
“Zaki, kamu di sini?” tanya Cyra saat mereka sudah berpapasan. Tak masalah baginya memanggil langsung nama. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada orang yang ada di dekatnya.
“Ya,” jawab Zaki tanpa ekspresi. Zaki memang begitu, setiap kali berada di kampus tampangnya lempeng seakan-akan tidak ada hubungan khusus antara dirinya dengan Cyra.
“Untuk urusan apa?” Cyra ingin segera mendengar kabar baik dari mulut Zaki.
“Hanya mengambil ini.” Zaki menunjukkan amplop.
“Amplop apa itu?” Cyra menatap amplop yang berstempel.
“Rekomendasi.”
Cyra terdiam.
“Ada kampus yang menawarkanku pekerjaan. Ini kesempatan bagiku.”
“Dimana?”
“Di Bogor.”
Cyra kecewa. Terdengar nafas panjang dari hidungnya.
“Itu kan jauh,” lirih Cyra.
__ADS_1
“Aku masih mempertimbangkannya.”
“Apa dekan nggak menawarkanmu supaya kembali menjadi dosen di kampus ini?”
Zaki menggeleng.
Ekspresi kecewa kembali menyemburat di wajah Cyra. Pak Dekan kelamaan mikir. Nyebelin!
“Jangan manyun! Kamu jelek kalau manyun,” celetuk Zaki membuat Cyra gelagapan.
Kan malu dikatain jelek sama Zaki.
“Aku masih boleh mencintaimu, kan?” Tanya Zaki.
“Ya udah, jangan cemas. Aku masih menjadi satu-satunya orang yang akan selalu menyayangimu. Apapun yang terjadi.”
“Tapi aku nggak mau jauh dari kamu.”
“Aku nggak bilang kalau aku akan jauh dari kamu.”
“Nah, itu kamu mau ke Bogor.”
“Kan aku masih mempertimbangkan.”
__ADS_1
“Kenapa harus dipertimbangkan? Kenapa nggak langsung ditolak aja? Berarti ada kemungkinan kamu bakalan menerima tawaran itu.”
“Cyra, disamping urusan kita berdua, ada urusan profesi juga yang harus kujalani.”
“Aku udah minta dekan supaya mencabut keputusannya dengan segudang alasan yang masuk akal. Dan dekan mengatakan akan mempertimbangkan. Tapi kenapa dia belum juga memintamu untuk kembali?”
“Dipertimbangkan bukan berarti disetujui. Masih fifti fifti. Jangan terlalu berharap. Ya udah, aku pergi. Belajar yang rajin. Kalau memang Tuhan menghendaki aku untuk mengais rejeki di sini, maka kakiku nggak akan mungkin meninggalkan kampus ini. Percayalah.”
Zaki tersenyum melewati Cyra. Ia menjentikkan jari ke udara, tepat di depan wajah Cyra.
Cyra hanya diam menatap kepergian Zaki. Kenapa susah banget untuk Zaki bisa kembali seperti dulu lagi? Kenapa dekan kebanyakan mikir. Ya ampun, kok malah Cyra yang jadi gedeg, sih? Sepertinya usaha Cyra yang nyembah-nyembah dekan kalau pertimbangannya ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan.
“Banyak-banyak berdoa, Ra. Semoga Pak Zaki akan cepat kembali ke kampus ini.” Rere mendekati Cyra dan merangkul pundak sahabatnya itu.
“Bukan Cuma doa doang yang udah gue lakuin, Re. Gue juga udah minta dekan untuk menarik keputusannya dengan segudang alasan. Dekan menerima alasan gue dan bilang akan mempertimbangkan. Tapi sampe sekarang dekan belum ngasih keputusan.”
“Wah wah, lo keren, Ra. Perjuangan lo demi cinta benar-benar T O P dah. Kalo gue jadi lo, gue kagak berani nemuin dekan. Ngeliat muka sama bentuk badannya aja udah ngeri. Tatapan matanya kan tajem tuh. Wibawanya tinggi banget. Apa lagi ngeliat perutnya yang buncit, duh syeeereeem. Takut meletus di depan mata gue.”
Cyra menyenggol lengan Rere sambil menatap sesosok pria yang melintas di sisi mereka. Rere pun mengikuti arah pandang Cyra dan merasakan jantungnya menggedor-gedor dada melihat dekan yang melintas. Seketika, lutut Rere lemas dan gemetaran.
***
TBC
__ADS_1
KLIK LIKE DI SETIAP PART YAH