PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
153. Gagal Total


__ADS_3

Intinya, perasaan Cyra kini berubah semenjak kerap terucap kata pernikahan. Bayang-bayang tentang pernikahan selalu saja menari-nari di kepala Cyra. Akibatnya bayangan malam pertama pun mengganggunya, alhasil bawaan Cyra selalu grogi terus. Huh, isi kepala juga yang salah.


Cyra merasa canggung mengubah panggilannya. Mas Zaki? Haduuh… lidahnya berasa keplintir. “Lusa aja ngubah panggilannya ya? Kalau udah merid.”


“Belajar dari skearang.”


“Enggak. Kalau udah nikah aja.”


Zaki akhirnya mengalah dan tidak lagi menjawab.


“Jadi apa nih yang bisa kukerjain soal skripsi?” tanya Cyra.


“Kamu nggak mau pesen makanan dulu?”


“Bukannya tadi kamu buru-buru, ya?”


“Aku hanya nggak suka nunggu lama.”


Owalah… Kirain memang urgent. Dasar Zaki. Cyra menggumam.


“Ya udah, kalau gitu aku pesen.” Cyra memanggil pelayan dan memesan makanan, sementara Zaki sudah memesan duluan.

__ADS_1


Baru saja mereka memulai beberapa suap, Zaki melongokkan kepala, menatap salah seorang yang baru saja masuk dan duduk di meja tak jauh dari mejanya. Pria yang diamatinya itu duduk berdua bersama temannya. Tak lain Faiz dan Arif.


“Lo yang bayar, ya!” tegas Arif.


“Lo-lah.”


“Loh, yang ngajakin ke sini kan lo. Kenapa gue yang bayar?”


“Sekali-kali lo yang bayarin ngapa, Lol. Masak gue terus, nggak malu apa lo setiap makan dibayarin mulu?” Faiz mengetuk punggung tangan arif dengan kepalan tangannya.


“Lo kan baru aja jadi tenar, masuk TV lagi. Masak bayar makanan di tempat begini kagak bisa.”


Faiz dan Arif saling pandang, kaki di bawah meja saling injak.


“Mbak, tagihan di meja itu biar aku yang bayar,” seru Zaki pada pelayan yang menanyai Faiz.


Pelayan tersenyum dan mengangguk sopan.


Faiz menoleh ke arah Zaki. “Eh, Pak Zaki!” Faiz beranjak meninggalkan mejanya lalu menarik kursi di sisi Zaki. “Pak, saya duduk sini aja, ya? Biar tagihannya satu meja aja.”


Nafas Zaki seperti tertahan mendengar pertanyaan itu. Jujur saja, Zaki tidak ingin makan siangnya terganggu oleh orang lain, ia hanya ingin makan berdua bersama Cyra. Bagaimana momen romantis akan tercipta jika ada orang lain diantara mereka? Tapi melihat Faiz yang sudah duduk di kursi sebelahnya, tidak mungkin Zaki mengusirnya. Terpaksa Zaki mengangguk penuh wibawa.

__ADS_1


“Rif, sini!” Faiz melambaikan tangan memanggil temannya.


Arif beranjak meninggalkan meja dan turut duduk di meja yang sama dengan Zaki. Ia menganggukan kepala penuh hormat pada Zaki.


“Mau makan apa? Pesan saja!” ucap Zaki dengan gayanya yang tegas dan patut disegani.


Pelayan wanita itu mengikuti Faiz, pindah ke meja Zaki. Ia berdiri menunggu dengan sabar.


“Asiik.” Faiz menggulung ujung lengan kemeja panjangnya lalu memesan makanan yang ia tunjuk di daftar menu pada pelayan.


Arif juga memesan makanan.


“O ya Pak Zaki, kenalkan ini Arif, temen saya,” ucap Faiz. Seperti biasa gaya bicara Faiz selengekan.


“Hm.” Zaki mengangguk. Ia menyantap makanan dengan pelan-pelan, menunggu pesanan Faiz datang supaya bisa makan bersama.


Setelah pesanan Faiz dan Arif datang, Zaki pun mempersilahkan dua remaja itu menyantap makanan. Arif tampak segan menyantap hidangan, gerakannya terlihat kikuk. Sementara Faiz tampak biasa saja, bahkan ia makan dengan lahap. Namanya juga Faiz, selengekan dan begajulan.


Sepanjang makan, Zaki mengajak Faiz mengobrol dan disahuti dengan semangat oleh Faiz. Setiap satu pertanyaan yang Zaki lontarkan, dijawab dengan sederet kalimat panjang yang mungkin bisa menjadi beberapa paragraf bila diketik. Faiz tampak sangat bersemangat dan girang sekali bisa mengobrol dengan Zaki, orang yang pernah bertikai dengannya, juga menjadi penyelamat kuliahnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2