
“Saya melindungi kamu. Saya hanya berharap kamu tidak akan trauma dengan kejadian ini,” ujar dekan bijaksana. “Tetaplah belajar dengan giat. Saya sudah meminta pada pelapor untuk menghapus video itu karena bisa saja membuat si korban trauma atau menjadi bahan buli. Itu tidak baik.”
“Siapa yang melaporkan video itu ke Bapak?” Cyra memberanikan diri.
“Saya melindungi pelapor. Saya rahasiakan identitasnya.”
Faiiiiiiiz…. Cyra ingin menyumpal mulut pria itu dnegan kaos kaki saat itu juga. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Faiz. Oke, berani Faiz mencuri start dengan menjatuhkan reputasi Zaki hanya demi melampiaskan dendam, maka jangan salahkan Cyra jika dia juga melumpuhkan nama Faiz. Mereka akan impas setelah ini.
Benar saja, dengan berapi-api, Cyra mengadu kepada dekan tentang kejadian yang terjadi di samping gedung kampus. Cyra menggebu-gebu, berharap pada dekan untuk mengambil keadilan yang sama atas pelecehan yang ia terima dari Faiz. Sama halnya Zaki yang dianggap telah melakukan tindakan asusila, maka Faiz juga dianggap melakukan hal yang sama. Hukumannya pun harus sama. Sama-sama keluar dari kampus. Meski sebenarnya, pada kenyataannya Zaki sesungguhnya adalah korban dan tidak pantas untuk menanggung hukuman itu.
__ADS_1
Dengan berbekal rekaman cctv, dekan akhirnya memanggil Faiz dan langsung membicarakan masalah itu tanpa berbasa-basi. Dekan yang satu itu memang paling anti terhadap kasus yang menyangkut harga diri wanita. Jiwanya sangat menjunjung tinggi harga diri wanita hingga sedikit saja menyinggung urusan wanita, dia akan cepat mengambil keputusan tanpa harus berbelit-belit.
“Kau harus angkat kaki dari kampus ini. Ini suratnya!” dekan menyerahkan surat kepada Faiz yang saat itu sudah berada satu ruangan dimana Cyra juga masih berada di sana. Setelah itu dekan menyebutkan kesalahan Faiz berbekal cctv yang ia pantau, yang bermula dari keterangan Cyra. Andai saja Cyra tidak melaporkan kejadian itu, tentu saja Faiz tidak akan berada di ruangan itu untuk menuntaskan urusannya. Segala perbuatan asusila, pelecehan terhadap wanita dianggap telah melanggar peraturan kampus, dan konsekuensinya adalah dikeluarkan dari kampus.
Faiz terperanjat kaget. Ia mengambil surat itu dnegan tangan gemetar. Setelah bertahun-tahun ia mengemban tugas sebagai mahasiswa, kini ia harus keluar dari kampus itu?
“Pak, tapi itu terjadi diluar kendali saya. Saya mohon Pak, jangan keluarkan saya dari kampus ini. Saya masih ingin menuntut ilmu di sini. Saya butuh bimbingan.” Faiz memohon dengan mata berair, hampir emnangis.
Dekan tidak mau mengubah keputusannya, ibarat dalam lomba, keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Ya begitulah tekad sang dekan, yang tak bisa diganggu gugat lagi. Ia tidak mau ambil resiko terhadap pelaku tindakan-tindakan tidak terpuji, karena hal itu bisa saja mencemarkan nama baik kampus, juga demi menegakkan keadilan bagi para wanita.
__ADS_1
Cyra tertegun melihat Faiz yang sampai berlutut di hadapan dekan, memohon supaya dekan mempertimbangkan keputusannya. Tapi apa boleh buat. Dekan tetap bersikukuh.
Dekan mempersilahkan Cyra dan Faiz keluar tanpa mau mengubah keputusan yang telah ia buat.
Cyra melenggang meninggalkan ruangan dekan diikuti oleh Faiz.
“Ra! Tunggu!” panggil Faiz mengejak Cyra yang berjalan dengan langkah lebar.
Cyra tak menghiraukan panggilan itu. Apa lagi yang mesti mereka bicarakan. Sudah cukup impas, Zaki tidak lagi bisa menginjakkan kaki di kampus itu. Dan Faiz juga harus menerima hukuman yang setimpal.
__ADS_1
TBC