PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
101. Terimakasih Zaki


__ADS_3

“Ra, nggak usah teriak-teriak gitu. Telingaku pengang!” Zaki mengusap-usap daun telinganya akibat teriakan Cyra.


“Zaki, kamu di mana?” Cyra heboh, bahkan suaranya terdengar masih histeris. Ingin sekali gadis itu segera bertemu dnegan Zaki, minimal ia akan langsung menjewer telinga pria yang telah menghilang kayak jin iprit itu.


“Bisa nggak nanyanya biasa aja. Kenapa mesti seheboh itu?”


“Aku tanya kamu dimana, jawab plis!” Cyra memukul-mukul bundaran setiran mobil.


“Di hatimu.”


“Zakiiii! Aku serius.”


Terdengar suara Zaki terkekeh. Kehisterisan Cyra membuatnya ingin semakin menggoda. “Kenapa pengen tahu banget? Nggak biasanya kamu begini?”


“Kamu belum jawab pertanyaanku.”


“Jawab dulu pertanyaanku.” Zaki tak mau kalah.

__ADS_1


“Aku mau nemuin kamu.”


“Kangen?” goda Zaki.


“Enggak. Aku mau ngejitak hidungmu,” geram Cyra.


“Ha ha haaa… jangan hidung dong yang dijitak, aku maunya kepala aja. Kepala mungil yang ngegemesin.”


“Ini apa lagi maksudnya?” sewot Cyra nyengir. “Aku nanya kamu ada di mana, sejak tadi nggak kamu jawab.”


“Aku di kamar.”


“Tunggu aku ke situ!” Cyra memutus sambungan telepon. Kemudian ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bukan Cyra namanya jika tidak mengemudikan mobil dengan kecepatan luar biasa, kebiasaan ugal-ugalan. Meski demikian, ia sangat lihai dan mengerti dimana posisi yang tepat saat ia harus melaju kencang.


Sepanjang perjalanan, Cyra berpikir banyak hal. Bukankah Alya mengatakan kalau Zaki sudah pergi ke Bandara? Lalu kenapa sekarang tiba-tiba Zaki mengaku sedanga da di kamar? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apakah Zaki membatalkan kepergiannya? Bukankah Zaki sudah memesan tiket? Ah, sudahlah. Cyra tidak mau kebanyakan mikir.


Sesampainya di depan rumah Zaki, Cyra memarkirkan mobil dan langusng turun. Ia menghambur memasuki rumah, menaiki anak tangga. Lalu mengetuk pintu kamar Zaki.

__ADS_1


Begitu pintu kamar dibuka, Cyra langsung menubruk si pembuka pintu dan memeluknya sangat erat.


“Makasih kamu nggak jadi pergi. Aku tahu kamu masih memikirkanku. Aku sayang sama kamu, Zaki!” ujar Cyra sembari membenamkan wajah di dada bidang pria itu. Huh… Akhirnya ia bisa memeluk Zaki lagi. Hati Cyra terasa sangat tenang karena akhirnya ia kembali menemukan cintanya.


“Cyra!”


Loh, itu kan suara Zaki? Kok, kedengaran jauh? Cyra menolehkan wajahnya ke sumber suara dengan manik mata mengikuti arah sumber suara. Ia terbelalak melihat Zaki yang berdiri di dekat ranjang, berjarak lima meter di belakang pria yang kini tengah ia peluk.


Alamaaaaak… Siapa yang sekarang Cyra peluk?


Sontak Cyra melepas pelukan. Mukanya memerah menatap Om Surya yang berdiri di hadapannya dengan alis terangkat tinggi.


Ya ampun, muka Cyra semakin merah seperti udang rebus saat ditatap oleh Surya dengan tatapan heran.


Pantesan Zaki tidak membalas pelukannya tadi. Pantesan badan Zaki berasa agak sedikit empuk, dan perutnya juga sedikit buncit. Ternyata beda orang. Astaga, sarung mana nih sarung? Cyra ingin menutup mukanya dengan sarung atau apa saja. Malu bangeeeet… Suer, Cyra malu. Main peluk calon mertua. Ahi hiii….


“Kamu mencari Zaki?” tanya Surya dengan suara khas yang mengguntur.

__ADS_1


“E he heee… Iya, Om.” Cyra garuk-garuk kepala meski tidak gatal. Ia tidak perlu menjelaskan aksi salah peluk tadi, Surya pasti sudah mengerti kalau kejadian itu adalah sebuah kesalahan.


TBC


__ADS_2