
Brakk! Brakk!!
Pak Haris menggebrak papan tulis. Kelas menyepi.
“KM kelas menghadap Kepsek sekarang!” teriaknya, lalu keluar. Dia pusing dengan aduan-aduan Bu Raisa, tentang kelas asuhannya.
Mata-mata tanpa dosa menanggapi perintah wali kelas mereka dengan santai. Tentu saja, mereka bukan KM.
Yang kaget hanya Ren, dia segera berdiri, lalu mengikuti Pak Haris ke luar kelas.
Meskipun kasihan melihat Ren, Andrea tidak menawarkan apa-apa untuk membantu, sejak pagi mereka belum bertegur sapa.
Kelas kembali liar, lebih kacau dari pasar malam.
Salsa duduk di kursi Ren. “Selama Bu Anis tidak kembali sepertinya kelas ini akan kacau terus.”
Andrea menolehnya. “Terus kita harus bagaimana? Bu Anis sudah mengundurkan diri.”
“Enggak coba membujuk lagi? Hanya dia yang bisa membuat kelas ini menurut.”
“Kamu kok bilang ke aku, aku kan bukan KM.”
“Kalian kan dekat, selama ini Ren bertindak selalu sama kamu.”
“Ogah,” sahut Andrea.
Salsa menatapnya bingung.
“Eh, iya, sudah dua hari ini kulihat kalian kok beda, lagi marahan?” tanya Salsa lagi.
Andrea tidak menjawab, dia berdiri meninggalkan Salsa yang terheran-heran.
Pelajaran Matematika kosong lagi. Bu Raisa tidak sanggup mengajar di kelas itu, setelah dua kali berturut-turut dia mengajar hanya mendapat kenaikan tensi. Boro-boro kenaikan gaji.
Andrea memilih pergi ke kantin, memesan mie rebus pedas level enam.
“Sendirian, Ndre?”
Suara yang dikenalnya menyapa.
“Ah, iya, lapar, Kak.”
“Kosong?” tanya Yadi, duduk di seberang Andrea.
“Iya, sejak Bu Anis tidak mengajar, kelas jadi banyak jam kosong.”
“Oh iya, Bu Raisa bagaimana, katanya mengganti Bu Anis?”
“Beliau tidak mau mengajar di kelas aku.”
“Hmm, iya sih, yang kudengar kelas kamu itu unik, hanya Bu Anis yang bisa kendalikan. Kenapa ya?” Yadi menopang dagu.
“Entah, Kak. Anak-anaknya dodol semua.”
“Termasuk kamu dong,” ledek Yadi.
Andrea tertawa.
"Tapi manis kan," lanjut Yadi, senyumnya terlihat lain, membuat Andrea menepis udara, sambil menepis groginya.
Mie rebusnya sudah datang, dia ingin segera melahap mie seperti melahap semangok galaunya agar tertelan dan hilang.
"Nak Yadi pesan apa?" tanya Bu Kantin.
"Aku minum saja, Bu, teh botol."
"Siap!"
“Kakak kenapa di luar?” Andrea bertanya, dengan mulut kepedasan, air mie rebus dia seruput-seruput.
Tidak sedikit pun dia menunjukkan sifat femininnya di depan Yadi, biar cogan itu ilfeel dan menjauh.
Tetapi bukan menjauh, Yadi malah mengambil selembar tisu untuk melap mulutnya yang berlepotan kuah mie rebus.
"Jangan, Kak! biar saya saja.” Andrea menahan tangan Yadi di bibirnya dengan sedikit grogi.
Mereka jadi tersipu.
“Izin sebentar, aku tadi lihat kamu ke kantin sendirian.” Yadi menjawab pertanyaan Andrea.
Andrea merasakan gelagat tidak enak dari Yadi, cowok itu ternyata memata-matainya.
Teh botol datang, Bu Kantin menaruhnya sambil melirik mereka bergantian.
"Kenapa, Bu?" Yadi bertanya.
"Enggak apa-apa, kalian cocok." Ibu kantin mengacungkan dua jempolnga.
__ADS_1
Andrea tidak perduli, diteruskan makan mie.
Yadi menatapnya dengan senyum berbeda mendapat dukungan dari Ibu Kantin.
"Sore ini ada acara, Ndre?" tanya Yadi, menyeruput teh botolnya.
Andrea menggeleng.
"Wah, bagus dong. Kita jalan, yuk!" ajak Yadi.
“Bu, berapa?” Andrea memanggil ibu kantin. Mie rebusnya padahal belum habis.
“Kan sudah bayar, Neng," teriak Bu Kantin.
“Oh iya, lupa, Bu. Kak, aku sudah kenyang, duluan ya?” Andrea buru-buru berdiri.
“Ndre!” Yadi berdiri. Andrea jadi rikuh, Yadi menghalangi jalannya.
“Aku mau ngomong.”
“Tapi, aku harus ke kelas, Kak,” kata Andrea.
Yadi malah memegang tangannya.
“Ndre, jangan banyak alasan. Kamu menghindar, kan? Kenapa kamu selalu menghindar?"
“Enggak, Kak. Duh, maaf, Kak." Andrea mencoba melepaskan pegangan tangan Yadi.
“Kenapa kemarin tidak angkat telefonku?”
“Euuhh, maaf, aku buru-buru mau ada ulangan ....”
Tiba-tiba Yadi mencengkeram pergelangan tangan Andrea dengan kencang.
“Aww ....” Yadi memekik, tangan Andrea terasa panas seperti bara. Buru-buru dilepaskannya tangan Andrea, dan melihat telapak tangannya yang terasa mau melepuh, tetapi tidak apa-apa. “Sialan,” umpatnya.
Andrea sudah menjauh, dan pergi dari kantin, dengan tatapan tajam Yadi.
"Kenapa, Nak Yadi?" tanya Bu Kantin.
Yadi melengos. Hatinya sedang luka, tersabet kejamnya penolakan.
“Nggak apa-apa, Neng?” tanya Dale.
“Nggak. Sinyal kamu udah 4G ya? Cepat banget.”
“Bagus lah. Ya sudah jangan pergi lagi, temani aku di sini, sepertinya orang yang tidak menyukaiku akan bertambah lagi.” Andrea mengajak Dale ke taman sekolah yang sepi.
Mereka duduk di bangku taman yang menghadap perpustakaan. Menikmati indahnya bunga-bunga, dan beberapa ekor kepik merah.
“Gagarudaan yuk, Neng,” iseng Dale, menghibur Andrea yang sedang bete.
“Apa itu?”
“Tebak nama-nama dari huruf awal itu.”
“Oh, abc lima dasar.”
“Iya, kan lima dasar negara kita ada pada burung garuda.”
“Kita? Negaraku kali,” protes Andrea. Dale garuk-garuk kuping.
“Memang kamu punya KTP Indonesia?”
Dale menggeleng.
“Jangan ngaku-ngaku kalau begitu.”
“Iya, maaf, saya hanya sebatas merasa memiliki,” sahut Dale.
“Hadeuuuhh, bahasamu. Ayo, siapa takut!”
Lalu keduanya bersiap dengan tangan di udara.
“Abc lima daaa ... sar!!” seru Andrea.
Andrea menyimpan tiga jari, Dale lima jari.
“A, b, c, d, e, f, g, h,” hitung Dale dengan terbata-bata. Andrea tertawa geli.
“Sebut nama apa?” tanya Andrea.
“Nama buah!” Dale antusias.
“Enak di kamu, itu mah makananmu.”
“Apa atuh?”
__ADS_1
“Nama artis,” sahut Andrea.
Dale berpikir sebentar. “Hritik Roshan!” teriaknya.
“Siapa itu?”
“Artis India.”
“Waduh, curang, kok artis India?”
Dale cengengesan. “Saya seringnya menonton film India.”
“Hmm, bolehlah.”
“Ayo giliran, Neng!”
“Euuhh ... Hyun bin.” Andrea menggerak-gerakkan alisnya.
“Pasti artis Korengan.”
“Korea!” teriak Andrea, dia memukul-mukul bahu Dale. Mereka tertawa-tawa.
Yadi yang mengikutinya diam-diam melihat heran, Andrea berbicara, dan tertawa sendiri sambil memukul-mukul angin.
“Dasar, cewek gila,” gumamnya.
Dia masih kesal atas penolakan Andrea dan panas di telapak tangannya. Padahal selama ini tidak pernah ada cewek yang menolaknya, mereka bahkan berlomba untuk jadi pacarnya.
Mungkin karena itu juga dia jadi penasaran dengan Andrea, cewek unik yang telah membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
“Kak, sedang apa di sini? Aku cari ke kelas.” Tiba-tiba Zellina berada di belakangnya, lengkap dengan bedak di tangan dan bando kelinci di kepala.
Yadi menarik tangan Zellina dengan cepat. “Lihat! Sahabat kamu sudah gila sepertinya.”
Zellina heran melihat perubahan Yadi. Selama ini dia mengenal dia cowok yang baik dan ramah, kenapa sekarang mendadak ketus dan kasar.
“Masa sih?”
“Lihat saja, bicara dan tertawa sendiri, apalagi kalau bukan gila.”
Zellina melihat ke arah Andrea dan menyaksikan sendiri apa yang Andrea lakukan.
Benar-benar gila rupanya, lu, Ndre, baguslah, sainganku sudah terdelet satu, batin Zellina.
“Euhh, begitulah, Kak. Dan asal Kakak tahu, dari kemarin-kemarin aku sudah bukan sahabatnya lagi.”
Sekali lagi Yadi melirik Zellina. “Oya? Kenapa?”
“Seperti yang kakak lihat, dia susah ditebak. Sepertinya Ren juga mulai menjauhi dia.”
Yadi dan Zellina mengawasi Andrea lama.
“Kita sedang diawasi, Neng,” kata Dale. Andrea terpaku.
“Siapa?”
“Lalaki yang tadi di kantin.”
“Yadi?”
“Sama awewe. Dia Neng Princes.”
Andrea baru sadar dia pasti dari tadi kelihatan seperti orang tidak waras, bicara sendiri.
Dia beranjak. “Kita ke kelas saja, Dal.”
Yadi dan Zellina bersembunyi di balik tiang besar sekolah. Andrea pura-pura tidak tahu, melewati mereka dengan santai.
Yadi mendengus, seperti banteng matador dalam gelanggang, lalu pergi setelah Andrea menjauh.
“Kak, mau ke mana?” tanya Zellina.
“Ke kelas, ngapain di sini.”
“Ada yang mau aku bicarakan, tentang basket.”
“Bodo amat!” teriak Yadi, sambil terus berjalan.
Zellina mengentak-entakkan kakinya dengan wajah merengut. “Kenapa dia? Aaaargghh!!” dia gemas, lalu menatap sebal punggung Andrea.
*bersambung
Jangan lupa dukung Author yaa readers
Tinggalkan jejak dengan like, komen, dan vote
Semoga kebaikan kalian dibalas dengan yang lebih besar oleh Allah SWT, Aamiin 😊🙏❤❤❤*
__ADS_1