PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
152. Aura Berbeda


__ADS_3

Cyra melalui hari-hari dengan kesibukan menyusun skripsi, dibantu oleh Zaki. Dalam waktu singkat, Cyra yakin skripsinya akan cepat selesai, tentunya berkat kerja keras Zaki. Pria itu sudah berpengalaman dalam urusan skripsi, dia juga berwawasan luas, dan dia juga yang menjadi dosen Cyra, wajar Zaki tidak kesulitan jika hanya membantu urusan skripsi.


Cyra berjalan ke luar rumah sembari membaca pesan masuk di ponselnya. Senyumnya tertarik lebar menatap pesan dari nama Banteng.


Banteng


Ra, ke kafe biasa, ya!


Aku punya bahan yang mesti segera diulas


Cyra


Oke, sayang


Cyra tersenyum miring dengan kulit tubuh meremang saat menulis kata sayang. Selama ini ia tidak pernah menuliskan panggilan itu untuk Zaki. Rasanya jadi rancu dan kikuk sendiri.


Tak lama balasan dari Zaki masuk ke ponselnya. Cyra menggenggam erat ponsel tanpa membacanya terlebih dahulu, jantungnya deg-degan. Apa kira-kira balasan Zaki setelah ia mengucapkan kata sayang? Akankah Zaki juga memanggilnya dengan panggilan sayang? Haduuuh… Jantung Cyra mulai meledak-ledak.


Pelan Cyra membalikkan ponselnya yang sejak tadi ditelungkupkan di telapak tangannya. Lalu membaca pesan masuk

__ADS_1


Banteng


Buruan


Cyra membelalak. Astaga, nih cowok nggak ada romantis-romantisnya. Kirain bakalan bales bilang sayang, eh nggak taunya gitu doang. Buseet!


Cyra


Iya


Tak ada balasan lagi dari Zaki. Cyra bergegas menuju garasi dan mengeluarkan mobil. Sepanjang perjalanan, Cyra memikirkan sikap Zaki yang terkadang suka nyeleneh. Bagaimana kelak jika menjadi suaminya? Apakah Zaki akan menjadi suami yang baik?


Halah, pikiran Cyra kok jadi jauh banget? Bagaimana tidak? Zaki kan selalu menyinggung soal pernikahan setiap kali bersamanya, Cyra jadi kepikiran.


Tak lama kemudian mobil Cyra sampai di tempat tujuan. Ia langsung masuk ke kafe dan mencari-cari keberadaan Zaki. Manik matanya mengamati setiap meja, jangan sampai salah orang lagi. Ia harus memastikan keberadaan Zaki.


Cyra melenggang menuju salah satu meja ketika mendapati sosok yang dicari. Zaki mengangkat wajah dan menatap Cyra yang menarik kursi di depannya.


“Udah lama?” tanya Cyra seraya menatap wajah Zaki yang kelihatan bête. Entah bête atau memang begitu tampang dari sononya.

__ADS_1


“Enggak.” Zaki menggeleng. “Tadi mampir dulu apa gimana?”


“Aku langsung ke sini, kok. Apa lama, ya? Tadi emang nggak bisa laju karena kendaraan padat. “Sorry, jangan marah ya, Zaki!”


Zaki menatap ekspresi Cyra yang selalu kelihatan cerah bersahaja, seria dan tidak membosankan.


“Bisa nggak kamu memanggilku nggak langsung nama gitu?” protes Zaki dengan ekspresi datar sambil mengunyah kacang.


“Jadi?”


“Terserah kamu mau panggil aku apa, asal jangan langsung nama.”


Cyra memutar bola mata, berpikir. Ini maksud Zaki apa ya? Apakah ia harus memanggil Zaki dengan sbeutan bapak seperti mahasiswa lainnya?


“Cyra, skripsimu nggak akan lama selsesai, kok. Dan aku adalah calon suamimu. Aku nggak akan menunggu waktu lama untuk meminangmu, jadi jangan lagi panggil aku Zaki. Panggil aku Mas Zaki.”


Cyra sontak menatap mata Zaki. Disaat bertatapan begitu, jantung Cyra terasa berdegup kencang. Akhir-akhir ini entah kenapa Cyra selalu gugup setiap kali menatap mata Zaki. Semakin mendekati hari yang mereka sebut dengan pernikahan, Cyra semakin salah tingkah dan gugup terhadap Zaki. Pria itu seperti memiliki aura berbeda.


TBC

__ADS_1


__ADS_2