My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 53 Menunggu Perintah


__ADS_3

Dalam resahnya tiba-tiba Andrea ingat Dale. Dia kesal kenapa Dale tidak muncul menolong ibunya.


Andrea menaruh jempol di hidungnya. Mai meminta pertanggung jawaban bodyguard tidak jelas itu. “Dulale Dulale, westin wergan wesma werma,” gumamnya.


Dale muncul, dengan sesisir pisang kecil-kecil.


“Neng sedang apa di sini?” Dale melihat-lihat sekeliling.


“Aku sedang pawai obor,” ketus Andrea.


“Obornya mana?” Dale celingukan lagi.


“Lihat di sana, Dal!” Andrea menunjuk ke pintu ruangan ICU.


Dale segera menuju ke sana. Dia terkejut melihat ibunya Andrea tertidur pulas dengan banyak alat menempel di tubuhnya.


“Tidak ada obornya, Ibu Neng kenapa?”


“Ibuku sakit. Katamu dia baik-baik saja.” Andrea masih berkata ketus, dia menyalahkan Dale yang tidak bisa mengetahui keadaan ibunya.


“Memang beliau baik-baik saja, Neng. Kalau beliau sakit, saya pasti bilang sakit.”


“Nyatanya, dia sakit kan?”


“Saya tidak tahu, kan saya bukan dokter.”


“Ngeles saja, kayak bajai.” Andrea meradang.


“Neng marah sama saya?”


“Aku kecewa, Dal. Kamu tidak bisa diandalkan.”


Dale berjongkok dengan satu lutut, dia paling pantang dibilang tidak bisa diandalkan, padahal tugasnya adalah penjaga.


“Maafkan saya, Neng, apakah ada tugas dari Neng yang tidak saya kerjakan dengan baik?”


Andrea terdiam, dia mengakui kalau Dale memang selalu bisa diandalkan, tetapi harus atas perintahnya.


“Kenapa sih semua harus diperintah dulu? Kamu tidak punya inisiatif sendiri?”


“Maaf, Neng. Saya diprogram menjalankan perintah.”


Andrea membuang pandangannya ke arah lain. Dia benar-benar kecewa. “Kenapa sih, kamu tidak tahu kalau Ibu sakit dan membiarkan dia jatuh begitu saja?”


“Saya diperintahkan untuk menjaga Neng, bukan orang lain.”


“Kamu bilang ibuku orang lain?” Andrea berdiri, dia benar-benar kecewa sama Dale. "Dia ibuku, Dal, orang yang telah melahirkanku, darahnya sama denganku," teriak Andrea.


Gigit terbangun mendengar suara Andrea.


“Kamu kenapa, Ndre?”


Andrea kembali duduk, dia membuka kupluknya, lalu memijit-mijit kepalanya. Dale mengikutinya.


“Dia beda tubuh dan beda nyawa dengan Neng.” Dale masih menjawab, padahal Andrea sudah terlihat kesal sekali.


Andrea menatap Dale lekat-lekat.


Masih berani bicara saja dia, batinnya.


“Kamu sakit kepala, Ndre? Sebaiknya tidur dulu, nanti kalau semuanya sakit akan repot, siapa yang akan menjaga ibumu.” Gigit kembali membuka jaketnya. Menaruhnya di kursi.


Andrea masih menatap Dale yang berjongkok lagi sambil menunduk.

__ADS_1


Dia sekarang menuruti Gigit, meletakkan kepalanya pada jaket, dan menaikkan kakinya. Dia benar-benar butuh rebahan, untuk menghadapi kenyataan dan kekesalannya.


Gigit kembali memejamkan mata, setelah memastikan Andrea tidur.


Menjelang subuh Gigit terbangun. Dia melihat Andrea masih pulas tidur. Gigit melihat Yuli.


Seorang suster lewat.


“Bagaimana keadaan Bu Yuli, Sus?”


“Masih seperti semalam, belum ada perubahan.”


Gigit membuka gawainya, dia ingin menghubungi ibunya. Biasanya jam begini ibu dan ayahnya sudah bangun, selesai salat malam.


“Iya, Nak, ada apa? Kamu baik-baik saja kan?” terdengar suara lembut ibunya dari seberang sana, setelah Gigit mengucap salam.


“Gigit baik-baik saja, Bu. Hari ini mungkin tidak masuk sekolah dulu, pagi ini mau pulang ke rumah Om Wisna saja, ya. Ikut mandi di sana.”


“Oh, iya, baiklah, jangan lupa izin ke sekolah ya, Nak."


“Iya, Bu.”


“Bagaimana keadaan teman kamu?”


“Yang sakit ibunya, dia baik-baik saja."


“Oh, baiklah, salam buat Om Wisna.”


“Iya, Bu. Assalamualaikum.”


“Alaikumsalam.”


Gigit menutup ponselnya, dia tersenyum, bersyukur mempunyai orang tua yang masih lengkap dan penuh pengertian seperti mereka.


Andrea sudah terbangun. “Menelefon siapa, Git?”


“Maaf ya, Git. Aku jadi merepotkan kamu, jadi enggak enak sama ibu dan ayahmu."


“Tenang saja, Ndre. Ngga kok, beliau titip salam buat kamu.”


Andrea mengangguk sambil tersenyum.


“Oiya, kamu sudah menghubungi Ren?” tanya Gigit lagi.


Andrea menggeleng. “Belum sempat.”


“Biar aku saja yang memberi tahu dia.” Gigit segera menghubungi Ren.


Andrea melihat Dale masih di sana, menjaganya. Tetapi dia mengabaikannya. Dia melihat ke ruangan ibunya, perawat yang sedang mengganti infus. Dale mengikutinya.


“Sus, bagaimana ibu saya?” Andrea bertanya, ketika Suster keluar.


“Sebaiknya, ditanyakan kepada dokter saja, ya.”


“Boleh saya masuk sebentar, Sus?” Andrea memohon, dia ingin sekali lebih dekat dengan ibunya.


“Boleh, silakan, sebentar saja ya, saya temani."


“Terima kasih, Sus.” Andrea segera masuk, lalu mendekati ibunya, memegangi tangannya, lalu menciumnya.


“Ibu, cepat sembuh. Aku janji, tidak akan membuat ibu sedih lagi.”


Suster meliriknya, dia ikut merasa iba.

__ADS_1


Dale menunduk sedih. Gigit melihatnya dari kaca pintu, lalu berjalan ke luar dengan jaket di pundak. Membiarkan Andrea dekat dengan ibunya.


“Neng, perintahkan saya untuk sembuhkan Ibu.” Dale bicara pelan.


Andrea tidak menjawab, dia masih memeluk tangan ibunya.


“Sebaiknya pasien tidak diganggu dulu, Nona bisa menunggunya di luar.” Suster meminta Andrea segera keluar.


“Sebentar lagi, Sus,” pinta Andrea dengan wajah memelas.


“Ini sudah peraturan rumah sakit, di ruang ICU, pasien tidak bisa ditunggu di dalam.”


Andrea terpaksa menurut, sekali lagi dia mencium tangan ibunya.


“Ibu Neng Andrea pasti akan baik-baik saja.” Dale berkata lagi. “Kalau diizinkan, saya bisa menyadarkan Ibu, Neng.” Dia menyandarkan punggungnya ke tembok.


Andrea duduk menekur.


“Apa kamu bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal?” tanya Andrea, tidak kalah lirih, matanya tetap menekuri lantai.


“Tentu saja tidak, Neng,” jawab Dale.


“Kamu memang tidak terlihat, tapi kamu bukan Tuhan, Dal," ucap Andrea, matanya tetap tajam melihat lantai rumah sakit. "Jangan merasa bisa melakukan segalanya," ucap Andrea lagi.


“Saya minta maaf, jika Neng menganggap saya tidak berguna."


“Kamu tidak salah, kenapa harus meminta maaf? Aku yang salah karena terlalu mengandalkanmu.” Andrea bicara dengan nada datar.


“Neng Andrea jangan meragukan saya kalau begitu, saya akan selalu ada untuk menjaga Neng.”


“Tapi tidak untuk menjaga ibuku, kan?”


Dale menunduk, takut melihat sorot mata Andrea yang sekarang menatap tajam ke arahnya.


“Dasar kamu jin, ternyata tidak ada bedanya kalian dengan robot.” Andrea mendengus kesal, diangkatnya badannya untuk segera pergi dari hadapan Dale.


“Kalau Neng Andrea izinkan, saya bisa menyadarkan Ibu Neng Andrea. Meskipun harus menghabiskan kekuatan saya lagi.”


Dale keukeuh meminta Andrea memerintahnya.


"Saya menunggu perintah," ucap Dale lagi.


“Sudahlah, Dal … mendingan kamu pergi saja sekarang! Aku sedang kecewa sama kamu!” pekik Andrea.


Mendapat perintah seperti itu Dale langsung menghilang.


“Ndre, kamu kenapa?” Gigit muncul dengan mimik wajah heran. Ditangannya ada sekeresek makanan dan minuman.


Andrea segera duduk, dia emosi kepada Dale, sehingga tidak sadar berteriak begitu.


“Kamu dari mana?” Andrea bertanya setelah emosinya mereda.


Gigit mengangkat bawaannya. “Meskipun sedang sedih, kamu tetap butuh makan, Ndre.” Gigit menyodorkan sebungkus roti isi dan sekotak susu.


Andrea tersenyum kecil. “Terima kasih banget ya, Git. Kamu selalu ada buat aku. Aku tidak tahu bagaimana bisa bertahan, kalau tidak ada kamu.”


Gigit menatap Andrea yang berwajah lelah. “Ndre, aku senang melakukan ini. Ada ketika kamu kesulitan, makanya jangan sungkan ya.”


Andrea menunduk, diraihnya roti isi dan susu yang disodorkan Gigit. Meskipun terasa hambar, dia harus menelannya, demi Gigit yang telah berusaha membuatnya kuat, dan demi ibunya yang entah sampai kapan tidak sadarkan diri seperti itu.


Andrea tidak sanggup menelan, ada gumpalan tangis yang kembali menyumbat tenggorokannya.


Azan subuh berkumandang, Andrea beranjak, untuk kembali bersimpuh menghadap-Nya, sekaligus menyembunyikan tangis dari depan Gigit.

__ADS_1


bersambung


Terima kasih yang sudah mampir untuk membaca, jangan lupa meninggalkan jejak yaa, sukses selalu, All 😊😊


__ADS_2