
“Nggak perlu berpikir terlalu banyak soal ini, kenapa kamu mesti khawatir? Pergilah, temui mamamu!” ucap Zaki lembut.
Cyra mengangguk kemudian bangkit berdiri. Namun hanya selangkah ia berjalan, kemudian ia menoleh. “Zaki, apa kamu nggak mau langsung ngomong ke orang tuaku lebih dulu?”
Zaki ikut berdiri, mendekati Cyra. “Sekarang intinya, mamamu sangat mengharapkan Alfa yang jadi kekasihmu, bukan aku. Makanya aku minta kamu yang mesti bilang terlebih dahulu ke mamamu mengenai perasaanmu ke Alfa. Setelah itu, percayalah, aku pasti akan masuk ke dalam urusanmu. Aku terlibat di sini.”
Cyra mengangguk masih dengan ekspresi galau tingkat akut.
Zaki tersenyum lagi menatap wajah Cyra yang terlihat sangat cemas. “Ra, bisa nggak mukam,u agak enakan dikit untuk ditengok? Jangan kaku banget! Kenapa kamu mesti secemas ini? Jika memang kejadiannya akan buruk, kamu boleh menampilkan ekspresi itu ke aku. Okey?”
Cyra mengulas senyum. Dasar Zaki, selalu saja mampu membuat kegundahannya memudar. Ia membeku di tempat saat merasakan sentuhan hangat mendarat di bibirnya. Ya, Zaki mengecup singkat bibirnya.
“Aku sayang sama kamu. Plis, jangan mencemaskan keadaan ini.” Zaki memeluk tubuh mungil Cyra, berusaha memberi ketenangan melalui sentuhan hangatnya.
Cyra terpejam merasakan sentuhan hangat yang melingkar di tubuhnya. Ya ampun, Zaki berhasil mengusir kecemasannya. Cyra tersenyum di pelukan Zaki.
__ADS_1
“Masih galau?” Zaki melepas pelukan dan menatap wajah di hadapannya dengan seulas senyum.
“Enggak galau lagi. Makasih, Zaki!” Senyum Cyra melebar.
Dung!
Zaki meraih ponselnya yang berbunyi. Lalu membuka pesan gambar gif yang masuk. Tampak gambar tangan yang memegangi gunting pangkas rumput bergerak-gerak, pengirimnya tak lain Alya.
Muka Zaki memanas melihat pesan tersebut, perasaannya mulai tak nyaman.
Zaki menatap Cyra yang kepalanya nyender di bahu pria itu.
Kemudian keduanya saling pandang. Cyra menunjukkan ekspresi bingung dan penuh tanya, sementara Zaki memperlihatkan eksresi cemas.
“Mm.. Ya udah kamu pulang aja dulu!” ucap Zaki akhirnya.
__ADS_1
“Oke.” Cyra mengangguk. Segera gadis itu berlari menuju rumahnya.
Zaki terdiam di tempat. Tak ingin balik badan karena ia tahu mamanya kini sudah ada di belakangnya. Aroma parfum mamanya sudah tercium lebih dulu oleh indera penciumannya.
“Adu du duuuh…!” Kepala Zaki mengikuti tangan Alya yang kini tengah menarik rambut di dekat kupingnya. “Ma, ini sakit!”
“Kamu tahu ini apa?” Alya menunjukkan gunting pemangkas rumput yang ukurannya sangat besar. “Ini kalo untuk nyunat bisa kandas, loh.”
Zaki membelalak. Mamanya memang jitu sekali untuk urusan ngebanyol. Sebenarnya Zaki sudah tidak heran dengan mamanya yang memang suka bocor, tapi kali ini boocrnya kebangetan. Masak mau disunat pake begituan?
“Ma, plis!” Zaki memohon. Kulitnya pedih sekali, rasnaya rambut yang ditarik itu seperti akan jebol. Tubuhnya membungkuk mengikuti arah tarikan tangan mamanya.
“Makanya kamu jangan sembarangan main peluk-peluk anak gadis orang!” Alya melepas tangannya dari rambut milik Zaki saat melihat muka Zaki yang sudah memerah. Alya tidak pernah membedakan Zaki yang sekarang dengan Zaki yang dulu, perlakuannya terhadap Zaki ettap sama. Hukuman yang ia berikan setiap kali Zaki melakukan kesalahan juga sama, yakni menarik rambut didekat kuping, rasanya lumayan menggigit dan bikin sekujur tubuh seperti disengat listrik.
Sudah Zaki duga, mamanya pasti memergoki kejadian barusan makanya beliau mengiriminya pesan gif tadi. Zaki mengelus-elus kulit dekat kupingnya.
__ADS_1
TBC