PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
149. Kikuk Dong


__ADS_3

Tulisan ‘The End’ di layar sudah terpampang manis. Zaki bangkit berdiri. Ia mengangkat dagu saat melihat gadisnya masih duduk nyaman di kursinya.


“Ayo, pulang!” ajak Zaki.


Cyra masih terlihat enggan meninggalkan kursinya dengan wajah kaku. Ia menunggu teman-temannya lebih dulu pergi menianggalkan kursi, baru setelah itu dia akan leluasa untuk melangkah di atan bumi. Dengungan ledekan teman-temannya benar-benar membuatnya menjadi kikuk, salah tingkah dan grogi.


“Cyra, ayo!” desak Zaki.


“Tunggu, kakiku keram.” Cyra mengelus-elus pergelangan kakinya. Terpaksa berbohong.


“Nanti kupijitin.”


Haduh Zaki, malah nyeplos begitu. Bikin makin runyam. Teman-teman Cyra cengar-cengir mendengar Zaki akan memijitin kakinya.

__ADS_1


“Tapi ini susah buat jalan,” rengek Cyra.


“Apa perlu kugendong?”


Heh? Zaki mulutnya nggak bisa direm? Asal nyeplos seenak udelnya saja. Ya ampun.


Cyra sengaja memperlambat gerakannya bukan tanpa alasan, tujuannya supaya teman-temannya lebih dulu pergi dan ia berada di belakang teman-temannya, namun Zaki terlihat tidak sabar hingga akhirnya pria itu memegang pergelangan tangan Cyra.


Dengan penuh percaya diri, Zaki menggandeng tangan Cyra keluar. Suara batuk-batukan pun terdengar riuh dari berbagai arah.


“Zaki, lepasin!” pinta Cyra dengan berbisik.


Zaki diam saja, tidak memperdulikan permintaan Cyra. Ia hanya menoleh sekilas kemudian pandangannya kembali terarah ke depan.

__ADS_1


Dulu, bukankah Cyra yang jauh lebih berani menciumnya di depan umum? Lantas kenapa sekarang gadis itu terlihat kikuk saat hanya sekedar bergandengan tangan saja?


Zaki membukakan pintu mobil untuk Cyra. Segera gadis itu masuk dan duduk di dalam mobil. Yasalam, jantungnya benar-benar tidak nyaman gara-gara ulah teman-temannya. Awas saja, besok Cyra bakalan menunjukkan aksi balas dendam dengan menjitaki kepala teman-temannya satu per satu. Tega-teganya menyudutkannya di situasi begini. Zaki juga malah ngelunjak, main gandeng aja di depan mereka. Sebenarnya Cyra bukanlah tipe gadis bernyali ciut, tapi entah kenapa segala sesuatu yang menyangkut Zaki, membuatnya jadi serba salah. Maklumlah, ini adalah kali pertamanya ia berpacaran, sama dosen lagi.


Cyra menoleh ke arah Zaki saat jok di sampingnya serasa digenjot pertanda ada yang duduk di sisinya. Lihatlah, wajah Zaki tetap tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Pria itu menyalakan mesin mobil.


Cyra kembali menatap ke depan saat mobil melaju meninggalkan gedung bioskop. Lampu jalanan yang benderang membuat kota terlihat bersinar. Cyra diam dan tidak mau banyak bicara. Perutnya mulai keroncongan. Lapar. Tapi ia sedang tidak mau bicara, jadi cukup dirasakan sendiri saja. Cyra sebenarnya merasa kikuk duduk bersebelahan dengan Zaki saat ini, begini amat efek dari ledekan teman-temannya.


Lagu slow romantis kembali menggema mengisi kesunyian. Nadanya syahdu, menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang merasa bahagia setelah menikah dengan pria yang dia cintai. Duuuh… ngena banget di hati Cyra. Mendengar lagu itu, perasaan Cyra jadi berasa terbang. Seakan-akan dialah yang sedang bersenandung dan merasakan kebahagiaan tersebut. Andai saja ia sudah menikah dengan Zaki, pasti sepanjang perjalanan ia sudah menyandarkan kepala di lengan Zaki. Kan sudah menjadi mahrom, halal mau ngapain aja.


Gara-gara lagu yang diputar Zaki, eh Cyra jadi baper sendiri.


Zaki juga tidak mengajak ngobrol, sepertinya pria itu sengaja tidak membuka pembicaraan karena sedang membiarkan Cyra menyimak lirik lagu dan meresapinya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2