PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
24. Emosi Tingkat Dewa


__ADS_3

Muka Cyra langsung merah padam. Dengan gigi menggemeletuk, Cyra berkata, “Belum pernah kena tonjok?”


“Marah?” Faiz tersenyum cemeeh sembari mengelus dagunya. “Gue Cuma pengen ngerasain bibir lo.” Tanpa aba-aba, tubuh Faiz maju dan lengan kokohnya mendekap tubuh mungil Cyra. Kepalanya miring mengincar bibir Cyra.


Cyra memberontak dan langsung menendang pangkal paha Faiz dengan lututnya kuat-kuat.


“Kurang ajar lo!” Cyra menatap tajam pria yang tengah membunguk memegangi pusakanya yang terancam punah. Rasain, biar jadi gepeng, Cyra nggak tanggung jawab. Hanya lelaki rendahan yang berani berbuat kurang ajar pada wanita.


“Aakh…” Faiz mengaduh kesakitan, kedua tangannya masih di posisi yang sama.


“Jangan main-main sama gue kalau nggak mau gue bertindak lebih sadis dari itu.” Cyra menggertak penuh emosi.


“Gue tahu lo pernah ngelakuin itu sama Pak Zaki sewaktu di bioskop, apa salah kalau gue juga minta jatah yang sama?”


Cyra terbelalak. Iya, waktu itu Cyra memang melakukan kesalahan besar dengan melakukan hal gila itu. Cyra juga menyesal. Andai waktu bisa diputar ulang, Cyra ingin mengubah kejadian itu supaya tidak terjadi.


“Bre*sek!” Cyra melayangkan tinju ke arah Faiz, namun tinjunya hanya mengenai udara. Faiz masih bisa berkelit. Pria itu bahkan berhasil menarik pergelangan tangan Cyra.


Gedebuk!


Cyra trekejut melihat tubuh Faiz yang tiba-tiba tersungkur ke lantai setelah mendapat hantaman. Cyra menoleh dan mendapati Zaki yang sudah berdiri di sisinya dengan muka penuh emosi. Cyra sampai tidak menyadari bagaimana Zaki menghantam Faiz karena tidak menyadari kedatangan pria itu.

__ADS_1


Malaikat penyelamat datang. Girang Cyra dalam hati.


“Beraninya kau berbuat kurang ajar pada seorang gadis!” Zaki menarik kerah belakang Faiz hingga tubuh pria itu bangkit mengikuti gerakan tangan Zaki. “Aku akan menghajarmu!” Zaki sampai lupa statusnya di sana sebagai dosen, tidak sewajarnya ia memukul mahasiswa. Meski Faiz bukanlah mahasiswa dibawah bimbingannya, tapi Zaki tetaplah dosen. Sisi emosi dalam diri Zaki sulit dikendalikan mengingat gadisnya hampir saja diperlakukan hina oleh Faiz.


“Stop!” Cyra mencegah Zaki, memegangi lengan kekar pria itu saat pria itu hendak mendaratkan kepalan tangan untuk kedua kalinya di wajah Faiz. “Jangan!” Cyra menatap Zaki penuh permintaan. Cyra tidak mau Zaki terkena masalah karena memukul Faiz. Cyra masih bis amemperhitungkan resiko yang mungkin terjadi. Akal sejatnya masih berjalan, berbeda dengan Zaki yang sudah naik pitam.


Zaki akhirnya menurunkan kepalan tangannya. Andai saja ia tidak menatap wajah Cyra yang penuh permohonan itu, pasti kepalan tangannya sudah mendarat di wajah Faiz bertubi-tubi. Sungguh, Zaki tidak rela gadisnya diperlakukan seperti tadi.


Melihat kepalan tangan Zaki yang turun, Faiz malah tersenyum cemeeh.


“Huh, drama! Apa yang Bapak dapat dari Cyra sampe Bapak jadi penurut gitu sama Cyra?” Faiz menentang. “Kenapa nggak berani mukul? Pukul! Ayo, pukul!” Faiz menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan telapak tangannya. Saking kerasnya menepuk, pipi putihnya sampai meerah.


Sepertinya Cyra tidak perlu lagi memberikan hadiah tamparan pada Faiz, justru Faiz sudah melakukannya sendiri.


“Aku punya video kalian yang lagi ciuman di bioskop. Lihat saja nanti, Pak Doesn, kau akan keluar dari kampus ini akibat perbuatan mesummu itu.” Faiz memalingkan wajah, memungut tasnya yang tergeletak di lantai. Kemudian pergi dengan sorot penuh dendam.


Cyra dan Zaki saling pandang.


“Kamu nggak pa-pa?” tanya Zaki sembari mengamati keadaan Cyra dengan seksama, seperti sedang meneliti apakah ada yang terluka.


“Aku nggak pa-pa, kok. Makasih kamu udah nolongin aku.”

__ADS_1


“Lain kali hati-hati sama laki-laki!”


Cyra mengangguk tersanjung, merasa diperhatikan. Namun kemudian ekspresinya berubah cemas, “Gimana kalau Faiz benar-benar melakukan ancamannya? Kamu dan aku bakalan ada dalam masalah.”


Ya, karena tidak akan mungkin dekan membiarkan seorang dosen berciuman dengan mahasiswinya. Mungkin kecemasan Cyra tidak berlebihan.


“Kalau Faiz melakukan itu, maka dia juga dalam masalah. Kasusnya ada dalam genggamanmu. Dia baru saja berusaha melakukan perbuatan tidak senonoh padamu.”


Cyra mengerti maksud ucapan Zaki, tapi ia tidak perduli dengan semua itu. Ia hanya perduli pada Zaki. Andai saja Faiz nekat melaporkan kejadian di bioskop lengkap dengan buktinya kepada dekan, kemungkinan nasib Zaki akan buruk. Semua itu gara-gara Cyra. Penyesalan Cyra kian menjadi. Jika saja Faiz tidak berani merealisasikan ancamannya karena merasa sama-sama memegang kunci. Tapi bagaimana jika Faiz nekat, maka mereka akan sama-sama hancur bukan?


“Kembali ke ruanganmu!” titah Zaki dan diangguki oleh Cyra.


Zaki melangkah ke arah berlawanan, ia menuju ke ruangnnya sendiri.


* * * * * * *


Tbc


Maaf kalau banyak typo, cerita ini langsung upload begitu selesai ketik, aku gak sempet edit.


Ajak temen, pacar, suami, adik, kakak, nenek, kakek, paman, bibi dan mantan baca cerita ini yah.

__ADS_1


Share ceritanya ke banyak temen biar ketawa rame rame. makin banyak yg ngunjungin novel ini, aku kan makin semangat ngetik.


Emma Shu


__ADS_2