
Zaki ingat satu hal, yang memberikan kado pada Cyra hanya ada tiga orang, yaitu dirinya, Alfa dan Rere. Zaki ingat, pembungkus kotak kado Rere berwarna pink. Pembungkus kotak kado Alfa berwarna biru, sama dengan warna pembungkus kado milik Zaki. Bukan hanya warna pembungkusnya saja yang sama, ukuran kotaknya juga sama, isinya juga hampir sama. Sama-sama boneka berwarna biru.
Zaki tidak habis pikir kenapa Alfa bisa sehati dengannya dalam urusan memberikan hadiah untuk Cyra. Itu artinya, hadiah pemberian Zaki tertukar dengan hadiah pemberian Alfa. Zaki menyesalkan kenapa ia tidak memberikan kartu ucapan di dalamnya hingga Cyra pasti tidak akan tertukar dnegan isi kadonya.
Zaki
Rere kasih hadiah apa?
Cyra
Jilbab
Katanya aku disuruh pake jilbab biar alim
Zaki
Kalau Alfa kasih apa?
__ADS_1
Cyra
Boneka panda warna biru
Tapi aku nggak suka
Aku suka boneka kucing darimu
Kupeluk nih
Zaki tidak lagi membalas. Matanya terpejam ingin tidur saja. Saat mata merem, semoga saja perasaannya akan beruabh saat membuka mata. Dasar cewek, bisa banget bikin hati jadi kacau-balau.
“Zaki!” panggil Alya yang kini sudah berada di tengah-tengah kamar Zaki.
Zaki menyudahi proses cuci muka. Kemudian menemui mamanya sambil mengelap wajah dengan handuk kecil.
“Loh, kok cuci muka? Sejak kapan ada program cuci muka sebelum tidur? Muka jadi seger dong kalo dibasuh air, gimana kamu bisa tidur?” tanya Alya mengamati wajah putra semata wayangnya. Ia duduk di sisi ranjang.
__ADS_1
“Nggak bisa tidur, Ma. Biar sekalian nggak tidur aja. Nunggu ngantuk berat baru tidur nanti.” Zaki menggantung handuk kemudian duduk di sisi ranjang. “Ada apa, Ma? Tumben nyamperin ke sini?”
“Enggak loh, mama Cuma mau nanya kok kamu pulang duluan? Nggak pamitan sama tente Andini juga sama Om Farhan?”
“Tante Andini sama Om Farhan kan nganterin mama dan papa nemuin Cyra ke kamar, ya udah aku pulang. Mereka pasti juga paham.”
Alya mengangguk dan tidak mempermasalahkan. Sebenarnya tujuannya menemui putranya bukan untuk menanyakan hal itu. Tapi hal lain yang sejak tadi membuat benaknya bertanya-tanya.
“O ya, kamu tadi bilang ke Tante Andini kalau kamu udah punya calon. Memanganya siapa calon menantu mama? Kok, kamu nggak pernah cerita ke mama? Ayo, bilang! Siapa orangnya? Sesama dosen, ya? Cinta lokasi? Atau… gadis yang pernah kamu boncengin naik motor itu?”
Zaki sontak menoleh dan menatap mamanya terkejut. Gadis yang dibonceng naik motor? Seingat Zaki, tidak prenah ada gadis yang ia bonceng kecuali Cyra. Itu pun berujung babak belur gara-gara dikeroyok. Dan kejadian itu terjadi ketika Alya dan Surya berada di luar kota. Lantas, kenapa Alya bisa menanyakan hal itu? Apa sekarang Alya sudah memiliki telepati? Huh, konyol!
“Kok, mama tahu aku pernah boncengin cewek? Bukannya mama lagi di luar kota, ya?”
“Nah, ketauan! Berarti bener ya kamu diem-diem ngecengin cewek pas mama lagi nggak di rumah?”
Zaki garuk-garuk kepala. Kena deh! Mukanya memerah seketika. Bagaimana tidak? Mamanya jago sekali main jebak-jebakan. Kalau tidak pintar menjebak, mana mungkin Surya menjadi suaminya. Mereka bisa menikah juga karena diawali dengan main jebak-jebakan. Tapi akan panjang ceritanya jika mengisahkan mereka.
__ADS_1
TBC
KLIK LIKE