingin tahu keadaan Bu Yuli.”


“Besok kita ke rumah sakit saja.”


“Ya sudah kalau begitu, sekalian sama yang lain."


Andrea mengajak Lyla ke kamarnya.


“Kita bicara di sini saja.”


Lyla membenarkan letak selendangnya. Kulitnya yang mulus terlihat, ketika dia menyingkap selendangnya.


“Dia tidak menghilang, tetapi tertangkap musuh yang selama ini mengejarnya."


“Hah? Kok bisa?”


“Kang Dale hilang kekuatan, setelah menolong menyadarkan Ibumu. Dia tidak berdaya ketika prajurit kerajaan menemukannya."


“Dale ....” lirih Andrea. "Apakah dia tidak menemukan jengkol?"


"Belum sempat."


"Kasihan sekali kamu, Dal." Andrea menatap Lyla dengan mata nanar.


“Saya juga sedih," kata Lyla.

__ADS_1


"Kamu bisa menemuinya di mana?"


"Dia dikurung di puncak gunung, tempat tawanan pembangkang."


"Waduh!"


"Padahal saya juga sedang membutuhkannya," lirih Lyla.


“Eh, iya, kamu kenapa ke sini?”


“Byork berbuat ulah.”


“Siapa Byork?”


“Jin jahat penguasa kelas.”


“Kelas mana?”


“Kelas sampeyan. Kelas kamu."


“Hah?Apakah dia jin yang mengikuti Fany? Jadi namanya Byork?”


"Iya, namanya Byork. Juragan saya disandera dia”


“Bu Anis?”


“Nggih. “


“Terus, kenapa kamu malah ke sini? Tidak menjaga Bu Anis."


“Saya tidak bisa menghadapinya.” Lyla melangkah ke arah jendela. “Makhluk jahat itu murka, karena cintanya tidak saya sambut. Dia menyandera juragan saya."


“Terus, bagaimana dengan Bu Anis?”


“Makanya saya butuh Dale. Hanya dia yang bisa membantu saya melawan Byork.” Lyla berhenti bicara. Tangannya meraba-raba dadanya.


“Saya ingin memecahkan teka-teki ini, untuk membebaskan Kang Dale.”


Lyla menarik sedikit kain kemban yang menutupi dadanya, sehingga menampakkan sedikit belahan dadanya yang putih mulus. Dia mengeluarkan secarik kertas dari balik kembennya.


Andrea membuang pandangannya dari Lyla. Walaupun sama-sama cewek, dia tidak sampai hati melihat aurat diumbar seperti itu.


Bagaimana tidak jadi rebutan, penampilan Lyla begitu menggoda. Pantas saja Dale naksir berat, tidak bisa mengendalikan diri ketika berhadapan dengan Bu Anis. Di dalam tubuh Bu Anis ada dia, cewek cantik, mulus, nan seksi.


Lyla membuka lipatan kertas, aroma wangi menguar ke seluruh ruangan kamar. Andrea tidak tahu wangi apa.


Andrea melihat kertas yang diberikan Lyla.


Tulisan yang tertera ternyata memakai huruf aneh.


“Ini artinya apa?” Aku tidak bisa membacanya."


Lyla mengambil kembali kertasnya, lalu membacanya. "Oh iya, saya lupa, ini tulisan bangsa kami."


"Coba kamu bacakan!"


“Belenggu akan sirna, jika bening kaca, teteskan air berguna. Tujuh sumur tanah tinggi selatan tanah Pasundan.”


“Maksudnya?”


Andrea mengerutkan kening. Dalam keadaan seperti itu dituntut berpikir juga, benar-benar bisa pecah kepalanya.


"Kamu bagaimana sih, Dal, malah bikin teka-teki seperti ini. Sudah tahu aku malas mikir," gumam Andrea.


Mereka memikirkan teka-teki itu bersama-sama. Andrea sampai beberapa kali pindah duduk dan ganti posisi. Berbaring, menyender, dan tengkurap juga dilakukannya.


Lyla tetap berdiri, dengan jari-jari bertaut di depan dada. Sampai satu jam mereka begitu, tetapi tidak bisa memecahkan teka-teki itu.


“Aku menyerah, haus.” Andrea bangun dari tempat tidurnya, lalu berjalan ke luar menuju dapur.


Dia melirik kamar ibunya. Hatinya kembali gamang, merasa sudah tidak ada lagi yang bisa dia harapkan dari orang-orang di sekelilingnya.


Gawai di ranselnya berdering beberapa kali, pesan masuk juga minta dibaca. Dia sedang ingin sendiri, malas untuk berhubungan dengan siapapun.


Kerumitan hati menyergap justru disaat dia membutuhkan banyak dukungan. Tetapi yang dia terima malah dukungan yang disertai kepentingan pribadi.


Dia tidak menyangka, Tante Dina yang lembut keibuan, bisa berbuat seperti itu kepadanya. Mendukung ibunya untuk mati saja, daripada mensuportnya untuk melakukan operasi.


Lyla tetap berdiri dekat jendela dengan wajah gundah, sebenarnya dia juga tidak punya banyak waktu.


Perasaan kacau, dan tubuh lelah, membuat kepala Andrea pusing. Keseimbangan tubuh Andrea menurun, lalu tanpa sengaja menabrak lemari pajang kesayangan ibunya, sampai bergoyang dan isinya berjatuhan.


“Ya Allah, ada apa denganku,” lirihnya. Dia menggelengkan kepalas, lalu berusaha membereskan pernak-pernik pajangan ibunya, termasuk botol kaca yang terbawa dari kamar kakeknya waktu itu.


Melihat benda itu, Andrea menyadari sesuatu. Gembok antik yang mengeluarkan Dale ada di ranselnya begitu saja, seolah masuk sendiri. Begitu juga dengan botol kaca itu, ada di dalam ranselnya seolah masuk sendiri.


“Mereka sepertinya satu paket, dulu aku tidak merasa memasukkannya ke ransel. Mungkin berguna, semoga saja Lyla tahu botol apa ini,” gumamnya.


Andrea tidak jadi minum, dia membawa botol kaca itu menemui Lyla yang sedang memandangi poster-poster artis Korea di dinding kamarnya.


"Lihat apa Lyla?"


"Apakah ada Kang Dale di sana?" Lyla balik bertanya. Dandanan Dale mirip seperti mereka, lucu dan menggemaskaskan.


"Tidak ada, mereka penyanyi dan penari, kalau Dale pelari."


"Pelari?"


"Iya, dia kan suka lari-lari terus. Dikejar musuhnya."


"Ooh," mulut Lyla membulat.


"Selain itu, dia juga suka lari-lari di hatimu ya?" goda Andrea. Lyla tersenyum kecil, malu-malu.


"Aku mendandani Dale seperti mereka, biar enak dipandang. Kamu suka?"


Lyla kembali tersenyum malu. Andrea tersenyum menggodanya. Dia jadi terbiasa berurusan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata seperti ini.


Dia juga tidak tahu apa yang ada dalam dirinya, sehingga bisa melihat mereka dan dengan mudah bergaul bersama mereka, tanpa rasa takut sedikit pun. Mungkin karena mereka cakep, entah kalau berwujud mengerikan.


“Lyla, mana teka-tekinya? Coba bacakan lagi!” Andrea teringat pada botol kaca yang dibawanya.


Lyla membuka kembali lipatan kertas di tangannya. “Belenggu akan sirna, jika bening kaca, teteskan air berguna. Tujuh sumur tanah tinggi selatan tanah Pasundan."

__ADS_1


Andrea juga mencari pulpen, untuk mencatat arti tulisan itu, biar tidak bertanya terus kepada Lyla.


Lyla melipat kembali lembaran kertas wanginya. Dia melihat botol kaca di tangan Andrea.


“Itu?” tanyanya.


“Ini, aku menemukan ini. Dulu terbawa sama-sama dengan gembok Dale, ada di ranselku. Apakah ini bening kaca yang dimaksud?”


Lyla meneliti botol kaca itu. “Ini botol tempat kami mengambil air suci," yakin Lyla.


“Apa mungkin kaca yang dimaksud dalam teka-teki itu ini?” Andrea bertanya lagi.


“Benar, ini kacanya!” seru Lyla. Wajahnya semringah.


Melihat Lyla yakin, Andrea jadi semakin bersemangat memikirkan teka-teki selanjutnya.


“Teteskan air berguna ....” Andrea berpikir, dia memutar otak. “Tujuh sumur ... tanah tinggi ... Bukankan tanah tinggi itu gunung?” gumamnya.


“Sampeyan bisa memecahkannya?” Lyla bertanya lagi.


“Sampeyan itu apa?” Andrea tidak mengerti dengan ucapan-ucapan asing dari mulut Lyla.


“Kamu.”


“Oh, aku kira kaki.”


“Kaki itu samparan, Cah Ayu.”


"Ah, kalau cah ayu aku tahu. Cantik bukan?"


"Leres," sahut Lyla.


“Ah, sudahlah, kenapa jadi belajar bahasa daerah, itu bisa nanti lagi. Pikirkan dulu ini!”


“Lha, tadi sampeyan yang tanya kok.”


Andrea tersenyum kecil. Dia garuk-garuk kening yang tidak gatal.


“Ini mungkin ya, tetapi mudah-mudahan betul. Artinya kira-kira seperti ini, belenggu akan hilang, dengan menggunakan botol kaca yang diisi air tujuh sumur dari gunung di selatan tanah Sunda.”


Andrea menjentikkan tangannya, tidak sia-sia dia mikir, jika teka-teki itu bisa terpecahkan.


Lyla berbinar. “Ya sudah, saya serahkan semuanya kepada sampeyan. Saya harus menemani juragan saya, sukmanya dibawa jin gendeng itu. Saya harus pertaruhkan dulu raga saya untuk membawanya kembali.”


Lyla menunduk sedih, lalu melanjutkan ucapannya, “Cah ayu, saya percayakan kebebasan Kang Dale, dan kesembuhan juragan saya, hanya kepada sampeyan.”


“Maksud kamu apa, Lyla?”


“Saya tidak bisa menemani mencari penawar untuk membebaskan Kang Dale. Saya harus menebus sukma juragan saya, dengan menerima pinangan makhluk jahat itu. Tiga hari lagi saya akan dinikahinya.”


“Lyla, bagaimana dengan Dale? Dia mencintaimu,” kata Andrea.


Lyla menekur.


"Dia menceritakan semuanya kepadaku, kalau kamu itu cinta pertamanya, dan mungkin yang terakhir." Andrea bicara seolah dia sedang menjadi comlang, dan kedengarannya terlalu lebay. Itu semua katena dia tahu, bahwa Dale memang benar-benar mencintai Lyla.


Lyla melemparkan pandangan ke luar jendela.


"Jika dalam tiga hari Kang Dale tidak menemui saya, dan membantu melawan kekuatan Byork, saya bisa apa? Juragan saya nanti yang jadi korban. Cinta bukan prioritas bagi kami, tetapi keselamatan juragan kami yang utama. Sampeyan juga pasti tahu itu."


Andrea meghampiri Lyla. “Apa yang akan terjadi pada Bu Anis, kalau kamu tidak menikah dengan si jorok Byork?”


"Mungkin dia tidak akan selamat, meninggal." Lyla menunduk.


"Kalau kamu menikahi Byork?"


“Beliau akan selamanya berada di negeri kami.”


Andrea menutup mulutnya. “Tidak ada pilihan yang membuat Bu Anis sembuh?"


"Maka dari itu, kehadiran Kang Dale sangat penting. Saya menikah atau tidak, juragan saya tidak akan sembuh. Hanya Kang Dale dan kekuatan cintanya yang bisa membinasakan Byork."


"Bu Anis ....." Andrea terduduk lemas.


“Saya pamit.” Lyla melesat lewat jendela.


“Lyla! Lylaaa!!” Andrea memanggil-manggil tetapi Lyla sudah menjadi kelebat kecil di pupilnya.


Dia buru-buru mengambil gawai yang masih di kamar ibunya. Panggilan tak terjawab dari beberapa nomor dia abaikan, yang dibutuhkan adalah menghubungi Ren.


“Hallo, Ren!”


“Ndre, kamu di mana?” Suara Ren terdengar.


“Di rumah, bagaimana keadaan Bu Anis?”


“Bu Anis? Kamu tahu Bu Anis sakit?”


“Iya, aku tahu.”


“Beliau belum sadar, Ndre. Pak Haris mau membawanya pulang, karena kata saudaranya yang di Jawa, dia disuruh membawa pulang saja, tidak usah dibawa ke rumah sakit.”


“Ya sudah, ikuti saja saran keluarganya.”


“Ndre, kamu baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja.”


“Nanti sore aku temui kamu.”


“Tidak usah, Ren.”


Andrea menutup gawainya. Dia sudah membulatkan tekad, mau menyelamatkan Dale.


Hanya Dale yang bisa membantunya, hanya Dale yang bisa meredakan tangisnya.


Dengan Dale dia tenang, ada Dale dia aman. Dia tidak mau jadi anaknya Tante Dina, dia ingin ibunya sembuh.


Dia juga mau Bu Anis kembali dari alam gaib.


Andrea membuka celengan hello kitty miliknya. Beberapa ratus ribu uang di dalamnya dia masukkan ke dalam ransel, lalu mematikan ponsel, dia tidak ingin ada yang mencoba mengubah niatnya untuk pergi.


“Ibu, maafkan aku, aku akan pulang secepatnya, dan membawa uang untuk operasi. Walau bagaimana pun, ibu harus sembuh, Bu. Tante Dina dan Om Azi tidak menginginkan Ibu sembuh.”

__ADS_1


Sambil menyeka air mata, Andrea mengambil surat perjanjian yang tadi diremasnya, lalu dimasukkan ke dalam ranselnya.


bersambung


__ADS_2