
“Padahal kan setahu Tante, antara kamu dan Cyra itu kurang cocok,” lanjut Andini. “Kalian nggak berhubungan dnegan baik. Cyra pernah ngerjain kamu untuk ngebersihin gudang, Cyra juga pernah hampir mukul kamu pakai pentungan. Tapi kok kamu masih bisa suka sama dia?” Andini geleng-geleng kepala tak yakin karena ternyata tingkah putrinya tidak berpengaruh apapun terhadap pandangan Zaki.
“Ya, Tan. Tapi itu dulu. Sekarang semua berubah.”
“Zaki, Tante mengerti dengan keinginanmu, tapi apa yang bisa kami lakukan? Hubungan antara dua keluarga besar seperti kami bisa saja memburuk jika dengan mudah kata-kata yang kami ucapkan ditarik ulur begitu saja. Kami harap kamu mengerti.” Andini berusaha memberi pengertian dengan gaya bicaranya yang keibuan dan penuh wibawa.
Zaki mengulumm senyum. Ia sangat memahami situasi dan kondisi yang dialami oleh Farhan dan Andini. Segalanya tidak mudah.
“Aku mengerti dengan posisi Tante dan Om. Dan aku juga nggak bisa memaksakan keadaan. Karena pada kenyataannya, Cyra adalah seorang perempuan. Tanpa restu Om Farhan, aku nggak bisa memaksakan semuanya.”
“Zaki, tapi dengan keputusan ini, kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Andini berharap Zaki tidak patah semangat meski niatnya ditolak.
“Nggak apa-apa, Tan. Hanya saja, aku berharap Tante dan Om juga mendengarkan keputusan Cyra, karena dia juga memiliki hak untuk memilih pasangannya. Jangan paksakan pilihan pada Cyra. Maaf, Om, Tante, bukan maksudku ikut campur atau menggurui, tapi pada hakikatnya, Cyra memiliki hak dalam menentukan pilihan hidupnya.”
“Oh iya, makasih saranmu, Zaki!” jawab Farhan dengan seulas senyum.
__ADS_1
Zaki mulai gelisah, sebenarnya sejak tadi ia menunggu kedatangan Cyra. Andai saja ia dan Cyra berada di sana, sama-sama mengungkap perasaan di hadapan Farhan dan Andini, kemungkinan keadaan bisa berubah. Apakah mungkin manusia sebaik Farhan dan Andini akan memaksakan kehendak Cyra jika mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Cyra hanya mencintai Zaki?
Ugh… Tapi kemana gadis ceroboh itu? Disuruh membicarakan masalah ini lebih dulu kepada kedua orang tuanya, eh lha malah kabur entah kemana.
Kembali Farhan menyeruput kopinya. “Ayo, diminum!”
Nah, disuruh minum kopi lagi. Kalau sudah balik membahas kopi, rasanya Zaki lebih memilih kabur saja. Atau jangan-jangan memang begini cara Andini mengusirnya? He heee… Zaki tertawa dalam hati memikirkan usudzon yang sempat terbesit dalam benaknya.
“Makasih, Om. Kalau begitu, aku permisi dulu.” Zaki mengulas senyum lebar.
“Aku memutuskan untuk pergi ke Negara tetangga saja. Ada tawaran bagus untuk pekerjaanku di sana. Dan ini sudah saatnya aku harus pergi. Tiket juga udah kupesan.” Zaki bangkit berdiri. Dari pada harus menyiksa diri dengan menenggak kopi yang rasanya sangat mengerikan, mendingan ia kabur.
“Kamu beneran mau pergi? Ke negara tetangga?” Andini mengernyit sembari ikut berdiri.
“Iya, Tan.”
__ADS_1
“Jangan bilang ini gara-gara kami tidak memberi jawaban seperti yang kamu harapkan, loh.”
“Enggak, Tan. Tawaran ini memang sudah lama, dan selama ini masih kupertimbangkan. Sekarang aku udah punya keputusan. Tante sama Om nggak usah merasa nggak enak hati. Ini murni keputusanku.”
“Apa orang tuamu mengijinkan?”
“Orang tuaku mengijinkan.”
“Semoga kamu sukses di sana. Jangan sampai putus silaturahmi, tetap ngabarin ke sini, ya!”
“Iya, Tan. Aku permisi.” Zaki melenggang keluar. Harapannya luruh, sikap baik yang ditunjukkan Andini dan Farhan membuat Zaki tidak bisa memaksakan harapannya.
TBC
KLIK LIKE
__ADS_1