PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
98. Benarkah Ini Nyata?


__ADS_3

Randy mengambil ponsel dari balik jasnya lalu menelepon Farhan. Setelah terhubunga, segera ia menyapa, “Halo, Bapak Farhan!”


“Halo, Pak Randy!” sahut Farhan di seberang.


“Sepertinya kita baru saja bertemu tadi, tapi maaf saya harus membicarakan masalah ini melalui hp.”


“Masalah apa itu, Pak?”


“Soal Alfa dan Cyra.”


Sepi, tak terdengar sahutan di seberang. Randy tidak tahu jika Farhan sedang frustasi mendengar nama Cyra dan Alfa disebut.


“Jadi begini, sepertinya hubungan anak-anak kita tidak bisa diteruskan. Sekali lagi saya minta maaf, sebab saya mendengar sendiri kalau Cyra sebenarnya tidak mengharapkan Alfa. Dan kita sebagai orang tua tidak bisa egois, juga tidak bisa memaksakan kehendak anak-anak kita. Mereka masih memiliki jalan yang panjang, masih bisa menentukan banyak pilihan. Rasanya saya juga tidak bisa melepas Alfa untuk berdampingan dengan wanita yang pada hakikatnya tidak mengharapkannya.”


“Maaf,Pak. Kami benar-benar memohon maaf untuk masalah ini. Kami bahkan tidak tahu kalau Cyra sebenarnya sudah punya pilihan lain. Ini di luar pengetahuan kami.”

__ADS_1


“Tidak masalah. Yang penting, anak-anak kita jangan sampai jadi korban dari keinginan kita.”


“Sekali lagi saya minta maaf.”


“Tidak apa-apa. Bagi saya bukan masalah.”


“Terima kasih atas pengertiannya, Pak.”


“Baik, Pak. Ini adalah masalah pribadi. Saya harap tidak berpengaruh ke bisnis apa lagi ke hal-hal lain.”


“Oke. Itu saja, pak. Selamat siang!” Randy menutup telepon, menoleh ke samping. Tampak olehnya Alfa yang masih diam mematung di tempat.


Detik berikutnya, alfa bangkit berdiri dan melenggang memasuki kamarnya. Bagi Randy, memang sedikit sulit memahami sifat Alfa. Dia pendiam dan selalu tertutup. Bahkan kini, Randy masih belum mengerti arti dari sikap alfa yang hanya diam. Namun jelas terlihat di matanya kalau Alfa sangat terpukul, mungkinkah ia merasa tidak didukung?


Di sisi lain, Andini langsung mengecup pipi suaminya sesaat setelah suaminya itu menutup telepon. Andini mendengar dengan jelas apa saja yang dikatakan Randy di telepon. Sebab sepanjang suaminya berbicara di telepon, Andini menempelkan pipinya ke kepala Farhan demi supaya bisa menangkap apa saja yang diucapkan Randy.

__ADS_1


“Nggak nyangka, Tuhan memberi jalan kemudahan untuk kita, Pa. Semoga ini awal yang baik untuk Cyra.” Andini memeluk Farhan girang. Dibalas dengan pelukan erat oleh Farhan. “Apa ini artinya Zaki bakalan jadi menantu kita, Pa?” andini melepas pelukan dan menatap Farhan dnegan mata berbinar.


“Kita temui aja dulu Cyra.”


“Ayo!” Andini menghambur dengan langkah terburu-buru ke lantai atas, memasuki kamar putri semata wayangnya. Farhan mengikuti di belakangnya. Tampak Cyra sedang duduk selonjor di lantai sambil memelototi hp dengan wajah sembab, air mata masih melelh di pipinya, matanya bengkak dan memerah.


Cyra tidak mau menatap kedua orang tuanya meski ia tahu kedua orang tuanya itu kini duduk di hadapannya. Cyra sedang sibuk menelepon Alfa, namun tidak dijawab oleh pria itu.


“Cyra sayang, jangan menangis lagi!” Andini mengusap kedua pipi mulus Cyra dengan jemarinya. “Mama ada kabar baik untukmu, temuilah Zaki. Dia pria yang cocok untukmu.”


Sontak Cyra mengalihkan pandangan dan kini menatap mamanya. Ditelitinya dnegan cermat wajah mamanya yang cerah berbinar, senyumnya merekah lebar.


Ini nggak salah? Kok, cepet banget mamanya berubah pikiran? Cyra mengernyit bingung.


TBC

__ADS_1


__ADS_2