
Cyra sedang bermain dengan Sifa di taman belakang rumah ketika Alya datang.
“Eeh… Mama Alya. Kok, kesini nggak bilang-bilang?” Cyra tersenyum menatap kedatangan mertuanya.
Alya berjalan mendekat sembari menenteng tas. Mertuanya itu duduk di sisi Cyra, di atas permadani yang dibentang.
“Mama sendirian?”
“Iya. Mama bawa mobil sendiri, papamu lagi sibuk banget soalnya.”
“Ooh… Mama mau minum? Biar aku bikinin.” Cyra beranjak hendak bangkit berdiri.
“Eeh.. Nggak usah. Mama kesini bukan untuk ngerepotin kamu. Jangan sibuk-sibuk deh.” Alya menahan tangan Cyra hingga tubuh Cyra kembali terduduk.
“Serius nih, Ma? Masak sih mama ke sini aku anggurin?”
__ADS_1
“Ya ampun Cyra, kamu kayak ngadepin tamu dari jauh aja. Ini yang dateng mertuamu, sayang.”
“Iya, deh.” Cyra kembali fokus pada Sifa yang tengah mainan bola.
Sambil main bola, Cyra menyuapi sifa makan bubur.
“Itu buburnya dikasih lauk apa, Cyra?” tanya Alya yang heran melihat Sifa begitu cepat menyambar sendok yang diarahkan ke mulut bocah cilik itu.
“Udang, Ma. Biasanya Sifa juga makan nasi sama lauk, kali ini aku bikini bubur karena badan Sifa lagi kurang fit.”
“Kamu bikin bubur sendiri?”
“Pantesan Sifa suka. Kamu kreatif dan rajin banget. Biasanya tuh ya, mama muda nggak suka ribet begini, males bikini makanan yang sehat-sehat dan mereka lebih suka yang instan, tinggal beli di supermarket aja bubur bayi. Tapi kamu rajin begini ngurusin Sifa. Mama salut sama kamu.”
Cyra tersenyum. “Mama jangan puji aku, hidungku entar kembang kempis, jelek kali.”
__ADS_1
“He heee… kamu tuh ya, bisa banget. Zaki kemarin cuti kan ya? Apa sekarang udah kembali bekerja?”
“Udah, Ma. Ini hari pertamanya bekerja setelah cuti.”
“Ooh…Padahal mama mau bicara sama kamu juga sama Zaki.” Alya memegang lengan Cyra. “Kamu bahagia menikah dengan Zaki?”
Pertanyaan Alya membuat kening Cyra terlipat. “Tentu aja bahagia. Bahagia banget malah, Ma. Zaki sangat pengertian dan penyayang, nggak ada alasan untuk aku bilang nggak bahagia. Kenapa mama bertanya begitu?”
“Mama hanya ingin tahu kehidupan kalian, sebab pernikahan kalian kan sudah memakan waktu lama dan sampai sekarang belum dikarunia anak.”
Cyra mengesah mendengar ucapan mertuanya. Selalu persoalan anak yang menjadi bahan pembicaraan. Cyra dan Zaki yang menjalani rumah tangga saja bisa legowo dan bersabar menunggu hingga Tuhan member kepercayaan kepada mereka untuk dapat memiliki anak, tapi kenapa mertua dan kedua orang tuanya justru mempermaslaah hal itu? Mereka cenderung terlihat tidak sabar dan ingin secepatnya memiliki cucu. Cyra sebenarnya merasa tertekan setiap kali pokok pembahasan yang dibicarakan menyinggung soal anak. Tapi sekarang Cyra tidak mau menunjukkan ekspresi kecewa mengingat yang ada di hadapannya kini adalah mertuanya. Ia tidak ingin membuat mertuanya merasa tersinggung.
“O ya, mama mau bicara sesuatu, ini menyangkut soal kamu dan Zaki,” ujar Alya setelah jeda beberapa menit.
Pandangan Cyra kini tertuju ke arah mertuanya mendengar nada bicara yang serius. Tatapan mata mertuanya terlihat penuh harapan. Hati Cyra mulai tidak nyaman melihat cara mertuanya itu menatapnya.
__ADS_1
“Maafin mama Cyra, mama sangat mengharapkan cucu, yang mengalir darah Zaki di dalamnya,” ucap Alya dengan suara berat. “Ijinkan Zaki menikah lagi.”
TBC