
Pandangan Atifa mengitari isi garasi. Ia takjub menatap pemandangan di depan mata. Garasi milik Arkhan udah kayak pelelangan mobil aja.
“Aku nggak nyangka, adik iparku ternyata setajir ini.” Atifa melirik Arkhan. “Arkhan, aku nggak salah merestui Zalfa menikah denganmu, aku yakin kamu mualaf yang baik. Dan dengan denganmu, aku percaya hidup Zalfa akan lebih baik lagi.”
Arkhan diam saja, hanya menatap Atifa tanpa berkomentar.
“O ya, aku mampir ke sini untuk melihat kondisi adik iparku, dan syukurlah semuanya baik-baik aja.”
“Hm. Lalu?” tanya Arkhan.
Atifa kemudian melirik beberapa mobil yang berderet rapi. “Aku yakin mobil-mobil ini nggak semuanya kamu pergunakan, apa nggak ada niatmu untuk memberikan satu aja untuk kakak iparmu ini?”
“Mbak!” sergah Zalfa tak ingin Atifa si tukang nyablak itu bicara semaunya. Selama ini memang Ismail belum bisa membelikan Atifa mobil. Jangankan membeli mobil, untuk sekedar belanja ke mall saat liburan saja sulit mengingat keuangan Ismail yang tidak seberuntung Arkhan.
__ADS_1
Ismail hanyalah karyawan biasa di sebuah perusahaan kecil, upahnya tidak seberapa. Tentu saja Atifa tidak bisa bermanja dengan kekayaan. Dan sekarang Atifa melihat kemewahan yang berlimpah milik Arkhan.
“Kenapa, Zalfa? Arkhan ini kebanjiran kekayaan, loh. Liat deh mobilnya rame banget udah kayak sowrum mobil aja. Nggak akan ada gunanya kalo Cuma dianggurin. Dan akan lebih bermanfaat kalau dihibahin ke orang lain, Arkhan akan dapet amal dengan berbagi pada yang lebih membutuhkan.” Atifa berbicara panjang lebar dengan entengnya seakan tidak ada beban. Siapa yang tidak mengenal Atifa, mulutnya asal nyablak.
“Aku baru aja mendengar Zalfa membicarakan amal, berbagi, sedekah dan bla bla bla... Dan kamu datang membicarakan hal yang sama. Baiklah, ambil ini untukmu.” Arkhan melempar salah satu kunci mobil ke arah Atifa.
Atifa yang tidak begitu ngeh dengan lemparan itu pun tergagap dan spontan menangkapnya. Kunci terjatuh di lantai setelah mengenai dada perut wanita itu. Atifa segera membungkuk dan memungutnya. “Ini serius untuk kakak iparmu?” Atifa membelalak. “Aku kan Cuma bergurau.”
“Pergilah dan bawa mobil milikmu. Jangan sampai aku berubah pikiran. Tuh, yang warna silver paling sudut sebelah sana.” Arkhan menunjuk mobil yang dimaksud.
“Berapa rekeningmu?” Arkhan mengambil ponsel dari saku kemejanya dan bersiap menekan nomer yang mungkin disebutkan.
“Mbak, ya ampun.” Zalfa memberi kode dengan menggelengkan kepala supaya kakak iparnya itu tidak bersikap senorak itu. Zalfa malu pada Arkhan. Namun Atifa tidak memperdulikan kode yang diberikan oleh Zalfa meski ia memahami kode tersebut.
__ADS_1
Atifa langsung menyebutkan rekeningnya dan dalam waktu singkat ia menerima notifikasi berupa uang masuk. Matanya membelalak dan senyumnya mengembang lebar menatap sederet angka yang terlihat. “Amazing. Lima puluh juta. Thanks. Kamu emang adik ipar yang baik.”
“Pergilah! Urusanmu udah selesai bukan?”
“Oke oke.” Atifa langsung masuk ke mobil yang ditunjuk dan menyetirnya keluar garasi setelah sebelumnya membunyikan klakson saat melintasi Zalfa.
Zalfa geleng-geleng kepala melihat tingkah kakaknya.
“Ayo, Zalfa!”
Zalfa menoleh ke sumber suara, Arkhan sudah berada di dalam mobil yang menghampirinya. Zalfa menatap wajah Arkhan melalui jendela mobil yang terbuka, detik berikutnya ia menghambur masuk ke mobil dan duduk di sisi kemudi.
BERSAMBUNG
__ADS_1
TERUS DUKUNG CERITA INI DENGAN MEMBERIKAN VOTE.