PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
38. Sedih


__ADS_3

“Apa aku akan bisa menjalani hari di sini tnapa kamu?” Cyra menubruk dada Zaki dan tangisnya pecah di dada bidang pria itu. Untuk pertama kalinya Cyra melingkarkan tangan di tubuh laki-laki.


Zaki membalas pelukan Cyra dengan lebih hangat dan erat. Dari pelukan itu, Cyra yakin kalau Zaki sedang menahan emosi dalam dadanya.


“Sama seperti ketika aku belum ada di kampus ini, keadaanmu akan kembali seperti semula. Dulu kamu bisa menjalaninya tanpa aku, bukan? Lalu kenapa sekarang protes?”


Cyra tidak bisa menjawab. Tangisnya yang sesenggukan membuatnya tak bisa membuka mulut walau hanya untuk mengatakan satu kalimat saja.


Zaki ngomong apaan sih? Keadaan saat sebelum Zaki muncul di kehidupan Cyra tentu saja telah mengubah perasaan, situasi, kondisi dan segalanya dalam diri Cyra. Mana mungkin keadaan itu bisa disamakan. Cyra tidak akan mungkin bersemangat, dan pasti akan ada yang kurang saat Zaki benar-benar telah meninggalkan kampus itu. Tidak hanya itu saja yang membuat Cyra merasa terpukul, Zaki dikeluarkan dari kampus secara tidak hormat, nama baiknya telah tercoreng.


“Lusa aku akan selalu kirimin kamu pesan saat kamu lagi ngampus, supaya kamu ngerasa masih ada aku di sini. Kalau perlu aku akan video call kamu semenit sebelum kamu masuk kelas” Zaki mengelus punggung Cyra. Menenangkan gadis itu. Entah siapa sebenarnya yang harus ditenangkan sekarang. Ditengah perasaannya yang kacau, Zaki harus memberi ruang untuk bisa membuat gadisnya memahami situasi.

__ADS_1


“Jangan pergi, Zaki. Kita temui dekan sekali lagi. Kita bicarakan lagi masalah ini.” Akhirnya Cyra bicara setelah berhasil mengusir sesak di dadanya.


“Keputusan udah bulat. Aku akan terima semua ini. Video itu diambil ditengah kejadian, sehingga nggak kelihatan siapa yang memulai. Aku bersyukur karena kamu ternyata nggak dilibatkan dan dianggap korban dalam masalah ini. Itu udah cukup membuatku lega.” Zaki menatap punggung Cyra yang bergetar sesenggukan. Gadis itu terlihat tak mau melepaskan pelukannya. Bahkan ketika Zaki memegang lengan Cyra untuk melepaskan pelukan, Cyra masih saja bertahan pada posisinya, lebih erat melingkarkan tangannya di tubuh kekar Zaki.


Mata Zaki terpejam sesaat. Lagi, ia membalas pelukan Cyra. Entah kenapa hati Zaki begitu basah saat memeluk gadisnya itu. Terlebih tangisan Cyra tak kunjung reda, membuatnya semakin haru.


“Cyra, udah! Jangan nangis lagi! Aku nggak akan kemana-mana. Aku masih menjadi calon imammu. Aku akan terus ngejagain kamu meski kita nggak bisa bersama-sama lagi di kampus ini. Masih ada banyak ruang dan waktu.” Zaki kembali meraih lengan Cyra dan berhasil menjauhkan tubuh mungil itu dari tubuhnya. Kini ia bisa menatap wajah Cyra yang sembab. Mata gadis itu memerah, ujung hidungnya juga merah. Lihatlah, dalam keadaan mewek-mewek nggak jelas begini pun Cyra masih kelihatan cantik, gimana Zaki nggak gemes? Untung saja nggak ada ingus keluar masuk. Itu pasti akan emmbuat Zaki ilfil.


“Aku yang bersalah, Zaki. Bukan kamu. Biar aku temui deka dan mengatakan yang sebenarnya. Ini nggak adil buatmu.” Air mata Cyra masih menetes.


“Aku benci dengan keadaan ini.” Tangis Cyra kian menjadi.

__ADS_1


“Aku yang didepak dari kampus, kenapa kamu yang nangis-nangis? Kenapa kamu yang protes?”


“Karena aku sayang sama kamu, Ki.”


Zaki terdiam untuk sesaat. Netranya beradu dengan netra milik Cyra. Aura cinta benar-benar terasa saat keadaan demikian.


“Hidung kamu jelek kalau nangis. Kayak jambu air. Kembang kempis lagi.” Zaki menyentil ujung hidung Cyra.


Astaga, dalam situasi gundah gulana, bisa-bisanya Zaki bicara begitu?


Zaki mengalihkan pandangan. Semakin ia terus-terusan menatap mata Cyra, rasanya ia semakin tak tega meninggalkan gadis itu. Mau sampai kapan ia bertahan di ruangan yang sekarang sudah bukan menjadi haknya?

__ADS_1


Kalau boleh meminta, Zaki lebih memilih untuk tetap di ruangan itu beberapa lama lagi.


TBC


__ADS_2