PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
54. Patah Jadi Dua


__ADS_3

Cyra sebenarnya ingin segera meninggalkan teman-temannya dan bergabung dengan Zaki, tapi alasan apa yang membuatnya lebih memilih Zaki ketimbang teman-temannya? Bukankan teman-temannya datang ke sana untuk bisa bergabung dnegan dirinya? Dan satu lagi, kalau di hadapan kedua orang tuanya, Cyra terlihat lebih intim dengan Zaki, apa pandangan kedua orang tuanya nanti.


Eh tunggu dulu, bukankah Zaki berniat akan melamar Cyra malam itu? Bagaimana kalau Zaki benar-benar membuktikan kata-katanya. Suhu tubuh Cyra mulai panas dingin. Gugup.


Cyra kembali menoleh ke arah Zaki, dan pandangan mereka bertemu. Zaki tersenyum. Maniiiis banget. Sering-sering ngeliat senyuman manis Zaki, bisa-bisa Cyra kena penyakit diabetes.


Pandangan Cyra kembali ke teman-temannya saat Rere sibuk mengajak ngobrol. Rere memberikan sebuah kado. sementara Kiwol hanya mengucapkan kata selamat ulang tahun tanpa kado.


“Gue nggak sempet beli kado, Ra. Mentahnya aja, mau?” tanya Kiwol.


“Lo kira gue mata duitan mau dikasih mentahnya?” protes Cyra geram.

__ADS_1


“Heheee…”


Sementara Zaki, pria itu akhirnay memilih ikut nimbrung mengobrol dengan Andini dan Farhan saat sepasang suami istri itu menyinggung namanya, mengajaknya mengobrol.


“Zaki udah ada calon belum?” tanya Andini dengan ekspresi cerah.


Hati Zaki girang sekali ditanya begitu. Calon mertua tahu aja kalau dia sedang mengincar anaknya. Ini salah satu gaya bicara emak-emak untuk menyinggung bahwa sesungguhnya dia memberi peluang selebar-lebarnya pada Zaki untuk mendekati Cyra. Benarkah begitu? Awalnya nanyain udah punya calon belum, berikutnya nawarin supaya mau berpasangan dengan putrinya. Cihaaa…


“Oh… Udah ada calon. Pasti calonnya cantik. Zaki aja ganteng dan mapan begini. Dosen lagi,” komentar Andini antusias.


Zaki tersenyum simpul.

__ADS_1


“Cyra juga udah ada jodohnya, Tante bakalan restuin Cyra sama Alfa,” lanjut Andini membuat jantung Zaki seakan berhenti berdetak saat itu juga.


Zaki terpaku. Kalimat apa yang baru saja ia dengar?


“Alfa itu cocok banget sama Cyra. Liat deh, mereka akrab banget. Sejak SMA mereka memang udah deket,” lanjut Andini menggebu-gebu sambil menunjuk Cyra dan Alfa yang terlihat sedang mengobrol diiringi tertawa. “Sekarang umur mereka udah beranjak dewasa, udah saatnya menentukan masa depan. Aku tuh suka banget kalau Cyra punya calon yang kayak Alfa. Orangnya baik, sopan, ramah dan ngerti banget sama orang tua. Yak kan, Pa?” Andini meminta persetujuan suaminya.


“Ya. Alfa memang anak yang sopan. Tapi semua itu tergantung sama Cyra.” Farhan menanggapi.


“Cyra mah pasti nurut sama Mamanya. Lagian, mereka kan udah lama deket dan kenal satu sama lain. Nggak ada lagi yang perlu diragukan. Aduh pokoknya Cyra tuh udah pas banget deh kalau sama Alfa. Aku setujunya Alfa jadi pendampingnya Cyra. Dan itu juga akan segera kubicarakan sama Alfa, juga orang tuanya Alfa. Biar Cyra nikahnya sama Alfa aja. Kalau perlu dijodohin biar mereka diikat dengan pertunangan. Punya menantu kayak Alfa mah the best bangetlah.” Andini benar-benar mengagumi Alfa. Sorot matanya tak bisa dibohongi. Manusia seperti Alfa-lah yang diharapkan olehnya sebagai menantu. Andini sudah sangat lama mengenal Alfa, wajar saja dia bersikap demikian. Terlebih lagi, Alfa tampak sangat istimewa di mata Andini.


**TBC

__ADS_1


masih nunggu kan**?


__ADS_2