My Secret Bodyguard

My Secret Bodyguard
Bagian 102 Andrea Lempar Bom, Gigi Menembak


__ADS_3

Tidak ada cara lain, satu-satunya yang paling bisa diandalkan hanya Dale. Andrea menyuruh penjaga rahasianya itu untuk membantu Dodo mengurai kekacauan di kampung.


Tetapi Bu Nisma sudah lebih dulu bertindak. Dia sudah tahu, Andrea dilindungi jin pengikut ayahnya. Pasti akan dengan mudah membantu Dodo kabur lagi. Bersama seorang dukun, dia membentengi rumahnya dengan petai.


Dale tidak berkutik, jangankan mendekati Dodo, masih di alun-alun juga hawa petai sudah terasa, menguras energinya.


Sudah berhari-hari Dodo dikurung di rumahnya sendiri, dia sudah tidak kuat. Dua dunia seperti meninggalkannya, dunia nyata dan dunia maya. Yang dia miliki sekarang hanya dunia rindu. Rindu Zellina, rindu jalanan, dan rindu cahaya. Kamarnya tidak ada hawa.


"Mbu, kalau Mbu terus-terusan mengurung aku begini, lebih baik aku mati saja," teriak Dodo.


Bu Nisma tidak menggubris. Netranya tetap pada layar televisi. Mang Ohen, dan Bi Ecin saling pandang. Kedua pekerjanya itu merasa kasihan kepada Dodo.


"Juragan," ujar Mang Ohen. "Kasihan, A Dodo."


Bu Nisma menoleh, raut wajahnya judes level sepuluh.


"Berani sekali lagi kamu memengaruhi saya, habis hidup kalian!" bentak Bu Nisma. Mang Ohen dan Bi Ecin beringsut mundur, ke dapur.


Tidak lama, dukun kepercayaannya datang lagi. Melakukan ritual penjagaan rumah dengan cara menyembur, dan menabur. Bu Nisma kebagian nyawer. Permintaan saweran tidak pernah sedikit, alasannya banyak, Bu Nisma tidak bisa menolak.


Mendengar Dodo yang diperlakukan seperti itu oleh ibunya, teman-temannya tidak menerima. Mereka bersama-sama mendatangi rumah Bu Nisma, menuntut Bu Nisma membebaskan Dodo melakukan apa yang dia mau.


"Selama ini, kami menurut kepada juragan Mbu, demi menghormati juragan sebagai ibunya Aa Dodo," kata Usep. "Juragan malah memperlakukan Aa Dodo seperti itu."


"Eh, berani sekali ya kamu!" bentak Bu Nisma. Usep tidak takut, dia malah menyuruh teman-temannya masuk ke dalam. Pertentangan pun terjadi, Bu Nisma mengacungkan senapan kepada mereka.


Warga kampung berkumpul, mereka semakin banyak, mengepung rumahnya. Mereka juga bersimpati kepada Dodo, terutama mereka yang juga merasa ditindas oleh Bu Nisma, yang ternyata sudah menjadi tengkulak pencekik leher petani.


"Perbuatannya sudah keterlaluan. Kita memang orang miskin, tetapi jangan mau ditindas, dan dibodohi seperti selama ini," kata seorang warga. Disetujui warga lainnya.


Usep yang berada paling depan bersiap menerobos masuk. Bu Nisma hilang kesabaran, dia menarik pelatuk senapan ke arah Usep.


Dorr!!


Peluru mimis mengenai lengan Usep. Usep terjungkal, berdarah.


"Useeep!!"


"Si Usep ditembak!"


Warga yang melihat kebrutalan Bu Nisma, segera merangsek mendekat, menyerang Bu Nisma.


Didesak warga, Bu Nisma kewalahan, dia menyerah, menangis, ketakutan.


"Bawa saja ke kantor polisi!"


"Semena-mena."


"Juragan tidak ada akhlak, anak sendiri disekap, temannya ditembak, petani diperas, kita bawa ke kantor polisi!"


"Demi harta."


"Ganyang Nisma!" seruan ganyang merebak sampai ujung kampung. Bu Nisma menunduk ketakutan, kali ini warga sudah benar-benar marah.


**


Satu bulan kemudian, kegalauan Andrea mendadak meleleh, seperti es krim vanilla mencair, ketika pagi ini dia mendapatkan senyum menawan Gigit di pintu gerbang rumahnya.


“Kamu?” Andrea pura-pura bertanya.


“Iya, ini aku.”


“Kapan datang dari Malaysia?”


“Semalam.” Gigit menyapu rambutnya, yang sekarang sudah berbeda gaya, entah mangikuti gaya siapa.


Andrea tidak bisa bertanya banyak, mulutnya sudah penuh dengan senyuman.


“Berangkat sekolah?” tanya Gigit.


“Kamu tidak lihat aku pakai seragam?”


Gigit menggaruk kepalanya. Keduanya terlihat kikuk, karena lama tidak berjumpa.


“Kalau begitu aku antar.”


Andrea melihat ke dalam rumah. “Aku pamit dulu ke Tante Dina.”


“Dia ada di sini?” Gigit melihat ke arah pintu.


“Iya, kadang dia menginap di sini, karena ini juga rumahnya.”


Gigit terdiam sebentar.


“Kalau begitu aku akan menemuinya.”


Gigit turun dari motor, Andrea menuntunnya masuk.


Tante Dina terkejut melihat kedatangan Gigit. Dia sangat senang, karena Gigit tidak menyimpan kebencian kepadanya. Walaupun statusnya dengan papanya Gigit masih dalam proses perceraian, tetapi dia sudah melupakan semuanya.


“Bagaimana kabar mamamu?” tanya Tante Dina.


“Baik, dia juga ikut pulang."


“Tante ikut senang.”


"Terima kasih, Tante."


Gigit dan Tante Dina tersenyum mengembang.


Andrea dan Gigit berpamitan, Tante Dina mengantarnya sampai pintu pagar. Baginya kebahagiaan anak-anak itu adalah yang utama. Kesalahannya karena telah tertipu mulut manis Azi telah dia lupakan.


Kini tinggal mengambil hikmahnya, dengan mengenal Gigit, anak yang begitu baik, pikirannya dewasa, bisa menghadapi masalah orang tua dengan sangat bijaksana. Peran Gigit sangat membantu permasalahan mereka.


Hari itu juga Yuli mengabarkan akan segera pulang, karena pengobatannya sudah menunjukkan peningkatan yang sangat bagus.


Andrea tidak sabar untuk menjemput ibunya.


“Besok kamu ikut ya!” ajaknya, dari belakang Gigit.


Gigit yang sedang fokus melihat jalan hanya bergumam.


“Kamu ngomong apa sih?” tanya Andrea.


Gigit melambatkan laju motornya, lalu mendekatkan pipinya ke Andrea. “Iya, aku ikut. Kamu butuh sopir kan?”

__ADS_1


Andrea mendorong pipi Gigit untuk fokus lagi ke jalanan. “Memang iya, kamu ikut untuk jadi sopir cadangan Tante Dina.”


“Ngga apa-apa deh, yang penting dekat kamu terus,” gumam Gigit lagi.


“Apa?”


“Budek!”


Andrea senyum-senyum sendiri, dia sebenarnya tahu apa yang Gigit ucapkan, dia hanya menggodanya saja.


Tiba-tiba Gigit menarik tangannya untuk memeluk pinggangnya.


Andrea terkejut, tetapi dia biarkan saja. Dia kembali merasakan jantungnya berdebar, ada yang indah di hatinya, seperti banyak bunga di sana, harum semerbak mewangi sepanjang jalan.


“Ekheemm ....”


Tidak terasa, mereka sudah di depan gerbang sekolah. Ren yang sudah menunggunya berdehem kencang.


“Sudah jadi satpam saja nih,” kata Gigit.


“Enak saja!” Ren mendelik. “Kapan datang dari Malaysia?”


“Semalam,” jawab Andrea.


“Kamu dari sana juga, Ndre?” Gigit menoleh ke Andrea.


“Aku bantu jawab, enggak boleh?”


Ren cekikikan melihat Andrea bete, sambil masuk ke dalam pintu gerbang dengan bibir manyun.


“Ndre!” Gigit berseru, lalu mesam-mesem kepada Ren.


“Marah tuh. Sana berangkat, nanti kesiangan.”


“Ngga tahu juga aku masih diterima apa enggak," sahut Gigit.


“Lho, kenapa?”


“Lebih satu bulan aku bolos.”


“Sudah, berangkat saja dulu, masa ada orang mau belajar ditolak.” Ren menepuk pundak Gigit.


“Iya juga ya. Ya udah aku jalan, salam buat si tomboy,, dan si princes kw,” kata Gigit lagi.


Ren mengacungkan jempolnya. Andrea pura-pura tidak mendengar, padahal kupingnya sudah melebar beberapa inci.


**


Tante Dina mengantar Yuli ke kamar. “Kamu istirahat dulu, jangan pikirkan apa-apa. Aku sudah memanggil lagi Bi Cicih untuk mengurus semuanya.”


Yuli menatap Tante Dina. “Terima kasih atas semuanya, Din. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tidak ada kamu.”


“Stt, bosan aku mendengarnya. Alhamdulillah, terapisnya bilang kamu yang sangat bersemangat untuk sembuh, jadi sangat membantu proses pengobatan. Jangan lupa minum obatnya ya.”


“Jangan khawatir, Tante. Aku yang akan terus mengingatkan Ibu.” Andrea masuk, meletakkan tas besar milik ibunya.


“Aku senang Ibu pulang, dan tidak ingin jauh dari Ibu lagi.” Andrea memeluk ibunya.


“Iya, Ndre. Ibu janji tidak akan meninggalkan kamu lagi. Sudah besar masih saja kolokan.” Yuli mengusap-usap rambut anak kesayangannya.


“Sudah punya pacar juga.” Tante Dina meledek.


“Siapa?” tanya Yuli.


“Itu yang ditinggalin di teras,” bisik Tante Dina.


Yuli tersenyum, merasa sahabatnya itu semakin dekat dengan Andrea. Selama dia menjalani pengobatan, sahabatnya itu telah banyak tahu tentang Andrea.


"Ooh, si tukang ojol itu." Yuli ikut meledek.


“Iihh, Ibuu ....”


“Oh, Gigit pernah jadi tukang ojek? tanya Tante Dina.


"Ah, Ibu sama Tante mah ...."


Andrea manyun, lalu kabur ke luar kamar. Dia bingung harus menjawab apa, karena selama ini tidak ada todongan dari Gigit apalagi tembakan untuk menjadikannya pacar.


Beda dengan Andrea, keceriaan sedang tidak terlihat dari Dale. Malam ini Andrea sengaja memanggilnya, untuk menanyakan keadaan Dodo di kampung, sekaligus berbagi kebahagiaan atas kepulangan ibunya.


"Den Dodo baik-baik saja, dia sedang menjaga juragan istri yang baru bebas dari tahanan."


"Oh, Ua sudah bebas? syukurlah." Andrea merasa sudah tidak ingin ada urusan lagi dengan uaknya. Bukan karena masalahnya sudah selesai, tetapi demi kebaikan Dodo dan uaknya sendiri. Biar mereka tenang, tanpa khawatir memikirkan pembagian harta, sampai melakukan segala cara.


“Kamu kenapa sih, lemes banget?” tanya Andrea. "Ketemu pete lagi?"


Dale tidak segera menjawab, dilempar-lemparkannya sawo di tangannya.


“Tidak apa-apa, Neng.”


“Kamu jujur, Dal!"


“Siap, Neng. Saya sedang memikirkan Lyla.”


“Oiya, kalian masih suka ketemuan kan?”


“Tidak, Neng. Lyla kan sudah tidak mau bertemu saya lagi. Tetapi kemarin dia mengirim pesan, kalau sebentar lagi dia akan bebas.”


“Bebas?”


“Iya, Neng. Bu Anis minggu depan akan menikah dengan pemilik kerbau itu.”


“Wah, bagus itu.” Andrea berbinar, akhirnya dia punya berita gembira untuk teman-temannya. “Terus kenapa kamu sedih?”


“Ternyata selama ini Lyla sangat mencintai saya, Neng. Di baru berterus terang dalam pesannya. Saya menyesal, kenapa dia baru berterus terang sekarang, ketika dia akan bebas. Saya kan jadi baper." Dale menunduk.


“Bagus dong, Dal, cintamu ternyata tidak bertepuk sebelah tangan, kan?”


“Ck, tetapi itu semua hanya membuat kami galau. Entah sampai kapan cinta kami bisa bersatu. Lyla bilang akan menunggu saya di negeri kami, sedangkan saya tidak tahu bisa terbebas dari perjanjian ini atau tidak."


Andrea mendengar nada putus asa dari suara Dale. “Ya sudah, kamu terlihat kacau banget. Sekarang pulang saja, tadinya aku pengen bersenang-senang, kamu malah galau.”


“Siap, Neng.”


Dale menghilang, Andrea menarik selimutnya, mencoba untuk tidur, tetapi tidak bisa. Dia memikirkan Dale, jinnya yang setia.

__ADS_1


Besoknya Andrea mengajak ketemuan Gigit.


“Apa?” Mata Gigit melotot. "Menikah?"


“Sebenarnya aku juga malu mengatakan ini.” Andrea *******-***** tisu.


Gigit masih berdiri melotot di depan Andrea. Beberapa orang di kedai melihatnya geli. Andrea menenangkannya sambil menyuruhnya duduk kembali karena malu dilihatin orang.


“Aku akan menceritakan semuanya sama kamu.”


Andrea menatap Gigit, lalu menceritakan semua tentang Dale. Gigit mendengarkan sambil beberapa kali menelan ludah.


“Yang tahu dia hanya aku, kamu, Ren, dan A Dodo.” Andrea mengakhiri ceritanya.


“Jadi, semuanya demi membebaskan jin peliharaan kamu?” nada kecewa terdengar dari mulut Gigit yang sudah mulai bisa menguasai diri dengan beberapa kali menyeruput orange jus.


“Iya,” lirih Andrea. “Tapi sudahlah kalau kamu keberatan,” ucap Andrea lagi. Kecewa dan malu menyelimutinya.


Andrea beranjak, meninggalkan Gigit yang masih kebingungan karena tiba-tiba diajak menikah oleh Andrea.


Bayangkan saja, Andrea bukan menembaknya doang, tapi melamarnya. Bagaimana tidak bingung kepalanya.


Sejak saat itu, beberapa hari mereka tidak bertemu maupun berhubungan melalui telepon ataupun chat.


Andrea malu, ternyata Gigit tidak mau menikahinya. Dia marah kepada dirinya sendiri, terlalu kepedean meminta seorang Gigit menikahinya. Pacar saja bukan.


Andrea ingin bersembunyi dalam lubang yang dalam.


Sampai akhirnya Gigit mendekati Andrea yang sedang menunggu angkot di depan sekolahnya. Ren bersamanya, sambil makan cilok.


“Aku antar kamu pulang,” bujuk Gigit. Andrea yang masih malu dan kecewa dengan tingkahnya, terdiam.


Ren mengangkat bahu, lalu mencolok ciloknya, sambil bicara.


“Sebaiknya kalian bicara deh, biar masalahnya beres,” ujar Ren.


Andrea masih diam.


Ren mendorong bahu Andrea.


Andrea menubruk Gigit. "Ren, apaan sih!" serunya. Pandangannya beradu dengan mata Gigit yang memelas. Akhirnya mereka pulang bareng.


“Maaf waktu itu aku hanya terkejut,” kata Gigit setelah mereka meluncur di jalanan. Suaranya terbawa angin, namun masih terdengar jelas oleh Andrea yang masih terdiam di belakangnya.


Di pinggir hamparan sawah menghijau Gigit menghentikan motornya. Mereka turun, lalu berdiri, bersandar kepada jok motor.


“Jangankan menikah, Ndre. Menjagamu seumur hidup aku bersedia.” Gigit akhirnya membuka suara, Andrea merapikan anak rambut karena diusik hembusan angin yang menebak wajah mereka.


“Tapi, keputusan kamu yang spontan kemarin bukan yang terbaik. Menikah itu bukan untuk main-main, Ndre. Aku tidak ingin menjalin hubungan main-main, karena semuanya menyangkut perasaan. Perasaan aku, kamu dan keluarga kita.”


Andrea terkejut, selama ini dia tidak berpikir ke arah sana. Kepalanya hanya dipenuhi keinginan membebaskan Dale.


Andrea menunduk. Jalan sangat sepi, satu dua kendaraan yang meluncur di sana, sehingga bisa membuat mereka leluasa membebaskan pikiran mereka yang beberapa hari ini kusut masai.


“Maafkan aku, Git. Aku kasihan dengan Dale.”


“Aku mengerti, tetapi pernikahan itu bukan hal yang main-main.”


Pelan-pelan Gigit menyentuh tangan Andrea, lalu menggenggamnya.


Dada mereka seirama, harmonis dengan suasana hati mereka yang semakin menghangat. Andrea merasakan kenyamanan lagi bersama Gigit.


“Ndre,”


“Hmm ....”


"Kenapa kamu memilih aku untuk menikah?"


Andrea tersipu. "Tidak tahu. Masa aku memilih si Zay, kan geli."


"Kan hanya untuk bebaskan si Dale." Gigit menatap wajah Andrea.


"Tetapi aku tidak berpikir itu. Menurutku menikah itu harus dengan orang yang ...."


"Dicintai," potong Gigit.


Andrea menoleh. Mereka sekarang saling pandang. Mengundang kembali setan romantis.


"Kamu masih ingat kejadian kita di kampung?"


Andrea tersipu, tentu dia sangat ingat. Dan Gigit mengatakan itu hanya bawaan suasana."


“Maaf jika kamu pernah kecewa, karena aku tidak berterus terang. Tetapi percayalah, semua bukan karena terbawa suasana, tetapi aku memang menyukai kamu.” Gigit semakin menggenggam tangan Andrea.


“Apa?”


“Kamu mau ya, jadi pacar aku?”


Andrea terdiam.


“Mau enggak?”


“Aku nunggu ini sejak lama tau,” sahut Andrea, malu-malu. Dia tidak menyangka, benar-benar ditembak Gigit. Padahal, kemarin dia yang bom cowok itu.


“Masa?”


“Iya.”


“Terus? Mau apa enggak?”


“Ya mau laahhh,” teriak Andrea.


Gigit tertawa, deretan gigi putihnya terlihat, persis sedang iklan pasta gigi.


"Menikahnya nanti saja ...." Gigit mencubit hidung Andrea.


"Iya, nanti saja," ucap Andrea.


Gigit ragu-ragu ingin merangkul bahu Andrea. Andrea tidak mau, dia menggenggam lagi tangan Gigit.


"Kita belum menikah," ucap Andrea. Gigit garuk-garuk kepala.


Mereka kini resmi berpacaran. Lupa pada Dale, yang sedang pusing tujuh keliling memikirkan ingin bebas dari perjanjian.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2