
Cyra tidak tahu jika Zaki di luar klinik sedang meringis-ringis menahan rasa sakit pada batang hidungnya. Sakitnya pooool. Kepala Cyra terbuat dari apa, ya? Kerasnya minta ampun. Melebihi batu kali ya. Itu pala apa batu akik sih? Astaga Ra, tega banget bikin hidung babang Zaki jadi penyok.
Tak lama kemudian embak-embak tadi keluar dari ruang pemeriksaan dan sekarang giliran Cyra masuk. Berkat Zaki, Cyra nggak perlu mengikuti program mengantri.
Cyra diperiksa oleh seorang dokter yang sudah agak tua. Mungkin umurnya kisaran lima puluh lima tahun. Begitu ia duduk di hadapan dokter, beberapa pria muda yang sejak tadi ada di ruangan itu mengelilinginya. Cyra yakin mereka adalah mahasiswa kedokteran. Cyra menebaknya dari pakaian yang mengenakan jas lab warna putih. Mungkin mereka sedang menjalankan praktik kerja atau apalah sejenisnya, Cyra juga tidak mau memikirkannya.
“Nona Cyra Nadira, ya?” tanya dokter sembari menulis sesuatu di kertas.
“Benar, Dok.”
“Keluhannya apa, Nona?”
“Kening saya ini, Dok. Benjol segede gini. Ada obat yang bisa ngempesin dalam waktu singkat nggak, Dok?”
Para mahasiswa itu memperhatikan luka di kening Cyra dengan penuh penelitian. Sungguh, Cyra merasa jadi seperti manusia penelitian.
__ADS_1
“Jadi… Bagaimana? Sudah tahu sakit apa?” Tanya dokter.
“Kejedot tadi, Dok. Kebentur dashboard," jawab Cyra.
“Maaf, saya tidak bertanya kepada Anda, Nona. Saya menanyai para mahasiswa yang sedang melakukan penelitian,” ucap Dokter.
Akhirnya para mahasiswa menjawab, “Iya, itu terbentur benda keras itu, Dok”
“Kapan keningnya terbentur?”
“Kapan keningnya terbentur?” Dokter mengulang pertanyaannya.
Cyra nyengir. Nah loh, para mahasiswa pada nggak bisa jawab. Pada nggak lulus entar kalian, baru tau rasa. Ha haaae…Cyra tertawa dalam hati melihat muka bingung para mahasiswa.
“Nona Cyra, saya bertanya pada Anda, kapan kening Anda terbentur?”
__ADS_1
“Oh eh, saya, Dok? Ini kejedotnya barusan aja. Sekitar satu jam yang lalu.” Cyra nyengir.
Setelah konsultasi yang tidak membutuhkan waktu lama, Cyra diberi resep oleh dokter. Cyra keluar ruang periksa dengan kening yang sduah diperban. Ia menuju ke apotik untuk menebus obat.
“Buseeeet… Nggak salah nih obat segede jempol?” Cyra terkejut melihat obat yang diserahkan untuknya melalui lubang apotik.
***
Zaki menyetir mobil masih dengan satu tangan memegangi hidung. Ya ampun, batang hidungnya benar-benar nyeri. Jangan-jangan benar dugaan Cyra, kalau batang hidung Zaki retak. Tapi apa mungkin hanya terantuk kepala saja bisa sampai retak?
Huh… Kenapa gadis yang dia cintai adalah gadis yang selalu membawa malapetaka terhadap dirinya? Gadis aneh. Aneh-aneh begitu tapi Zaki sayang.
Ingatan Zaki terkilas balik pada sederet kejadian yang membuatnya mengenal Cyra, di awal yang membuatnya merasa sangat membenci gadis itu. Bahkan waktu itu Zaki sempat menyumpahi supaya gadis itu mendapat musibah tujuh kali berturut-turut. Tapi ternyata justru gadis itu yang menjadi tambatan hatinya. Zaki ingat pertama kali ia bertemu Cyra, di bioskop. Ciuman itu membayanginya. Ingatannya terus mengalir pada keajdian di mana ia disiram air bau apek, yang kemudian salah masuk kamar dan berujung dengan handuk melorot, disuruh membersihkan gudang, ciuman di ruang kerja, serta serentet kejadian lainnya yang membuat Zaki senyum-senyum sendiri.
TBC
__ADS_1