
Cyra mengetuk pintu dan terdengar Zaki mempersilahkan dari dalam. Cyra mendorong pintu dan masuk. Ia melihat Zaki tengah sibuk menulis, atau sedang sok sibuk.
“Zak!” Cyra langsung duduk di kursi depan Zaki.
“Hm?” Zaki mengangkat wajah, menatap wajah Cyra yang sumringah.
“Jadi beneran kamu balik lagi ke kampus ini?” Cyra tersenyum cerah. Sebenarnya bukan itu yang ingin Cyra bahas dengan Zaki, melainkan masalah gossip yang digosok makin sip. Tapi entah kenapa muka Zaki membuat topik pembahasan yang sudah tersusun di kepalanya buyar entah kemana.
“Zak, kok nggak jawab? Cuek banget, sih?” Cyra menggoyang lengan Zaki yang sedang menulis.
“Cyra, nggak ngeliat aku lagi sibuk? Lihat, jadi kecoret, kan?” Zaki menatap Cyra geram.
“Maaf.” Cyra menatap kertas Zaki yang tercoret lumayan panjang. “Abisnya kamu nggak ngerespon, sih.”
“Tadi kamu tanya apa?” Zaki mengepal kertas yang tercoret kemudian melemparnya ke tong sampah.
“Kamu beneran udah resmi balik ke kampus ini?”
Zaki mengangguk sambil sibuk mencari-cari kertas lain di laci.
“Kamu kok nggak bilang sama aku? Tadi pagi waktu kutanya di kampus mana kamu ngajar, kamu nggak jawab,” protes Cyra.
Zaki tidak menjawab, masih sibuk mencari-cari sesuatu di laci, juga di tumpukan kertas-kertas di mejanya.
__ADS_1
“Zaki, kok aku dicuekin, sih?” Cyra mulai sebal. “Ya udah deh aku keluar aja.” Cyra bangkit berdiri. Namun langkah kakinya tertahan, sebuah tangan memegangi pergelangan tangannya. Ia menoleh. Zaki tersenyum sambil mencengkeram erat pergelangan tangan Cyra.
“Gitu aja ngambek.” Senyum Zaki kian mengembang. “Ayo, duduk!” Alis Zaki menunjuk ke kursi depannya.
“Abisnya kamu nyebelin.” Cyra menghempaskan diri ke kursi meski wajahnya manyun.
Zaki terkekeh. “Aku kan lagi sibuk. Cewek memang payah ya, selalu minta dinomer satukan.” Ya udah, kamu mau ngomongin apa?”
“Udah ini aku dicuekin lagi nggak?”
“Enggak.” Zaki gemas sekali melihat muka Cyra saat ngambek. Ia malah senyam-senyum menatap wajah cemberut di depannya.
“Kamu kenapa nggak juju raja sama aku kalau kamu kembali lagi ke kampus ini?”
“Sengaja? Biar ngapa?”
“Biar jadi kejutan untukmu, sayang.”
Jiah… Mulai nggombal nih cowok. Pake kata sayang lagi. Buset dah, jantung Cyra berdebar-debar gara-gara mendnegar kata sayang dari mulut Zaki. Boleh denger sekali lagi nggak? Tapi kan malu kalau nagih?
“Nyebelin!” Cyra mencubit lengan keras Zaki.
Zaki langsung memegang tangan yang mencubitnya itu erat-erat. Tatapan pria itu begitu dalam lalu kepalanya maju mendekati wajah Cyra. Meja masih menjadi pembatas.
__ADS_1
“Aku bertahan di sini karena kamu,” bisik Zaki dengan tatapan sangat lekat. “Tawaran kampus di Bogor sangat menggiurkan. Tapi aku lebih memilih di sini karena kamu, paham?”
Cyra balas menatap wajah Zaki yang berada sangat dekat dengannya.
Zaki mencium punggung tangan Cyra cukup lama.
Tok tok..
Cepat-cepat Zaki melepas tangan Cyra. Demikian juga Cyra yang segera menarik tangannya. Zaki membetulkan posisi duduknya dengan menyandarkan punggung di sandaran kursi.
Pak Fauzan masuk. Dosen berambut ikal itu menari kursi dan duduk di sisi Cyra.
“Silahkan, Cyra. Kamu boleh keluar!” ucap Zaki dengan telapak tangan yang terjulur ke arah pintu. Sikap Zaki kembali ke asal, wibawa dan berlagak seakan-akan tidak ada hubungan antara dirinya dan Cyra.
Cyra menangkap kerlingan mata Zaki sesaat sebelum akhirnya ia menutup pintu.
Dasar Zaki, bisa banget main kedip-kedip mata. Ketahuan Pak Fauzan, bisa jadi gossip di seputaran dekan, loh.
Cyra tersenyum lebar meninggalkan pintu ruangan Zaki.
***
TBC
__ADS_1
Siap-siap menuju ending yak