
Kok, suara Zaki beda? Kayak suara komodo gini? Cyra menjauhkan ponsel dari telinga dan menatap layar ponselnya. Heih? Kok Cyra malah menelepon Kiwol? Ya ampun, salah pencet.
“Ah, lo Wol. Salah smabung gue!”
“Ha ha haaaa…” Tawa Kiwol di seberang meledak. “Makanya kalau mau nelepon yang bener. Merem aja mata lo.”
Cyra tidak punya waktu untuk menanggapi. Ia memencet tombol merah lalu kembali membuka register. Kali ini matanya lebih jeli dan jempol tangannya lebih berhati-hati, matanya memperhatikan nama Zaki dengan fokus supaya tidak salah pencet lagi. Untung tadi Cuma nyasar ke nomer Kiwol. Kalau nyasar ke nomer dosen selain Zaki, bisa rumit urusannya.
Ah, sial! Ponsel Zaki tidak aktif. Cyra melempar ponsel ke dashboard. Sesekali menepuk bundaran setiran kesal. Ia bahkan membunyikan klakson berkali-kali saat berhenti di lampu merah.
Plis, Zaki, jangan pergi dulu! Astaga, ini lampu merah lama banget sih?
Cyra mengegas mobilnya kencang saat lampu sudah berganti hijau.
__ADS_1
Segala rasa terus mnegacaukan pikirannya. Entahlah, Cyra harus marah pada siapa? Jika saja ia masih diberi waktu untuk bertemu dengan Zaki, ia pasti akan langsung menonjok pria itu, pria yang diam-diam telah tega meninggalkannya. Kenapa Zaki tidak berpamitan? Kenapa pria itu tidak mau memperjuangkan cinta bersama-sama? Apakah ini jalan keluar untuk masalah mereka? Main kabur tanpa permisi. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Zaki?
Ugh…
Cyra benar-benar ingin mengacak-acak tubuh Zaki. Meletakkan satu tangan Zaki di rumah, dan satunya lagi ke wc terminal angkot.
Sesampainya di bandara, Cyra menghambur mencari di keberangkatan. Seperti orang hilang akal, ia hilir-mudik mencari-cari keberadaan Zaki. Ia bahkan sudah bertanya kepada pegawai bandara, check in counter tentang jadwal keberangkatan ke Negara tetangga, dan tubuhnya langsung terasa lemas saat mendengar jawaban bahwa pesawat ke Malaysia sudah take off sepuluh menit yang lalu.
Ya Tuhan, Cyra menjerit dalam hati. Ingin menangis. Tapi kalau mulutnya mangap di tempat umum begitu, rasanya ia malu. Terpaksa hanya menahan diri dengan menggigit bibir bawah.
“Mbak, jangan ngegelesot di lantai. Itu kotor!” alah seorang yang melintasinya, mengingatkannya.
Cyra membelalak mendapati diri duduk selonjor di lantai. Buru-buru Cyra lari ngibrit.
__ADS_1
Dengan langkah lemas, Cyra melangkah keluar area bandara. Pantas saja ponsel Zaki tidak aktif. Ternyata pria itu sudah berada di udara. Tega, Kamu, Zaki!
Zaki telah menjatuhkan harapan Cyra begitu saja. Saat itu Cyra benar-benar merasa rapuh. Seperti dijatuhkan dari ketinggian. Juga ada luka menganga yang tak berdarah. Disaat kedua orang tuanya sudah membuka pintu sleebar-lebarnya untuk hubungan mereka, Zaki malah pergi meninggalkannya. Kalau sudah jauh-jauhan begini, apa lagi yang bisa diharapkan? Mungkinkah selamanya mereka akan berada di Negara berbeda? Mungkinkah hubungan mereka akan terus terjalin?
Cyra sangat menyesalkan keputusan Zaki yang diambil secara mendadak, bahkan secara sepihak. Andai saja Zaki bisa bersabar sbentar saja, mungkin mereka tidak akan berpisah.
Cyra mendengar ponselnya bordering saat ia sudah duduk di dalam mobil. Cyra malas menjawab telepon. Organ tubuhnya terasa lemas, rasanya tidka ada lagi tenaga untuk mengangkat ponsel. Namun pada deringan kedua, akhirnya ia menjawab telepon tersebut tanpa melihat ID penelepon.
“Halo…” lirih Cyra dengan jidat nyender di dashboard.
“Cyra!”
Mata Cyra seketika membelalak. Tanpa melihat identitas di layar ponsel, Cyra sudah tahu siapa pemilik suara itu.
__ADS_1
“Zaki?” Cyra histeris. Tanpa sadar jemari lentiknya *** bundaran setiran. Ini artinya Zaki tidak sedang berada di pesawat, buktinya pria itu bisa menelepon.
TBC