
Kelopak mata Cyra terbuka secara perlahan. Ia menoleh, menatap Zaki yang tertidur pulas di sisinya. Pria itu di posisi miring menghadap Cyra, satu lengan kokohnya berada di atas perut Cyra. Nafas Zaki terdengar teratur mengisi kesunyian. Lihatlah, wajah Zaki tetap terlihat tampan saat dalam posisi tidur. Cyra gemas sekali menatap wajah yang akhir-akhir ini kerap berada di dekat wajahnya. Bagaimana tidak? Zaki setiap malam selalu memeluknya begini sampai pagi.
Cyra tersenyum menatap muka Zaki yang kleihatan polos saat terpejam. Cyra mulai iseng, menjulurkan tangannya dan menjepit hidung Zaki dengan jempol dan jarinya. Sontak perlakuan Cyra mendapat respon dari Zaki, pria itu tergagap dan memundurkan wajah meski matanya masih tetap terpejam. Kemudian ia kembali tertidur seperti tidak terganggu oleh kejahilan Cyra.
“Ya ampun, pulas banget sih, Baby? Kalo kayak gini tidurmu, rumah kebakaran pun nggak bakalan terbangun.” Cyra menggumam sendirian.
Cyra menyingkirkan lengan Zaki lalu bergerak turun dari ranjang. Bahkan dengan disingkirkannya lengan Zaki dan bergeraknya tubuh Cyra dari ranjang, kepulasan Zaki sama sekali tidak terganggu. Sekarang penyakit ngebo yang dulu Cyra alami berpindah ke Zaki. Mungkin efek kelelahan akibat kegiatan pengantin baru yang dilakukan berulang-ulang.
Cyra masuk ke kamar mandi. Kemudian merendam tubuhnya di bathtub. Sensasi air hangat yang merendam tubuhnya terasa menenangkan. Busa sabun yang merendamnya beraroma harum, membuatnya merasa betah berendam di sana.
Tiba-tiba pintu terbuka dan Cyra membelalak menatap Zaki yang berdiri di pintu. Pria itu terlihat masih mengantuk, matanya merah dan sayu. Ada handuk yang nyampir di pundaknya.
“Heih, kamu mau ngapain ke sini?” seru Cyra gelagapan. “Hus hus... pergi sana!” Cyra mengusir sambil melambaikan tangan seperti sedang mengusir ayam saja.
__ADS_1
Tanpa perduli seruan Cyra, Zaki masuk dan menutup pintu dengan kaki. Ia menggantungkan handuk ke gantungan di dinding.
“Aku sedang mandi, apa kamu nggak bisa gantian? Tunggu aku selesai dulu baru kamu masuk ke sini!” seru Cyra lagi.
Zaki menoleh, berkacak pinggang. Menatap Cyra sambil geleng-geleng kepala. “Kenapa panik gitu? Kayak didekati perampok aja. Aku ini suamimu. aku hanya ingin mandi, lantas kenapa kamu teriak-teriak gitu?” Santai sekali Zaki bicara begitu.
“Aku kan belum selesai mandi, tunggu aku selesai mandi dulu dong! Aku nggak mau mandi bareng!” Muka Cyra memerah saat menyebut kata mandi bareng.
Zaki melepas singletnya.
Cyra tertegun menatap Zaki yang terlihat santai dengan pekerjaannya itu. dahi Cyra mengernyit menatap dada bidang Zaki yang polos. Ketika Zaki hendak memelorotkan celana pendek yang ia kenakan, Cyra pun mengambil gayung dan menyiduk busa sabun di bathtub.
Byurr...
__ADS_1
Air sabun mengguyur badan Zaki. Sontak saja Zaki gelagapan dan terkejut.
“Rasain tuh keguyur air sabun. Kaget kan?” Cyra nyengir.
“Astaga Cyra!” Zaki memekik sembari mengucek mata karena air sabun nyiprat ke matanya.
“Keluar sana! Kalau kamu nggak mau kusiram lagi, mendingan keluar!” Cyra mengangkat tinggi-tinggi gayung berisi air sabun.
“Iya iya, aku keluar.” Zaki buru-buru keluar dengan mata merem melek akibat rasa pedih di matanya. “Awas kamu nanti!”
Cyra menggigit bibir bawah, kasihan melihat Zaki yang jadi menderita akibat ulahnya. Mau bagaimana lagi, Cyra sudah memperingatkan sejak awal supaya Zaki mandi bergiliran, tapi bandel. Detik berikutnya, Cyra tertawa terbahak-bahak. Zaki lucu juga.
TBC
__ADS_1